
MU XIANZHAI sepertinya harus menjelaskan sedikit jika di matanya hanya ada Li Chang Su. Para wanita itu mana mungkin bisa mencuci matanya. Seberapa bagusnya lekukan tubuh mereka, istrinya lebih menggoda. Saat Mu Xianzhai berbisik tentang ini, wajah gadis itu memerah.
Permaisuri yang duduk di samping kursi Kaisar Mu pun menyipitkan matanya, berpura-pura menikmati pesta tapi sebenarnya menatap Li Chang Su. Ada kebencian tersembunyi di matanya. Bagi Permaisuri, gadis itu adalah ancaman. Selain tidak takut padanya, Li Chang Su ini juga tidak pernah menghormatinya.
Ia khawatir jika di masa depan, gadis itu akan menjadi penghalang bagi putranya untuk menjadi kaisar. Rongyu telah berhasil dia gunakan sebagai pijakan untuk masa depan, kini dia harus memikirkan cara untuk menyingkirkan Li Chang Su lebih dulu.
Selama ada Raja Perang yang berkuasa dan melindunginya, Permaisuri yakin jika jalan hidupnya mulai sukar. Ia gelisah sepanjang waktu saat tahu jika Kaisar Mu mendengarkan Mu Xianzhai di mana-mana.
Li Chang Su tampaknya merasakan tatapan Permaisuri dan kembali memberinya tatapan datar. Senyumnya tidak berbahaya. Namun bagi wanita bergaun kuning keemasan itu, ketenangannya adalah badai.
Permaisuri menatap putrinya yang duduk bersama dengan para putri lain. Dia yakin jika di pesta bunga ini, putrinya akan menonjol.
Tak lama kemudian, Kaisar Mu membuat keputusan baru. "Sekarang gilirannya untuk para tamu menunjukkan bakat mereka. Terutama para putri dan gadis bangsawan. Para wanita muda yang sudah menikah juga dipersilakan untuk tampil. Siapapun yang memiliki skor paling tinggi dalam setiap bidang bakat, maka akan mendapatkan hadiah Kaisar ini," jelasnya.
Bukan hanya itu, para pangeran dan pria bangsawan juga dipersilakan untuk memberikan penilaian. Mungkin mereka juga memiliki seseorang yang disukai dalam Pesta Bunga tersebut.
Ye Tianli tidak tertarik dengan para gadis muda di sisi lain. Dia lebih memperhatikan Li Chang Su. Gadis yang dia sukai sudah menjadi istri pria lain. Jika dia meminta untuk menjadi selir gadis itu, Kaisar Mu mungkin akan muntah darah dan Mu Xianzhai menjadi musuh pribadinya.
Lupakan. Dia sendiri meminta Ye Shi untuk tidak merusak hubungan orang lain. Kali ini dia mengajaknya untuk menikmati pemandangan dan juga menyegarkan matanya.
"Tian Tian, apakah kamu berencana mengambil selir lagi?" bisik Ye Shi yang kini tidak memakai topeng rubah atau pakaian serba gelapnya. Ia khawatir dianggap sebagai pembunuh bayaran.
Lagi pula, tidak ada yang tahu nama asli atau wajahnya, sehingga ia bisa tenang. Tapi dia cukup terganggu oleh tatapan para gadis yang rakus akan ketampanannya.
"Tidak. Bagaimana denganmu?" Pria itu meliriknya seraya membuka kipas lipat, menutupi sebagai wajah bawahnya.
__ADS_1
"Tidak. Hanya ikut denganmu saja."
"..." Apakah kamu tidak tergoda oleh para gadis itu? Pikirnya.
"Dan juga ingin tahu seperti apa bakat Li Chang Su. Aku harus menyembahnya sebagai guru di masa depan," imbuhnya.
Kali ini Ye Tianli benar-benar butuh obat penenang. Alasan Ye Shi tak jauh berbeda dengannya. Apakah ini yang namanya satu pemikiran sama sebagai mantan suka sesama pria? Ia mendengus dan mengipasi dirinya. Meskipun benar, dia tak akan mengakuinya.
Saat ini beberapa bakat telah ditampilkan atas nomor undian yang dibagikan oleh pelayan. Tak akan ada kecurangan dalam permainan kali ini karena yang membuat undian nomor dan bakat apa yang harus ditunjukkan adalah Mu Yishu sendiri.
