Menjadi Istri Cerdas Raja Perang

Menjadi Istri Cerdas Raja Perang
Mu Lizheng Gelisah, Rongyu Punya Rencana


__ADS_3

PENSIUNAN kaisar akhirnya menyerah dan segera membuka surat yang cukup tebal itu. Tapi saat dibuka, dia mendapatkan lapisan lain sehingga membukanya lagi. Lagi-lagi dia dan Kaisar Mu lebih terkejut ketika ada lapisan ketiga. Pensiunan kaisar menghela napas dan membuka surat lapisan ketiga. Kali ini tidak ada lapisan lain.


"Sudah kuduga, istri putra ketigaku tidak akan menjadi orang yang normal," kata Kaisar Mu ingin menangis tapi tidak ingin mengeluarkan air mata.


Bisakah surat itu berisi sesuatu yang normal juga?


Pensiunan kaisar membuka lipatan kertas dan mendapati banyak beberapa baris kata saja di dalamnya. Ia mengerutkan kening dan menyerah surat tersebut pada putranya.


"Aku tidak tahu tentang ini. Kamu mungkin lebih paham," katanya.


"..." Memangnya apa yang tertulis di dalamnya? Pikir Kaisar Mu seraya menerima kertas putih yang sangat halus tersebut.


Dia mulai membacanya. Tapi isi surat sangat pendek.


...[Adakan pesta bunga di halaman istana yang paling bagus.]...


"..." Halaman yang paling bagus? Kaisar Mu memikirkan ini dan tiba-tiba saja mengerang.


"Ada apa?" tanya pensiunan kaisar.


"Seminggu lagi ada acara pesta bunga di Istana Kekaisaran. Musim dingin telah berakhir dengan cepat. Dan gadis itu memintaku mengadakannya di halaman istana yang paling bagus." Kaisar Mu agak berduka.


"Oh, kenapa ekspresimu begitu masam? Memangnya di masa istana yang paling bagus itu?"


"Tentu saja halaman istanaku yang paling bagus."


"Hah? Istanamu? Kalau kamu tidak mau, tolak saja."


"Tidak mungkin. Ada cap segel Istana Raja Perang. Lihatlah ini, mana mungkin aku menolak walaupun tidak mau," katanya langsung gemetar.


Ini cap segel Istana Raja Perang yang tidak bisa dia lawan. Putranya selalu berkuasa sejak lama sehingga jarang sekali menggunakan cap segel ini untuk hal-hal pribadi. Tapi dia tidak tahu jika segel tersebut akan jatuh ke tangan menantu ketiganya.


"..." Pensiunan kaisar juga melihatnya. Ini sudah nasibmu, pikirnya.


"Jadi aku harus bagaimana?" tanya Kaisar Mu segera meminta pendapat ayahnya.

__ADS_1


"Lakukan saja. Aku yakin gadis itu menulis ini pasti karena persetujuan Zhai'er," jawabnya.


"Ohh ... Kenapa harus istanaku? Apakah gadis itu tahu jika aku sangat menyayangi istanaku sendiri," ratap Kaisar Mu.


"Kusarankan jangan terlalu sombong. Aku khawatir ketika kamu terlalu menyayangi halaman istanamu, mungkin besok bisa hancur. Ada satu minggu lagi untuk persiapan. Segera atur saja."


"..." Lalu Ayah, apakah kamu akan membantuku? Pikirnya penuh harap.


Tak lama setelah mereka berdiskusi, Kasim yang selalu menemani kaisar pun segera mengetuk pintu ruang kerjanya. Lalu melaporkan jika bupati ada di istana sambil membawa si kembar. Pensiunan kaisar lebih bersemangat dan langsung pergi. Kasim yang ada di depan pintu berdaun dua itu pun segera menyentuh hidungnya yang kena banting.


Pensiunan kaisar tidak peduli dan pergi begitu saja untuk menemui cicit kembarnya.


"..." Kasim itu kebingungan. Lalu melihat kaisar keluar dengan ekspresi lesu. "Yang Mulia, apakah perlu saya sampaikan pada bupati jika Anda tidak sehat?" tanyanya.


"Di mana aku tidak sehat? Aku sangat sehat. Sangat sehat sehingga surat itu membuatku sakit," gumam Kaisar Mu seraya pergi dengan langkah yang tenang. Dia ingin tahu apa yang diinginkan Mu Yishu juga.


Membawa si kembar, pasti niatnya tidak baik. Begitulah pikirnya.


"..." Si Kasim hanya mengerutkan kening lagi dan mengikutinya diam-diam. Kaisar sangat aneh hari ini. Apa yang membuatnya begitu lesu? Pikirnya.


Di Istana Putra Mahkota.


Mu Lizheng mondar-mandir di ruang belajarnya seraya berpikir keras. Semalam kejadiannya begitu kacau. Beberapa pangeran telah melapor pada istana kekaisaran jika ruang belajar mereka telah dirusak oleh pencuri yang tidak tahu pihak lawan yang mana. Namun tidak ada kasus barang yang hilang.


