
LI CHANG SU masih tidak bisa lepas dari serigala yang lapar di depannya dan merasa tidak berdaya untuk waktu yang lama. Mu Xianzhai begitu terang-terangan saat ini, menunjukkan keinginannya. Gadis itu ingin membujuk, tapi sia-sia.
"Xian Xian ... Kamu sudah melakukannya waktu itu. Apakah belum kenyang?" tanyanya agak pucat.
"Raja ini tidak pernah kenyang. Jadi Su'er harus senang karena Raja ini mampu memuaskan di tempat tidur," jawab pria itu penuh kesombongan.
Li Chang Su merinding. Dia tidak tahu apakah menikahi seorang pria yang berlatih keras di barak militer ini merupakan pilihan tepat atau tidak, namun dia merasa kepalanya mati rasa. Di mana dia tahan? Setiap kali dia memohon untuk berhenti, Mu Xianzhai melakukannya lagi dan lagi, semacam kesenangan. Pada akhirnya tubuhnya tidak tahan.
Kenapa pria begitu mudah dirangsang?
Li Chang Su tidak berdaya dan satu persatu pakaian di tubuhnya hilang. Pria itu tak malu-malu untuk membuka pakaiannya sendiri dan memperlakukannya seperti pria yang belum pernah menyentuh wanita dalam waktu yang lama. Semacam dibius oleh sesuatu.
Sayangnya Mu Xianzhai benar-benar tidak dibius oleh apapun dan murni tergoda oleh tubuh istrinya.
Melihat betapa antusiasnya pria itu, Li Chang Su hanya bisa menyerah.
"Xian Xian ... Sebentar lagi makan malam. Xuxu dan Xuyao akan kembali," katanya.
"Jangan khawatir, tak akan ada yang masuk tanpa izinku," bisiknya.
Pada akhirnya, Li Chang Su menyerah dan membiarkan pria itu melakukan apapun yang diinginkan. Tirai tempat tidur dilepas dan hanya menyisakan bayangan samar di dalamnya. Dua orang terjerat dengan suara ambigu yang mencurigakan ....
Di luar kamar, para pelayan yang lewat pun memerah dan segera menjauh dari tempat tersebut. Raja mereka benar-benar antusias di sore hari dan tak sabar menunggu malam datang. Bahkan Xuxu dan Xuyao terbatuk canggung, memilih untuk menunggu keduanya selesai.
Hingga, saat matahari terbenam dan makan malam telah dihidangkan, tak ada satu pun dari pelayan yang berani mengetuk pintu kamar. Sesekali mereka hanya mendengar suara teriakan sang putri yang serak, seolah-olah dianiaya.
__ADS_1
Di kamar, suasana ambiguitas masih berlangsung. Tirai tempat tidur terlihat bergerak beberapa kali sebelum akhirnya tenang. Dua orang di dalamnya kelelahan namun Mu Xianzhai masih bisa menopang tubuhnya agar tidak menindih Li Chang Su yang telah tak berdaya di bawahnya.
Tempat tidur yang berantakan dan kehangatan yang masih terasa samar-samar telah membuktikan berapa sengitnya aktivitas ranjang. Semua ini disebabkan oleh Mu Xianzhai. Li Chang Su memiliki beberapa tanda merah di tubuhnya, terutama tulang selangka.
Mu Xianzhai berbaring di samping Li Chang Su dan menutup tubuh keduanya dengan selimut tebal. Dia memeluk gadis itu. Ada sentuhan merah samar di wajahnya, terlihat begitu puas.
Li Chang Su yang kelelahan pun tidak berani untuk membuka mata saat ini. Suaranya agak serak dan tenggorokannya kering tapi tidak mau mengatakan sepatah kata pun. Pada akhirnya dia tertidur.
Melihat tidurnya yang damai, Mu Xianzhai menyipitkan matanya dan mencium kening gadis itu. Lalu bangkit untuk menyiapkan air hangat. Tak berapa lama kemudian, dia kembali lagi, membopong gadis itu ke bak mandi untuk membersihkan diri.
Li Chang Su yang kini telah setengah sadar pun sempat membuka matanya dan merasa tidak nyaman. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan pria itu lagi.
