
"SU'ER, AKU sudah menahan diri selama perjalanan ini. Kita bahkan tidak memiliki waktu untuk berduaan," bisik Mu Xianzhai masih memeluknya dengan erat.
"Jadi?" tanyanya polos.
"Bisakah kita—"
"Tidak! Ini kereta. Jangan mimpi!" Li Chang Su menukasnya dan enggan untuk melakukan apapun. Di luar masih ada Lict dan kelinci bodoh itu, di mana Li Chang Su berani bermain api?
"Aku akan lembut, sangat lembut hingga suara kita tak akan bisa—"
Gadis itu segera menghentikan omong kosong suaminya yang mulai cabul. "Jangan ya jangan! Tidur!" Dia menyingkirkan tangan pria itu dan hendak berbaring.
Tapi Li Chang tidak melihat betapa gelapnya wajah pria itu saat ini. Api di perut pria sulit dipadamkan. Tidak seperti wanita yang selalu acuh tak acuh, pria lebih mudah untuk terangsang. Terutama ketika melihat istrinya yang cantik.
Mu Xianzhai juga pria normal. Belum lagi dia tak akan pernah punya selir jadi semua perasaan dia curahkan kepada istrinya. Dia memeluk Li Chang Su lagi tapi kali ini dengan sedikit sentuhan menggoda.
Wajah gadis itu memerah dan tanpa sadar ingin menendangnya keluar kereta, tapi Mu Xianzhai lebih tahu segalanya dan menekan gadis itu di bawah tubuhnya.
"Su'er ...," bisik Mu Xianzhai. Kedua tangannya tidak jujur. Pria lebih tahu bagaimana cara membuat wanita melonggarkan penjagaannya.
"Kamu— kamu! Xian Xian, lepaskan aku," katanya.
"Tidak. Aku sangat merindukan istriku. Sungguh!" Suara pria itu sedikit serak.
"..." Omong kosong macam apa ini? Li Chang Su belum pernah melihat pria ini begitu manja dan memohon padanya.
Hanya saja dia enggan karena ini di kereta. Meski selama perjalanan Li Chang Su dan Mu Xianzhai hampir melakukannya, tapi tak pernah terwujud. Tuhan tahu betapa memalukannya jika sampai ketahuan oleh bawahan. Tapi sekarang hanya terdengar suara kayu yang terbakar di luar serta Lict yang bercerita dengan Xue Zi si kelinci putih mutasi.
Jadi fokus Mu Xianzhai dan Li Chang Su tidak terlalu diperhatikan. Pria itu mencium wajah istrinya dan turun ke leher. Istrinya benar-benar kurus hingga sangat mudah untuk memeluknya dengan satu tangan.
__ADS_1
Li Chang Su tidak bisa menahan diri untuk mulai lemah di pelukannya dan merasakan tangan dingin pria itu menyentuh kulit telanjangnya. Li Chang Su sedikit gemetar dan hatinya berbulu. Pria ini ... kenapa dia merasa bahwa malam ini akan lebih mengerikan.
Pada akhirnya, pakaian keduanya berantakan. Li Chang Su bahkan lebih menggoda lagi. Mungkin karena usianya yang masih sangat muda dan tubuhnya juga dalam masa perkembangan, di mata Mu Xianzhai, semuanya mekar sempurna.
Ketika berkata itu akan lembut dan lembut, Mu Xianzhai benar-benar menempari janjinya. Dia memperlakukannya seperti menjaga harta karun dan suasana di dalam kereta meningkat lebih banyak.
Untungnya lentera sudah dimatikan sehingga hanya cahaya samar-samar yang terpantul dari tirai jendela yang sedikit tipis.
"Su'er," bisik pria itu berulang kali.
Melihat istrinya yang menggigit bibir bawahnya sesekali untuk menahan diri tidak bersuara, dia menyesali dirinya sendiri. Tunggu sampai di barak militer nanti, dia tak akan membiarkan istrinya berwaspada didengar oleh orang lain.
Li Chang Su memerah, pikirannya sedikit tak terkendali dan hanya bisa memeluk leher pria itu.
"Su'er, lepaskan gaunmu, ya?" bisik Mu Xianzhai.
Li Chang Su menggelengkan kepala. Meskipun gaunnya berantakan, dia tak berniat untuk melepaskannya. Dia tidak mau repot. Tapi Mu Xianzhai tidak tahan dan selalu ingin menurunkan gaunnya, itu menghalangi pemandangan.
