Menjadi Istri Cerdas Raja Perang

Menjadi Istri Cerdas Raja Perang
Resmi Diadakan


__ADS_3

LI CHANG SU dan Mu Xianzhai duduk bersebelah di kursi yang telah disediakan. Setiap meja dan kursi sudah diberi tanda berupa simbol marga. Sehingga para tamu tidak akan bingung harus duduk di mana.


Mu Xianzhai dan Li Chang Su duduk di kursi ketiga barisan depan dikarenakan pria itu sendiri merupakan pangeran ketiga. Dan sialnya lagi, gadis itu harus bersebelahan juga dengan Rongyu karena Mu Lizheng memiliki urutan keempat di barisan depan.


Meski tidak ada atmosfer yang saling membenci, namun jelas Li Chang Su merasa tidak nyaman karena sihir mandi darah yang ada pada tubuh Rongyu benar-benar mengganggunya. Dia hanya membuat dirinya senyaman mungkin. Bahkan He Ze yang ada di ruang artefak pun membenci aura dari tubuh wanita itu. Namun kabar baiknya, Rongyu tidak memiliki umur yang panjang akrena kutukan gelang naga perak sebelumnya.


Mu Xianzhai juga tentu merasakan apa yang dirasakan oleh gadis itu. Dia merangkulnya dan berbicara pelan. “Perlukah kita ganti kursi?” tanyanya.


“Tidak perlu. Aku baik-baik saja,” jawabnya pelan.


Tak berapa lama setelah semua tamu hadir dan menempati semua kursi yang disediakan. Ye Tianli juga datang dengan Ye Shi dan kini duduk di seberang tamu yang lain. Tentu saja para pria bangsawan, pengusaha serta tamu dengan identitas tidak biasa lainnya juga hadir di sini.


Yang memimpin pembukaan pesta adalah Mu Yishu. Mereka melihat sang bupati hadir dan menggantikan kaisar untuk sementara waktu karena kaisar sendiri sedang ada keperluan di istana. Namun Mu Xianzhai mencibir. Keperluan apa yang begitu mendesak selain makan masakan istrinya di istana dalam. Belum lagi kakeknya juga tidak terlihat saat ini, pasti sedang rebutan di belakang.


Li Chang Su hanya bisa tersenyum diam-diam. Tampaknya kaisar akan melupakan sejenak tentang halaman belakang istananya yang dipenuhi oleh bunga-bunga.


“Terima kasih kepada semua tamu yang telah datang. Hari ini tentu saja sangat spesial bagi kita semua. Pesta Bunga telah dinanti oleh banyak gadis bangsawan ibu kota. Saya harap para tamu akan menikmati pemandangan indah bunga-bunga di halaman belakang istana kaisar ini," kata Mu Yishu memulai acara dengan serius.


Dia juga mengatakan beberapa hal baik tentang acara tersebut hingga tak berapa lama kemudian, kaisar datang, berjalan tegap dan meminta perawakan gagah. Kaisar masih seperti dulu ketika masih muda dan berada di medan pertempuran.


Ketika Kaisar Mu hadir, para tamu langsung berdiri dan membungkukkan setengah badannya sebagai penghormatan. Kaisar Mu tidak menahan mereka dan segera memintanya untuk bebas. Barulah setelah dia duduk di kursi kebesarannya, para tamu juga duduk.

__ADS_1


Para pangeran dan putri tentu saja memiliki sikap yang sopan. Mereka menunjukkan ekspresi bermartabat dan tenang. Tapi tak bisa menyembunyikan kegembiraan ini. Beberapa gadis bangsawan kadang curi-curi pandang ke arah pria bangsawan yang belum memiliki istri. Mungkin di acara ini, mereka bisa berjodoh.


Li Chang Su tidak peduli dengan yang lainnya. Namun Mu Xianzhai agak menelan asam diam-diam. Dia tak suka jika beberapa pria melirik istrinya yang cantik. Beberapa mereka bahkan menyayangkan karena Li Chang Su sudah menjadi takdir gelang naga perak raja perang.


Pria itu bersumpah jika di masa depan ada acara seperti ini, dia tak akan membiarkannya pergi dengan gaun cantik. Meskipun gaun istrinya tidak berlebihan, tapi semuanya tergantung si pemakai. Ternyata sangat cocok di tubuh istrinya. Di masa depan, dia hanya akan membiarkan Li Chang Su memakainya di Istana Raja Perang saja.


Kaisar akhirnya berdeham setelah Mu Yishu menyerahkan segalanya lagi padanya. Pria itu duduk di barisan pertama paling depan. Karena istrinya tidak bisa hadir akibat hamil tua, ia hanya bisa duduk sendiri.


