
JENDERAL RONG entah kenapa memiliki firasat buruk di hatinya. Keluarganya sudah hancur dan marga Rong kini hanya cangkang kosong. Sumpah beracun tabib penyihir di masa lalu menjadi kenyataan.
Kini keluarga Rong benar-benar diliputi nasib sial yang tak ada habisnya. Sekarang hanya ada satu putrinya di istana yang akan menjadi ibu negara di masa depan.
"Apa maksud Pangeran Kedua?" tanyanya dingin.
"Oh ... Ini menarik!" Mu Peizhi terkekeh. "Kamu hanya alat untuk saudara keempatku. Setelah tidak berguna, kamu dan keluarga Rong hanya akan dijatuhi hukuman mati. Lagi pula putrimu sudah di penjara saat ini. Di mana dia akan menjadi ibu negara di masa depan?" cibirnya.
"Omong kosong!" Mu Lizheng segera menyela. Dia tahu apa yang akan dikatakan Mu Peizhi. Ini tidak bisa dibiarkan. "Saudara kedua tidak perlu menggunakan cara licik seperti itu untuk membingungkan Jenderal Rong dan aku."
"Apakah kamu yakin?" Mu Peizhi sama sekali tidak takut. "Kalah begitu katakanlah, bagaimana Guan Shu, anak dari mantan raja Lembah Racun kini berada di istanamu dan dipilih sebagai permaisuri di masa depan? Apa kabarnya Rongyu? Bukankah Rongyu yang telah berkorban banyak untukmu?"
Satu persatu pertanyaan itu menuntut Mu Lizheng untuk mati. Seseorang sepertinya telah membocorkan berita dari istana dan kini sengaja untuk membuat Mu Peizhi menang.
Mu Peizhi masih mengatakan banyak hal. Ibu suri dan pensiunan kaisar diselamatkan, Guan Shu sekarat karena racun Li Chang Su dan permaisuri kini berada di penjara yang sama dengan Rongyu.
Belum lagi, Kaisar Mu telah kembali duduk di kursi naga.
Hal ini membuat Mu Peizhi tertawa tapi Mu Lizheng harus berdarah di hatinya. Dia tidak percaya akan itu semua dan langsung menjadi gila, mengamuk. Saat ini dia hanya ingin membunuh Mu Peizhi.
Jika takhta itu bukan miliknya, maka dia tak akan membiarkan siapapun memilikinya juga. Mungkin dia tak bisa mengalahkan Mu Xianzhai selama ini, namun membunuh beberapa pangeran masih bisa dia lakukan.
"Itu mustahil! Aku akan segera menjadi kaisar dan kalian semua akan berlutut untukku!" Mu Lizheng yang sudah dimakan oleh ambisinya demi takhta pun langsung menghunuskan pedang ke arah Mu Peizhi.
Dia ingin menusuk jantungnya, merobek tubuhnya dan juga meminum darahnya.
Di depan banyak prajurit hari ini, dia akan membuktikan jika dirinya mampu untuk duduk di kursi itu.
__ADS_1
"Mu Peizhi!!! Aku ingin kamu mati!!" teriak Mu Lizheng lagi-lagi menghunuskan pedang pada pria itu.
Sayangnya Mu Peizhi juga pandai menghindari serangan itu dan melawannya kembali. Kini dua pangeran saling bertarung di antara para tentara yang slaing menumpahkan darah.
Bahkan Jenderal Rong sedikit bingung dengan semua informasi yang baru saja diterimanya dan meminta penjaga gelap miliknya untuk menyelidiki masalah ini.
Jika benar putrinya berada di penjara dan Guan Shu adalah permaisuri yang terpilih, maka dia telah ditipu terlalu hanyak oleh Mu Lizheng dan Permaisuri.
Saat ini, Mu Lizheng tertawa liar seolah-olah keganasan di matanya akan membunuh Mu Peizhi detik itu juga.
Karena Mu Lizheng terlalu cepat dan hampir melampiaskan amarahnya, Mu Peizhi tidak bisa mengelak atau menahan serangan hingga akhirnya mengalami luka tusukan di lengan kanannya.
Pedang yang dipegang Mu Peizhi terlepas dan dia langsung ditendang ke sisi lain oleh Mu Lizheng hingga menyebabkan muntah darah.
Tendangannya tidak main-main.
"Mu Peizhi, kamu bukan lawanku! Di dunia ini, aku terlahir sebagai orang yang ditakdirkan untuk menjadi kaisar!" Mu Lizheng yang wajahnya ternoda darah pun kini tertawa liar, kegilaan di matanya semakin menjadi-jadi.
