
MASALAHNYA bukan Jenderal Rong yang ingin bertransaksi lebih cepat. Tapi Rongyu yang sudah tidak tahan tinggal di Istana Raja Perang. Sejak insiden tidur dengan ular itu diketahui oleh mansion jenderal, Jenderal Rong pun diam-diam mengirim surat ke permaisuri.
Rongyu sudah tidak tahan lagi ada di sana dan ingin pergi. Namun Mu Xianzhai benar-benar memiliki penjagaan ketat. Bahkan jika berani kabur diam-diam atau melakukan cara lainnya, pria itu tak segan-segan untuk menyebarkan reputasi buruk.
Dulu mereka adalah teman semasa kecil. Dia sering mengaguminya karena memiliki keberanian dan keahlian yang luar biasa. Tapi seiring berjalannya waktu, dia melirik putra mahkota. Takhta itu membuatnya berpikir untuk menjadi permaisuri di masa depan, memandang dunia dengan agung.
Tapi wajahnya yang hancur ini menghapus segalanya. Karena itu, dia membutuhkan darah Li Chang Su untuk menyembuhkan semua bekas luka di tubuhnya.
Putra mahkota yang mendengarkan cerita adiknya pun segera memecahkan cangkir lagi. Dia mengusir semua bawahannya dan pelayan, lalu pergi ke istana untuk menemui permaisuri. Mu Ying membuntutinya dengan patuh. Dia juga kesal pada Mu Xianzhai karena berani menawar kalung giok hijau di pelelangan. Sehingga, kalung yang dia inginkan pun sirna.
Ketika tiba di istana dan bertemu permaisuri, Mu Lizheng dan Mu Ying memberi penghormatan formal. Permaisuri yang telah masih cantik itu tersenyum elegan, duduk di kursinya yang megah.
Gaun kuning keemasannya menjadi daya tarik tersendiri. Meski kecantikan itu terlihat alami, beberapa kerutan terlihat. Yang menunjuk jika usianya sudah paruh baya. Putra dan putrinya sudah dewasa saat ini. Dia sangat senang.
Belum lagi, putranya menjadi calon kaisar. Sementara putrinya memiliki kesempatan untuk menjadi permaisuri negara lain di masa depan. Kehidupan ini lengkap.
"Apakah kamu datang untuk membahas tentang masalah Rongyu?" Tanya Permaisuri Chun bermartabat.
"Putranya bermaksud begitu," Mu Lizheng mengangguk.
Permaisuri Chun tahu pembicaraan ini akan serius. Tapi dia meminta putrinya untuk kembali. Dia tidak bisa terlibat terlalu jauh dalam urusan putranya yang rentan diketahui kaisar. Mu Ying pun pergi walau tidak mau.
Setelah Mu Ying meninggalkan halaman itu, ibu dan anak laki-laki akhirnya bicara serius tentang masalah Rongyu. Jenderal Rong telah memohon untuk memberi putrinya keadilan. Sementara permaisuri sendiri tidak bisa berbuat apa-apa pada Mu Xianzhai. Ini karena kaisar sendiri tahu masalahnya.
Dalam keadilan, kaisar tidak pernah pelit. Permaisuri juga tidak mau mengambil masalah. Dia hanya bisa berada di belakang dan mendukung kehendak putranya. Selama tidak ada kesalahan, jalan kotor mungkin harus dimiliki. Di istana kekaisaran, tak ada yang bersih. Setiap selir bahkan mengambil beberapa tindakan untuk membunuh selir lain.
Sebagai pemimpin enam istana, permaisuri harus memiliki rencananya sendiri agar terus berdiri di kursi agung ini. Mu Lizheng membicarakan rencana yang dimilikinya dengan permaisuri. Wanita parah baya itu mengerutkan kening dan terlihat berpikir banyak. Lu akhirnya mengangguk.
"Ingatlah, Nak. Kamu adalah harapan ibu satu-satunya. Jika kamu ingin menjadi kaisar, maka Rongyu masih harus dipertahankan hingga naik takhta nanti. Selebihnya, serahkan pada ibu."
__ADS_1
Setelah berkata seperti itu, permaisuri sendiri telah memainkan beberapa peran. Rongyu ini mungkin kuat dan memiliki jiwa perang. Tapi tidak sesuai dengan karakter yang diinginkannya. Di masa depan, putranya ini harus mendapatkan wanita yang baik. Seorang permaisuri yang mengurus enam istana, bukan pengadilan.
Jika Li Chang Su ada di sini, dia akan berpikir sedang menonton drama yang selalu tayang di televisi. Wanita di jaman kuno dilarang memasuki dunia politik, ketentaraan atau urusan pengadilan. Tapi cukup mengurus halaman belakang dan mendukung suami, menyenangkan mereka dengan bakat yang ada.
Di jaman kuno, pria tidak terlalu menyukai wanita yang heroik. Mereka akan malu jika dikalahkan oleh seorang wanita atau berlindung di bawah sayap lembutnya. Sebagai pria, mereka lebih suka memeras darah di tubuh dan menumpahkannya di medan perang sebagai bakti negara. Dan ketika pulang, akan ada istri yang menyenangkan mata.
Putra mahkota, Mu Lizheng, ketika mendengar perkataan ibunya, dia yakin semua ini sudah direncanakan sejak lama. Rongyu mungkin tidak akan menikmati kemuliaan ini begitu lama. Karena sang ibu sudah memiliki menantu pilihan di hatinya sendiri. Dia belum tahu siapa itu.
"Ibu, siapa sebenarnya yang akan menjadi permaisuri ku di masa depan?" Tanyanya.
"Kamu tidak perlu tahu. Yang pasti sudah disiapkan untukmu. Kamu hanya perlu berjuang untuk mempertahankan semua ini. Apakah kamu mengerti?"
