
KEESOKAN PAGINYA.
Mu Xianzhai benar-benar pergi ke istana untuk memberi tahu kaisar jika hari ini mereka akan kembali ke barak militer. Mu Hongzhi dan Lict diberi tahu tentang masalah ini dan sibuk bersiap-siap. Mu Hongshan, sebagai seorang ayah hanya bisa menepuk pundak putranya dan terlihat sedih sekaligus kasihan.
Mu Hongzhi harus menderita lebih keras di bawah sayap Mu Xianzhai. Ini ironi dan juga berkah. Untungnya Mu Hongzhi cukup bodoh dan tidak mau peduli. Jadi dia pergi menjemput Lict untuk pergi ke Istana Raja Perang. Di halaman rumah, Mu Hongshan berteriak marah, mengutuk putranya yang tidak berbakti sambil memegang tongkat.
Jika bukan karena istrinya yang menjewer telinga dan menasihati, dia sudah mengejarnya untuk menyelesaikan akun. Mu Hongzhi pergi secepat angin berembus dan pergi ke Istana Raja Perang dengan Lict.
Kuda putih mutasi yang membawa keduanya terlihat gemetar. "Tuan, apakah ayahmu begitu galak?" tanyanya.
"Biasanya dia hanya bermain," jawab Mu Hongzhi sedikit acuh tak acuh, tapi hatinya melahirkan semacam rasa takut pada sosok ayah itu.
"..." Bermain apa?! Ayahmu memegang tongkat seolah-olah ingin melumpuhkan kakiku, pikir si kuda putih mutasi.
Mu Hongzhi menenangkan kuda putih mutasi, mengelus lehernya dengan lembut. "Sudah, jangan khawatir, dia penyayang binatang. Tidak mungkin mematahkan kaki kurusmu."
"..." Kuda putih mutasi mendengar ejekan yang tidak terlihat. Apakah kakinya sangat kurus? Pikirnya.
Adapun Lict yang telah menyesuaikan suasana hatinya, melihat kereta Mu Xianzhai sudah terparkir di dekat pintu gerbang. Li Chang Su keluar gerbang sambil memegang bungkusan, mungkin bekal di perjalanan. Mereka bertemu dan mendiskusikan rencana singkat sebelum akhirnya meninggalkan ibu kota.
Kali ini, Lict dan Mu Hongzhi naik kereta. Ada pun kuda putih mutasi yang mengawal, hanya bisa berjalan bosan di samping kereta. Selama perjalanan, tidak ada hambatan apa pun dan Li Chang Su juga memanen banyak buah-buahan dan herbal ketika tiba di hutan.
Kali ini mereka benar-benar akan berada di barak militer cukup lama. Setidaknya membutuhkan tiga tahun. Kemungkinan besar hanya akan kembali ke ibu kota setahun dua kali. Selama beberapa hari, mereka menghabiskan waktu di perjalanan dan tiba di barak militer satu minggu kemudian.
Li Chang Su tidak menganggur. Dia telah memberikan buku latihan baru pada sepuluh prajurit khusus yang diasuh nya. Sepuluh prajurit itu akan dia gunakan di masa depan untuk mengawal dan membantunya memecahkan banyak masalah.
Di tenda, Li Chang Su yang sedang memilah banyak herbal pun mengerutkan kening. Ada banyak kertas di atas meja, pulpen serta spidol merah. Dia tengah mencatat beberapa herbal dan kegunaannya serta mencoba mempraktikannya pada binatang hitam mutasi tingkat rendah. Sayangnya, obat yang dia kembangkan untuk mengubah binatang hitam mutasi menjadi normal masih jauh dari kata ‘berhasil’.
“Su’er, apakah kamu sudah makan siang?” Mu Xianzhai muncul di mulut tenda dan melihat gadis itu sedang berpikir keras, menatap selembar kertas yang penuh dengan coretan.
Gadis itu menggelengkan kepala. Saat ini tidak ada waktu untuk makan siang, dia fokus pada penelitiannya. Meski di zaman modern dia lebih suka berada di pangkalan dan terjun langsung ke medan perang, tapi kali ini berbeda. Dia memiliki ruang artefak di pergelangan tangannya dan membaca banyak buku medis.
He Ze, tupai putih itu jua peri entah ke mana sejak tiba di barak militer dan kini belum kembali. Meski dia tidak peduli, tapi kalau tidak kembali berhari-hari juga membuatnya khawatir.
__ADS_1
“Apakah He Ze sudah kembali?”
“Belum, jangan khawatirkan dia. Tidak terjadi apa-apa padanya.” Mu Xianzhai menggelengkan kepala.
"Ke mana dia pergi? Kenapa begitu lama?"
