Menjadi Istri Cerdas Raja Perang

Menjadi Istri Cerdas Raja Perang
Sang Penjaga Pegunungan Dewa


__ADS_3

GURITA MUTASI yang kini berada di pegunungan dewa pun langsung bersin tanpa alasan. Dia menempel erat pada lengan Orange karena khawatir dibuang. Padahal ini sudah mencapai kaki pegunungan dewa. Bisakah dia bersin begitu saja?


Siapa yang membicarakannya saat ini?


"Kamu turunlah. Kita sudah sampai," kata Orange yang merasa kesal. Salah satu telinganya bergerak kasar.


Binatang berkaki belakang itu tidak mau turun dan begitu senang menempel padanya. Padahal Bell sendiri sudah menaiki pegunungan dewa untuk menghadap sang penjaga. Mau tidak mau, Orang melepaskan gurita mutasi berwarna putih itu dan menempelkannya di salah satu pohon bersalju.


“Tunggulah di sini. Aku dan Bell akan pergi melapor dulu. Kamu tidak pergi ke sana karena bukan bagian dari penjaga.” Orange memberinya pengertian.


“Kamu jangan menelantarkanku begitu saja. Ingat, aku butuh air untuk berendam.” Gurita mutasi itu curiga jika Orange akan meninggalkannya.


“Huh! Padahal aku sudah memberimu kesempatan untuk tinggal di laut, tapi tidak mau. Sekarang kamu butuh air. Tidakkah kamu tahu jika sungai saja membeku?” Orange mencibir. Dia tidak memiliki waktu untuk bicara dengan binatang berkaki delapan ini dan segera pergi untuk mengejar Bell.


“...” Gurita mutasi itu memikirkan hal ini. Bukankah lautan juga beku? Pikirnya.


Saat ini, Bell dan Orange pergi ke puncak pegunungan dewa yang begitu dingin dan penuh aura suci. Ada array khusus yang mengunci pegunungan tersebut hingga tak ada satu pun bintang mutasi yang mampu memasukinya.


Keduanya menghampiri seorang pria tua berjubah putih, janggut panjang hingga mencapai dada serta rambut sepunggungnya yang penuh uban. Pria tua itu sedang bersila sambil memegang manik-manik Buddha. Bell dan Orange tidak yakin apakah harus bicara sekarang atau menunggunya selesai berdo’a.


Setelah cukup lama menunggu, pria tua itu akhirnya membuka matanya dan bangkit. Tubuhnya yang ditutupi sebagian salju yng turun pun tidak membuatnya kedinginan. Dia berbalik dan melihat Orange serta Bell yang berwujud manusia.


“Kalian akhirnya kembali,” kata pria tua itu dengan tatapan agak lelah.


“Sang Penjaga, kami telah mneyelesaikan hukuman ini. Kami harap Sang Penjaga masih akan membiarkan kami untuk menjaga pegunungan dewa ini.” Bell segera memohon.


Pria tua itu mengelus janggut putihnya dan menghela napas panjang. “Jika dulu bukan karena kalian, jiwa Hei Long tidak akan terlepas,” katanya segera berbalik badan, melirik ke samping dengan perasaan pura-pura menyesal.


Wajah kedua binatang mutasi jelmaan kucing itu segera pucat dan buru-buru berubah menjadi kucing. Keduanya mendekati kaki pria tua itu dan menarik ujung jubahnya seraya menengadah. Bukankah kami imut-imut? Kamu akan luluh saat melihat kami ... Pikir keduanya.

__ADS_1


“Sang Penjaga, tolong maafkan kami kali ini. Sebelumnya kami lalai, tapi tak akan ada lain kali lagi. Yakinlah, kami akan jadi kucing yang bertanggung jawab untuk menjaga pegunungan dewa dan mendapatkan ikan— eh, maksudku mendapatkan restu dewa.” Orange berkata dengan ramah. Pikirannya teringat dengan ikan bakar yang harum.


“Ya, itu benar. Sang Penjaga, kami mohon.” Bell juga mendukung.


Pria tua berjubah putih itu merasa tarikan di ujung jubahnya semakin bertambah, hanya bisa mengembuskan napas tidak berdaya. Dia yakin jika tidak memberi keduanya kesempatan, mungkin akan mengeong sepanjang pagi dan malam. Mau tidak mau, pria tua itu ingin memberi kesempatan. Tapi ….


“Kalian membahas ikan? Apakah kamu menyembunyikan sesuatu?” Pria tua itu mulai menunjukkan tanduk liciknya.


“Hah? Ikan? Ya, ada. Tapi kamu harus mengizinkan kami menjadi penjaga lagi. Jika tidak, jangan harap ada ikan, bahkan cumi-cumi saja tidak ada.” Orange mulai bernegosiasi.


“.…” Sejak kapan kedua kucing mutasi dewa itu mulai pintar?


