Menjadi Istri Cerdas Raja Perang

Menjadi Istri Cerdas Raja Perang
Mu Peizhi Mengalami Kecelakaan


__ADS_3

XUYAO tidak memiliki waktu untuk bernapas lebih banyak dan mengatakan tentang kecelakaan kereta pangeran kedua ketika menuju perbatasan ibu kota. Dan kini berada di salah satu penginapan untuk dirawat. Tabib lain tidak berani mendekati pangeran kedua untuk mengambil diagnosis.


Mu Peizhi jelas akan menolak untuk diperiksa oleh tabib lain yang bukan kepercayaannya. Karena dengan begitu, penyakit jantungnya akan terekspos. Jika ini terjadi, kaisar tidak akan memberinya kesempatan untuk menjadi kandidat di masa depan.


Semuanya hilang.


Mu Xianzhai juga tidak bisa diam untuk ini. Ekspresinya menjadi lebih serius, "Dia tidak bepergian dengan Ye Tianli?"


Xuyao menggelengkan kepala, "Katanya Tuan Ye sedang pergi untuk melakukan sesuatu dan akan kembali lebih cepat. Seharusnya sekarang sudah mengetahui informasi ini."


"Aku mengerti ...," Mu Xianzhai segera menatap Li Chang Su, "ayo pergi sebelum pihak lain berhasil dengan rencananya."


Meskipun Li Chang Su merasa ini begitu tidak terduga, ia masih mengangguk dan mengikuti Mu Xianzhai untuk menaiki kereta. Dengan cepat, kereta melintasi jalan bersalju. Li Chang Su mengeluarkan He Ze dan memintanya pergi lebih dulu. Buat kekacauan.


Mu Xianzhai juga merasa ini ide yang bagus. Buat tabib tidak memeriksa pangeran kedua. Dan dia menjanjikan He Ze dengan banyak manisan kacang


"Awas saja. Jangan berbohong pada leluhur!" He Ze menggoyangkan pantatnya dan pergi dengan cepat.


Kemudian Li Chang Su menatap Mu Xianzhai dengan heran. Bagaimana pria ini tahu manisan kacang yang disukai He Ze?


Dia ingin bertanya. Tapi waktunya tidak tepat. Jadi untuk saat ini dia bisa menahan diri. Namun entah kenapa, perasaannya tidak nyaman. Ia seperti akan menanggung tanggung jawab seseorang. Sayangnya dia tidak tahu apa itu.


Sementara itu di sisi lain ....


He Ze melompat dari pohon ke pohon, lalu dari bangun satu ke bangunan lain. Setelah beberapa menit, dia tiba di sebuah penginapan yang dimaksud. Ada suara teriakan marah dari salah satu ruangan. Beberapa orang bahkan merasa kasihan dengan kondisi pangeran kedua yang terlihat sedang sakit.


Seorang tabib berusaha membujuknya untuk memberi perawatan. Namun Mu Peizhi menolak dengan kejam. Sampai akhirnya putra mahkota datang untuk membujuk saudara keduanya yang baik.


Mu Peizhi hanya bisa menggertaknya gigi. Ini pasti ulah Mu Lizheng. Dia sangat yakin. Menatap putra mahkota dengan sengit, jantungnya terasa sakit lagi. Namun  dia tidak bisa melakukan apapun saat ini. Hanya berpura-pura untuk terlihat sedang tidak enak badan.


Bahkan untuk mengambil duduk tegak saja tidak bisa. Dia hanya bisa bersandar dengan kaku. Mengusir tabib yang ingin memeriksanya.


"Saudara kedua, biarkan tabib memeriksa lebih dulu. Di musim dingin seperti ini, tubuh sangat rentan untuk sakit, jadi ini tidak baik untuk berlarut-larut," Mu Lizheng menunjukkan wajah penuh perhatian. Seolah-olah terlihat seperti saudara yang baik.

__ADS_1


Namun Mu Peizhi mencibir, "Aku tahu tubuhku sendiri. Tidak perlu bagi saudara keempat untuk terlalu berlebih. Aku hanya tidak suka tabib ini. Jadi usir dia!"


