
KETIKA LI CHANG SU membuka mata, sosok yang familiar sudah muncul di dekatnya. Pria itu sedikit berkeringat dingin dan pucat. Entah sejak kapan dia tidur di pangkuannya. Ketika baru saja tersadar dia telah keluar dari tempat naga perak, rasanya ... agak luar biasa.
Kali ini dia memandang Mu Xianzhai yang mengkhawatirkannya. Dia bangun seperti orang yang baru saja selesai tidur. Tubuhnya berkeringat, mungkin efek obat demam sebelumnya.
"Xian ...," gumamnya.
Mu Xianzhai tiba-tiba saja memeluknya dengan tubuh sedikit kaku. Syukurlah istrinya masih hidup dan sadarkan diri. Dia khawatir ini hanya ilusi saja sehingga segera memastikannya. Ia mencubit hidung gadis itu cukup lama hingga akhirnya Li Chang Su kesulitan bernapas. Bukan hanya itu, Li Chang Su juga mulai menyadari jika dia sudah bangun.
Menepis tangan Mu Xianzhai yang baru saja hampir membunuh, Li Chang Su memelototinya tanpa sengaja. "Apakah kamu benar-benar ingin membunuhku?" omelnya.
Mu Xianzhai tidak menjawab, justru merasa senang. "Su'er ... Syukurlah kamu baik-baik saja. Aku pikir ... aku pikir kamu akan pergi," gumamnya.
"Kamu ini bicara apa? Pergi ke mana? Bukankah aku hanya tidur?" Gadis itu kebingungan. Apakah dia benar-benar seperti orang mati hingga pria ini hampir gila di depannya?
Setelah memeluk istrinya, Mu Xianzhai segera memiliki ekspresi jelek. "Hanya tidur? Su'er telah tidur tanpa memiliki napas selama seharian. Ini sudah menjelang malam. Bagaimana mungkin itu baik-baik saja?"
"..." Li Chang Su tertegun. Apakah benar-benar mengkhawatirkan?
"Tuan ... Tuan ... Kamu jangan menakutiku juga. Pria kejam itu hampir saja menguliti buluku jika kamu tidak bangun-bangun." Tanpa sadar, He Ze yang gemetar di atas meja pun hampir menjadi korban. Tupai putih itu agak menggemaskan saat ketakutan, memeluk ekor berbulu lebatnya.
"..." Gadis itu menatap He Ze yang ketakutan. Melihat gunting di sisi lain, Mu Xianzhai memang tak main-main.
Akhirnya Li Chang Su bangun dan memeluk pria itu. "Aku baik-baik saja. Aku punya sesuatu dan harus menceritakannya padamu. Ini sangat penting. Jangan marah, oke?" bujuknya dengan baik.
Mu Xianzhai masih belum tenang sepenuhnya. Dia menghirup aroma tubuh istrinya itu dan memastikan jika Li Chang Su masih hidup. Wajahnya juga masih pucat. Iris mata pria itu menimbulkan efek kuning keemasan. Aura mendominasinya menguar di kamar hingga tak ada satupun pelayan yang berani mendekat.
Selama hampir setengah jam, Mu Xianzhai memeluk istrinya dengan ketidakpercayaan. Hingga waktu makan malam hampir tiba. Gadis itu merasa gerah dan berkeringat saat pelukan pria itu tidak sedikitpun melonggar.
__ADS_1
"Xian ... Sampai kapan kamu akan memelukku? Aku lapar dan ingin mandi," kata gadis itu segera mengembalikan kewarasan Mu Xianzhai.
Akhirnya Mu Xianzhai melonggarkan pelukan dan menatap wajah istrinya yang berkedip polos. Lalu keduanya berciuman cukup lama. Setelah itu, Mu Xianzhai pun tersenyum cukup lebar.
"Istriku, kamu adalah satu-satunya orang yang mendampingiku sekarang. Jangan pernah meninggalkanku, apapun itu alasannya. Mengerti?" Mu Xianzhai menyentuh bibir istrinya yang lembap akibat ulahnya.
"Yah, baiklah. Tapi sekarang aku lapar. Aku akan menceritakan sisanya nanti." Gadis itu mengeluh.
"Tentu saja. Istri Raja ini tidak bisa dibiarkan kelaparan." Mu Xianzhai selalu memanjakan istri kecilnya ini dan segera meminta pelayan menyiapkan makan malam.
Di atas meja, He Ze masih ketakutan dan pergi ke ruang artefak lebih dulu. Sungguh, Mu Xianzhai benar-benar mengerikan setelah mengetahui jika Li Chang Su tidak memiliki napas. Walaupun He Ze juga penasaran apa yang terjadi, tapi ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya. Dia akan mendengarkan nanti dari ruang artefak.
