Menjadi Istri Cerdas Raja Perang

Menjadi Istri Cerdas Raja Perang
Olahan Ayam Mutasi


__ADS_3

DI DALAM tenda ...


Mu Xianzhai baru saja mengoleskan eliksir ke semua luka goresan di tubuh istrinya. Dengan cepat, luka-luka akibat cakaran itu mulai sembuh perlahan, diiringi rasa gatal yang cukup terasa. Li Chang Su mengerutkan keningnya dan langsung memuntahkan darah hitam.


Racun di tubuhnya pun akhirnya keluar. Ia merasa lega dan bersandar di punggung kursi. Mu Xianzhai segera mengambil segelas air untuk istrinya berkumur. Lalu memintanya untuk mengeluarkan berbagai jenis bumbu masak. Dia akan memanggang ayam untuknya.


"Mu Xianzhai, jangan bilang kamu ingin masak ayam mutasi lagi?" Gadis itu menebak.


Ia teringat ketika Mu Xianzhai memanggang ayam berjam-jam hingga dia sudah begitu lapar. Ternyata ayamnya yang besar. Dia tidak ingin pria itu mengambil hal-hal konyol lagi. Walaupun saat ini dia lapar, tapi tidak ingin mengambil harapan karena kelaparan.


"..." Bagaimana istrinya tahu? Pikir Mu Xianzhai.


Sebenarnya dia menangkap seekor ayam mutasi saat berperang. Ayam itu tidak memiliki racun sehingga bisa dimakan. Tapi tampaknya sang istri kurang senang sehingga dia harus mengubah cara memasak ayam mutasi itu.


Pada akhirnya, setelah Li Chang Su mengeluarkan banyak bumbu dapur, dia tidak mau mengurusnya lagi. Ia sangat mengantuk dan pergi ke tempat tidur sederhana yang selalu dirapikan. Mu Xianzhai hanya menghela napas dan membantu istrinya untuk berbaring dengan benar agar lehernya tidak sakit saat bangun nanti.


"Bangunkan aku jika sudah matang." Gadis itu segera menguap dan langsung memejamkan mata dengan perasaan lelah.


"Ya."


Pria itu segera terkekeh dan mengecup kepala istrinya lebih dulu sebelum akhirnya pergi mengurus ayam mutasi. Walaupun Mu Xianzhai juga cukup mengantuk, tapi dia lebih tahan daripada Li Chang Su. Gadis itu, meski kini berusia tiga puluh tahun, namun tubuhnya masih berusia lima belas tahun dan rentan sakit.


Saat ini, Mu Xianzhai sudah meminta Mu Hongzhi dan Lict untuk mengurus ayamnya. Tentu saja jika keduanya ingin makan. Jika tidak, jangan berharap mendapatkan jatah. Jadi sebenarnya, Mu Xianzhai hanya membumbui ayam yang telah dibersihkan dan memanggangnya saja. Masalah mengurus bulu atau memotongnya, semuanya diserahkan pada mereka.


Jika Li Chang Su tahu, mungkin dia akan memutar bola matanya dan berkata, 'Memang raja perang yang suka memerintah orang!'


Kali ini ketiganya sibuk sepanjang hari hingga kelinci dan kuda putih mutasi yang beristirahat di sisi lain pun mulai bosan. Adapun He Ze dan Mao Mao yang masih belum selesai bertarung atau mengomel, kini tergiur oleh aroma makanan. Tapi He Ze lebih suka kacang, jadi dia mengeluarkan banyak kacang mentah dari ruang artefak untuk menggorengnya.


Sementara Mao Mao lebih suka ikan. Dia kurang tertarik dengan ayam. Namun melihat ayam panggang yang menguning serta penuh bumbu yang enak, dia tak bisa menahan diri untuk memintanya.


"Kamu makan kepalanya saja," kata Mu Xianzhai cuek.

__ADS_1


"Keterlaluan. Kamu pikir aku ini apa, dikasih kepala ayam?" Mao Mao duduk di dekat api unggun, namun Mu Xianzhai memintanya untuk menjauh sedikit. "Apakah kamu alergi kucing?" tebaknya.


Sebelum Mu Xianzhai menjawab, Mu Hongzhi sudah mendengus lebih dulu. "Sepupuku tidak suka makhluk berbulu. Baginya bulu-bulu kalian jika rontok itu pasti mengotori tempatnya."


"Lalu kenapa kamu masih pelihara Kacang?" tanya Mao Mao polos.


Mu Hongzhi terkekeh saat melihat He Ze ada di bahunya saat ini. "Itulah alasan kenapa dia sering dianiaya."


"..." Ternyata seperti itu. Pikir Mao Mao. Lain kali, pelihara ular saja, pikirnya lagi seraya menatap Mu Xianzhai yang selalu memakai topeng peraknya.


"Lalu di mana si cantik?" Kali ini Xue Zi menghampiri Lict dan melompat ke pangkuannya.


Mu Xianzhai yang sudah selesai mengurus olahan ayam yang lain pun kini membuat bumbu lain. "Tidur," jawabnya datar.


