
DUA KUCING penjaga? He Ze mengerutkan kening dan memikirkan perjalanan itu kembali. Saat mereka memasuki terowongan dari Hutan Putih, ada dua kucing di sana. Yang pertama Bell, seekor kucing mutasi dewa golongan cahaya—berbulu emas keperakan dan menjaga mata air ajaib.
Yang kedua ada Orange, seekor kucing berbulu hingga keemasan yang juga berada di tingkat dewa. Dia menatap Mao Mao dengan bingung. Apa maksudnya dengan dua penjaga?
"Kamu tidak tahu?" Mao Mao bertanya lagi dengan keheranan. Dia yakin pensiunan kaisar pasti tahu tentang dua kucing itu.
"Tidak."
"..." Hei, bisakah ekspresimu itu tidak terlalu polos? Pikir Mao Mao dengan tiga garis hitam di kepalanya.
"Bagaimana kamu bisa tahu jika keduanya adalah kucing penjaga?" tanya He Ze. Dia tidak memikirkan ini sebelumnya meski merasa ada yang salah dengan identitas kedua kucing mutasi dewa itu.
"Kami sama-sama bangsa kucing. Apa yang tidak aku tahu?" cibir Mao Mao merasa sombong.
"Karena kamu tahu, maka aku akan menceritakan ini pada gadis itu. Biarkan dia menginterogasimu," kata He Ze sambil tersenyum misterius.
"Dia tidak akan mempu melakukannya." Mao Mao terlihat meremehkan.
"Huh! Sombonglah dulu. Nanti kamu akan memohon padaku."
"Bermimpi!" Mao Mao mendengus dan segera mengumpulkan para binatang mutasi golongan cahaya lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hingga hari semakin sore ....
He Ze dan Mao Mao kembali ke wilayah barak militer sambil membawa sekumpul para binatang mutasi golongan cahaya. Xue Zi dan kuda putih mutasi tidak terkecuali. Mereka semua berhasil mengumpulkan begitu banyak dari golongannya. Bahkan para prajurit saja menjatuhkan rahangnya.
Di mana semua binatang mutasi golongan cahaya ini akan ditampung? Pikir mereka.
Mu Xianzhai telah menyusun rencana dengan para jenderal lainnya sehingga para binatang mutasi golongan cahaya langsung di bawa ke situs penjagaan benteng perbatasan masing-masing. Ada beberapa prajurit yang juga ikut untuk melaporkan kejadian malam nanti.
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain tenda, teriakan Mao Mao terdengar mengejutkan. Ada tawa He Ze yang langsung mencibir sambil mengejeknya. Mu Xianzhai mengerutkan kening dan menatap Mu Yishu. Sayangnya pria itu juga menggelengkan kepala.
"Ini pasti ulah Su'er," kata Mu Xianzhai segera memberinya nada meminta maaf.
"Jangan salahkan istrimu. Ada kemungkinan Mao Mao yang berulah lebih dulu. Sudah kubilang, dia belum makan ikan sehingga sulit mengorek informasi darinya." Mu Yishu tertawa ringan dan menggelengkan kepalanya dengan sentuhan tidak berdaya. Hanya istrinya saja yang kadang mampu membujuk kucing putih itu.
Keduanya pun segera memasuki tenda dan melihat kekacauan apa yang sedang terjadi di dalam. Lalu ekspresi keduanya cukup membingungkan.
"Oh, Gadis! Kumohon jangan gunting rambutku. Kamu tidak tahu, menggunting rambutku sama saja dengan menggunting buluku ... Jauhkan gunting itu dariku ..." Mao Mao yang ditahan oleh Li Chang Su pun merasa ngeri saat melihat gunting. Ketika menjadi kucing, dia bisa botak.
Hanya dengan memborgol kucing putih yang berwujud manusia itu, sangat mudah bagi Li Chang Su. Dia hanya pergi menggunakan mantra khusus agar wujud Mao Mao tidak lagi menjadi kucing untuk sementara waktu.
Li Chang Su hanya menyeringai seraya bermain dengan gunting tajam di tangannya. Dia menatap pria ber-zaoshan hitam berpola kucing itu dengan cibiran yang nyata. Tidak mau memberi tahu dia tentang informasi Bell dan juga Orange? Dia memiliki banyak cara untuk melakukannya.
Li Chang Su meraih beberapa helai rambut putih pria itu dan mengguntingnya sedikit. Mao Mao akhirnya berteriak lagi.
"Ohhh ... Tidak! Gadis ... Kumohon jangan~" Nada bicaranya semakin menyedihkan. Lalu dia melihat Mu Yishu tak jauh dari tempatnya. "Pemilik, tolong aku ... Tolonglah jauhkan gadis ini dariku. Dia mengerikan. Aku tidak tahu kalau majikan Kacang justru lebih mengerikan daripada majikanku."