Li Chang Su juag mengambil nomor undian. Ketika melihat isinya, dia segera mengerutkan kening. Ia harus melukis. Mu Xianzhai juga melihatnya. Dia tahu jika gadis itu telah belajar untuk melukis akhir-akhir ini. Tapi ia sendiri tak pernah tahu seperti apa hasilnya.
"Su'er ... Semua yang mendapatkan nomor undian juga memiliki pertunjukan yang sama. Hanya saja temanya berbeda. Su'er mendapatkan undian melukis tema pemandangan kota," jelas Mu Xianzhai.
"Oh ... Pemandangan kota?" Gadis itu menaikkan sebelah alisnya dan memang melihat ada tema yang perlu diangkatnya dalam lukisan.
Rongyu sendiri penasaran dengan apa yang didapatkan oleh Li Chang Su. Dirinya terpilih untuk menggambarkan tema musim semi. Tentu saja identik dengan bunga-bunga.
Kertas melukis disediakan oleh istana. Bahkan cat air juga sama. Namun para peserta bisa membawa cat air masing-masing jika ada warna yang kurang.
"Pergilah. Raja menunggu di sini. Apapun hasilnya, Raja tak akan menertawakanmu," kata Mu Xianzhai mendukung dengan menunjukkan ekspresi masam.
"..." Kenapa ekspresimu seperti itu? Pikir Li Chang Su seraya mengambil cat air tambahan. Dia bangkit dan menuju tempat yang telah disediakan.
Beberapa gadis yang telah menjadi seorang istri pun juga tampil dan mengapa gadis-gadis muda yang lain. Termasuk Li Chang Su. Belum lagi Li Chang Su sendiri adalah istri dari Raja Perang, tak ada salahnya untuk bergaul.
__ADS_1
Mereka duduk di tempat masing-masing. Ada sebuah kertas tebal di depan mereka yang akan menjadi media utama. Ketika Kaisar Mu memberi perintah, semuanya segera melukis. Waktu itu tentu tidak banyak sehingga para peserta diajak untuk bergelut dengan waktu.
Mungkin hanya Li Chang Su yang terlihat begitu santai. Kebetulan dia berada di sebelah Mu Lanfen dan juga Mu Chuxin. Sementara Rongyu ada di belakangnya. Pesta Bunga sangat ketat sehingga tak akan ada seorangpun yang berbuat curang. Bahkan jika Rongyu menginginkan Li Chang Su gagal, tidak bisa dilakukan secara terbuka. Ia bisa ketahuan.
Semua peserta mulai sibuk melukis. Para tamu yang lain memperhatikan dengan seksama. Meski tidak bisa melihat jelas apa yang mereka lukis, tapi beberapa garis kadar mulai terlihat. Termasuk Li Chang Su. Gadis itu hanya mendengarkan keluhan He Ze dari ruang artefak dan kekenyangan setelah makan kacang rebus.
Li Chang Su berkomunikasi dengan He Ze diam-diam. Dia ingin tahu apakah ada cara untuk membuat Rongyu mempermalukan dirinya sendiri?
"Putri Xian ... Apa yang kamu lukis kali ini?" tanya Mu Lanfen seraya membuat garis kasar lebih dulu di permukaan kertas.
"Pemandangan kota," jawabnya pelan setelah tersadar dari ruang artefaknya.
"Itu ternyata sulit." Dia mengakuinya.
"Yah ... Lumayan," kata Li Chang Su tidak mau banyak bicara. Dia hanya menggambar garis kasar secara acak pada kertas putih tersebut.
"Jadi, bisakah kamu menyelesaikannya sendiri?" Mu Chuxin juga bertanya.
"Jangan khawatir. Aku sudah memikirkannya."
Sebenarnya bukan sulit, tapi dia merasa tidak bersemangat karena tantangannya kurang sulit. Menggambar pemandangan kota mungkin mudah baginya. Hanya saja orang lain tidak tahu jika dirinya tidak mempermasalahkan hal tersebut.
Orang-orang yang melihat Li Chang Su hanya membuat gambar kasar pun segera mengerutkan kening.
"Apa yang digambar Putri Xiu? Kenapa aku tidak bisa menebaknya?" bisik tamu lain.
__ADS_1
Barulah yang lainnya juga mulai menyadari jika Li Chang Su masih membuat lukisan kasar. Sementara yang lain sudah mulai membentuk lukisan yang indah.