Menjadi Istri Cerdas Raja Perang

Menjadi Istri Cerdas Raja Perang
Dua Hewan Peliharaan Yang Saling Mengejar


__ADS_3

SAAT MU XIANZHAI mendengar suara yang familiar itu sudah berada di ruangannya, tanpa sadar, dia ingin bersembunyi. Bukan karena malu atau takut, tapi khawatir jika tubuhnya yang dipenuhi ruam merah akan sangat jelek untuk dilihat. Jadi dia sudah melepaskan tirai tempat tidur sejak awal agar pelayan lain juga tidak melihatnya.


Namun sekarang Li Chang Su datang untuk memeriksanya, bukankah itu bagus?


Hanya saja Mu Xianzhai juga pria yang memiliki harga diri. Penampilannya selalu bagus di luar. Tidak pernah menunjukkan kelemahan apapun di depan banyak orang. Dia melihat Li Chang Su masuk memperhatikan dirinya yang terhalang tirai tempat tidur. Ada sedikit perasaan diperhatikan begitu dalam.


Li Chang Su tidak pernah main-main dengan ucapannya, jadi dia segera berbalik untuk pergi setelah tidak ada jawaban dari pria itu.


Gadis itu melirik Xuyao, "Panggilkan tabib untuk memeriksa keadaan pangeran mu," katanya.


Sebelum Xuyao menanggapi, Mu Xianzhai sudah menyelanya, "Tidak perlu! Kalian tunggu di luar. Tinggalkan kami."


Para pelayan yang ada pun segera pergi untuk meninggalkan keduanya. Lalu pintu ditutup hati-hati. Li Chang Su mengerutkan keningnya ketika melihat sosok di tempat tidur itu akhirnya menyingkapkan tirai sedikit. Setengah wajahnya yang memakai topeng perak itu sedikit memiliki ruam. Dan itu agak gatal.


Dia tak berdaya dan menghampirinya, tidak membiarkan pria itu terkena angin dingin. Ruam sangat sensitif dengan udara. Kadang mengakibatkan gatal.


"Su'er ... Apakah aku menjadi jelek?" Tanya pria itu dipenuhi dengan keinginan untuk dikasihani.


Topengnya telah dilepas sehingga ruam di wajahnya terlihat lebih jelas. Dan ia sangat ingin menyentuh atau menggaruk. Kondisi ini akan bertahan selama satu atau dua hari setelah dia meminum obat dari tabib. Itu pun juga kadar pedas dalam makanan cukup tinggi.


Sementara tadi, dia memakan mi pedas yang memiliki banyak cabai. Sehingga rasa pedas itu juga berlebihan. Mungkin ruam ini akan bertahan selama beberapa hari ke depan.


Tapi hari pernikahan mereka semakin dekat. Mu Xianzhai harus mencari cara agar ruam-ruam di tubuhnya sembuh sebelum hari pernikahan.


"Tidak jelek ... Yah, tidak terlalu jelek."


Li Chang Su ingin memarahi pria ini. Jika sejak awal memiliki rasa sensitif terhadap pedas, lalu kenapa memakan mi itu?


"Jangan makan makanan pedas lagi di masa depan," dia hanya bisa menasihati.


"Tapi mi pedas itu enak. Jarang sekali aku makan sesuatu yang pedas," meski begitu, Mu Xianzhai masih terkekeh. Wajahnya yang dipenuhi ruam kecil sedikit kaku dan tanpa sadar ingin menyentuhnya.


"Jangan digaruk."


"Aku tahu. Tapi ini sangat gatal. Su'er, bisakah mengobati ruam-ruam ini?"


Gadis itu memperhatikan ruam-ruam di wajah, lalu memintanya untuk membuka pakaian. Karena ini cukup serius, Mu Xianzhai tidak ingin menggodanya dan melepaskan lapisan baju yang dipakai. Ruam-ruam di tubuhnya tidak penuh, hanya di beberapa titik. Terutama leher dan kedua lengannya.


Sekilas, ruam-ruam itu terlihat cukup mengerikan.


Setelah memeriksanya, Li Chang Su mengeluarkan salep dingin yang diformulasikan khusus untuk penyakit gatal. Dia harus mengoleskan salep itu ke semua ruam di tubuhnya.


Ketika obatnya diolehkan, rasa sejuk akhirnya meredakan gatal. Wajah Mu Xianzhai yang kaku dan ingin disentuh pun kini menjadi lebih nyaman. Ruam itu juga ada di punggung dan perut. Kemudian di betis.


