
DI ISTANA RAJA Perang.
Li Chang Su tidak pergi ke mana-mana lagi setelah kejadian satu bulan lalu. Usia kehamilannya semakin bertambah dan Mu Xianzhai tidak berani bertindak gegabah.
Tapi selama hamil muda itulah, Mu Xianzhai tidak bisa menyentuh istrinya di tempat tidur dan hanya bisa puas apa adanya.
Kabar kehamilan Li Chang Su telah menyebar beberapa hari yang lalu dan semua orang gempar lagi. Bukan karena ini kabar yang buruk tapi justru kebahagiaan ganda.
Kebahagiaan pertama tentu saja Istana Kekaisaran kembali damai dan kebahagiaan kedua adalah kehamilan istri dari raja perang, Mu Xianzhai.
Untuk pertama kalinya, Mu Xianzhai akan segera menjadi seorang ayah, menyusul Mu Yishu yang telah lebih dulu memiliki anak. Bahkan sekarang tiga anak.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Li Chang Su seraya memakan buah anggur.
"Istriku, aku sudah memutuskan, kita hanya akan memiliki satu anak saja." Mu Xianzhai memasang ekspresi kekanak-kanakan.
"Kenapa memangnya?" Gadis itu mengerutkan kening.
Apa yang salah dengan memiliki beberapa anak? Bukankah itu membahagiakan? Pikirannya.
"Lihatlah saudara pertama. Dia sibuk sepanjang hari karena ketiga anaknya."
"..." Li Chang Su tidak setuju diam-diam.
Anak pertama saja belum lahir tapi pria itu sudah berpikir terlalu jauh. Namun, Mu Xianzhai memang tidak terlalu muda lagi. Ketika anaknya lahir nanti dan tumbuh besar, Mu Xianzhai sudah mulai tua bukan?
Namun Li Chang Su tersenyum polos dan hanya bisa mencium pipi pria itu. "Kalau begitu, kita lihat saja pada takdir," katanya.
"Ya." Mu Xianzhai juga setuju tentang ini.
Dua pelayan Li Chang Su—Xuxu dan Xuyao berada di luar ruangan dan keduanya saling memandang malu. Xuyao menghela napas, memegang pedang bersarung dengan ekspresi tidak berdaya.
Adapun Xuxu hanya menggelengkan kepala. Dia jelas memegang sekuntum bunga mawar merah dan terus mencabuti kelopaknya sambil bergumam.
"Laki-laki, perempuan, laki-laki, perempuan ..." Xuxu akhirnya mencabut kelopak bunga mawar terakhir.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Xuyao sedikit bosan saat melihat Xuxu yang berekspresi bodoh.
"Aku sedang menebak, kira-kira anak tuan putri akan menjadi laki-laki atau perempuan ...," jawabnya.
"Apakah itu penting?" Xuyao terlihat keheranan. Entah itu laki-laki atau perempuan, sama saja di matanya.
"Tentu saja. Kamu tidak tahu karena belum merasakan bagaimana menjadi wanita."
"..." Jelas aku ini seorang wanita, pikir Xuyao dengan tiga garis hitam di kepalanya.
Di hari kerja, Xuyao kadang berpakaian seperti pelayan dan membawa pedang ke mana-mana—selalu dianggap sebagai seorang pria karena wajahnya selalu menampilkan ekspresi serius.
"Aku meramalkan jika sang putri akan melahirkan pangeram kecil!" Xuxu membuang kelopak bunga terakhir.
Tiba-tiba saja pintu ruangan dibuka dan sosok jangkung Mu Xianzhai keluar sambil mengambil keranjang kosong.
"Yang Mulia—!" Xuxu terkejut dan langsung membungkuk sopan.
"Ya." Mu Xianzhai mengangguk senang. "Kalian berdua bisa kembali ke Lembah Racun jika ingin membangun kembali kejayaan di sana," imbuhnya.
Xuxu dan Xuyao terkejut. Keduanya melihat jika Mu Xianzhai tidak bercanda dan mengizinkan mereka untuk kembali ke sana. Namun saat ini mereka tidak ingin pergi ke mana pun dan setia pada Li Chang Su.
Tanpa Mu Xianzhai, dia dan Xuxu tidak akan hidup hingga hari ini, mungkin menjadi musuhnya jika sampai bekerja sama dengan Guan Shu.
"Yang Mulia ingin memetik sesuatu?" tanya Xuxu penasaran saat Mu Xianzhai membawa keranjang itu ke luar ruangan.