Di luar kereta, Lict dan kelinci putih mutasi yang sedang menghangatkan diri pun penasaran dengan suara aneh itu. Melihat sekeliling, tidak ada yang aneh. Lict kebingungan dan melihat ke kereta Li Chang Su berada. Sepi dan tampak tenang. Tidak ada yang terjadi. Sepertinya pasangan itu benar-benar tidur dengan baik.
"Suara apa itu tadi? Kenapa seperti seorang wanita yang merengek?" gumam Lict.
"Mungkin hantu menunggu tempat ini," kata kelinci putih mutasi sekenanya.
"Apakah ada yang pernah mati di sini?"
"Siapa tahu saja."
"..." Jangan menakutiku, pikirnya.
__ADS_1
Keduanya sibuk membahas masalah lain hingga akhirnya mengantuk.
Adapun suara sebelumnya, Li Chang Su yang berada di dalam kereta begitu memalukan. Dia terengah-engah dan tubuhnya lemas semua. Mu Xianzhai mendengar apa yang dikatakan Lict dan Xue Zi di luar dan sudut mulutnya membentuk kurva naik. Istrinya sangat baik.
"Su'er," bisiknya lagi merasa luar biasa. Gadis itu belum pulih dan Mu Xianzhai bersabar menunggunya tenang.
"Jangan ..." Li Chang Su berkata lemah.
"Yah, pergi ke ruang artefak untuk mandi?" tanya Mu Xianzhai menggodanya. "Kenapa aku lupa jika kita bisa berduaan di ruang artefak? Su'er tidak perlu menahan diri untuk bersuara," bisiknya seolah-olah menyesal. Dia lupa adanya rumah artefak.
Mendengar nada polosnya itu, Li Chang Su merinding di seluruh tubuhnya. Ini tidak baik. Jika Mu Xianzhai masih belum kenyang, kemungkinan besar akan terjadi lagi di kamar mandi. Li Chang Su tidak mau. Dia tidak memiliki selera yang besar seperti pria. Dia kelelahan.
Melibat istrinya sedikit dianiaya, Mu Xianzhai tahu apa yang sedang dipikirkannya. Dia mencium sudut bibir gadis itu dan tersenyum damai.
"Su'er jangan khawatir, aku tidak akan melakukannya. Waktunya istirahat. Ayo mandi dulu dan kembali lagi nanti," jelasnya.
Li Chang Su menyentuh pergelangan tangan kirinya. Tanda sepasang sayap hitam itu terlihat jelas. Tak lama kemudian, keduanya pun menghilang dari dalam kereta.
Di ruang artefak ada He Ze sebenarnya. Tupai itu tertidur dan memanggang marshmellow begitu saja. Tapi ada juga kacang tanah goreng serta kacang tanah yang direbus. Tupai putih itu terlihat santai. Melihat pasangan itu melewatinya, dia tidak peduli.
Anak muda zaman sekarang benar-benar cabul, pikir tupai itu tidak berdaya.
Li Chang Su dan Mu Xianzhai membersihkan diri lalu mengambil beberapa bahan makanan dari rak. Ada beberapa camilan juga. Perjalanan besok mungkin akan sedikit membosankan sehingga memakan makanan ringan akan menghilangkan suasana bosan.
Setelah mengambil beberapa keperluan, keduanya muncul lagi di dalam kereta tanpa ada yang menyadarinya. Li Chang Su lelah dan memilih untuk istirahat lebih awal. Adapun Mu Xianzhai yang memeluknya di saat tidur, bibirnya tak pernah berhenti tersenyum. Dia tentu saja kenyang dan tidur dengan nyenyak.
Keesokan harinya.
Matahari terbit dari ufuk timur dan embun membasahi sekitar. Li Chang Su keluar kereta dan merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Lalu disusul oleh Mu Xianzhai yang keluar dengan santai.
__ADS_1
Di dekat api unggun yang menyala, Lict sudah membuat tungku sederhana entah sejak kapan. Dia bangun pagi-pagi buta dan menyiapkan beberapa hal. Di zaman modern, dirinya sudah terbiasa melayani kebutuhan Li Chang Su.
"Kalian akhirnya bangun. Apakah semalam tidur nyenyak?" tanya Lict seraya mengaduk sup ikan yang ada dalam panci.