Menjadi Istri Cerdas Raja Perang

Menjadi Istri Cerdas Raja Perang
Pelaku yang Sebenarnya


__ADS_3

MU XIANZHAI akhirnya hanya bisa diam setelah mendapatkan cibiran dan kemarahan istrinya lagi. Baiklah, dia menanggung segalanya. Tidur tanpa sang istri. Ia tidak yakin apakah sanggup atau tidak. Tapi jujur saja, ia tidak akan tidur nyenyak setelah ini. Karena selama ini hanya Li Chang Su yang mampu membuatnya tenang.


Setelah makan, Mu Xianzhai tidak langsung tertidur. Dia hanya duduk bersandar untuk membuat perutnya mencerna makanan lebih dulu. Namun untuk malam ini, dia ingin Li Chang Su tidur di sampingnya. Gadis itu juga baru saja menghabiskan mi kari ayamnya.


"Su'er, apakah ini sakit?" tanya pria itu seraya menyentuh kain kasa yang melilit di leher istrinya. Dia ingat jika saat itu, bekas cambuk di leher Li Chang Su mengeluarkan banyak darah


"Tentu saja sakit. Memangnya kamu pikir tidak? Sekarang saja masih berdenyut," jawabnya agak cemberut.


"Maaf, ini salahku. Su'er bisa mencambukku nanti untuk membalas dendam?" Mu Xianzhai tidak keberatan jika mendapatkan luka yang sama seperti istrinya.


"Tidak perlu. Tapi kamu jangan bunuh dua penjaga gelap itu. Mereka milikku sekarang!"


Mu Xianzhai tersenyum lelah dan mengangguk. "Baik. Aku memaafkan mereka untuk kali ini. Tapi ruang belajar harus ditata ulang," katanya.


"Aku akan meminta He Ze untuk pergi mencari barang yang hilang dari ruang belajarmu. Jangan khawatirkan itu."


"Ya, terserah Istri saja." Pria itu sedikit bergumam.


He Ze segera diminta keluar dan pergi mencari tahu apa yang terjadi. Li Chang Su ingin laporannya besok pagi. Malam ini, dia menemani Mu Xianzhai beristirahat. Lalu setelah malam begitu larut, keduanya tertidur. Mu Xianzhai memeluk istrinya sepanjang malam karena tahu jika besok hari baiknya akan berakhir.


Sementara itu ....


He Ze yang ditugaskan untuk mencari tahu siapa yang mengacau ruang belajar Mu Xianzhai pun langsung pergi. Walaupun musim dingin hampir berakhir, tapi cuaca masih sangat dingin di malam hari. Seekor tupai putih melompat dari pohon ke pohon, lalu berlari dan menyelinap dengan baik.


Ketika dia melihat manusia, tubuh kecilnya akan bersembunyi di antara pepohonan atau tempat gelap, lalu melanjutkan perjalanan. Dia telah mendapatkan semua aroma dan jejak dari si penyusup dengan sangat baik. Tentu saja karena dia seekor tupai penjaga artefak. Dia memiliki kemampuan untuk mengetahui hal-hal yang tidak mampu manusia lakukan.


Tanpa diduga, He Ze berpapasan dengan Mao Mao yang sedang membeli ikan bakar di salah satu penjual pinggir jalan. Sejak perang dengan binatang mutasi kegelapan di perbatasan, para binatang mutasi putih tingkat raja ke atas tidak lagi ragu untuk bicara dengan manusia. Bahkan mereka pergi untuk membeli daging dan membayarnya dengan uang sungguhan.

__ADS_1


Dari mana uang itu berasal, tidak ada yang tahu. Tidak ada laporan yang kehilangan uang juga sehingga semuanya terlihat baik-baik saja.


He Ze memperhatikan Mao Mao sejenak dan pergi tanpa menghampirinya lebih dulu. Malam ini tugasnya lebih serius. Walaupun begitu, kucing putih penjaga gelang naga perak milik Mu Yishu pun merasakan sedikit fluktuasi energi dari He Ze.


Kucing putih itu memperhatikan sekitar sambil menggigit ikan bakar. Si penjual ikan bakar hanya menatapnya dengan heran. Aneh rasanya jika dia memiliki pelanggan seekor kucing. Tapi melihat tael tembaga di tangannya, mungkin harus percaya jika kucing putih itu milik pangeran pertama.


Lalu sebuah kereta kuda yang cukup mewah berhenti di dekat sana. Seorang pria menyibak tirai jendela kereta.


"Mao Mao, ayo pulang. Ini sudah larut. Waktunya untuk tidur," kata pria tersebut.


Kucing putih itu meletakkan ikan bakar di permukaan bersalju, lalu menatap Mu Yishu yang datang untuk menjemputnya. "Pulang? Aku ini seekor kucing. Aku begadang di malam hari dan tidur di siang hari. Jangan samakan aku dengan manusia! Kamu pulang saja sendiri!"


