
MU XIANZHAI hanya tersenyum saat Li Chang Su merasakan sedikit rencananya, tapi tak dihiraukan. Setelah makan siang, keduanya berjalan-jalan sebentar di pasar dan membeli beberapa barang yang cukup bagus. Termasuk perhiasan. Mu Xianzhai membelikannya tusuk konde yang cantik.
Setelah keluar dari pasar, keduanya pergi ke teater. Ada banyak orang yang memakai kostum dan memainkan peran drama. Li Chang Su terhibur dengan aksi mereka. Sungguh, ini adalah pengganti bioskop. Sayangnya di zaman ini, tidak semua drama dipentaskan. Bahkan tidak ada yang namanya buku novel.
Menurut Mu Xianzhai, cerita karangan yang tidak nyata dilarang beredar. Alasannya sederhana, takut adanya fitnah. Oleh karena itu, kebanyakan buku cerita yang dijual di toko adalah cerita hidup seseorang atau tokoh penting di Negara Bingshui.
Tanpa sadar, hari sudah sore.
"Xian, aku lelah. Ayo pulang," ajak gadis itu mulai tidak bersemangat.
"Tentu saja." Mu Xianzhai sepertinya sudah memiliki rencana setelah pulang ke rumah nanti.
Keduanya masuk kereta dan kusir membawanya kembali ke Istana Raja Perang.
"Apakah kamu senang hari ini?" tanya Mu Xianzhai seraya membuatkan gadis itu bersandar di dadanya.
"Ya. Aku senang hari ini. Ada banyak hal di ibu kota. Ini benar-benar membuka mataku." Gadis itu menguap.
"Aku juga senang."
Setelah kereta parkir di luar gerbang, Li Chang Su dan Mu Xianzhai turun. Ketika masuk rumah, pria itu sudah menunjukkan sisi prianya yang dominan terhadap tubuh istrinya. Dia mencium bibir gadis itu seraya menuntunnya masuk kamar.
Xuxu dan Xuyao tidak berani mengikuti. Mereka dengan cepat melarikan diri dan membiarkan kedua tuan itu saling mencintai satu sama lain.
Di kamar, Mu Xianzhai sudah melepaskan topeng peraknya dan mencium gadis itu kembali. Lalu menenggelamkan wajahnya di leher seraya menciuminya perlahan. Tuhan tahu betapa dia menahan diri sepanjang perjalanan. Orang-orang memandang istrinya diam-diam, membuat dia gatal ingin mencongkel mata mereka yang berani bermain mata.
Oleh karena itu, Mu Xianzhai ingin membersihkan istrinya sore ini.
"Xian ..." gumam gadis itu dengan wajah memerah.
__ADS_1
Li Chang Su tampaknya tidak menolak. Mungkin karena hari ini dia senang di luar sehingga pelayan Mu Xianzhai membuatnya nyaman. Lampu hijau ini jelas membuat Mu Xianzhai semakin membakar hormon prianya. Sifat ingin menaklukkan itu muncul.
Napas Mu Xianzhai sedikit berantakan dan menekan istrinya di tempat tidur dalam keadaan pakaian yang berantakan. Pria itu ingin menyentuh istrinya hingga ke tulang, menelan sedikit demi sedikit hingga meninggalkan rasa kepuasan.
Tapi ... baru saja Li Chang Su menanggalkan setengah gaunnya, pelayan dengan perasaan takut segera mengetuk pintu kamar dan melaporkan jika Ye Tianli dan Ye Shi ada di halaman depan. Kedua saudara itu berkata jika ada sesuatu yang penting harus dibahas dengan Mu Xianzhai.
Seketika, wajah Mu Xianzhai menggelap. Api di perutnya baru saja bangkit dan dia tidak sabar untuk memakan bersih tubuh istrinya. Sekarang dua nyamuk itu datang dan dirinya harus pergi. Mu Xianzhai enggan dan ingin melanjutkan, tidak peduli dengan orang di luar. Namun Li Chang Su tersenyum tidak berdaya dengan wajah memerah.
"Pergilah dulu ... Mereka mungkin ingin membicarakan sesuatu yang penting. Ye Tianli tidak akan datang tanpa sesuatu yang mendesak. Ini masih sore," kata gadis dengan suara yang sedikit berbisik. Wajahnya memerah. Dia memang tidak keberatan untuk dimanja pria ini sekarang. Tapi tugas lain lebih penting.