Dia sedikit meraung. Wajahnya memerah karena kedinginan dan juga menahan rasa sakit di dada kirinya. Pelayan yang dia bawa sedikit gemetar dan mencoba membujuknya untuk tenang.


Tapi di mana pria itu bisa tenang. Sejak lama, dia telah berselisih dengan putra mahkota. Tidak ada hal baik dari tangan pria itu. Sekarang dia hampir saja ketahuan. Belum lagi Ye Tianli sedang bepergian sehingga tidak menemaninya.


Apakah sekarang pria itu sudah mengetahui kecelakaannya ini? Mengingat jika Ye Tianli memiliki banyak mata di Negara Bingshui.


Putra mahkota tampaknya tidak mau menyerah dan mengucapkan beberapa hal yang membuat publik di sana bertanya-tanya. Mu Peizhi ini selalu pucat ketika musim dingin tiba. Orang lain mengira itu kedinginan. Namun bukankah itu tidak terlalu benar?


Bahkan jika itu sakit, tidak mungkin berlarut. Mu Peizhi ingin mencekik Mu Lizheng dan mengatakan pada semua orang jika dia rentan terhadap dingin. Ini fakta.


Tapi alasan inilah yang membuat Mu Lizheng menyarankannya untuk diperiksa agar mengetahui apakah tubuhnya baik-baik saja atau tidak. Kaisar juga pasti akan khawatir jika tahu.


Saat perdebatan terus berlanjut, seekor tupai putih muncul dari jendela dan berlarian sambil membawa sesuatu di mulutnya. Mereka tidak terlalu memperhatikan pada awalnya. Namun saat tupai putih itu melompat di atas kepala putra mahkota, para penjaga segera berusaha untuk menangkapnya.


"Dasar binatang kecil! Berani menginjak kepala Yang Mulia ...?!" Salah satu penjaga pun langsung turun tangan.


Namun tupai itu sangat lihai. He Ze mencibir. Ingin menangkap dirinya? Datanglah jika memiliki kemampuan.


Jika tidak, statusnya sebagai tabib palsu akan terungkap. Dan dia tidak bisa menyelesaikan tugas ini. Bagaimanapun juga, dia harus bisa memeriksa denyut nadi pangeran kedua untuk memastikan sesuatu.


Sayangnya, tupai putih yang datang entah dari manapun segera mengacaukan banyak hal. Juga menggaruk wajahnya. He Ze yang merasa rencananya sudah berhasil pun berada di dekat jendela sambil makan kacang. Menatap orang dengan bodoh.


Beberapa orang memuji tupai itu karena memiliki bulu putih dan terlihat menggemaskan. Apalagi saat makan kacang rebus, itu berdiri sambil terus mengunyah.


Mu Lizheng memiliki kebencian di dalam hatinya. Binatang putih sialan itu berani mengacau tempat ini. Tidak tahu dari mana tupai ini berasal, yang jelas nanti harus mendapatkannya. Bulunya bagus untuk dijadikan dompet. Dia bisa menghadiahkannya pada Rongyu.


Tupai itu hanya berada di kusen jendela dan tidak berhenti makan kacang rebus. Tapi ... Dari mana kacang itu berasal?


"Yang Mulia, apa yang harus kami lakukan dengan tupai putih itu?" Tanya bawahannya.


"Biarkan saja. Hanya tupai. Jangan dianggap serius," Mu Lizheng berkata seolah memiliki kebaikan terhadap anak binatang. Hal ini membuat orang-orang memuji kebaikannya.

__ADS_1


Padahal tupai putih itu sudah berani menginjak kepalanya. Dan juga sedikit menjambak. Mu Lizheng belum tahu apakah tupai itu disengaja atau tidak, tampaknya mengejek sedang mengejek. Benar saja, He Ze melemparkan kacang ke arah putra mahkota hingga mengenai wajahnya.


