Menjadi Istri Cerdas Raja Perang

Menjadi Istri Cerdas Raja Perang
Rencana Kencan


__ADS_3

MENDAPATKAN hati wanita?


He Ze menatapnya aneh. Dia duduk di kusen jendela dan mencerna pertanyaan itu. Apakah Mu Xianzhai memanggilnya untuk menanyakan masalah sepele seperti itu?


Tiba-tiba saja dia ingin tertawa dan mengejeknya sebagai pria yang kuno. Tapi di sisi lain juga, dia cukup ngeri dengan pria ini. Jadi hanya terbatuk kecil dan memastikannya sekali lagi. Ternyata pendengarannya tidak salah. Mu Xianzhai ingin tahu cara-cara mendapatkan hati wanita. Dia tidak berpengalaman dalam membujuk wanita.


Selama dua puluh delapan tahun, dia hanya mempelajari ilmu bela diri dan sistem perang. Di mana ada waktu untuk mempelajari pria yang sedang merayu wanita. Dulu ada Rongyu sebagai teman masa kecilnya. Tidak, wanita itu bisa dikatakan sebagai adiknya. Tapi anehnya, dia tidak tertarik juga. Sampai waktu itu, hubungan pertemanan mereka pecah karena ramuan cinta.


Sekarang, Mu Xianzhai hanya bisa mengandalkan He Ze. Awalnya ingin meminta Mu Hongzhi untuk mendapatkan ide. Tapi pria bodoh itu sama-sama tidak pandai dalam membujuk wanita. Atau, mungkinkah dia harus meminta bantuan Ye Tianli?


Tidak!


Ini sama sekali tidak mungkin. Pria itu mungkin saja akan membuat rencana hancur untuknya.


He Ze terbatuk kecil dan memikirkannya sebentar, "Menurut pemahamanku tentang dunia modern, wanita akan diajak untuk berkencan."


"Apa itu kencan?"


"Ah, kamu bahkan begitu kuno!" He Ze menggelengkan kepalanya, lalu memiliki keinginan untuk menepuk jidat.


"...."


Percaya atau tidak, Mu Xianzhai bisa menendang tupai putih jelek itu ke air kolam yang dingin.


Makhluk kecil berbulu itu akhirnya menceritakan sedikit tentang kencan, bertemu di satu tempat, ajak jalan-jalan, makan bersama, belikan sesuatu, beri bunga atau menonton teater bersama. Bisa juga untuk pergi melakukan aktivitas lain bersama dan menyenangkan pasangan.


Setelah He Ze menjelaskan, pria itu memiliki sedikit ide dan pencerahan. Tapi sifatnya masih dingin dan elegan seperti biasa. Dia mendengus. Hanya itu saja?


"Jika bisa, beri dia makanan yang belum pernah dicicipinya. Kamu juga tahu, dia memiliki banyak makanan di ruang artefak."


"...."


Mu Xianzhai memikirkan ini. Kemudian dia bertanya, "Lalu apa yang sedang dia lakukan sekarang?"


"Mungkin makan di restoran yang cukup terpencil. Dia bilang ingin makan sesuatu yang baru."


Itu dia!


He Ze berkata benar. Mu Xianzhai cukup bodoh untuk ini. Saat ini, gadis itu pergi ke restoran untuk mencoba masakan baru dunia kuno. Pasti belum pernah ada di jamannya bukan? Dia mulai mencatat hal ini dengan baik dan pergi menuju ke tempat di mana Li Chang Su berada. He Ze melarikan diri lebih awal agar tidak dicurigai.

__ADS_1


Ketika tupai putih itu kembali ke restoran, Li Chang Su sangat cemas. Dan menggosok buku lembutnya.


"Ke mana saja kamu pergi?" Tanyanya.


"Hanya menggali wortel."


"Untuk apa?"


"Tentu saja untuk kelinci jelek itu."


Dia segera kembali ke ruang artefak. Sedangkan kelinci mutasi yang mendengar apa yang dikatakan tupai putih itu, hanya memutar bola matanya dan mengejek. Alasan yang bagus. Dia tahu tupai putih itu berbohong. Tapi tidak untuk wortelnya.


He Ze benar-benar memberikan wortel itu kepada kelinci mutasi. Tentu saja, sebagai binatang pencinta wortel, kelinci putih gemuk itu segera menerimanya dengan baik dan memakannya, sangat lahap.


Tidak peduli kebohongan apa yang dilakukan tupai putih itu, yang penting wortel ini asli dan menjadi miliknya. Tapi tiba-tiba saja He Ze tertawa sambil naik ke atas pohon apel yang berbuah merah.


"Apakah wortel curian sangat enak?" Tanyanya agak mengejek.


Kelinci mutasi itu mengerti ucapannya dan seketika kaku. Wortel di tangannya langsung jatuh begitu saja. Wortel hasil mencuri? Sebenarnya tupai itu mencuri wortel! Dia tidak terima dan melemparkannya ke arah si tupai berada. Tapi He Ze tertawa lagi, kini lebih nyaring.


"Hanya bercanda. Wortel itu aku gali dari bukit. Masih dingin, kamu juga bisa merasakan itu masih segar."


Bulu-bulu di tubuh He Ze rasanya meremang semua. Kelinci putih gemuk itu kembali ke wujud binatang mutasinya yang besar. Bagaimana dia tidak terkejut. Dia lupa jika itu adalah kelinci mutasi, bukan makhluk berbulu putih kecil yang jinak.


Ahh ...! Bagaimana dia lupa tentang ini!


Meninggalkan kemalangan He Ze. Saat ini di luar ruang artefak ....


