Menjadi Istri Cerdas Raja Perang

Menjadi Istri Cerdas Raja Perang
Hidup Dan Mati Bersama


__ADS_3

LI CHANG SU mengatakan segala yang ingin disampaikan. Mu Xianzhai tidak ada di sini dan dia tak tahu apa yang harus dihadapi jika pria itu di sini. Mungkin Mu Xianzhai akan melarangnya dan melawan Zi Long untuk menentang takdir?


Gadis itu segera berlari menuju lingkaran totem penyegel raksasa. Lict berteriak memanggilnya, memintanya kembali. Tidak mungkin! Pelatih hebatnya tidak mungkin akan meninggalkannya di dunia yang tak dikenal ini.


"Pelatih!! Pelatih Su!! Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!" Lict ingin menyusul tidak peduli apa yang akan terjadi padanya nanti.


Sayangnya, Mu Hongzhi yang masih memiliki kewarasan pun segera menahan laki-laki itu agar tidak bertindak impulsif.


Lict memberontak di lengannya dengan mata merah dan kemarahan yang tak terkatakan di hatinya.


"Lepaskan! Lepaskan aku! Biarkan aku pergi dengan pelatih! Aku ingin bersama pelatih ...!" teriaknya semakin menjadi-jadi.


Namun Mu Hongzhi tidak mengatakan apapun. Meski dia juga merasa sakit di hatinya dan mungkin akan menghadapi sikap kemarahan sepupunya. Tapi bagaimana pun juga, dia tak berdaya.


Jika Mu Hongzhi juga menahan Li Chang Su, bukanlah itu berarti menghancurkan kedamaian di benua ini?


"Lepaskan aku ... Lepaskan aku ..." Suara Lict semakin kecil dan parau. Air mata akhirnya membasahi pipinya.


Sejak memasuki dunia militer, dia telah mengenal Li Chang Su. Gadis itu merawatnya. Keduanya sama-sama tidak memiliki orang tua dan saling mengerti sebagai teman.


Lict tidak pernah memiliki pikiran buruk untuk Li Chang Su. Dia memperlakukannya seperti kerabatnya sendiri. Tapi hari ini ... apakah semuanya akan hilang begitu saja?


Lict yang tak berdaya ditahan oleh Mu Hongzhi. Pada akhirnya tak memiliki kekuatan untuk menopang tubuhnya dan terduduk lesu.


"Pelatih Su ...," gumamnya.


Mu Hongzhi tak berani mengendurkan kewaspadaannya. Siapa tahu laki-laki ini akan gila kembali.


"Percayalah ... jika dia berkata akan kembali, pasti akan kembali," ucap Mu Hongzhi pelan. "Bukankah kamu sudah mengenalnya? Kamu harus percaya padanya," imbuhnya lagi.


Di saat mengucapkan kalimat terakhir, Mu Hongzhi menyembunyikan getaran di hatinya. Matanya terkulai, lelah dalam sekejap.


"Justru karena aku mengenalnya dengan sangat baik, aku tahu firasatku sendiri, hanya untuk menenangkanku. Siapa tahu dia tak akan kembali nanti." Lict sedikit terisak, matanya masih memerah dan air mata itu segera diusapnya.


"..." Meski itu dibenarkan ... tapi, bisakah kamu tidak terlalu langsung saat mengatakannya? Batin Mu Hongzhi.


Keduanya hanya berharap jika Mu Xianzhai segera datang ke sini. Kelinci putih mutasi tidak bisa melakukan apapun, dia masih dalam keadaan koma.

__ADS_1


Adapun Li Chang Su sendiri, kini menyayat telapak tangannya, memeras darah. Ketika darah segar menyentuh garis lingkaran totem penyegel, cahaya merah kehitaman muncul.


Dia getaran tanah di sekitar lingkaran totem penyegel raksasa itu. Li Chang Su sedikit kedinginan, perasaan tersedot sesuatu mulai menyelimuti tubuhnya.


Tanpa sadar, kalung batu giok hijau bersinar sedikit lalu meredup kembali seolah-olah tidak pernah ada.


Di langit, Jin Long mencoba untuk mengulur waktu—menunggu lubang pengisap jiwa terbuka.


Zi Long sangat marah dan ingin menyingkirkan diri dari belitan Jin Long. "Kamu sungguh tidak terduga. Jin Long, hanya demi manusia itu ... kamu benar-benar berniat untuk mengorbankan jiwamu sendiri?" tanyanya menggeram.


Mata merah darah Zi Long menyapu naga emas. Petir ungu yang masih terhubung dengan tubuhnya mulai mengamuk.


Badai salju di seluruh negara benua tersebut kini diiringi oleh hujan petir kecil—menyambar tanah dan pepohonan hingga tumbang.