"Oh, kalau begitu aku ingin tidur juga. Sangat lelah. Aku ingin tidur di tenda lain tapi tidak nyaman." Kelinci putih mutasi itu bersiap untuk pergi menemukan Li Chang Su. Si Cantik kalau tidur pasti sangat indah, batinnya.


Namun Mu Xianzhai memberinya tatapan dingin, membuat Xue Zi merasa jika bulu-bulunya berdiri semua.


"..." Apakah kamu begitu kejam pada seekor kelinci? Xue Zi ingin menjerit. Tapi dia tidak berdaya.


Hingga menjelang tengah hari, semua olahan ayam akhirnya matang. Lict dan Mu Hongzhi semakin kelelahan karena mereka baru istirahat sebentar. Akhirnya bisa makan siang juga.


Mu Xianzhai membawa semua hidangan ke tenda dan meletakkannya di meja bundar yang kokoh. Dia melepaskan topeng dan memperlihatkan wajah lelahnya yang samar. Berjalan ke arah ranjang, dia duduk di tepian lalu membangunkan Li Chang Su.


"Su'er, waktunya makan siang ... Tidurlah lagi setelah makan," ujarnya.


Gadis itu mengerutkan kening kening dan berpindah posisi, sebelum akhirnya Mu Xianzhai mencubit hidungnya hingga Li Chang Su tidak bisa bernapas. Akhirnya gadis itu pun terkejut dan bangun tiba-tiba seraya mengambil napas sebanyak mungkin.


Ia menatap Mu Xianzhai dengan kesal. "Bisakah kamu membangunkan orang dengan cara yang baik?" tanyanya.


"Jelas sekali aku membangunkanmu dengan baik."

__ADS_1


"..." Tidak perlu mencubit hidungku, pikir gadis itu.


Keduanya segera pergi ke meja bundar yang penuh makanan. Saat Li Chang Su melihat semua hidangan tersaji di meja, ia hampir menjatuhkan rahangnya.


Menatap tak percaya pada semua yang ada di meja, Li Chang Su merasa sakit kepala. Semua aroma jenis makanan tercium, tapi hanya aroma ayam saja. Dia memijat pelipisnya dengan sudut mulut berkedut. Pria ini ... Sudah dia duga, pasti melakukan sesuatu yang aneh lagi.


"Mu Xianzhai ... Jelaskan padaku, kenapa memasak semua makanan ini?" tanyanya.


"Apa yang salah? Aku memasaknya agar Su'er bisa memilih mana yang ingin dimakan." Mu Xianzhai sama sekali tidak merasa ada yang aneh.


"Aku tahu. Tapi bisakah tidak semuanya olahan ayam? Apa ini ... Ayam panggang, sate ayam, goreng ayam, ayam pedas asam manis, sup ayam dan lainnya! Bagaimana aku bisa memilih salah satunya jika aku suka semuanya," jawab Li Chang Su mulia frustasi. Bisakah dia memakan semuanya. Perutnya lapar.


"Kau begitu makan saja semuanya. Ayo, cicipi masakan Raja Perang." Mu Xianzhai tersenyum dan membiarkannya duduk.


"Tidak ada nasi?"


Mu Xianzhai menggelengkan kepala. Dia lupa menanak nasi. Sehingga mau tidak mau, hanya makan apa adanya saja. Li Chang Su mencicipi semuanya.


Walaupun menggunakan bumbu dari zaman modern, Mu Xianzhai tidak menghilangkan ciri khas makanan di zaman kuno. Li Chang Su memang tidak mengizinkan pria itu memasak segala jenis hidangan yang berasal dari zaman modern. Bahkan jika itu enak, ia juga membiasakan diri dengan masakan zaman kuno.


Dia mengangguk dan memujinya. "Tidak ada yang kurang. Aku suka cita rasa segar pada sup nya. Ternyata ayam mutasi bisa dijadikan makanan seenak ini."


"Tentu saja. Makanlah yang banyak agar cepat tumbuh di masa depan."


Mu Xianzhai juga makan. Keduanya begitu tenang tanpa adanya pengganggu. Li Chang Su lebih menyukai sup ayam dan ayam panggang. Semuanya tidak memiliki bawang daun atau rasa pedas yang berlebih karena Mu Xianzhai memiliki alergi.


Di masa depan, tampaknya Li Chang Su harus memasak olahan rebung untuk pria ini. Dia hampir lupa jika Mu Xianzhai menyukai rebung.


Setelah keduanya makan, Li Chang Su membereskan piring kotor lebih dulu. Dia menghampiri Mu Xianzhai yang terlihat begitu tidak bersemangat.


"Nah, kini giliranmu untuk tidur. Lihatlah, kamu memiliki mata panda." Gadis itu menyentuh wajah Mu Xianzhai yang agak tidak sehat.

__ADS_1


"Kalau begitu, maukah Su'er tidur lagi untuk menemaniku?" Pria itu mencium punggung tangan istrinya.


__ADS_2