Mu Lizheng mengepalkan kedua tangannya dan mengangguk lemah, "Putranya mengerti."
Permaisuri menghela napas panjang mengangkat sebelah tangannya dengan enggan, "Baiklah, kamu bisa kembali. Jangan biarkan adikmu ikut campur dalam masalah ini."
Setelah berbicara banyak hal, Mu Lizheng kembali ke istananya dan mulai menyusun rencana. Lalu mengirim surat pada Mu Xianzhai untuk bernegosiasi demi membebaskan Rongyu.
Kebetulan Mu Hongzhi ada di istananya kali ini. Setelah ibunya mengusir putranya yang tidak berbakti itu dari rumah, Istana Raja Perang menjadi tempat mengungsi. Mu Hongzhi tidak melakukan kesalahan fatal. Dia hanya telat membantu sepupunya untuk mengusir kalajengking mutasi dan bahkan tersengat oleh ekor beracunnya.
Kini, kaki kanan pria itu cukup bengkak dan sulit berjalan. Sebagai pria, dia sangat malu. Jadi ketika ibunya tahu, dia diusir dengan kejam. Mengatakan jika kekuatannya masih kurang.
Ya Tuhan! Di mana dia masih kurang kuat? Saat di barak militer, dia membunuh banyak binatang mutasi yang merajalela. Dan ibunya bilang itu lemah. Mu Hongzhi benar-benar ingin menangis tanpa air mata. Kali ini dia hanya bisa duduk di kursi rotan yang nyaman, menangisi kakinya diam-diam.
Melihat bahwa sepupunya keluar dari ruang kerja, dia ingin bangkit dan menghampiri, tapi kaki kanannya akan berdenyut sakit setiap kali dia melangkah. Jadi hanya bisa duduk tanpa daya.
"Sepupu, apa kamu akan pergi lagi? Mungkinkah para binatang mutasi lainnya muncul di kota?"
"Tidak. Ini masalah lain," Mu Xianzhai tidak mau repot-repot dengannya. Hanya datang ke sini untuk melihat keadaan Mu Hongzhi lebih dulu.
__ADS_1
"Apakah ini tentang kakak ipar?"
"Bukan," Mu Xianzhai seperti sedang diinterogasi oleh seorang istri. Bagaimana bisa dia memiliki sepupu yang konyol dan tidak bisa diandalkan sepanjang waktu. Untung saja ini sepupunya yang baik, bukan orang lain.
Dia tidak mau mengatakan apapun saat ini dan meninggalkannya dengan beberapa patah kata. Seperti seorang suami yang memalingkan wajahnya dari sang istri hanya demi wanita lain. Tentu saja ini hanya ungkapan. Bukan arti yang nyata. Tapi adegan dua orang itu benar-benar membuat orang bisa berpikir tentang mencampakkan seorang sepupu.
Mu Xianzhai hanya menunggu di halaman, meminta pelayan untuk membawa Rongyu ke sini. Nada bicaranya penuh dengan rasa jijik yang tinggi. Ketika Rongyu mendengar ini, kemungkinan besar ayahnya sudah bertindak. Berpikir bahwa dia akan segera meninggalkan Istana Raja Perang, hatinya senang.
Setelah berpakaian bagus, dia memakai cadar yang menutupi kepala. Sehingga orang lain hanya akan matanya yang seperti mutiara hitam. Membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai di halaman utama tempat di mana Mu Xianzhai berada. Pria itu sendiri tidak terburu-buru, menikmati teh dengan baik.
Ketika Rongyu datang, dia mencibir diam-diam. Sungguh menyedihkan. Wanita ini hanya digunakan oleh putra mahkota untuk naik takhta. Kadang dia selalu berpikir, bagaimana bisa wanita yang dulu menjadi teman masa kecilnya yang baik ini, memiliki banyak perubahan.
Ternyata kursi permaisuri lebih menggoda. Dia sadar, jika dirinya sendiri menjadi calon kaisar, bukankah Rongyu akan menempel padanya? Memikirkan ini saja, dia merasa beruntung karena memiliki gelang naga perak. Karena takdir gelang naga perak itu membuat dirinya setia pada satu wanita yang akan mendampinginya seumur hidup.
"Apa Raja Xian memanggilku?"
Rongyu tidak mendapatkan sepatah kata pun dari pria itu, jadi membuka pembicaraan sendiri.
Mu Xianzhai selesai minum dan bangkit, membiarkan penjaga menyiapkan dua kereta untuknya. Dia hanya tersenyum kecil dan berkata bahwa putra mahkota merindukannya.
Namun hal ini diucapkan dengan penuh hinaan. Rongyu hanya menahan diri untuk tidak marah atau menunjukkan kelainan, hanya tersenyum tidak berdaya.
Dua kereta kuda disiapkan karena Mu Xianzhai tidak mau satu kereta dengan wanita ini. Dia pun menaiki kereta kudanya sendiri. Dua kereta melaju menuju sebuah restoran terkenal ibukota. Itu yang tertulis di surat yang dikirim oleh putra mahkota.
Di restoran, Mu Lizheng sudah menunggu dengan gugup. Setiap kali menghadapi pria ini, perasaannya selalu tidak tenang. Dia telah menghabiskan empat cangkir teh untuk menghilangkan kegugupannya.
Salah satu bawahannya datang melaporkan, "Yang Mulia, Raja Xian dan Nona Rongyu sudah datang."
"Biarkan mereka datang."
__ADS_1
Belum sempat bawahannya membalas, suara dingin terdengar lebih dulu.
"Saudara keempat itu sopan. Kebetulan Raja ini sedang bebas sekarang ...."