Menjadi Istri Cerdas Raja Perang

Menjadi Istri Cerdas Raja Perang
Menuju Kaki Pegunungan Dewa


__ADS_3

MENGHADAPI mulut bocor naga perak, Mu Xianzhai memasang ekspresi tidak berdaya dan ingin melemparkan gelang itu ke semak-semak. Melihat istrinya yang masih terkejut dan bingung, Mu Xianzhai mau tidak mau mengakui sesuatu.


"Su'er, kamu memang ... hamil. Raja ini juga tidak menyangka anak itu akan datang di saat genting seperti ini," katanya lembut.


Dia membawa Li Chang Su ke pangkuannya, membiarkannya duduk dengan nyaman. "Apakah kamu menyalahkanku?"


Li Chang Su yang linglung tanpa sadar menyentuh perutnya. Lalu mengecek denyut nadi di pergelangan tangannya. Tapi tidak ada yang aneh. Dia tampak normal saja, hanya seperti orang yang kelelahan.


Mungkin ini juga alasan kenapa dirinya menjadi mudah lelah dan tidur lebih lama bahkan ***** makannya cukup berkurang. Satu hal lagi, dia suka makan sesuatu yang asam dan manis dan beberapa di antaranya dihindari.


"Kenapa aku tidak menyadarinya? Apakah aku benar-benar hamil?" tanyanya pada pria itu.


Mu Xianzhai mencium wajahnya. "Yah, aku tidak berbohong. Kamu tidak menyadarinya, itu wajar karena ... karena anak Raja pasti istimewa," jawabnya langsung terkekeh. Dia memeluk Li Chang Su dengan erat.


"Su'er, tahukah kamu aku sangat senang. Ini anak pertama Raja! Tentu saja aku senang. Jik bukan karena masalah naga perak dan naga hitam di masa depan, aku ingin menunda satu tahun lagi sampai kamu melahirkan. Tapi waktu tidak memberi kita pilihan lain," bisiknya.


Li Chang Su memerah.


Dia tidak menyangka akan hamil secepat ini. Dia ingat, malam itu dia dan Mu Xianzhai tidak memiliki tindakan pencegahan dan mengalir begitu saja dalam kesenangan. Saat ini, usia kandungannya baru berusia tiga Minggu.


Gadis itu memeluk leher Mu Xianzhai dan tersenyum senang. "Aku ingin melahirkannya dengan selamat," katanya.


"Ya. Aku akan menjaga kalian di masa depan. Mulai saat ini, jangan terlalu berlebihan. Biarkan aku yang melakukan semuanya. Ketika kita tiba di pegunungan dewa dan menghadapi Hei Long, cobalah untuk menghindar sebanyak mungkin. Aku akan mengalahkannya untukmu," jelas pria itu.


"Mu Xianzhai ... terima kasih," bisik gadis itu.


Keduanya saling bertatapan dengan cahaya di mata mereka.


"Di antara suami dan istri, jangan ucapkan terima kasih," bisik pria itu. Dia mencium bibir Li Chang Su dengan membuat dan keduanya hanyut dalam dunia dua orang.

__ADS_1


Naga perak hanya bisa berpura-pura tidak tahu dan terdiam dengan perasaan bersalah. Mu Xianzhai ingin memberi kejutan untuk istrinya tapi dihancurkan oleh perkataan naga perak. Mau tidak mau, jiwa naga perak kembali ke ruang artefak sambil mengeluh pada He Ze.


Selama perjalanan ini, setidaknya memakan waktu hampir setengah hari. Mu Xianzhai mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat dan menunggu elang gunung mutasi datang. Mereka hanya makan apa adanya tapi Mu Xianzhai tidak membiarkan istrinya kekurangan makanan. Jadi dia memasak sup.


"Kenapa tunggangan kita masih belum datang?" tanya Lict tidak berdaya.


Cuaca hari ini benar-benar panas. Dia berkeringat di mana-mana. Adapun Li Chang Su yang nyaman berteduh di bawah pohon rindang, merasakan angin musim panas membelainya. Meski begitu, Mu Xianzhai masih waspada dengan cuaca panas akan memengaruhi kondisi istrinya.


“Seharusnya tidak lama lagi. Makanlah dengan baik agar kita bisa langsung berangkat jika mereka tiba,” jawab Mu Xianzhai enteng.


Dia dalam suasana hati yang baik saat ini dan memberi makan Li Chang Su.


Setelah makan siang, mereka menunggu sebentar dan suara elang di kejauhan membuat mereka segar kembali. Lict segera bangun dan naik ke salah satu pohon yang menjulang tinggi. Benar saja, dua ekor elang gunung mutasi putih muncul sambil berkicau, menandakan kedatangannya.