Li Chang Su sedang menunggu makanan datang. Meski badai salju berpetir ini telah menghancurkan sebagian besar wilayah Negara Bingshui, tapi beberapa toko atau tempat masih selamat. Beberapa toko langsung buka untuk menyambut pelanggan atau menampung mereka dengan biaya penginapan beberapa koin tembaga.


Bagi mereka, bencana seperti ini sudah biasa. Tapi jujur saja, badai salju kali ini memang lebih mengerikan dari tahun lalu. Dan ada keanehan juga. Tidak geran bahkan jika pagi masih terasa malam. Saat ini saja, cuaca cukup buruk. Dingin, tanpa mentari yang mau mengintip.


Ini seperti hari tanpa suasana hangat.


Li Chang Su terkejut saat melihat Mu Xianzhai datang dan mengambil duduk di seberangnya. Meminta pelayan untuk memerankan hal yang sama dengan gadis itu.


"Kenapa kamu di sini?" Tanya Li Chang Su cukup bingung.


Dia menatap gelang naga perak di pergelangan tangan kirinya dan mulai paham. Ternyata gelang ini lagi masalahnya. Sungguh tidak bisa melarikan diri.

__ADS_1


Mu Xianzhai tersenyum cukup menarik hari ini. Tidak mengambil masalah atau topik yang membingungkan. Membuat Li Chang Su berpikir jika ini bukan watak pria itu di hati biasa. Saat makanan datang, Mu Xianzhai bersulang secangkir anggur dulu untuknya.


"Su'er, hari ini aku yang mentraktir. Bagaimana jika kita berkeliling sebentar sebelum pergi?" Tanyanya tanpa keraguan.


Mentraktir?


Gadis itu bahkan lebih curiga padanya. Kenapa tiba-tiba pria dingin ini ingin mentraktirnya?


Seburuk apapun suasana hati Li Chang Su, itu masih setuju untuk memeras uang Mu Xianzhai. Dia ingin tahu, berapa banyak uang yang akan dikeluarkan pria ini untuk menanggungnya. Dan Mu Xianzhai sudah menebak-nebak dalam hati. Dirinya pasti akan segera diuji.


Tahap pertama, ajak makan dan mengobrol ringan.


Sekarang, dia melakukan ini untuk mengetahui apa saja yang ingin dibicarakan Li Chang Su. Ternyata tentang binatang mutasi. Dia tidak keberatan untuk menjawabnya dengan tenang. Gelombang binatang mutasi dan badai salju seperti ini sudah sering terjadi setiap tahun di musim dingin. Masyarakat sudah terbiasa.


Tapi tahun ini memang yang paling parah. Meski begitu, masih banyak toko yang buka karena tempat mereka tidak rusak parah. Sehingga banyak warga juga yang datang untuk mwnghangatkan diri.


Setelah makan siang, Mu Xianzhai mengajaknya berjalan-jalan di sekitar. Dia mengajaknya ke berbagai tempat yang sejak awal seharusnya indah. Sayang sekali karena badai salju ini, tidak ada banyak pemandangan yang bisa diperhatikan.


Li Chang Su ingat jika hari ini dia harus pergi meninggalkan kota. Tapi Mu Xianzhai meraih tangannya dan mengajak dia ke suatu tempat. Tanpa mereka sadari, sosok Ye Tianli sebenarnya memperhatikan keduanya dari sebuah perumahan. Ekspresinya sedikit jelek.


Pria berwajah besi itu tampaknya sedang mencoba untuk menyenangkan Li Chang Su. Memikirkan hal ini, Ye Tianli memiliki rencana di hatinya. Mungkin pangeran kedua harus diberi tahu juga ...


"Huh, aku ingin tahu ... Seberapa besar keinginan pria itu untuk mendapatkan hatinya," gumamnya.


Di sisi lain, Mu Hongzhi baru saja selesai untuk memeriksa beberapa wilayah yang terkena dampak badai salju yang parah. Beberapa bangunan rusak parah. Terutama rumah-rumah warga berpenghasilan kecil. Kaisar telah meminta para menteri terkait untuk turun tangan dan mencatat kerusakan. Sehingga penanggulangan setelah bencana bisa langsung dilakukan.


Mu Hongzhi mengerahkan orang-orang di bawah perintahnya untuk membantu masyarakat. Sementara dia mencari keberadaan Li Chang Su dan Mu Xianzhai yang kini sedang berkencan diam-diam.


Tidak tahu apakah ini takdir atau kesialan, Mu Hongzhi bisa dengan cepat menemukan sosok keduanya di jalan kota yang dikategorikan tidak berdampak buruk akibat badai salju terakhir kali. Dia melihat Mu Xianzhai sedang memasang jubah berbulu rubah untuk Li Chang Su.


Uhh ... Tampaknya sepupu sedang membeli banyak barang untuk kakak ipar? Pikirnya.


"Kakak Ipar, sepupu ...," Panggilnya seraya menghampiri mereka. Kuda yang ditungganginya berjalan perlahan dan tampak tenang.


Li Chang Su melihat keberadaan Mu Hongzhi. Syukurlah, pria itu akhirnya datang. Dengan begitu, dia tidak perlu menghadapi Mu Xianzhai yang berperilaku aneh hari ini. Membelikannya jubah hangat dengan bulu rubah di kerahnya. Serta tepian jahitan juga diberi bulu-bulu halus yang nyaman. Ini membuat tubuhnya hangat. Setidaknya, tidak terlalu misterius dibanding memakai jubah hitam bertudung itu.


"Kakak Ipar, apakah kita akan berangkat hari ini?" Tanya Mu Hongzhi tanpa memperhatikan ekspresi Mu Xianzhai yang sudah menghitam.


Sepupu sialan ini, apakah mencoba untuk mengganggu rencananya?

__ADS_1


__ADS_2