"Zi Long, kedamaian dunia lebih penting." Naga emas itu berkata dengan nada tenang. "Satu-satunya cara agar dunia ini damai adalah dengan menyegel jiwamu."


"Hah! Tidak mungkin!" Zi Long membelalakkan matanya. "Semua ini karena di istana langit! Jika bukan karena inti energi spiritual yang meledak di langit dunia fana, apakah kamu berpikir kita akan terbangun? Lalu kenapa kamu tidak menyalahkan mereka?"


Bagi Zi Long, semua ini tidak adil!


"Zi Long, kamu masih tidak mengerti. Istana langit tak bisa bercampur dengan dunia fana. Ini mungkin kelalaian mereka tapi bukan salah mereka. Bagaimana pun, takdir itu selalu ada."


Zi Long mulai panik. Dia menyadari jika saat ini tubuhnya tak bisa digerakkan dan mulai jatuh ke tempat di mana lingkaran totem penyegel mulai terbuka di bawah sana.


Naga ungu membelalakkan matanya. "Tidak mungkin! Gadis itu, aku harusnya membunuh dia sejak awal!"


"Bukankah sudah terlambat?" Jin Long tertawa.


"Sialan!" Naga ungu itu mengutuk dan meraung, berusaha untuk tidak didorong menuju lubang pengisap jiwa yang mulai terbuka perlahan.


Di sisi lain ....


Mu Xianzhai bergerak secepat mungkin menuju ke tempat di mana Li Chang Su berada saat ini. Dia semakin dekat menuju puncak ketiga pegunungan dewa.


Dia terus berulang kali bergumam bahwa Su'er nya akan baik-baik saja.


Tapi tiba-tiba Mu Xianzhai merasakan sakit di hatinya. Ada sesuatu yang mengganjal, semacam firasat yang tidak diketahui.

__ADS_1


Mu Xianzhai memiliki tebakan buruk di hatinya dan tak mau menunda lebih banyak lagi. Di kejauhan, pria itu akhirnya melihat cahaya merah terang dari puncak ketiga pegunungan dewa yang telah hancur.


Mungkinkah lubang pengisap jiwa mulai terbuka?


Apakah ada sesuatu yang tidak dia ketahuilah tentang ini?


Kenapa Wen Lao tidak memberi tahunya?


"Su'er ...! Su'er ...!" gumamnya semakin mempercepat larinya, menggunakan energi spiritual hingga kecepatan larinya di atas rata-rata.


Mu Xianzhai harus segera pergi. Hatinya menjerit tanpa alasan yang tidak pasti. Istrinya pasti dalam bahaya saat ini.


Mungkinkah ini yang dirasakan Li Chang Su di kehidupan pertama mereka. Saat dia meminta Li Chang Su pergi dan dia bergegas bertarung dengan Zi Long ... perasaan sedih yang menyayat hati juga timbul.


"Su'er!!"


Mu Xianzhai kencang. Matanya di balik topeng perak memerah. Suaranya menggema namun teredam oleh badai salju berpetir. Dia tak memedulikan sekitarnya dan pikirannya hanya tertuju pada istrinya.


Ketika Mu Xianzhai tiba di tempat lingkaran totem penyegel, cahaya kemerahan akhirnya terlihat jelas menjulang ke langit. Di sisi lain, sosok ramping itu terlihat, memakai jubah merah berbulu lembut pada setiap tepiannya.


Dia kenal siapa itu. Istrinya, Li Chang Su.


Gadis itu berdiri kaku di tepian lingkaran totem penyegel yang sudah menunjukkan lubang hitam keunguan yang berputar di tengahnya.


Jantung Mu Xianzhai semakin berdetak kencang. Tanpa menunggu lagi, Mu Xianzhai turun menuju tepian lubang ledakan dan segera menuju Li Chang Su untuk menariknya.


"Su'er!! Jangan tinggalkan Raja! Hidup dan matimu harus bersama raja ini!" teriak Mu Xianzhai penuh kemarahan dan rasa takut.


Mu Hongzhi dan Lict terkejut saat mendengar suara itu dan segera melihat sekilas jika Mu Xianzhai menuju ke arah Li Chang Su.


"Sepupu—" Mu Hongzhi akhirnya sedikit lega dan khawatir saat ini.


Li Chang Su yang sudah pucat saat ini tak bisa menahan diri untuk berbalik badan. Dia akhirnya melihat siapa yang datang padanya di kejauhan.


"Xian Xian ...," gumamnya tak kuasa menahan air mata.


Namun sudah terlambat, Jin Long yang membelit tubuh Zi Long akhirnya mulai masuk ke lubang pengisap jiwa.

__ADS_1


Pada saat itu, Li Chang Su juga merasakan tubuhnya jatuh ke lubang tersebut ....


__ADS_2