Tapi ... saat melihat hidangan makan malam disajikan, tupai putih yang berada di ruang artefak itu tidak sabar untuk makan. Terutama saat melihat olahan mi. Namun lagi-lagi dia teringat dengan Mu Xianzhai yang galak, jadi mengurungkan niatnya. Dia akan masak mi sendiri. Bukankah gadis itu memiliki banyak mi untuk membuat pasta?
Sementara di kamar, Li Chang Su tidak peduli dengan apa yang dilakukan tupai putih di ruang artefak. Setelah mandi, tubuhnya merasa segar. Mu Xianzhai sudah menunggunya untuk makan malam.
"Ternyata hidup kaisar pertama cukup makmur. Su'er benar-benar beruntung bisa melihat awal mula perjalanan Negara Bingshui dari awal hingga sekarang," ujar pria itu tenang. Dia mengambil tumis rebungnya. Bahkan menjauhkan olahan rebung dari gadis itu agar tidak salah ambil.
Sementara Li Chang Su memastikan jika tidak ada bawang daun dalam makanan yang diambil Mu Xianzhai. Pria itu tidak menyukainya.
"Apakah kamu ingin melihatnya juga?" tawar gadis itu. Pasti menyenangkan jika Mu Xianzhai bisa melihatnya juga.
"Tentu saja. Aku akan memintanya pada naga perak nanti," jawabnya seraya makan tumis rebung. Senyumannya juga sedikit berbahaya, namun Li Chang Su tidak mengetahuinya.
Naga perak itu mencoba untuk memenangkan hati istrinya. Mu Xianzhai yang memiliki sedikit rahasia itu jelas tak akan membiarkan istrinya direbut oleh naga perak. Sungguh konyol. Pria itu mencibir dan pasti akan pergi ke tempat di mana naga perak tengah tidur panjang. Dia juga tahu tentang gua lava yang diceritakan istrinya.
Setelah makan malam, Li Chang Su masih belum selesai bercerita. Yang membuat Mu Xianzhai agak kurang percaya diri, istrinya melihat bagaimana dia memiliki harapan tentang takdir gelang naga perak. Sungguh, naga perak itu benar-benar minta dikuliti.
__ADS_1
Tanpa sadar, naga perak yang berada di gua lava pasti merinding bukan?
Pria itu membiarkan istrinya duduk di pangkuan dan menceritakan apa saja yang terjadi saat berada di mimpi tersebut. Lalu dia memeriksa suhu tubuhnya, tidak lagi demam. Li Chang Su juga berkata dia sudah baik-baik saja sekarang.
"Apakah ada kabar terbaru tentang pangeran kedua dan putra mahkota?" tanya gadis itu mengambil topik lain. Ia tidak tahu apakah tubuhnya berat atau tidak, Mu Xianzhai tampak tidak peduli dengan beban di pangkuannya.
"Su'er begitu perhatian pada mereka. Lalu bagaimana denganku?" tanya pria itu seolah-olah membuka botol cuka di perutnya.
"Apakah kamu memiliki masalah juga?" Akhirnya Li Chang Su mencoba untuk membujuk sisi baiknya lebih dulu.
"Mm ..." Pria itu hanya menjawab dengan suara tertahan di mulutnya.
"Masalah apa?"
"Bukan masalah besar. Su'er tidak perlu khawatir. Tapi aku tidak suka jika Su'er lebih mementingkan masalah mereka," jawab Mu Xianzhai dengan sedikit ekspresi kurang suka.
"Kalau begitu aku tidak peduli padamu. Bagaimana aku tahu apa masalahmu jika tidak memberitahuku dulu? Lupakan saja. Aku akan membantu pangeran kedua untuk—"
"Baiklah. Ikut aku ke ruang belajar." Pria itu menukasnya. Memiliki kecemburuan seperti ini sungguh bukan hal baik, begitulah kira-kiranya yang dipikirkan Mu Xianzhai saat ini.
Setelah bercerita panjang, Li Chang Su mengikuti Mu Xianzhai ke ruang belajar. Beberapa lentera minyak dinyalakan untuk menerangi seisi ruangan. Mu Xianzhai duduk di kursinya dan meminta gadis itu untuk duduk di sampingnya. Setelah itu, ia mengeluarkan sebuah gulungan yang agak panjang.
Ketika gulungan yang agak panjang dan cukup tebal itu dibuka, Li Chang Su mengerutkan kening.
"Apakah ini peta Negara Bingshui?" tanyanya setelah mengamati beberapa garis yang sepertinya sudah lama dibuat.
...****************...
__ADS_1
CATATAN PENULIS: Author membaca novel terjemahan Cina selama dua hari terakhir, jadi tidak update. Yang lihat beranda FB Author pasti tahu. Author juga manusia biasa, butuh asupan novel untuk inspirasi di masa depan. Jadi mohon maaf tidak memberi kabar sebelumnya.