Mu Lizheng mundur selangkah. Wajahnya sedikit panas. Lemparan tupai putih itu memiliki tenaga. Sangat menyakitkan. Sekarang, penjaga melihat tanda merah di pipi kanan putra mahkota, hatinya cukup bergetar. Apakah setelah ini, Mu Lizheng masih memaafkan tupai itu?


Sementara Mu Peizhi melihat keberadaan He Ze, hatinya terselamatkan. Meski Ye Tianli belum kembali tepat waktu, setidaknya masih ada saudara ketiganya yang baik. Dengan keberadaan Mu Xianzhai, maka putra mahkota tidak akan berani untuk mengambil tindakan.


Sekarang, dia hanya perlu menunggu saja. Berpura-pura tidak tahu dan terlihat bingung. Ketika melihat He Ze melemparkan kacang rebus urus ke arah Mu Lizheng, dia sungguh ingin tertawa.


Putra mahkota dikenal dengan kebaikannya di permukaan, itu mungkin benar. Tapi setelah diejek oleh He Ze, apakah masih akan bersabar. Sekarang dia yakin jika Li Chang Su benar-benar pantas bersanding dengan reputasi pangeran ketiga—Mu Xianzhai.


Mu Peizhi mencibir, "Saudara keempat selalu rendah hati dan memaafkan orang lain. Kini ketika seekor tupai melemparkan kacang, dia mungkin kesal denganmu. Apakah saudara keempat itu masih bisa memaafkan atau mengubah keputusannya?"


Jelas, itu merupakan provokasi yang membuat Mu Lizheng menahan diri untuk tidak memberi perintah membunuh tupai itu. Apakah dia bisa dikalahkan begitu saja hanya karena seekor tupai?


KARENA di depan semua orang, Mu Lizheng tidak mungkin mengubah keputusannya begitu saja. Dia hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Berpura-pura seakan memakluminya.


Tentu saja dia tidak marah. Ini hanya seekor tupai. Lupakan saja untuk sementara waktu. Ada niat yang kuat di hati Mu Lizheng tentang tupai putih yang penuh keberanian ini. Dia yakin tupai ini memiliki tuan. Namun siapa yang akan merawat seekor tupai?


Ye Tianli juga rasanya tidak mungkin. Dia belum pernah melihat Ye Tianli memamerkan hewan peliharaannya.


"Tidak apa-apa, biarkan saja," dia menghela Dan mengelus pipi kanannya yang masih sakit. Saat disentuh, ternyata memar. Ini benar-benar di luar  dugaannya.


Tupai putih itu sungguh kuat. Mu Lizheng menatap He Ze dengan curiga. Tapi tupai putih itu sangat profesional dalam  akting seperti ini. Di saat Mu Lizheng mengalihkan perhatiannya untuk bicara dengan  mu Peizhi, He Ze kembali melemparkan kacang rebus. Kali ini mengenai pipi kiri putra mahkota.


Setelah itu dia melarikan diri dengan cepat. Seolah-olah takut diburu.


Kali ini, semua orang menghirup napas dingin. Perbuatan macam apa itu? Tupai putih tadi bahkan berani untuk melakukannya dua kali. Kali ini, suasana menjadi hening. Mungkin Mu Lizheng juga kesal. Dan pipi kirinya sama-sama sakit.


Saat tabib palsu yang selalu berusaha untuk memeriksa Mu Peizhi melihat wajah putra mahkota, wajahnya pucat. Sekarang ini , kedua pipi Mu Lizheng meninggalkan bekas merah kebiruan. Benar-benar memar.


"Itu ... Yang Mulia ...," Tabib palsu ingin mengatakan sesuatu tentang wajahnya. Namun tidak yakin. Dia khawatir akan menyinggung perasaan Mu Lizheng.


Sekarang, ekspresi Mu Lizheng semakin jelek. Dia yakin jika memar di kedua pipinya ini akan bertahan untuk beberapa hari. Belum lagi, dia berpikir jika tupai putih itu menamparnya?

__ADS_1


Apakah ini ada kaitannya dengan Mu Peizhi?


Siapa yang membantunya?


__ADS_2