"Nah, mandi dulu sebelum tidur," kata Mu Xianzhai smabil tersebut lembut.
"Terserah," gumam gadis itu.
Ketika Li Chang Su membuka mata, hari sudah malam dan tempat tidur rapi seperti belum pernah terjadi apa-apa. Dia bangun, memanggil Xuxu dan Xuyao tapi yang muncul justru Mu Xianzhai.
"Bangun?" tanya pria itu lembut. Melihat istrinya yang sedikit linglung sambil menyentuh perutnya, dia tahu jika gadis itu pasti lapar. "Mau makan apa?"
"Apa saja," jawab Li Chang Su tidak bersemangat. "Ini semua salahmu. Aku bahkan kelaparan sekarang."
"Ya, ya ... Ini salahku. Su'er harus memaafkan Suami," bujuk Mu Xianzhai segera meminta pelayan untuk membawakan makan malam yang telah dihangatkan kembali.
Pada akhirnya, Li Chang Su makan dua mangkuk nasi malam ini. Mu Xianzhai tidak merasa jika istrinya rakus, tapi justru senang. Dengan begitu, tubuh istrinya akan memiliki banyak daging di masa depan dan tak akan terlalu khawatir untuk menghancurkannya di tempat tidur sampai lemas.
__ADS_1
Jika gadis itu tahu pikiran mesumnya, mungkin akan membalikkan meja saat ini. Setelah makan malam, keduanya pergi jalan-jalan di halaman belakang untuk mencerna makanan di perutnya. Mu Xianzhai mengambil buah persik matang dan membujuk istrinya yang masih sedikit kesal.
"Bukankah Su'er akan pergi ke istana besok. Nah, apa yang akan kamu lakukan jika sampai di sana?" tanyanya.
"Aku ingin melihat apa yang salah dengan tubuhnya. Apakah di istana juga ada tabib forensik?"
"Yah, ada. Tapi bukan milik kaisar. Tabib forensik jarang ditemui dan tidak banyak yang pandai di bidang ini," jelas Mu Xianzhai. "Kenapa bertanya tentang tabib forensik?"
Mayat Mu Lanfen utuh dan hanya tidak memiliki darah di tubuhnya. Namun Li Chang Su selalu ingin tahu sesuatu. Tabib forensik akan memeriksa mayat korban dan melihat apakah ada tanda-tanda kekerasan pada tubuhnya atau tidak. Jika tidak ada, kemungkinan besar Mu Lanfen dibawa utuh dan diperas darahnya hingga tetes terakhir sebelum akhirnya dibuang.
Li Chang Su sudah memiliki beberapa spekulasi di hatinya, tapi ... dia hanya bisa mengetahuinya besok.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di Istana Putra Mahkota.
Mu Lizheng tengah minum arak dengan beberapa selirnya di kamar. Mereka sesekali tertawa dan bercanda. Sebagai selir, para wanita itu tidak keberatan untuk menunjukkan beberapa kelihaian agar disukai oleh pangeran mereka.
Mungkin Mu Lizheng tidak terlalu memperhatikan Rongyu yang kini berada di halaman belakang. Menurut ibunya sendiri, Rongyu hanyalah batu loncatan untuk mencapai takhta jadi harus dipertahankan. Tapi dia tidak tahan dengan metode wanita itu. Kulitnya yang pucat dan bau aneh yang samar-samar selalu tercium di udara, dia merasa jijik.
Jadi malam ini, dia melampiaskannya dengan mengajak beberapa selir minum arak. Adapun wanita itu, dia akan memiliki alasannya nanti.
Namun, Mu Lizheng mungkin tidak tahu jika saat ini, Rongyu sendiri sedang berdandan di kamarnya sendiri sambil mendengarkan laporan dari pelayan terdekatnya.
Pada akhirnya, Rongyu tidak tahan lagi dan bangkit dari duduknya dengan kemarahan.
__ADS_1
"Pria itu, aku telah melakukan segalanya untuk membuat dia menjadi seperti sekarang tapi apa balasannya, dia bersenang-senang dengan selirnya?" Rongyu menggertakkan gigi, membuang sisirnya ke samping.