Menjadi Istri Cerdas Raja Perang

Menjadi Istri Cerdas Raja Perang
Perjalanan Kembali Dari Inti Bumi


__ADS_3

EMPAT PRIA berjubah hitam itu saling melirik dan bingung. Tapi sebelum mereka membuat keputusan, He Ze sudah memiliki sepasang mata merah darah. Lalu terlihat samar-samar ekor putih berbulu lebat di belakangnya.


Mereka terkejut ketika mengetahui jika He Ze bukan manusia. Pantas saja jika auranya berbeda dari para pemilik seni bela diri lainnya. Ternyata, makhluk itu merupakan manusia jadi-jadian.


"Kamu .... Ekor tupai? Kamu seekor tupai?" tanya mereka mundur sedikit. Apakah pria serba putih berada di tingkat dewa?


He Ze tersenyum. Ekor tupainya yang terlihat kini menghilang lagi. Dan matanya cukup redup. Dengan sekali kibasan tangan, embusan angin muncul dan menampar tubuh mereka.


Setelah terpental dan berguling di salju, keempat pria itu bejubah hitam yang tersisa sudah memastikan jika He Ze adalah salah satu binatang mutasi dewa.


Tapi jika He Ze sendiri mendengarnya, mungkin akan muntah darah. Dia adalah roh artefak gelang naga perak. Sudah ada sejak peradaban kuno. Bagaimana bisa dibandingkan dengan binatang mutasi yang kecil?


Tali yang sempat dipakai untuk mengikat kaki salah satu dari mereka pun kini diambil. He Ze segera merentangkan salah satu tangannya ke depan, menarik tubuh mereka seperti magnet.


Dalam kendali He Ze, mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan bos dari mereka sendiri tidak mampu melepaskan diri dari cengkeraman aura yang mengendalikan tubuh mereka.


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya sang bos sedikit berkeringat dingin. Tapi wajah di balik tudung hitam besarnya tidak jelas.


"Ikat kalian." He Ze menjawab dengan santai.


"...." Ikat mereka?


Sebelum menimpali ucapan He Ze, tali sudah melilit tubuh mereka dengan erat. Disertai dengan sedikit sengatan di tubuh. Membuat saraf mereka hampir lumpuh.


Mereka hanya mengerang rendah akibat rasa sakit itu. Semakin mereka berjuang untuk melepaskan diri, tali yang telah dicampur dengan aura petir pun langsung menyetrum.


"Tidak ada gunanya berjuang. Patuhlah sampai tuanku kembali," kata He Ze seraya menyeret tubuh mereka ke suatu tempat yang cukup dekat dengan tepi lembah.


Keempatnya yang diseret itu tidak berdaya dan menggeliat seperti ulat. Sungguh tidak rela dijadikan tahanan seperti ini. Apapun yang terjadi, mereka tidak akan membocorkan apapun. Daripada mengkhianati sekte, mereka lebih suka bunuh diri.


Sayangnya, ketika mereka hendak menggigit racun yang tertanam di gigi depan, tali yang mengikat itu menyetrum lagi. Bahkan menyebabkan rasa ngilu di gigi. Ini lebih menyedihkan daripada disayat pedang.


Jadi saat ini, mereka hanya bisa diseret ke dekat batu besar. He Ze mengikat tali yang ada di tangannya ke salah satu batang pohon.


"...." Mereka melihat jika He Ze sudah duduk di atas batu besar dan mengeluarkan toples berisi manisan kacang mete.


"Kalian mau?" tawar pria serba putih itu dengan santai.

__ADS_1


Mereka menggelengkan kepalanya tanoa ragu. Mereka tidak suka kacang atau sesuatu yang manis. Namun, He Ze menyipitkan matanya dan mengeluarkan sebuah wortel, melemparkan ke arah mereka.


Wortel gemuk itu jatuh tak jauh dari mereka.


"Mungkin kalian suka wortel." He Ze berkata lagi dengan wajah tak berdosa. Lalu duduk bersila sambil makan manisan kacang mete.


"...." Mereka bukan kelinci. Saat ini, keempat orang berjubah hitam itu hanya mendesah dan pasrah. Siapa yang tahu jika pria tampan itu adalah seekor tupai.


Sang bos akhirnya bicara. "Apakah kamu tidak takut dengan orang-orang itu akan kembali ke sini?"


Dia masih memiliki lima orang yang pergi memeriksa terowongan. Setelah itu, pasti akan kembali dan membantu mereka.


He Ze mengerutkan keningnya dan masih makan. Dia melirik mereka dengan cibiran jelas. "Kalian berlima saja bukan lawanku. Apalagi sepuluh orang."


"...." Manusia jadi-jadian itu begitu percaya diri, pikir mereka.