Saat jari-jari ramping gadis itu mengoleskan salep di bagian perut, Mu Xianzhai tanpa sadar menegang. Otot-otot perut menjadi kaku. Hal ini juga dirasakan oleh Li Chang Su. Namun karena tidak ada pemikiran lain, dia sedikit kebingungan.

__ADS_1


"Apakah ada sesuatu?" Tanyanya.


"Tidak," Mu Xianzhai mengatur napasnya agar tenang. Dia tidak bisa terus memikirkan jari-jari ramping gadis itu yang menyentuh otot perutnya.


Tuhan tahu betapa sensitif itu. Dan dia ingat apa yang mereka lakukan di tenda ketika tidak sengaja menghirup dupa musim semi. Setidaknya untuk sekarang, dia harus menahan diri saat ini.


Setelah mengoleskan salep dingin, Li Chang Su mengeluarkan segelas air roh. Dengan begitu, ruam di tubuh Mu Xianzhai akan semakin membaik.


Untuk sekarang ini juga, pria itu tidak bisa memakan sesuatu yang pedas. Dia sendiri yang akan membuatkan sesuatu untuk dimakan.


He Ze keluar dan duduk sambil memakan kacang rebus. Dia tidak mau ikut campur dalam urusan manusia. Bahkan kelinci mutasi yang biasanya begitu nakal juga hanya mondar-mandir di ranjang pria itu.


Awalnya Mu Xianzhai ingin membuang kelinci itu lalu luar. Dia tidak suka binatang mengotori tempatnya. Kaku ada juga He Ze yang ekor berbulu lebatnya bergerak-gerak, rasanya see memiliki bulu rontok.


"Su'er, biarkan kedua binatang itu di luar," pintanya.


"Ada apa? Kamu bahkan tidak suka dua hewan peliharaan ku?"


"....." Mu Xianzhai hanya berpikir jika dia makhluk berbulu itu akan merontokkan semua bulunya.


Gadis itu sedang menyiapkan semua bahan untuk membuat sup penghangat tubuh. Seperti biasa, dia menggunakan kompor metanol sehingga bisa memasak di kamar lebih mudah.


Mu Xianzhai hanya duduk bersandar di kepala ranjang dan memperhatikan gadis itu sedang memasak untuknya. Para pelayan di luar sebenarnya sangat penasaran dengan apa yang dilakukan gadis itu. Karena aroma masakan mulai tercium.


Setelah kurang lebih satu jam, Li Chang Su telah membuat sup untuknya. Dan sama sekali tidak ada penambahan cabai, hanya menggunakan lada.


He Ze baru saja membuang kulit kacang sembarangan. Hal ini membuat Mu Xianzhai memiliki wajah menghitam. Sebenarnya binatang sialan itu membuang sampah sembarangan. Dia ingin mengeluh kepada Li Chang Su atas apa yang dilakukan He Ze.


Meski Li Chang Su enggan untuk mengurus He Ze yang suka sekali membuang kulit kacang sembarangan, dia hanya bisa meraih ekornya dan dibuang ke luar jendela. He Ze yang terkejut pun berteriak nyaring dan suaranya tiba-tiba menghilang setelah tenggelam dalam tumpukan salju.


Sementara kelinci mutasi itu dengan enggan diam di sisi ranjang. Khawatir akan membuat kesalahan dan dibuang seperti He Ze. Dia adalah raja kelinci mutasi, dan harga dirinya akan hilang jika dilempar seperti itu. Tapi ternyata dia salah. Li Chang Su sebenarnya meraih dua telinganya dengan mudah sehingga tubuhnya menggantung di udara.


Gadis itu memberinya tatapan kasihan, "Agar adil, kami juga di luar untuk menemani He Ze."


"....!!!"


Tidak! Kelinci mutasi itu tidak mau dibuang keluar juga. Dia adalah makhluk yang paling imut dan putih bersih. Lihatlah wajahnya yang menggemaskan serta telinga panjang yang ingin dibelai. Lihatlah ekor pendek ku dan tubuh berdaging ini. Apakah kamu tega membiarkan ku bersama tupai jelek itu?


Begitulah pikiran kelinci mutasi saat ini. Ingin bicara, tapi tidak mau diketahui sebagai binatang mutasi ilahi. Pada akhirnya, dia dikeluarkan dari jendela juga. Tapi tidak dilempar seperti He Ze.


Angin malam yang dingin langsung membelainya. Meski kelinci mutasi itu telah terbiasa dengan salju dan udara dingin, tapi kehangatan juga lebih nyaman. Kelinci mutasi itu melompat ke halaman bersalju tebal. Sosok He Ze akhir menyembul ke luar dari tumpukan salju dan membersihkan semua salju di bulu-bulu putihnya.