"Jadi bagaimana jika ibu ratu dan Guan Shu mati?! Aku tidak membutuhkan mereka. Yang kubutuhkan hanyalah takhta! Selama ini ibu ratu selalu membiarkanku menyerah dalam segala hal dan tak mengizinkanku ikut ke barak militer. Dia berpikir jika aku hanya anak biasa tanpa bisa apa-apa dan hanya perlu menikmati hasil jerih payahnya! Tapi ibu ratu begitu bodoh! Sangat bodoh!" jelas Mu Lizheng langsung mengatakan semua yang menjadi beban pikirannya saat ini.
Wajah Mu Peizhi sedikit pucat. "Permaisuri adalah ibumu. Kenapa kamu berbicara seperti itu pada ibumu sendiri?" tanyanya merasa tidak menyangka jika Mu Lizheng akan mengejek permaisuri karena bodoh.
"Cih! Ibu? Di istana, anak mana yang akan benar-benar dilahirkan untuk kasih sayang dan cinta? Kita dilahirkan untuk menjadi beban mereka dan alat untuk mencapai kekuasaan dan puncak kejayaan. Kaisar menikahi selir untuk memperluas hubungan politik dan para selir kekaisaran berlomba-lomba untuk memanjat tempat tidur kaisar. Menurutmu, di mana itu ketulusan dan cinta orang tua?" teriak Mu Lizheng.
Permaisuri mungkin menganggapnya sebagai seorang putra pangeran yang penting tapi tidak mungkin menganggapnya sebagai seorang anak.
Namun jika Permaisuri mendengar hal ini, mungkin akan kecewa. Semua yang dilakukan Permaisuri justru untuk kemuliaan putranya agar lebih unggul dari pangeran lain. Sayangnya, Mu Lizheng tidak berpikir demikian.
__ADS_1
"Setelah aku menjadi kaisar nanti, aku akan membiarkan Mu Xianzhai berlutut untukku dan biarkan dia melihat bahwa istri yang sangat dicintainya akan menjadi milikku! Aku ingin Mu Xianzhai menderita. Salahkan dia karena kaisar begitu menyayanginya. Kenapa kaisar begitu parsial pada anak-anaknya. Aku sungguh tidak terima!"
Mu Lizheng menggeram dan memegang pednag sekuat tenaga. Dia akhiyakan mengakhiri semua ini dan segera menjadi kaisar.
"Mu Lizheng, kamu bukan manusia! Dewa tidak akan memberimu berkah untuk memimpin negara Bingshui!" teriak Mu Peizhi di saat melihat jika pedang itu tak lama lagi akan membunuhnya.
"Ha ha ha ...!" Mu Lizheng tertawa main-main, rongga matanya merah dan ekspresinya diliputi oh amarah dan rasa puas. "Kalau begitu biarkan kamu yang kujadikan tumbal untuk berkah para dewa!"
Mu Lizheng mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan mengarahkannya ke dada Mu Peizhi. Meski dilindungi oleh jubah baju pedang, tapi pedangnya mampu menembus lapisan besi.
"Mati!!!" teriaknya.
Namun sebelum pedangnya menusuk dada Mu Peizhi, sebuah anak panah menembus punggungnya, tepat di dekat jantung.
Mu Lizheng berteriak dan tertegun saat rasa sakit dan sesak napas menghampiri tubuhnya. Dia memuntahkan seteguk darah segar dan pedang di tangannya jatuh.
Lalu anak panah lain menembus punggungnya, tepat di sebelah kanan. Mu Lizheng melirik dadanya. Anak panah itu tembus ke dada dan darah kental menodai tubuhnya.
"Kenapa ...—"gumamnya merasa tidak percaya.
Dia mencoba untuk bangun meski tubuhnya sedikit gemetar dan berbalik perlahan. Seseorang yang baru saja memanahnya tak lain dan tak bukan adalah Jenderal Rong.
Jenderal Rong yang tubuhnya suram saat ini sangat marah hingga memegang busur dan anak panah seperti seseorang yang baru saja kehilangan jati dirinya.
Mengetahui laporan dari penjaga gelap bahwa putrinya dikurung di penjara bawah tanah, diperkosa dan bahkan membunuh Permaisuri yang dikurung bersama, hatinya sakit. Bagaimana pun juga, Rongyu adalah anak perempuan yang tumbuh dari kecil hingga dewasa di absah lututnya.
Kini anaknya bunuh diri setelah membunuh Permaisuri.
__ADS_1
Mu Lizheng menatap Jenderal Rong dengan mata membelalak. "Kenapa ... Kenapa kamu melakukan ini?" tanyanya bingung.