Mu Xianzhai menatap istrinya dengan tatapan tidak mau. Namun dia juga bersikap dewasa di sini, segera bangkit dan membenarkan pakaiannya. Lalu berkata pada pelayan jika dirinya akan datang sebentar lagi. Biarkan dua saudara Ye itu menunggu sebentar.
Li Chang Su juga membenarkan gaunnya sebelum Mu Xianzhai mencium dahinya.
"Tunggu aku kembali. Jika aku belum keluar saat makan malam, jangan tunda waktu. Makanlah." Pria itu memberinya beberapa nasihat.
"Aku tahu," katanya.
Sementara itu ....
Mu Xianzhai menemui Ye Tianli dan Ye Shi yang kini berada di ruang tamu. Dia mengerutkan kening saat melihat keduanya agak cemas. Barulah setelah keduanya melihat Mu Xianzhai, Ye Shi menyerahkan sebuah gulungan surat.
"Apa ini?" tanya pria itu kebingungan. Lalu membiarkan kedua tamu itu untuk duduk.
"Surat dari barak militer. Aku tak sengaja menemukannya saat menjalankan tugas ...," kata Ye Shi. Tentu saja, tugasnya adalah membunuh orang dan mendapatkan upah.
"Menemukannya?"
"Orang yang memegang surat ini telah meninggal. Sebelum meninggal, dia telah terluka parah akibat serangan binatang mutasi. Aku tidak tahu siapa itu, tapi yang jelas bukan dari Negara Bingshui. Tepat sebelum dia meninggal, ia mengeluarkan surat tersebut dan memintaku untuk memberikannya padamu," jelas Ye Shi sangat meyakinkan.
__ADS_1
"Apakah kamu yakin tidak membunuhnya?" Mu Xianzhai curiga.
"..." Apakah aku sejahat itu? Batin Ye Shi begitu polos. Tentu saja dia tidak membunuhnya. Orang-orang bisa menjadi saksi di sana. Apalagi barak militer dipenuhi oleh prajurit, mata mana yang akan mengkhianatinya?
Oleh karena itu, Ye Shi sangat meyakinkan Mu Xianzhai. Adapun kenapa dia dan Ye Tianli cemas, surat ini datang bersamaan dengan gelombang binatang mutasi di luar perbatasan. Semuanya adalah binatang mutasi kegelapan. Mereka menubruk benteng perbatasan dan hampir merobohkannya. Untunglah para pemanah api sudah siap dan menghalau semua kawanan itu.
Mendengar apa yang diceritakan Ye Shi, Mu Xianzhai sedikit tertegun. Begitu parah? Lalu dia menatap Ye Tianli seraya membuka gulungan surat.
"Lalu kamu dari mana?" tanyanya.
"Aku seorang pebisnis. Tentu saja aku pergi untuk melakukan bisnisku sebentar. Aku terkejut saat pangeran kedua ada sedikit masalah dan buru-buru kembali. Orang-orang putra mahkota itu benar-benar menggeram kaki dan tangan saat aku tidak ada," jawab Ye Tianli seraya mengipasi dirinya dengan kipas lipat.
"Ini ulah wanita itu," cibir Ye Shi. Tentu saja wanita yang dia maksudkan adalah Rongyu.
"Huh, dia hanya wanita yang tidak bisa memasuki mata tuan muda ini," kata Ye Tianli sangat sombong.
"Sebaiknya kamu tinggal di ibu kota akhir-akhir ini. Putra mahkota mulai bergerak."
"Ya, kamu benar. Aku akan menunda pekerjaan dulu untuk melindungi pangeran kedua. Aku tidak perlu khawatir tentang uang."
"Kamu sudah kaya raya. Apa yang masih kamu khawatir? Pacar?"
"..." Hei, aku sudah punya selir. Kalau begitu, bagaimana dengan dirimu sekarang? Batin Ye Tianli.
Mu Xianzhai tidak mengkhawatirkan apa yang mereka bicarakan. Dia membaca isi surat itu dan mengerutkan kening. Untuk sementara waktu, dia kurang mengerti dengan apa yang dimaksud dalam surat itu. Tapi setelah menemukan kata Bell dan Orange, ia sepertinya mulai mengerti jika surat ini berasal dari pegunungan dewa.
Seseorang yang mengirimnya adalah ....
"Siapa itu Wen Lao?" tanyanya pelan.
__ADS_1
"..." Kami tidak tahu, pikir keduanya.