Ketika melihat kelinci itu juga diusir, He Ze benar-benar tertawa nyaring. Sangat menggemaskan.


"Hah! Sebenarnya kamu juga diusir. Kamu juga sama sepertiku. Kupikir dia pilih kasih. Ternyata sangat adil."

__ADS_1


He Ze bahkan tertawa lebih nyaring lagi hingga sebenarnya membuat rasa merinding untuk para pelayan dan penjaga gelap milik Mu Xianzhai, yang mendengarnya. Tawa He Ze seperti hantu wanita yang akan mengambil tumbal.


Melihatnya tertawa, kelinci mutasi itu menyipitkan mata merahnya. Bulu-bulu di tubuhnya meremang, seperti sedang marah.


"....," He Ze sepertinya baru ingat jika binatang mutasi itu bisa memperbesar atau memperkecil dirinya sendiri. Tapi tidak mungkin untuk membuat tubuh besar di kawasan manusia kan?


Sayangnya, meski kelinci mutasi tidak bisa mengubah tubuhnya menjadi besar, tapi masih bisa memikirkan cara lain. Kelinci itu marah dan segera mengejarnya untuk meredakan amarah. Gara-gara He Ze, si tupai jelek itu, dia juga diusir. Sekarang lihatlah bagaimana raja kelinci ini akan membuatnya menyesal.


Kelinci mutasi tidak peduli apakah He Ze roh artefak atau bukan. Yang jelas, dapatkan dia dan kuliti bulu putihnya yang jelek.


"Ahhh ...!!!"


He Ze akhirnya berlari di tanah bersalju yang dingin. Layaknya manusia, dia berlatih dengan dua kaki. Dan kecepatannya tidak berkurang. Sementara kelinci mutasi itu terus mengejarnya tanpa mengurangi kecepatan.


Dua sosok kecil yang putih itu tidak terlalu terlihat karena bulunya yang putih. Dan keduanya meninggalkan banyak jejak kaki.


He Ze jika kali ini dia akan terbunuh. Jadi mencari tempat untuk bersembunyi. Tanpa sadar, dia sebenarnya sedang melihat seorang penjaga gelap sedang buang air kecil di belakang pohon yang cukup jauh dari istana.


Dia berhenti. Dan penjaga gelap itu juga menatapnya dengan heran. Ternyata hanya seekor tupai berbulu putih. Tapi bulu putih itu sangat jarang ....


"Tupai yang cantik," gumamnya.


"Terima kasih atas pujianmu. Tapi .... Ahhh!!! Milikmu sangat kecil!!"


He Ze berteriak sambil menunjuk ke arah milik pria itu. Dan dengan tak tahu malunya berkomentar.


Penjaga gelap yang sedang buang air kecil itu seketika menegang dan berkeringat dingin. Pikirannya kosong. Tupai putih itu sebenarnya bisa bicara. Karena terkejut dan tidak tahu harus meresponnya bagaimana, penjaga gelap itu pingsan di tempat. Dan celananya belum dibenarkan.


"...."


He Ze merasa jika pria itu berlebihan. Dan dia lupa untuk menutup mulutnya. Sudahlah, lupakan saja. Saat bangun nanti, pria itu pasti akan dikatakan sedang bermimpi.


Sementara, kelinci mutais masih mengejarnya dan hampir saja berhasil untuk melompat menerkamnya. Tapi He Ze buru-buru untuk baik ke atas pohon untuk cari aman.


Kelinci tidak bisa naik pohon, jadi dia tertawa nyaring di salah satu dahan. Sementara kelinci mutasi itu menengadah dan menatapnya dengan sinis.


"Nah, sekarang apa yang akan kamu lakukan? Ayo, sini ... Sini tangkap aku!" Katanya lagi lalu tertawa.


Kelinci mutasi itu benar-benar marah dan tanpa sadar ingin membuat tubuh menjadi besar. Namun khawatir diketahui banyak orang dan berpisah dari gadis cantik itu. Setelah melihat bahwa batang pohon tidak terlalu tebal, dia memikirkan sesuatu yang lebih baik.


Giginya ini tajam dan masih mampu untuk melakukan sesuatu.


Melihat bahwa kelinci itu sedang melakukan sesuatu di batang pohon, He Ze dengan sangat penasaran pun langsung bertanya.


"Apa yang kamu lakukan??!"

__ADS_1


...****************...


...DI LUAR TOPIK: Hanya Update Satu Chapter...


__ADS_2