Hanya saja mereka khawatir jika masalah ini akan berdampak pada kebocoran rahasia negara. Tapi siapa yang tahu bahwa kegelisahan mereka hanyalah sebagian kecil dari kekhawatiran putra mahkota. Kali ini dia merasa jika pihka lain tahu apa yang dirinya lakukan. Mencuri cap segel raja perang.


Namun Mu Lizheng ragu jika Mu Xianzhai yang memulai. Dia sudah mendapatkan laporan jika Istana Raja Perang begitu tenang. Namun berita tentang Mu Xianzhai yang marah juga benar adanya. Tampaknya raja perang sudah tahu jika cap segel itu sudah hilang. Inilah yang membuat Mu Lizheng panik.


Pada akhirnya dia hanya duduk dan memanggil pelayan. “Panggilkan Rongyu untukku!” katanya penuh perintah.


Pelayan pun segera pergi menjalankan tugasnya.


Saat ini, Rongyu berada di halaman belakang yang telah disiapkan oleh Mu Lizheng. Tempatnya memang lebih indah karena dia adalah sang putri saat ini. Walaupun pernikahan mereka tidak mewah, namun statusnya sudah sang putri. Hanya saja dia belum menyandang gelar putri mahkota secara luas karena Mu Ying, adik dari Mu Lizheng mengadu pada kaisar.


Pada akhirnya, Rongyu hanya bisa bisa puas dengan status putrinya saja. Wanita itu tengah memandangi dirinya di cermin. Kecantikan tanpa noda, sungguh dia banggakan. Tiba-tiba saja pelayan datang sambil memanggilnya dan memberi tahu perintah putra mahkota.

__ADS_1


“Yang mulia memanggilku? Apakah dai terlihat marah atau bahagia?” tanyanya.


“Yang mulia tampak kesal, Putri. Sepertinya kejadian di ibu kota semalam membuatnya tidak bahagia,” jawab pelayan muda itu sopan.


Akhirnya Rongyu bangkit dan membenarkan gaunnya, lalu berjalan ke luar ruangan. “Apa yang terjadi di ibu kota akhir-akhir ini?” tanyanya.


“Beberapa pangeran tekah datang ke istana kekaisaran dan mengadu pada kaisar jika ruang belajar mereka telah digeledah pencuri?”


Digeledah pencuri? Rongyu merasa ada yang aneh saat memikirkan ini dan buru-buru pergi ke ruang belajar. Pelayan hanya mengantarnya sampai pintu saja dan langsung pergi untuk mengerjakan hal lain. Belum lagi, Rongyu tidak membawa dua pelayan setianya yang selalu menemani. Kedua pelayan itu dia beri tugas pergi ke rumah jenderal untuk mengambil sesuatu dari ibunya.


Saat melihat Mu Lizheng yang duduk sambil memperhatikan kotak cendana kecil berukir rumit, dia tampaknya bisa memahami di mana inti masalahnya.


“Apakah Yang Mulia memanggil Yu’er?” tanyanya lembut.


“Ya. Aku ingin kamu memberi tahu tentang cap segel Mu Xianzhai. Apakah kamu yakin ini asli?” tanya Mu lizheng agak dingin.


“Tentu saja itu asli. Hanya ada satu di ruang belajar pangeran ketiga. Aku pernah melihatnya sekali waktu kecil. Apakah Yang Mulia sudah memakainya?”


“Belum karena aku masih ragu. Apa yang harus kulakukan untuk mencobanya?”


Keduanya tampak berpikir. Lalu Rongyu teringat dengan Li Chang Su yang menatapnya dengan sombong waktu itu. Gadis yang masih anak-anak di matanya itu begitu percaya diri dengan kemampuannya. Dia memikirkan sesuatu yang akan membuat hubungannya dengan Mu Xianzhai menjadi renggang.


Yang Mulia, Yu’er punya ide. Tapi tidak tahu apakah yang Mulia akan menyukainya atau tidak?”


“Oh? Apa itu?” Mu Lizheng menaikkan sebelah alisnya dan mencondongkan tubuhnya agar Rongyu berbisik. Lalu kemudian dia mengerutkan kening. “Apakah kamu yakin ini akan berhasil?” tanyanya.


“Kita lihat saja. Apakah berhasil atau tidak. Tapi yang pasti, hubungan keduanya tidak akan berjalan baik lagi di masa depan.”


Mu Lizheng mungkin hanya bisa mencobanya. Lalu dia mendudukkan wanita itu di atas meja belajarnya. Kemudian mencium leher jenjangnya. Rongyu tahu jika Mu Lizheng pasti dalam suasana hati yang bahagia saat ini sehingga ingin menyentuhnya.


“Yang Mulia, ini bukan tempat yang pas,” bisiknya.


“Jadi bagaimana dengan itu. Mari kita coba di sini, mungkin menyenangkan.” Pria itu tersenyum nakal padanya.


“Yang Mulia, kamu menggoda Yu’er.” Rongyu terlihat malu-malu dan hanya bisa menuruti apa yang diinginkan Mu Lizheng.

__ADS_1


Para penjaga di luar hanya bisa diam-diam menjauh dan tutup telinga.


__ADS_2