Mu Xianzhai tidak menjawab. Dia bisa merasakan aura tubuh He Ze tapi tidak bisa memastikan dia ada di mana. Jadi Mu Xianzhai tidak mau mengatakan sesuatu pada istrinya terkait ini. Dia sendiri kurang yakin.
Sebelum dia mengatakan sesuatu saat duduk di seberangnya, Li Chang Su sudah berkata lagi dengan nada yang tenang.
"Apakah semuanya sudah beres?"
"Ya, hanya tinggal mengatur sisanya. Besok kita bisa pergi ke pantai," jawab pria itu mengangguk.
Musim semi harus dimanfaatkan dengan baik. Waktunya singkat. Mu Xianzhai ingin mengajak istrinya ke pantai untuk melihat lautan kemudian pergi memancing ikan dan bermalam. Setelah menghabiskan waktu, keduanya bisa pergi untuk memulai latihan.
Naga perak—Yin Long masih tertidur saat ini karena energinya tidak cukup untuk membangunkan tubuh transparan. Untuk membuatnya kembali bangkit dan memiliki tubuh nyata, Li Chang Su sebagai takdir yang terikat harus berusaha keras berkultivasi.
Li Chang Su hanya mengangguk saat pria itu berniat untuk membawanya ke pantai. Tapi ....
"Apakah tempat berlatih yang kamu maksud itu tidak jauh dari pantai?" tanyanya sedikit mengerutkan kening, meletakan pulpen dan kertas di meja, lalu menghela napas. Hari ini sungguh melelahkan.
"Hanya butuh perjalanan setengah hari untuk mencapai tempat itu. Jangan khawatir, binatang hitam mutasi tidak berani masuk," jelas Mu Xianzhai.
Li Chang Su masih memikirkan hal lain.
"Ada apa?" Suara pria itu terdengar lagi.
"Tidak ada." Li Chang Su menggelengkan kepala. "Aku hanya merindukan dua kucing mutasi tingkat dewa itu."
"Heh, Bell dan Orange? Penjaga pegunungan dewa?" tebak Mu Xianzhai.
"Ya."
__ADS_1
"Jangan khawatir dengan kucing itu. Musim dingin di pegunungan dewa akan membuat mereka terjaga sepanjang waktu, mungkin juga menonton negara kita dari puncak ..." Mu Xianzhai mengelus dagunya dan melepaskan topeng perak, memperlihatkan wajah tampannya yang tidak ada bandingannya di dunia ini.
"..." Li Chang Su tahu jika pria ini tidak berbelas kasih dengan dua kucing itu. Terutama ... Dia sudah pernah melihat Mu Xianzhai menaklukkan Bell di ruang terowongan bawah tanah Hutan Putih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di sisi lain.
Pegunungan dewa.
Seekor kucing berbulu emas keperakan yang duduk di batu besar langsung bersin. Bukan sekali tapi dua kali. Lonceng di telinganya bersuara ringan karena goyangan. Ekornya bergerak-gerak namun jelas selidiki curiga.
Bell yang baru saja bersin langsung menyipitkan mata keemasannya dan melihat sekeliling. "Apakah seseorang baru saja mengutukku diam-diam?" gumamnya.
"Bell, kemarilah dan panggang ikanmu sendiri!" Suara Orange yang berada di gua pun tengah menghangatkan diri dan melihat ikan bakar yang mulai tercium di udara.
Bell bangkit dari duduknya dan berubah menjadi sosok manusia, masih menjadi pria tampan berjubah brokat kuning keemasan. Tak lupa dua telinga kucing di kepalanya, agak imut. Dia melangkah menuju gua dan duduk di samping pria tua, Wen Lao.
Pria tua itu menatapnya curiga. "Apakah kamu masuk angin?" tanyanya.
"Tidak."
"Lalu kenapa kamu bersin?"
"Mungkin seseorang memfitnahku."
"Omong kosong apa yang kamu maksud. Apakah kamu percaya takhayul?" Pria tua itu mengerutkan kening, sedikit ragu. Lagi pula, dia juga hidup selama ratusan tahun dan menjaga pegunungan ini.
"Tuan telah menjadi objek takhayul masyarakat saat ini." Bell menatapnya polos dan tersenyum agak dalam. Lalu memegang ikan bakar bagiannya.
"..." Wen Lao yang tidak pernah diakui oleh orang di zaman ini pun merasa sedih. Lagi pula siapa yang akan percaya jika dirinya hampir hidup selama lima abad?
"Oh, ya ... Bagaimana surat yang dikirim gadis itu? Apakah Tuan sudah membacanya?" tanya Orange yang enggan untuk berubah menjadi manusia.
__ADS_1