
LI CHANG SU merasakan hawa dingin menyentuh kulit halusnya ketika Mu Xianzhai benar-benar melonggarkan pakaian, mencium tulang selangkanya. Dia merinding. Tapi tidak menolaknya begitu besar.
Ini musim dingin. Meski ada anglo yang menghangatkan isi tenda, tapi tubuhnya agak kedinginan. Entah itu karena sentuhan Mu Xianzhai atau karena cuaca.
"Mu Xianzhai .... Kamu ...." Dia gugup. Walaupun mungkin tidak apa-apa untuk melakukannya, tapi ....
Saat dia melihat ke sisi lain, dia khawatir orang lain akan masuk. Terutama Mu Hongzhi. Tampaknya, Mu Xianzhai menyadari kekhawatiran gadis itu, segera mengulum senyum. Dia bangkit dan merapikan sedikit pakaian, lalu pergi ke jalan keluar.
Li Chang Su sepertinya merasa lega ketiga Mu Xianzhai pergi. Tapi, dia mungkin terlalu cepat bahagia. Mu Xianzhai tidak keluar, hanya menyingkapkan tirai tenda.
"Jaga tempat ini. Jangan sampai biarkan siapapun masuk. Bahkan jika itu Mu Hongzhi. Kalian bisa menendang pria itu jika ngotot. Intinya, jangan biarkan siapapun masuk. Dan apapun yang kalian dengar, jangan membayangkan!" Suaranya sangat dingin dan penuh perintah. Membuat dua penjaga di luar gemetar ketakutan.
Wajah pria itu sedikit menggelap. "Apakah kalian mengerti?"
"Ya. Bawahan patuh!" Dua penjaga itu mengangguk seperti ayam yang mematuk nasi (mengangguk cepat berulang kali).
Setelah kedua penjaga gelap itu mengerti, Mu Xianzhai menutup tirai tenda dan kembali ke tempat di mana Li Chang Su saat ini sedang berusaha untuk merapikan pakaiannya. Ingin melarikan diri.
Tentu saja setelah dia tahu jika Mu Xianzhai benar-benar akan memakannya, dia tidak mau. Lebih tepatnya, enggan untuk melakukannya. Namun sebelum dia benar-benar merapikan pakaian, tali gaunnya lagi-lagi ditarik. Sehingga bisa dilepaskan kapan saja.
Li Chang Su hampir saja memekik kaget. Dia ingin mengutuk Mu Xianzhai karena begitu berani. Tapi di mana pria itu peduli sekarang. Dia hanya ingin memeluk dan menghirup aroma shampo di kepalanya.
"Mau lari ke mana?" Suara pria itu tepat di telinganya, membuat wajah Li Chang Su memerah.
Mu Xianzhai mengencangkan tangannya di pinggang gadis itu. Seolah-olah ingin menelannya kapan saja.
"Mu Xianzhai, apakah kamu binatang? Pikiranmu hanya dipenuhi fantasi!" Li Chang Su hanya ingin melarikan diri darinya. Tapi tubuhnya sudah terjerat.
"Apa yang salah? Suamimu hanya ingin menyentuh istrinya. Itu hal wajar untuk meredakan api ketika melihat istrinya begitu cantik," kata Mu Xianzhai sama sekali tidak marah dengan perkataannya. Dia jutru meraih pergelangan tangan kiri gadis itu. "Lihatlah, gelang naga perak adalah takdir kita. Menurut kakek, di saat suami-istri berkumpul, itu luar biasa efeknya."
__ADS_1
Ada nada menggoda dalam kata-kata pria itu. Justru membuat Li Chang Su berpikir jika gelang naga perak mungkin mengambil inisiatif untuk menyenangkan dua pasang saat berkumpul di ranjang. Tapi dia merinding. Kekuatan pria selalu tak ada habisnya saat menyentuh di tempat tidur. Seperti waktu itu.
Saat pertama kali menyempurnakan pernikahan, Mu Xianzhai telah melakukannya berkali-kali. Tubuhnya tidak pernah kosong. Bahkan tanpa malu membuka buku hubungan suami-istri, beberapa adegan. Sungguh vulgar!
Jika dia tidak memohon waktu itu, mungkin tubuhnya akan diremukan hingga mati.
Li Chang Su belum sempat memikirkan hal lain saat merasa gaunnya benar-benar melorot. Mu Xianzhai sudah mencium leher dan pundaknya berulang kali. Kali ini tidak terburu-buru.
"Su'er jangan khawatir, tidak akan ada yang mengganggu kita. Bahkan jenderal lain tidak berani masuk. Untuk Mu Hongzhi, itu bisa ditendang kapan saja oleh penjaga." Suara pria itu sedikit serak. Tenggorokannya kering.