"Huh, berapa banyak uang yang kamu minta dari istriku?" tanya Mu Yishu dengan cibiran. Kenapa kucing putih itu sulit sekali untuk membiasakan diri tidur di malam hari?


Mao Mao tampak menghitungnya di dalam kepala. "Sepuluh tael tembaga. Aku memintanya untuk beli ikan. Kamu sangat pelit di rumah!" tuduhnya.


"Kamu memang pelit!" Mao Mao terpaksa mengalah dan menggigit ikan bakarnya lalu masuk kereta Mu Yishu.


Pada akhirnya, kereta meninggalkan kawasan tersebut.


"..." Si penjual ikan bakar itu merasa jika saat ini dia beruntung bisa melihat bupati di jalanan kecil seperti ini. Dan tadi itu ... kucing putih milik bupati, Mao Mao?


Bupati sendiri sangat ramah dan peduli terhadap rakyat. Layaknya raja perang, bupati juga sering membantu masyarakat kecil untuk bangkit dari kemiskinan. Sekarang dia baru tahu jika bupati sangat pelit pada kucingnya. Namun sepuluh tael tembaga itu bukan hal yang kecil bagi rakyat jelata.


Di kereta Mu Yishu ....


Mao Mao sedang makan ikan bakarnya dengan lahap dan menceritakan apa yang dirasakannya tadi. Aura He Ze terasa samar-samar menguar di udara. Dia tidak akan salah mengenali aura binatang mutasi manapun. Apalagi He Ze adalah roh artefak penjaga gelang naga perak Mu Xianzhai.

__ADS_1


Mu Yishu juga belum tahu apapun tentang ini. Namun dia yakin jika He Ze tidak akan mencuri kacang di tengah malam.


"Kalau begitu besok aku akan berkunjung untuk mencari tahu. Kamu jaga istriku di istana bupati, jangan berkeliaran. Saat pulang nanti, akan kubawakan ikan untukmu." Mu Yishu membujuknya.


"Selama ada ikan, semuanya baik-baik saja." Mao Mao tidak terlalu peduli dengan hal lain, selama ada ikan.


"..." Benar-benar kucing asli. Pikir sang bupati dengan enggan.


Meninggalkan interaksi keduanya, saat ini di tempat He Ze sudah berbeda lagi ....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


He Ze berhasil melacak aura seseorang yang telah menyusup ke Istana Raja Perang. Ternyata berasal dari istana putra mahkota yang kini terlihat agak sepi. Beberapa lentera sebagai pencahayaan memenuhi setiap sisi sehingga menambah kesan yang tenang dan damai.


Namun pada kenyataannya tidak selalu seperti itu. Di ruang belajar, Mu Lizheng selaku putra mahkota, kini terlihat gugup. Dia berjalan mondar-mandir seraya memperhatikan kotak kecil yang ada di atas meja belajarnya.


Kotak yang terbuat dari kayu cendana tersebut memiliki pola yang cukup rumit. Di dalamnya terdapat segel Istana Raja Perang. Sayangnya, meski Mu Lizheng begitu senang, dia mengkhawatirkan masalah lain. Jika pihak lain tahu bahwa dia memilikinya, mungkin semuanya akan berantakan.


Dia tidak tahu bahwa sejak tadi, seekor tupai putih bersembunyi di balik kegelapan. Memperhatikan kotak kecil itu seraya menyipitkan mata. Dia bisa melihat apa yang ada di dalam kotak. Mungkin inilah yang membuat Mu Xianzhai begitu marah. Cap Istana Raja Perang yang sangat penting bagi kemiliteran dan juga status Mu Xianzhai.


Rupanya putra mahkota mencuri ini dari Mu Xianzhai. He Ze memikirkan cara untuk bisa mengambil kembali kotak cap segel itu, tapi juga harus memperhatikan diri sendiri agar tidak dicurigai. Oleh karena itu, He Ze harus membuat suatu kekacauan kecil agar Mu Lizheng lengah sedikit.


Tupai putih tersebut segera pergi ke sisi lain di luar ruang belajar dan melihat seorang. Lalu memikirkan cara yang bagus. Namun sebelumnya, dia mencari cap segel lain yang hampir mirip dengan milik Mu Xianzhai. Dengan kemampuannya, tidak sulit untuk membuat sesuatu dalam sekejap mata. Setidaknya, dia menggunakan kemampuannya yang lain.


Barulah setelah itu, dia segera membuat keributan di luar pintu ruangan belajar. Seorang pelayan yang melintas sambil membawa nampan berisi secangkir teh pun tiba-tiba saja terpeset dan jatuh. Disertai dengan suara benda pecah yang tajam.


Mu Lizheng yang tengah kebingungan kini bertambah kesal dan segera membuka pintu ruang belajar, melihat keributan apa yang terjadi.

__ADS_1


"Ada apa ini?" tanyanya kasar, menatap pelayan yang berwajah pucat dan ketakutan. "Bekerjalah dengan benar. Apakah kamu mau mati?" bentaknya.


__ADS_2