
MU XIANZHAI segera membopong Li Chang Su ke dalam tenda dan memeluk tubuhnya yang kedinginan. Dengan pencahayaan lentera, dia bisa melihat betapa pucat wajah gadis itu. Tubuhnya juga mendingin. Pria itu merasakan rasa takut untuk yang ke sekian kalinya saat melihat Li Chang Su seperti ini.
Dia berulang kali mengambil denyut nadi istrinya. Tidak ada yang salah dengan kesehatan fisik. Tapi ilmu tenaga dalamnya terkuras secara tiba-tiba hingga membuat gadis itu pusing dan pingsan. Mu Xianzhai sendiri tidak tahu apa yang terjadi. Hingga akhir gelang naga perak yang masih melingkar di pergelangan tangan Mu Xianzhai, kini bergerak menuju tangan kiri gadis itu.
Pria itu mengerutkan keningnya dan tidak tahu apa yang salah. Mata gelang naga perak bersinar kemerahan hingga akhirnya melingkar di pergelangan tangan kiri gadis itu. Barulah setelah beberapa saat, ekspresi wajah Li Chang Su sedikit lebih baik dari sebelumnya.
"Mungkinkah ini ada hubungannya dengan naga perak?" gumam Mu Xianzhai merasa tidak nyaman.
Tiba-tiba saja, sosok putih muncul di udara bebas dan jatuh di kepala Mu Xianzhai. Makhluk berekor indah itu menguap dan mencoba untuk bangun seraya menggerakkan ekor berbulu lebatnya secara sembarang.
"..." Mu Xianzhai segera berwajah hitam saat mengetahui ada makhluk berbulu yang menginjak kepalanya.
Dia segera meraih makhluk berbulu itu dan ternyata seekor tupai putih. Itu adalah He Ze yang baru saja bangun dari tidur panjangnya selama seminggu terakhir. Tupai itu masih dalam keadaan mengantuk dan menatap Mu Xianzhai dengan kebingungan.
"Hmm ... Siapa kamu?" gumamnya.
"..." Mu Xianzhai benar-benar merasa jijik dan segera melemparkannya ke luar tenda.
"Ahhh!!!" Tupai putih itu berteriak kaget saat tahu tubuhnya melayang bebas.
Mu Hongzhi dan Lict yang masih khawatir dengan keadaan Li Chang Su pun berniat untuk melihatnya. Tapi saat sosok putih kecil muncul dan menghantam wajah Mu Hongzhi, Lict terperanjat dari tempatnya.
Mu Hongzhi segera terjengkang ketika kekuatan dorongannya begitu besar. Ia pun meringis seraya menyingkir makhluk berbulu putih itu.
"Mu Hongzhi, apakah kamu baik-baik saja?" tanya Lict segera membantunya bangun.
"Benda apa itu? Menyakiti wajahku!" Pria itu segera menyentuh wajahnya yang kesakitan.
"Itu tupai!" Lict menjawab.
__ADS_1
"Ah! He Ze!" Kuda putih mutasi yang awalnya hanya duduk santai pun kini bangkit dan menghampiri tupai putih yang terkapar di dekat Mu Hongzhi.
Binatang kecil berbulu putih itu akhirnya bangkit sambil menyentuh bagian tubuhnya yang sakit. Dia tidak memedulikan mereka dan menatap ke arah tenda dengan tajam.
"Kamu hanyalah pemilik kejam! Aku baru saja bangun dari tidur panjang. Bukannya menyapaku, ini malah dilempar. Jika bukan karena aku, istrimu masih sakit saat ini!" Suaranya yang nyaring dan menggemaskan membuat mereka sedikit terhibur.
Hanya saja tak ada tanggapan dari dalam tenda. Tentu saja, Mu Xianzhai tidak akan peduli dan hanya memegang tangan istrinya yang kedinginan. Menggosoknya perlahan agar kehangatan menyebar. Karena terlalu khawatir, dia bahkan membungkusnya dengan selimut. Istrinya harus tetap hangat.
He Ze masih mengomel hingga akhirnya Lict membawa tupai itu untuk menjauh dari tenda. Dia hanya bisa menenangkannya dengan cara membujuk menggunakan kacang rebus dan jagung bakar. Sehingga tupai putih itu akhirnya ditenangnya.
Ketika malam tiba, api unggun menghangatkan sekitar. Mu Xianzhai keluar dari tenda mengambil bagian daging ayam panggangnya. Tapi ia tidak makan banyak karena Li Chang Su belum menunjukkan tanda-tanda akan bangun.
He Ze yang ditenangkan itu akhirnya merasa tidak berdaya. "Jangan khawatir, dia baik-baik saja."
