Menjadi Istri Cerdas Raja Perang

Menjadi Istri Cerdas Raja Perang
Tiba Di Ibu Kota


__ADS_3

MU XIANZHAI mengulum senyum dan menyentuh wajah gadis itu, lalu turun ke leher dan ke tulang selangka. Gadis itu sedikit merinding. Tangan Mu Xianzhai mulai tidak jujur. Karena dirinya kalah, maka hanya bisa menuruti keinginan pria itu.


"Aku menginginkan ini ..." Mu Xianzhai segera berbisik hingga wajah gadis itu memerah. "Bagaimana?"


"Bagaimana mungkin?! Aku tidak mau!" Gadis itu langsung menolak.


"Oh, Su'er tidak berani." Kali ini Mu Xianzhai terkekeh.


"Mu Xianzhai, kamu hanya hooligan! Mencari kesempatan. Aku tidak mau!"


"Katakan saja jika Su'er tidak berani."


"Aku— aku memang tidak berani. Jadi bagaimana dengan itu?!" Li Chang Su lebih baik menyerah sebelum akhirnya masuk dalam perangkap Mu Xianzhai lagi. Dia sudah tidak mau ditipu untuk kedua kalinya.


Sayangnya bahkan jika dia tidak berani, Mu Xianzhai tetap tidak melepaskan. Malam ini, dia ditakdirkan untuk kembali diintimidasi olehnya.


Keesokan paginya ....


Salju tidak turun lagi. Menjelang akhir musim dingin, semuanya tidak terlalu ekstrem. Banyak salju yang mulai berkurang lebih cepat dari perkiraan. Menurut Mu Xianzhai, empat musim berganti tidak menentu. Kadang cepat atau lambat. Yang lebih mengerikan, musim panas ekstrem membuat banyak orang meninggal.


Semua ini seperti kutukan yang tidak pernah berakhir. Namun Li Chang Su yakin, ini mungkin bukan karena kutukan, tapi keberadaan binatang mutasi menjadi penyebabnya. Entah itu karena langit marah atau ledakan racun di masa lalu, semuanya memengaruhi.


Hari-hari berjalan dengan baik. Selama enam hari, Li Chang Su melatih sepuluh prajurit khususnya. Sedangkan Mu Xianzhai kembali bertugas untuk memerintahkan orang-orangnya membangun kembali benteng, menutup lubang galian serta memperketat penjagaan.


Barulah setelah itu, mereka bersiap untuk kembali ke ibu kota.


Di hari ke tujuh, Li Chang Su dan Mu Xianzhai menaiki kereta. Mu Hongzhi dan Lict menunggang kuda. Selama perjalanan menuju ibu kota Negara Bingshui, mereka tidak menemukan masalah apapun. Bahkan cenderung lancar tanpa gangguan.


Li Chang Su merasa cukup lelah selama beberapa hari terakhir dan tertidur di kereta. Salju mulai mencair dan hari musim dingin pun akan berakhir. Setelah menempuh perjalanan cukup lama, mereka mulai melihat para warga desa yang pergi berburu atau sekarang mencari ubi-ubian. Bahkan rebung musim dingin juga mulai tumbuh pada puncaknya.


Li Chang Su masih memiliki banyak rebung di dalam ruang artefak. Dia telah memasaknya beberapa kali untuk Mu Xianzhai. Kini, orang-orang juga memanen rebung. Tampaknya di zaman ini, rebung cukup penting.

__ADS_1


"Sepupu, kita tiba di kedai mi. Apakah kita istirahat dulu?" tanya Mu Hongzhi yang menunggangi kuda putih mutasi di samping kereta.


"Ya. Kita istirahat dulu. Aku ingin makan mi," jawab Li Chang Su tanpa menunggu Mu Xianzhai bicara.


"Pesan saja mi nya. Kita harus tiba di ibu kota sebelum gelap." Mu Xianzhai mengerutkan kening.


"Siapa yang menyuruh kita berangkat di hari ketujuh? Bukankah kamu?" Li Chang Su mencibir.


"Ya, baiklah. Raja ini salah. Tapi kita benar-benar tidak bisa beristirahat di tengah jalan. Pesan saja mi nya."


Pada akhir, Mu Hongzhi memesan empat mi dalam mangkuk yang diberikan oleh Li Chang Su. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan sambil makan mi yang masih hangat. Mu Hongzhi dan Lict akhirnya masuk kereta untuk makan lebih dulu.


"Tampaknya orang-orang masih mengenali kita?" tanya Li Chang Su.


"Tentu saja. Bahkan jika kereta berubah," jawab Mu Xianzhai.


"Kenapa bisa begitu?"


"Ternyata mereka mengenali keduanya. Kupikir mengenali kalian."