"....." Li Chang Su tidak berdaya. Tapi karena dia telah memberikan hati dan pikirannya pada pria ini, mungkin sedikit menyetujui keinginannya.
Perlu diingat, bahwa di zaman kuno ini berbeda dengan kehidupan modern. Jika di zaman modern banyak pria yang sudah tidak asing dengan tubuh wanita, bahkan jika pakaian sedikit terbuka ... Maka zaman ini lain lagi.
Orang-orang zaman kuno selalu mengira jika wanita berpakaian sedikit itu dianggap sebagai pelac*r. Mereka penuh godaan dan mengundang pikiran jahat pria. Oleh karena itu, reputasi wanita di zaman ini sungguh dipertaruhkan. Rentan untuk ternoda.
Li Chang Su sedikit gemetar saat ciuman itu jatuh di sekitar buah persiknya. Sangat memalukan.
"Mu Xianzhai, kamu ... kuharap benar-benar pelan," bisiknya dengan wajah memerah.
Pria itu segera menekannya di bawah, tidak menjawab, tapi melepaskan pakaiannya sendiri. Napasnya sudah berat dan matanya dipenuhi kabut tidak jelas. Dia akan pelan, tentu saja, sangat pelan hingga membiarkan gadis itu memohon untuk berhenti.
Setelah menciumnya sekilas, dia benar-benar hilang kesabaran. "Aku akan pelan. Su'er tidak perlu malu untuk bersuara. Tentu saja jika ingin didengar penjaga di luar."
Senyumnya sengaja dibuat untuk membiarkan gadis itu menahan diri agar tidak berteriak. Dia tak rela membiarkan suara istrinya menjadi objek fantasi para penjaga. Li Chang Su ingin mengatakan sesuatu, namun sesuatu sudah memasuki tubuhnya tanpa peringatan.
Jika keduanya menciptakan musim semi yang indah, maka di luar tenda .... lain lagi.
Di tempat Mu Hongzhi saat ini, kelinci mutasi sudah berlarian untuk mencari makan. Para juru masak yang tersisa akhirnya memberi dia wortel yang besar dan segar. Segera, Xue Zi membawa kabur wortel itu. Tidak peduli dengan Mu Hongzhi lagi.
__ADS_1
Sedangkan Mu Hongzhi, akhirnya tidak mendapatkan jatah rebung. Tapi masih ada sup. Ia hanya makan sup dan meminta para juru masak untuk membuatkan olahan rebung lagi seperti tadi.
"Jenderal Hong, jangan khawatir. Sang putri memberikan kami resepnya. Kami akan segera memasak." Salah satu juru masak yang agak gemuk segera menyeka keringat dingin di dahinya dan buru-buru pergi ke dapur.
Mu Hongzhi masih kesal hingga akhirnya ia mencoba mencari kelinci mutasi yang menghilang lagi. Dia langsung bertanya pada salah satu penjaga di sekitar.
"Apakah kalian melihatnya?"
"Ng ... Kelinci itu melarikan diri setelah diberi wortel besar oleh salah satu juru masak."
"...." Kelinci itu ternyata benar-benar tidak makan orang.
Mu Hongzhi akhirnya bisa lega jika kelinci itu baik-baik saja. Mungkin sekarang sedang makan wortel di suatu tempat. Khawatir orang lain merebutnya. Tapi dia tidak tahu jika Xue Zi saat ini masih membawa wortel itu di mulutnya, pergi menuju tenda tempat di mana Li Chang Su berada tadi.
Para penjaga di luar tenda tidak menyadari kedatangan makhluk bebrulu putih itu. Tapi wajah mereka memerah setelah mendengarkan sedikit suara ambigu di dalam. Xue Zi belum tahu dan menyelinap masuk.
Dua penjaga itu merasakan sedikit gerakan di tirai tenda dan mengerutkan kening. Salah satu dari mereka segera bertanya, "Apakah seseorang masuk?"
"Jangan berkhayal. Aku pasti melihatnya jika ada orang masuk. Mungkin itu hanya angin."
"Ya, sepertinya itu hanya angin."
Tapi angin tidak berembus, pikirnya.
Saat ini, Xue Zi yang masuk ke tenda pun berniat untuk makan wortel dengan tenang. Tapi, saat melihat ke satu tempat, wajahnya yang putih segera ditaburi rona merah muda. Dia ingin melemparkan wortel ke arah dua orang yang lengket di tempat tidur.
Dasar manusia. Kenapa hobi sekali untuk kawin? Begitulah pikiran Xue Zi yang ternoda oleh adegan itu. Dia buru-buru menarik diri ke satu tempat yang gelap. Berusaha untuk tidak melihat adegan musim semi di ranjang.
Li Chang Su dan Mu Xianzhai masih belum tahu di tenda saat ini ada satu penyusup kecil yang makan wortel sambil mendengarkan suara ditahan gadis itu.
__ADS_1