"Bagaimana tenaga dalamnya bisa terkuras?" Pria bertopeng perak itu menatapnya dengan tajam.
He Ze merasa bersalah dan memegang jagung bakarnya. "Itu ... Aku tak sengaja mengurasnya saat bangun tadi," jawabnya takut-takut.
Alasan seperti begitu, Mu Xianzhai masih tidak bahagia dan memakan daging ayam panggangnya yang terasa hambar dalam sekejap.
Sementara itu ...
Di dalam tenda, gadis yang pingsan dan berwajah agak pucat itu segera menunjuk tanda-tanda tubuh sehat. Bibirnya mulai kemerahan lagi dan wajahnya tidak putih pudar seperti sebelumnya. Saat membuka mata, hal pertama yang membuatnya tidak nyaman adalah hawa panas.
Tubuhnya kepanasan dan berusaha untuk menyingkirkan sesuatu yang membungkusnya. Tapi kedua tangan dan kakinya juga sulit bergerak. Li Chang Su mengumpulkan kesadarannya dan menyadari jika tubuhnya dibungkus selimut seperti kepompong.
Dia terkejut dan berusaha melepaskan diri, berguling ke sana dan kemari. Sayangnya selimut itu diikat lagi dengan kain lain. Li Chang Su memiliki tiga garis hitam di kepala, lalu samar-samar mendengarkan percakapan di luar. Dia mendengar suara He Ze. Apakah tupai itu sudah bangun?
Karena tidak bisa melepaskan diri, dia akhirnya bergerak seperti ulat menuju keluar tenda.
__ADS_1
"Mu Xianzhai! Apakah ini ulahmu?! Cepat lepaskan aku!"
Semua orang segera menoleh ke arah suara. Tak terkecuali Mu Xianzhai yang terkejut. Dia melihat gadis itu mencoba keluar tenda dengan tubuh dibungkus seperti kepompong. Lict yang melihatnya pun ingin menyemburkan air hangat yang sedang diminumnya.
Apakah itu Senior Su nya? Bagaimana bisa menjadi kepompong.
"Su'er!" Mu Xianzhai segera meletakkan ayam panggangnya dan menghampiri Li Chang Su, membopongnya kembali ke dalam tenda.
"..." Sepupu, apakah Sepupu Ipar itu membunuh orang? Kamu tidak perlu membungkusnya seperti itu, pikir Mu Hongzhi.
Li Chang Su yang dibawa kembali ke dalam pun tidak berdaya. Pria itu membaringkannya di tempat sebelumnya sambil melepas topeng peraknya. Li Chang Su berkeringat dan terus bergerak seperti ulat yang disentuh.
"Mu Xianzhai! Lepaskan aku," kata gadis itu.
"Su'er ... Jangan menakutiku," bisiknya.
"Hah, siapa yang menakutimu? Kamu yang menakutiku. Aku hampir mati kepanasan," kata gadis itu lagi.
Mu Xianzhai segera membuka selimut yang menggulung tubuhnya dan segera memeluk istrinya. Gadis ini baik-baik saja sekarang. Ia merasa lega. Li Chang Su berkata jika dia hanya pusing saat tenaga dalamnya terkuras cukup banyak. Tapi tak ada masalah lain dengan tubuhnya.
Tiba-tiba saja, perut Li Chang Su berbunyi. Wajahnya segera malu. Dia lapar, bisakah makan malam sekarang?
Mu Xianzhai mengulum senyum dan segera bangkit untuk mengambilkan makanan. Tapi tak mengizinkan Li Chang Su keluar untuk meniup angin dingin. Setelah beberapa saat berlalu, dia kembali lagi dengan piring berisi potongan ayam panggang.
"Hanya ada ayam panggang saja malam ini. Jika Su'er ingin makan sesuatu yang lain, katakan saja. Aku akan memasak," kata Mu Xianzhai seraya menyuapinya dengan suwiran daging ayam panggang.
"Tidak apa-apa. Tapi aku ingin makan ramen sebelum tidur nanti." Gadis itu menikmati ayam panggangnya. Ini bahkan lebih enak dengan bumbu sederhana.
Makan larut malam?
__ADS_1
Mu Xianzhai menaikkan sebelah alisnya dan mengerutkan kening. Gadis ini makan sesuatu yang tidak sehat di malam hari, apakah baik-baik saja?
"Aku ingin makan sesuatu yang gurih dan pedas nanti. Rasanya enak. Tapi aku tahu kamu tidak suka, jadi kubuat pangsit saja?" Gadis itu membujuk agar bisa makan ramen.