
MEMANJAT POHON kelapa?
Mu Hongzhi terkejut dan sepertinya dia tidak pernah melakukan hal itu. Setidaknya jika pohon kelapa yang tinggi, dia tidak mau. Meski dia memiliki ilmu seni bela diri, jangan tanya lagi, dia manusia biasa yang takut dengan batang pohon yang bergoyang-goyang tertiup angin.
Tanpa sadar, dia juga menggelengkan kepala dan segera pamit untuk melihat keadaan dua hewan yang bertengkar itu. Lict juga seger mengikutinya.
"..." Li Chang Su mengerutkan bibirnya. Lari mereka lebih cepat daripada angin yang berembus, pikirnya.
Li Chang Su takut ketinggian. Bahkan jika dia bisa naik, turunnya akan merepotkan. Ini sudah dibuktikan. Naik pohon itu mudah, tapi ketika hendak turun, jangankan menginjakkan kaki ke pijakan di bawahnya, dia bahkan tidak mau menoleh. Pikirannya sudah dipenuhi dengan 'betapa tingginya pohon'.
Ketika Li Chang Su kembali ke tenda, Mu Xianzhai sedang duduk sambil membaca laporan militer. Dia terlihat sibuk dan sangat memperhatikan pekerjaannya. Tanpa topeng perak yang selalu melekat di wajahnya, garis tegas di wajah pria itu semakin jelas.
Li Chang Su meletakkan keranjang di atas meja dan bersiap untuk membuat menu makan siang.
"Kenapa kamu di sini hari ini? Bukankah para jenderal itu berada di tenda diskusi?" tanyanya tanpa melihat Mu Xianzhai.
"Tidak. Tidak ada yang penting saat ini," jawab Mu Xianzhai. Dia meletakkan gulungan laporan dan bangkit dari duduknya.
"Bukankah Mu Hongzhi bertugas di garis depan?"
Li Chang Su ingat jika Mu Hongzhi adalah jenderal muda dan juga kepercayaan Mu Xianzhai. Meskipun terlihat konyol dan selalu ceroboh, Mu Hongzhi merupakan sosok yang mengerikan di tulangnya. Tak beda jauh dari Mu Xianzhai.
Memang, Mu Hongzhi bisa dikatakan berada di bawah asuhan Mu Xianzhai. Beberapa hal pasti ada kemiripan.
Tiba-tiba saja Mu Xianzhai memeluk dan mencium pipinya. "Apa yang membuatmu bingung? Huh, pikirkan aku?" godanya sangat percaya diri.
"Narsis!" Gadis itu pulih dan mendengus. "Lepaskan aku. Aku harus memasak," katanya.
"Oh, Su'er, bagaimana jika kita olahraga sebentar?" bisiknya.
"Olahraga jenis apa? Jangan macam-macam di siang hari bolong seperti ini." Lo Chang Su memiliki tiga garis hitam di kepalanya.
Mu Xianzhai langsung mencium bibirnya dengan penuh gairah dan tidak meninggalkan ruang untuk menolak. Li Chang Su tidak siap dan hampir terengah-engah olehnya. Dia mendorong dada pria itu untuk berhenti, tapi semakin menolak, Mu Xianzhai justru lebih agresif.
__ADS_1
Pria! Memang sejatinya lebih merasa menarik ketika wanitanya menunjukkan penolakan. Di mata mereka, itu hanyalah godaan.
Ciumannya turun ke leher, membuat Li Chang Su sedikit gemetar karena perasaan campur aduk.
"Hentikan! Jangan menggila," gumam gadis itu masih berpikiran jernih.
"Su'er ..." Suara Mu Xianzhai sedikit serak dan tidak mau melepaskannya. Dia sibuk sepanjang pagi dan malam, waktu keduanya sangat sedikit.
Setiap kali Mu Xianzhai ingin menyentuh istrinya, selalu ada pekerja darurat yang membutuhkan dia. Bagaimana pun, tidak bisa bermain-main dengan tugas negara di barak militer, satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal. Karena itu, Mu Xianzhai selalu memendam api di perutnya dan melampiaskan semuanya pada beberapa jenderal yang tidak tahu apa salahnya.
Sekarang, Mu Xianzhai tidak memiliki banyak pekerjaan. Tapi di malam hari, dia memang disibukkan dengan hal lain.
Mu Xianzhai memeluk istrinya dan menenggelamkan wajahnya di leher. "Su'er, aku pernah berjanji untuk mengajakmu ke pantai waktu itu. Kita akan pergi setelah urusanku selesai," ujarnya.
"Apakah waktunya cukup? Bukankah kita akan kembali untuk upacara satu bulan kelahiran anak pangeran pertama?"
"Kita akan pergi setelah kembali dari sana," katanya memutuskan.