"Su'er ingin makan buah persik yang dipetik oleh raja ini." Mu Xianzhai tidak menoleh tapi segera meninggalkan kedua pelayan itu.
"..." Wanita hamil memang banyak maunya, pikir Xuxu dan Xuyao tidak merasa heran.
***
Hari demi hari hingga berganti minggu, perut rata Li Chang Su akhirnya mulai membesar dan gadis itu tak bisa lagi berlatih bela diri seperti sebelumnya. Dia hanya bisa berjalan-jalan di sekitar istana, menemani Mu Xianzhai di ruang belajar bahkan hanya berbaring ketika merasa lelah.
Hingga sembilan bulan tiba, Li Chang Su tidak lagi diizinkan untuk pergi meninggalkan ruangan dan menungggu kelahiran tiba.
__ADS_1
Pensiunan kaisar dan ibu suri sesekali datang untuk melihat keadaannya. Ada juga Lict dan Mu Hongzhi yang menginap di Istana Raja Perang, tidak sabar untuk melihat bayi itu lahir ke dunia.
Hingga pada tengah malam di bulan kedua musim dingin, Li Chang Su merasa perutnya sakit dan Mu Xianzhai langsung panik. Dia memanggil seorang ibu tua yang telah membantu banyak wanita melahirkan.
Karena tatapan Mu Xianzhai yang dingin seolah-olah akan memakan orang, ibu tua itu gugup dan ketakutan pada awalnya. Tapi sang putri telah tiba untuk melahirkan dan ibu tua itu tidak berani mengabaikannya lagi.
"Cepat, siapkan air hangat, handuk dan kain bersih!" teriak ibu tua itu dengan keringat dingin di punggungnya. Dia melihat Li Chang Su yang mengaduh kesakitan dan berkeringat di tempat tidur. "Putri, tarik napas dalam-dalam dan keluarkan perlahan. Tak lama lagi anak itu akan keluar," katanya menenangkan.
Li Chang Su tidak mempedulikannya. Dia bukan gadis delapan belas tahun yang hidup dan menikah di zaman ini namun seorang prajurit wanita zaman modern. Tanpa diberi tahu, ia sudah mengerti bagaimana rasanya melahirkan. Ini sangat sakit.
Dia ingin memanggil Mu Xianzhai dan memintanya untuk menemani, tapi mereka berkata jika pria tak bisa pergi ke ruang bersalin atau melihat darah. Dikatakan akan memiliki nasib buruk.
Li Chang Su tidak mempercayai hal seperti itu dan zaman ini sangat kuno tentang pengetahuan medis dan kepercayaan para orang tua zaman dulu.
Tapi meski begitu, dia tak lagi memaksanya.
Di luar ruangan, Mu Xianzhai berjalan mondar-mandir dengan ekspresi khawatir. Segera, air hangat, handuk dan kain bersih dibawa ke ruangan itu oleh Xuxu dan Xuyao. Dia hanya bisa menunggu dan menunggu.
Kabar tentang Li Chang Su yang akan melahirkan di tengah malam ini langsung sampai ke Istana Kekaisaran.
Bahkan di Istana Bupati pun, istri Mu Yishu segera bergegas ke Istana Raja Perang untuk membantu. Di masa lalu, Li Chang Su telah menemaninya saat melahirkan dan kini dia juga harus sama.
Untungnya si kecil tidak rewel di rumah dan diurus oleh pengasuh.
"Adik ipar, apakah bayinya sudah lahir?" tanya Yan Shi—Putri Yi atau istri Mu Yishu.
Mu Xianzhai melihatnya datang dan menggelengkan kepala. "Kakak Ipar, kenapa kamu datang saat ini? Bagaimana dengan saudara pertama?"
"Dia akan menyusul nanti. Aku ingin membantu istrimu sekarang," kata Yan Shi sedikit tergesa-gesa.
"Su'er di dalam." Mu Xianzhai sedikit tidak berdaya saat mendengar istrinya berteriak beberapa kali dan anak itu belum lahir.
Yan Shi akhirnya bisa masuk ke ruangan itu dan membantu ibu tua yang sedang mengurus persalinan Li Chang Su. Tak lama, Lict dan Mu Hongzhi juga telah datang, duduk dengan cemas.
Mereka tidak menegur Mu Xianzhai yang mondar-mandir seperti seseorang yang khawatir istrinya akan mengalami kecelakaan.
__ADS_1
Tak ada kabar apa-apa lagi dari ruang tempat bersalin.
Hingga setelah waktu yang cukup lama, suara tangisan bayi memenuhi ruangan ....