Tak lama setelahnya, seekor kucing berwarna jingga keemasan melompat dari salah satu dahan pohon dan merenggangkan otot, lalu menguap. Dia menghampiri He Ze dan duduk di sampingnya, menatap para pria berjubah hitam itu dengan penuh permusuhan.


"Huh? Kenapa kamu tidak membunuhnya?" Dia sangat marah, hingga matanya saja memancarkan kilat dingin dan berbahaya.


"Biarkan tuan menginterogasi mereka. Tunggu mereka kembali."


"Mereka ini pantas mati!"


"Aku tahu. Tenanglah. Itu tidak akan lama lagi."


"...." Keempat pria berjubah hitam itu merasa akrab dengan kucing di samping He Ze. Terutama dari telinga hitamnya.


Kenapa itu mirip dengan makhluk jadi-jadian yang dirantai dalam ruang pintu besi? Saat memikirkan kemungkinan ini, sang bos bahkan pucat lebih dulu.


Mungkinkah ... Mungkinkah kucing itu sudah dibebaskan?


Melihat reaksi tubuh pria berjubah hitam sedikit gemetar, Orange mengeong dan menunjukkan kuku kaki depannya yang tajam.


"Sepertinya kamu ingat aku?" tanyanya tidak perlu bersembunyi.


"Kamu benar-benar kucing itu?" Akhirnya sang bos tak menahan diri lagi untuk bertanya.

__ADS_1


"Ya. Ini aku. Terkejut?"


"Bagaimana mungkin? Ini tidak mungkin! Tidak mungkin! Kamu seharusnya dirantai dengan sihir. Bagaimana bisa meloloskan diri?"


Sebelum Orange menjawab pertama pria berjubah hitam, He Ze sudah menyerobotnya. "Itu karena tuanku yang jenius." Dia sedikit bangga.


"Apa? Tuanmu? Sial! Seperti apa tuanmu itu hingga mampu melakukan hal seperti ini??!" Sang bos sangat kesal dan marah. Dengan begitu, bukankah lima orang lainnya yang pergi ke sana Hanay sia-sia?


"Jangan khawatir, ada kejutan menunggu mereka di sana." He Ze menyeringai dan menunjuk tatapan yang penuh misteri.


Sang bos berjubah hitam tidak tahu apa yang dimaksud dengan kata-kata He Ze. Tapi jelas, pasti bukan sesuatu yang menguntungkan.


Sementara itu ....


Di sisi Li Chang Su dan yang lainnya, mereka telah menaiki anak tangga terakhir. Cukup melelahkan. Terutama Lict. Dia menggendong kucing emas keperakan di tangannya yang masih seperti duri landak.


Mereka memegang obor dan lentera, berniat kembali melewati ruang batu di mana sungai air hangat mengalir. Ketika mereka telah melewati lorong dan tiba di sana, jelas dikejutkan dengan sesuatu yang ada di sungai.


Seekor gurita hitam mutasi dalam wujud cukup besar berendam dengan nyaman. Setengah tubuhnya menyatu dengan sekitar. Sehingga tidak akan ada yang curiga pada awalnya.


Tapi kali ini kepala gurita itu jelas menonjol. Lalu bergumam tidak pasti tentang kehadiran manusia. Salah satu matanya yang terluka akibat pertarungan di awal pun kini sembuh sedikit.


"Kenapa gurita ini ada di sini lagi? Bukankah itu sudah pergi?" tanya Lict jelas sedikit takut.


Bahkan yang lain juga memasang ekspresi yang sama. Kecuali Mu Xianzhai. Adapun Bell, itu merinding lagi. Makhluk bertentakel delapan itu muncul lagi. Apakah tidak cukup untuk dihajar?


"...." Gurita hitam mutasi terdiam di tempatnya saat melihat rombongan manusia itu. Alih-alih marah atau mencoba balas dendam, dia secara alami merinding.


"Kenapa kalian tidak pergi?" Gurita hitam mutasi tidak bodoh dan segera bertanya dengan jelas.


"Kami baru saja kembali. Lalu kenapa makhluk sepertimu ada di sini?" Mu Hongzhi sedikit sombong. "Apakah kamu mau mengalahkan kami lagi karena mengganggu tempatmu?"


Saat gurita hitam mutasi mendengar pertanyaan ini, tubuhnya tiba-tiba saja gemetar. Melawan mereka? Apakah bercanda? Dia telah dikalahkan oleh naga perak sebelumnya. Di mana ada pemikiran gila seperti itu.


Semakin dipikirkan, gurita hitam itu semkain menggigil kedinginan.


"Hei, apakah kamu baik-baik saja? Suhu air sangat pas untuk mandi. Tapi kamu mengigil seperti ini. Mungkin kamu lebih cocok dengan air laut. Mungkinkah gurita sensitif terhadap air hangat?" Mu Hongzhi sudah berkata-kata lagi. Yang jelas menyudutkan makhluk bertentakel delapan itu.

__ADS_1


__ADS_2