"Baiklah. Lagi pula cuacanya juga cocok untuk pergi ke pantai."
"Mu Xianzhai! Apa yang kamu lakukan? Turunkan aku. Aku ingin memasak!"
"Nanti saja."
"Ah ...! Kamu Hooligan!"
Sementara itu di sisi lainnya ...
Mu Hongzhi dan Lict bergerak lebih cepat menuju ke belakang tenda-tenda yang ada. Suara bising di sana jelas pertengkatan, terdengar konyol dan tidak ada kata-kata yang bisa membunuh orang.
Ketika Mu Hongzhi tiba dan berteriak pada keduanya untuk berhenti, suasana tibafu di menjadi hening.
"..." Mu Hongzhi melihat adegan yang cukup aneh di depannya. Dan Lict sudah lebih dulu tersandung batu yang tak terlihat di depan kakinya.
__ADS_1
"Apa ... Apa yang kalian lakukan?" tanya Lict sedikit tercekat.
Melihat kuda putih mutasi yang berada dalam posisi setengah gila, tanpa sadar melihat kelinci putih mutasi memeluk leher kuda itu. Adapun kuda putih mutasi, menggunakan ekornya yang memanjang untuk melepaskan makhluk berbulu putih yang menempel seperti koala. Ini menjijikkan. Keduanya sama-sama menatap Lict dan Mu Hongzhi yang datang secara tidak terduga.
"..." Kelinci putih mutasi dan kuda itu tidak tahu harus menjelaskannya bagaimana.
"Apakah kalian bertengkar lagi?" tanya Mu Hongzhi, wajahnya menghitam. Tidak oeu diragukan lagi, dia tahu temperamen kudanya sendiri.
"Tidak!" Kedua hewan berbulu putih itu sama-sama menjawab serempak, sedikit dingin dalam nada bicaranya.
Namun Mu Hongzhi bukan orang bodoh, mencibir dan meminta keduanya untuk saling melepaskan diri. "Jangan pikir aku ini hanya manusia bodoh, anak tiga tahun saja tidak akan tertipu eh wajah tak berekspresi kalian," katanya.
"..." Kedua hewan itu tidak berdaya.
"Karena kalian sangat suka bertengkar dengan baik, maka mulai besok, kuda, kamu akan membajak sawah. Meskipun kakimu ramping dan tidak segemuk kerbau, tapi tsnagamu lebih besar daripada kerbau. Adapun kamu ..." Mu Hongzhi menatap Xue yang ada di samping kuda putih mutasi. "Tugasmu adalah menanam padi. Jangan khawatir, lumpur di sawah tidak akan menenggelamkan tubuh kecilmu yang putih. Kedua kaki depanmu setidaknya bisa mengapit bibir pagi dan menanamnya bukan?"
Perintah panjang lebar Mu Hongzhi hampir tidak bisa dipercaya sama sekali. Xue Zi tanpa sadar menatap kedua kaki depannya yang bahkan tidak mungkin seperti seekor monyet.
Akhirnya, kedua binatang mutasi itu baru saja pulih dari kebingungan. "Apa??! Menanam padi?!" Keduanya berteriak dan otaknya hampir kosong.
Apa itu menanam padi? Membajak sawah? Apakah itu bermain lumpur seperti kerbau yang bau? Pikir keduanya. Keduanya pernah melihat kerbau, selain warna tubuhnya yang gelap dan juga memiliki bulu-bulu halus yang tidak enak dipandang bagi mereka, tanduknya juga cukup besar, seperti banteng. Dengan tubuh besar dan perut gemuk.
"Ada apa? Ada pertanyaan?" Lict secara alami berkompromi.
Xue Zi secara tidak sadar langsung memohon pada Lict. "Tidak, tidak. Kamu tidak bisa melakukan ini padaku? Bagaimana dengan si cantik? Dia pasti akan marah padamu karena membuatku bekerja begitu keras, bermain lumpur?"
"Oh, jangan tanya tentang putri Xian. Aku khawatir jika dia tahu, mungkin akan mengecat tubuh kalian dengan tinta hitam lagi. Apakah kamu mau memiliki gambar kumis di hidungmu?" Lict sengaja menakut-nakuti.
"..."
Kuda putih mutasi dan Xue Zi langsung merinding. Dia tidak lupa. Terutama Xue Zi yang sebelumnya dicat warna hitam oleh Li Chang Su ketika melakukan perjalanan ke Sekte Hitam waktu itu. Dia bahkan digambar juga dengan warna putih yang jelek.
Jadi keduanya menggelengkan kepala dan hanya bisa menerima nasibnya untuk membajak sawah dan menanam padi.
__ADS_1
"Jadi, kapan kami akan melakukannya?" tanya Xue Zi.
Lebih cepat lebih baik bukan?