"Huh? Kucing putih, ya? Aku akan mengubahnu menjadi kucing coklat setelah ini. Masih tidak mau bicara?" Li Chang tidak memedulikan orang yang datang. Dia masih bermain-main dengan guntingannya.
Mao Mao segera berkata, "Aku tahu, aku tahu. Tapi kamu tidak tahu aku. Aku akan bicara ketika ada ikan lebih dulu."
Mu Yishu memijat pelipisnya. Sudah dia duga. Kucing ini lebih sulit daripada seekor tupai yang minta kacang rebus. Pikirnya.
"Ikan? Justru karena kamu tidak bicara, ikan itu tidak ada! Atau ..." Li Chang Su semakin menunjukkan senyum tidak terduga. Lalu menatap He Ze. "Bawa ember dan air. Aku akan mengubah bulunya menjadi coklat hingga majikannya tidak mengenalinya lagi."
"..." Mu Yishu dan Mu Xianzhai saling memandang. Apakah dia serius.
"Oh, jangan khawatir Tuan. Itu keahlianku." He Ze segera berbalik untuk pergi.
Xue Zi ada di samping Li Chang Su sambil makan wortel. "Kamu kucing tidak tahu berterima kasih. Sebenarnya warna coklat lebih baik daripada saat gadis ini mengecatku menjadi hitam."
__ADS_1
"..." Mao Mao memikirkannya lagi dan langsung tahu jika gadis itu tidak bercanda. Dia pun segera meminta He Ze agar tidak pergi. Dia akan bicara segalanya.
Mao Mao tidak mau diubah menjadi coklat. Ia suka menjadi putih bersih seperti salju sehingga majikannya di rumah—istri pangeran pertama pun akan mengelusnya lebih sering. Tapi jika dia jadi coklat, bukankah itu kotor seperti lumpur? Jadi dia lebih memilih bicara walaupun tidak ada ikan.
"Apa kamu sungguh akan memberiku ikan setelah mengatakan segalanya?" Dia menatap Li Chang Su dengan permohonan.
"Tentu saja. Kenapa aku berbohong?" Gadis itu akhirnya mengeluarkan dua ikan bakar yang masih tersisa di ruang artefak.
Di sisi lain, He Ze ingin berteriak jika itu adalah ikan bakar miliknya. Bagaimana bisa— Tapi Mu Yishu menepuk pundak He Ze dengan prihatin. Relakan saja ikan bakar itu untuk kucingnya. Lagi pula, toh Mao Mao mau bicara juga tanpa adanya ikan lebih dulu untuk kali pertama. Dia merasa kagum dengan cara Li Chang Su.
"Huh, kamu tidak tahu betapa mengerikannya majikanku," gumam He Ze merasa bangga sekaligus agak sial. Majikan seperti Li Chang Su itu ibarat bom waktu. Bisa bersahabat dan berbahaya pada waktu bersamaan.
Mao Mao hanya bisa mengalah dan mengakui jika Li Chang Su benar-benar mampu menundukkannya. Dia pun segera menghela napas dan memintanya untuk melepaskan rantai. Walaupun Li Chang Su tidak percaya jika Mao Mao akan patuh, He Ze berkata jika itu baik-baik saja. Lagipula sebagai penjaga artefak, ucapan adalah sumpah.
Akhirnya Li Chang Su melepas rantai aura sehingga Mao Mao berubah menjadi seekor kucing putih. Dia langsung melompat ke arah He Ze dan menggantung di jubahnya.
"Aku akan cerita. Tapi Kacang, kamu harus di sini denganku." Mao Mao ingin mengatakan jika gadis itu masih memegang gunting.
Mu Yishu segera berbalik untuk pergi. "Kabar perubahan Mao Mao harus diberitahukan pada istriku. Dengan begitu di masa depan, aku punya cara untuk menekan kucing putih itu agar tidak mengadu padanya," bisiknya pada Mu Xianzhai. Lalu melenggang dari tenda dengan suasana hati yang cukup besar.
"..." Kamu adalah seorang bupati. Bisakah kamu menjadi lurus (jujur dan benar)? Pikir Mu Xianzhai agak melelahkan.
Dia memperhatikan Li Chang Su yang begitu memilikinya banyak akal hanya untuk mendapatkan informasi dari Mao Mao. Ia segera menghampirinya dan duduk di samping gadis itu, merangkulnya.
"Su'er ... Kamu memang cerdas. Memang istriku," pujinya.
"Tentu saja. Apakah dia hadiah untuk kecerdasanku?" tanya gadis itu agak menyombongkan diri lagi.
"Tentu saja. Malam ini ... Raja milikmu," godanya.
"Dasar hooligan tak tahu malu!" Dia memelototinya lalu mendengus. Setelah itu hanya menatap kucing putih yang ada di pangkuan He Ze. "Katakan padaku, apa yang kamu ketahui tentang Bell dan Orange?"
__ADS_1