"Jangan sungkan untuk menikmati makanan yang tersaji di depan meja kalian. Semuanya telah disiapkan oleh dapur istana untuk menjamu para tamu. Sebelum kita memulai Pesta Bunga ini, mari kita meminum secangkir teh dulu," kata Kaisar Mu. Nada bicaranya bersih dan segar, benar-benar terlihat seperti jenderal di masa lalu.


Kaisar Mu mengambil secangkir teh bunga musim semi dari nampan yang disodorkan pelayan. Lalu para tamu termasuk Li Chang Su juga mengambil secangkir teh yang disajikan di atas meja masing-masing.


"Panjang umur Kaisar ... Panjang umur Kaisar," ujar semua orang penuh rasa syukur dan segera menyesap habis tehnya.


Setelah meminum secangkir teh bunga musim semi, mereka memuji diam-diam. Tehnya memiliki rasa pahit yang khas, namun dipadukan dengan aroma bunga persik dan juga rasa manis yang tidak berlebihan—menjadikan cita rasa teh lebih berkualitas.


Li Chang Su bisa merasakannya setelah meminum teh tersebut. Dia memandang Mu Xianzhai dengan kening berkerut. Pria itu hanya terkekeh. Ini memang teh yang bagus. Jarang sekali Kaisar Mu mengeluarkan simpanan teh kesukaannya.


Tak berapa lama, Permaisuri datang setelah mendapatkan undangan dari Kaisar. Wanita yang masih memiliki kecantikan awet muda itu langsung berdiri di depan semua tamu dengan ekspresi lembut. Lalu pandangannya jatuh pada sosok Li Chang Su untuk beberapa waktu.


Orang-orang langsung bangun lagi dan mengucapkan hormat padanya.

__ADS_1


Permaisuri merasa puas. "Semua orang bebas," katanya.


Mereka pun duduk kembali dan memandang sang permaisuri yang memakai gaun kuning keemasan, mahkota yang berat serta riasan agak tebal. Tapi sosoknya memancarkan keagungan. Meski Permaisuri tidak dicintai oleh Kaisar Mu secara pribadi, tapi masih dihormati sebagai ibu negara yang bertanggung jawab.


Sayangnya akhir-akhir ini, Permaisuri menjadi objek waspada Kaisar Mu. Hal itu terjadi sejak Permaisuri ikut campur dalam urusan pewaris takhta. Walaupun Kaisar Mu menetapkan Mu Lizheng sebagai putra mahkota, tapi belum jelas siapa yang akan menjadi kaisar di masa depan.


Mu Xianzhai tidak mau menjadi kaisar sehingga Kaisar Mu memikirkan kandidat lain. Maka pandangannya jatuh pada sosok putra keduanya yang selalu tidak menonjol lebih sering di Istana Kekaisaran. Yaitu Mu Peizhi. Tampaknya gesekan antara Mu Peizhi dan Mu Lizheng telah terjadi cukup lama di belakang.


Hanya saja Mu Lizheng belum menyadari jika Mu Peizhi sendiri menjadi ancaman yang cukup nyata dibandingkan Mu Xianzhai. Tapi Mu Xianzhai sendiri juga akan memengaruhi pikiran semua orang serta para menteri di Istana Kekaisaran karena statusnya yang tinggi di hati kaisar.


Jika Mu Xianzhai menyukai Mu Peizhi sebagai pewaris, maka Kaisar Mu bisa saja memikirkannya ini dan menjadikan kandidat. Oleh karena itu, Mu Lizheng tidak menyukai pangeran ketiga ini.


Ketika Pesta Bunga berlangsung. Beberapa bakat mulai ditunjukkan. Lalu para pendongeng dan juga penyair dihadirkan untuk menghibur semua orang. Termasuk grup penari musim semi yang indah. Lekukan tubuh para gadis penari dan pakaiannya yang cukup terbuka ternyata membius semua mata.


Kecuali Mu Xianzhai. Ia memperhatikan istrinya begitu fokus pada grup penari itu hingga segera mengambil anggur dari piring lalu menyuapinya dengan tenang. Adegan ini jatuh ke mata beberapa orang. Betapa manisnya Raja Perang saat memperlakukan istrinya dengan penuh cinta.


"Su'er ... Apa bagusnya grup penari itu? Tidak cantik, mengotori mata Raja ini," katanya.


Li Chang Su pun mengerutkan keningnya dan menatap Mu Xianzhai dengan keheranan. "Bukankah pria zaman kuno menyukai para wanita berpakaian minim? Apakah matamu rabun?" tanyanya polos, lalu mengunyah anggur yang disuapi olehnya.


"..." Apakah istrinya mengira dia tidak sehat? Pikir Mu Xianzhai.

__ADS_1


__ADS_2