Pria tua itu tidak bisa membohongi mereka dan menyimpan manik-manik Buddha-nya ke dalam saku. “Baiklah. Tidak ada hukuman lagi. Kalian akan menjadi penjaga pegunungan dewa. Nah, bagaimana jika kita mulai membakar ikannya?”


Pria tua ini mulai lapar … pikirnya pada diri sendiri.


Adapun Bell, dia juga berubah menjadi manusia dan mulai mencari tempat untuk berteduh, mengumpulkan kayu bakar dan membuat api unggun. Beberapa cumi-cumi dikeluarkan, serta ada ikan lainnya juga. Belum lagi daging yang dulu diberikan Li Chang Su padanya sebagai perbekalan.


Pria tua itu merasa jika perutnya bertambah nyaring akibat kelaparan selama seminggu terakhir. Dia sudah cukup lama bertapa.


“Bukanlah kamu tidak bisa makan daging?” Bel mengerutkan kening.


“ Aku bukan biksu. Kenapa tidak bisa makan daging?” Pria tua itu mencibir.


“...” Kupikir selama ini kamu adalah biksu, pikirnya. Tapi biksu selalu membuat kepalanya tanpa rambut. Sedangkan pria tua itu memiliki rambut. Bell berpikir jika biksu juga bisa memiliki rambut. Ternyata dia salah.


Tak berapa lama, Orange kembali dengan seekor gurita putih di tangannya. Gurita itu mengomel sepanjang jalan hingga pria tua berjubah putih itu menatapnya dengan perasan ingin tahu.


“Apakah itu juga akan kita panggang?” tanyanya dengan sedikit ketidaktahuan.

__ADS_1


“Apa??! Siapa yang ingin kamu panggang, Pak Tua? Jeruk, apakah kamu membawaku ke sini hanya untuk gurita bakar?” Gurita mutasi itu marah dan ingin mencekik Orange seandainya memiliki tentakel yang panjang.


"Tentu saja tidak. Sang Penjaga, dia bukan makanan." Orange segera menjelaskan. Dia duduk di dekat Bell dan melepaskan gurita mutasi agar bisa menyentuh salju untuk mempertahankan tubuhnya tetap lembab.


Pria tua berjubah putih itu menatap gurita mutasi putih dengan keheranan. "Kupikir dia juga akan kita panggang. Padahal sama-sama makanan laut."


"..." Gurita mutasi berwarna putih itu ingin berteriak jika cumi-cumi yang hendak mereka panggang itu adalah hasil kerja kerasnya.


Tapi suasana menjadi begitu tenang. Mereka tidak saling bertengkar. Adapun pria tua berjubah putih itu, ternyata lebih fokus pada makanan daripada pembicaraan mereka. Namun pria tua berjubah putih itu penasaran dengan perjalanan Bell dan Orange selama bertahun-tahun demi mengawasi Zhen Juan yang dirasuki oleh jiwa binatang roh bawah tanah.


Kedua manusia jelmaan kucing mutasi dewa itu bercerita jika mereka pernah diselamatkan oleh pensiunan kaisar. Lalu menetap di terowongan bawah tanah untuk menjaga Hutan Putih. Adapun Orange yang tidak beruntung, Bell merasa bersyukur bisa bertemu dengan Li Chang Su.


"Takdir gelang naga perak? Sepertinya di masa depan, dia akan membantu pemilik gelang untuk melawan Hei Long," kata pria tua berjubah putih itu sambil memanggang cumi-cumi dan ikan yang lain. Padahal dia sudah makan cukup banyak.


"Dia gadis yang cerdas." Bell mengangguk.


"Itu bagus. Dengan begitu aku tidak akan terlalu khawatir. Kita akan menunggu dia datang ke pegunungan dewa suatu hari nanti." Pria tua berjubah putih itu sudah memiliki gambaran tentang masa depan.


"Sang Penjaga, sebenarnya kamu ini manusia atau bukan? Kenapa setelah kami pergi bertahun-tahun lamanya, kamu sama sekali tidak berubah fisik?" Orange memperhatikan pria tua berjubah putih itu dengan penuh kecurigaan. Bisakah Sang Penjaga juga memiliki kegelapan atau lain sebagainya?


Manusia itu cepat tua. Tapi pria tua berjubah putih ini, walaupun sudah tua, tapi kerutan tidak pernah bertambah.


Gurita mutasi yang memperhatikan dari samping pun menebak. "Sepertinya pria tua ini memiliki ilmu awet muda."


Akhirnya pria tua berjubah putih itu tertawa lepas dan menatap gurita mutasi dengan penuh kebanggaan. "Huh, kamu gurita pintar. Ternyata kepalamu yang besar itu bekerja dengan baik."


"..." Ada apa dengan kepalaku? Pikir gurita itu seraya menyentuh kepalanya yang lembut.


Pada akhirnya ... Mereka semua hanya bisa bicara sepanjang hari untuk menghilangkan bosan. Sesekali pria tua itu akan menjahili gurita mutasi hingga tertawa berkali-kali.

__ADS_1


__ADS_2