"..." Kami juga dikenal luas, pikir Mu Hongzhi.


Selama perjalanan sambil makan mi, banyak topik yang dibahas dengan serius. Karena masalah binatang mutasi golongan kegelapan bisa ditunda lebih dulu, mereka memiliki banyak waktu untuk beristirahat.


Sesampainya di gerbang perbatasan kota, penjaga langsung membungkuk hormat dan membukakannya untuk mereka. Lalu kuda berlari ringan di sepanjang jalan, melewati banyak toko dan perumahan. Belum lagi orang-orang yang lalu lalang di pinggir jalan segera membungkuk sedikit saat mengetahui mereka datang.


"Raja Perang akhirnya kembali. Raja Perang akhirnya kembali!" Sambutan para warga yang mengetahuinya pun segera bersudut untuk berterima kasih pada Mu Xianzhai.


Namun Mu Xianzhai yang ada di dalam kereta sedikit risih. Semua penghormatannya itu untuk Su'er nya, bagaimana bisa dia menerimanya begitu saja. Saat dia hendak menghentikan kereta dan menegur para warga, Li Chang Su menggelengkan kepala.


Jika gadis itu yang menerima penghargaan, yakinlah semuanya berbeda. Dia akan terkenal sehingga mengenal banyak pria tampan yang mendekatinya. Saat Li Chang Su mengatakan semua itu, ekspresi Mu Xianzhai menjadi jelek untuk sesaat. Dia hampir lupa. Istrinya tidak bisa dia buat terkenal. Su'er hanya miliknya.

__ADS_1


Namun Li Chang Su diam-diam tersenyum. Tentu saja dia tidak ingin repot dengan segala masalah di masa depan sehingga biarkan Mu Xianzhai yang menanggungnya.


Ketika tiba di ibu kota, Mu Xianzhai kembali dulu ke Istana Raja Perang dan membiarkan Li Chang Su tinggal. Ia akan ke Istana Kekaisaran tanpa membawanya. Bisa-bisa pensiunan kaisar ada di sana dan mulai mengomel lalu meminta Li Chang Su untuk berbincang-bincang. Kakeknya itu tidak perlu banyak bicara dengan istrinya.


Mu Hongzhi ikut bersamanya. Ada juga Lict tentunya yang harus memiliki kependudukan Negara Bingshui cepat atau lambat. Karena laki-laki itu dan istrinya berasal dari zaman modern, tentu saja kependudukannya kosong. Dia harus meminta kaisar untuk mengatur kewarganegaraan keduanya.


"Raja Xian dan Jenderal Hong telah tiba," teriak sang penjaga pintu aula.


Kaisar yang duduk bosan di singgasananya pun segera bangkit dengan keterkejutan. Dia menunjuk sang penjaga yang memegang tongkat berbulu panjang sebagai lambang identitasnya.


"Bisakah kamu memelankan suaramu? Bagaimana jika Kaisar ini tiba-tiba meninggal?" omel Kaisar Mu seraya menyentuh dadanya.


Sang penjaga segera menunjukkan ekspresi polos pada Kaisar Mu. "Maaf, tapi Yang Mulia Kaisar ... Ini sudah tugas hamba sejak awal. Jika hamba lalai, maka nyawa melayang."


"..." Tugasmu sangat penting rupanya. Kenapa aku lupa? Pikir Kaisar Mu agak bodoh.


Lalu para menteri pun segera berlutut dan bersudut. Salah satu dari mereka berkata, "Yang Mulia Kaisar, tolong jangan mengutuk diri sendiri. Kaisar panjang umur, Kaisar panjang umur."


Para menteri yang lainnya pun juga mengucapkan hal sama secara bersamaan.


"..." Sulit menjadi seorang kaisar, pikir Kaisar Mu merasa ingin cepat-cepat menyerahkan semua masalah Kekaisaran pada salah satu putranya di masa depan.


Pensiunan kaisar yang ada di samping putra pertamanya itu langsung menggampar lengannya dengan kasar. "Kamu ini seorang kaisar tua, lihatlah berapa umurmu, mulai pikun?" cibirnya.


"Ayah! Aku ini juga putramu. Kamu bahkan lebih tua. Lihatlah, berapa umurmu? Kenapa masih terlihat cukup muda?" Kaisar Mu mengelus lengannya yang digampar sang ayah. Dia bahkan menangis di pelukan pensiunan kaisar selama seharian penuh saat pertama kali pria tua itu pulang.


"Mulut madu!" cibir pensiunan kaisar, hatinya tidak tersentuh sama sekali.


Mu Xianzhai dan keduanya yang baru saja masuk pun mendengus.


"Apakah kalian berdua sudah selesai berdebat?" tanya Mu Xianzhai.

__ADS_1


__ADS_2