Saat ini Lict seperti seorang anak yang sangat ingin naik pesawat untuk pertama kalinya. Dia naik ke puncak pohon sambil melambaikan tangan.


Karena tidak ada tanah yang luas untuk mendarat, kedua elang gunung mutasi itu segera mencari tempat yang tidak jauh dari keberadaan mereka.


Mu Xianzhai dan ketiganya menghampiri dua burung ekang putih besar itu. Para bawahan Mu Xianzhai hanya bertanggung jawab untuk menjaga kereta dan tidak mungkin menyusul begitu saja.


“Raja Xian, Putri Xian, maaf atas keterlambatan kami,” kata salah satu elang gunung putih mutasi itu sangat sopan.


Keduanya diutus oleh pemimpin untuk menyusul ke tempat di mana Mu Xianzhai berada. Awalnya mereka bingung, namun pemimpin benar-benar menendang keduanya dan mengancam akan merontokkan semua bulunya jika tidak sampai dalam waktu setengah hari.


Pemimpinnya selalu serius tapi tidak pernah melayangkan ancaman yang begitu kejam. Jadi keduanya segera pergi dan terbang secepat mungkin menuju ke arah yang dimaksud.


Untungnya dua elang gunung putih mutasi itu tiba tepat waktu.


"Tidak apa-apa." Li Chang Su sangat murah hati. Lagi pula dia tidak terburu-buru.

__ADS_1


Lict yang telah turun dari pohon pun segera menghampiri mereka. Dia memegang beberapa buah liar yang bisa dikonsumsi. "Kita akan berangkat sekarang?" tanyanya.


Mu Hongzhi mengangguk. "Kita harus tiba di dekat kaki pegunungan sebelum malam tiba," jawabnya datang.


Mungkin mereka juga akan melewati sebuah pedesaan atau tempat aneh. Menunggangi elang gunung mutasi bukan hanya menghemat waktu tapi juga menghindari beberapa masalah yang akan menghambat perjalanan.


Keempatnya naik ke punggung elang gunung putih mutasi dan segera terbang menuju ke arah di mana pegunungan dewa terlihat. Sayangnya kali ini, Mu Hongzhi harus meninggalkan kuda putih mutasinya bersama para penjaga gelap Mu Xianzhai.


Kedua elang gunung putih mutasi itu juga bercerita bahwa ada kekuatan tertentu di pegunungan dewa. Meski mereka tidak bisa melihatnya melalui mata telanjang tapi Mu Xianzhai tahu sesuatu.


Pegunungan dewa tidak berpenghuni, bisa dikatakan sebagai pegunungan yang belum terjamah oleh manusia. Tapi di kaki pegunungan seharusnya masih ada beberapa kehidupan manusia.


Elang gunung putih mutasi terbang tanpa merasa lelah dan sayang putihnya yang lebar membentang di langit, tertiup angin, sangat nyaman.


Lict duduk di belakang Mu Hongzhi dan hampir pusing. Menaiki burung ini ternyata tak beda jauh seperti sedang melakukan olahraga paralayang. Dia seperti bebas di udara.


Untungnya dia masih memiliki kewarasan. Jika tidak, dia mungkin akan terjun untuk terbang sendiri, mencari kematian.


Mereka tiba saat hari sudah sore. Dua elang gunung putih mutasi tingkat suci itu mendarat di sebuah tanah lapang yang tidak terlalu luas. Namun hamparan hutan hijau memanjakan mata.


Li Chang Su turun dibantu oleh Mu Xianzhai. Dia menginjak rerumputan hijau yang lembut, terasa sangat nyaman. Di sekeliling mereka merupakan pepohonan yang menjulang tinggi, diperkirakan mungkin berusia ratusan tahun.


"Yang Mulia, kami hanya bisa mengantar sampai sini dan tidak berani untuk terbang lebih jauh." Salah satu dari elang gunung putih mutasi berbicara. "Ini, kami harus menunggu atau pergi dulu?" Makhluk berbulu itu mengedipkan mata tajamnya, sedikit ragu.


"Kembalilah. Kami butuh banyak waktu di sini." Mu Xianzhai tidak membutuhkan mereka lagi dan secara alami dibuang.


Pada akhirnya, kedua elang gunung putih mutasi itu terbang tinggi, menjauh dari lokasi tersebut.


Suasana di sekitarnya cukup salah. Terlalu tenang dan mungkin ada bahaya tersembunyi. Mu Xianzhai mengajak mereka mencari tempat yang aman untuk bermalam hari ini. Tapi setelah melewati hutan lebat yang cukup gelap, keempatnya tiba di sebuah pemukiman ....

__ADS_1


__ADS_2