Menjadi Istri Cerdas Raja Perang

Menjadi Istri Cerdas Raja Perang
Tiba Di Barak Militer


__ADS_3

"BERUANG?" Li Chang Su mengerutkan kening, membuka tirai kereta dan melihat ke arah di mana Lict menatap.


Ada seekor beruang putih mutasi yang datang mendekat ke arah mereka sambil berteriak. Lalu di belakang beruang putih itu ada juga beruang dengan warna bulu aneh? Atau mungkin bukan beruang sama sekali.


"Tunggu, kalian tunggu!" Beruang putih mutasi akhirnya bisa mengejar mereka.


Li Chang Su tidak turun, tapi menatap beruang putih mutasi dengan sedikit terkejut. "Ah, ini sebenarnya kamu. Apakah ... kamu baik-baik saja?" tanyanya.


Dia ingat teman jahat beruang putih mutasi ini masih dari golongan kegelapan. Seharusnya sudah mati bukan? Jadi Li Chang Su sedikit sedih untuk beruang yang ditinggalkan sendiri ini.


"Terima kasih, manusia. Aku baik-baik. Sebenarnya beruang hitam juga baik-baik saja." Biantang putih itu menjawab dengan senang.


Dia akhirnya bisa melihat manusia ini lagi.


"..." Li Chang Su kebingungan.


Beruang hitam itu baik-baik saja? Bagaimana mungkin? Mungkinkah ada beberapa binatang hitam mutasi yang lolos dari kekuatan Zi Long sebelumnya?


"Tapi bukankah beruang hitam mutasi sudah mati?" Lict justru bertanya secara blak-blakan.


Semua binatang hitam mutasi harus mati semua saat ini, tak mungkin ada yang tersisa.


"Lalu ... Binatang jenis apa ini? Kenapa bulunya memiliki corak polkadot besar?" tanyanya lagi.


"..." Beruang dengan bulu polkadot hitam di samping beruang putih mutasi pun tak berdaya.


Beruang putih mutasi hampir lupa dengan beruang di sampingnya. "Oh, ini beruang hitam mutasi yang dulu pernah pingsan oleh gadis ini. Harusnya kalian masih ingat," katanya.


"..." Lict menatap beruang polkadot hitam itu dengan curiga. Bukan persilangan macan tutul kan? Pikirnya kejam.


"Dia tidak mati?" Kini giliran Mu Hongzhi yang bertanya.


"Tidak."


Beruang putih mutasi menjelaskan dari awal hingga akhir ....


Setelah mendengarkan cerita beruang putih mutasi, mereka mengangguk, kecuali Mu Xianzhai.

__ADS_1


"Tidak heran," gumam Li Chang Su.


Di saat para binatang putih mutasi dan biantang hitam mutasi berbondong-bondong menuju kaki pegunungan dewa, beruang putih itu segera mengikat beruang hitam di gua. Ikatannya sangat kuat pasti tidak akan bisa melepaskannya.


Sementara dia sendiri langsung pergi ke kaki pegunungan untuk menjawab panggilan naga emas—Jin Long. Setelah pertarungan sengit dua naga itu berakhir, semua binatang mutasi yang tersisa pun sadarkan diri, tak terkecuali beruang putih mutasi.


Dia segera kembali ke seberang jembatan dan pergi menemui beruang hitam mutasi yang masih terikat. Akhirnya dia menghela napas lega. Tapi ... Bulu beruang hitam mutasi telah menjadi polkdoi. Tak tahu kenapa.


"Jadi kamu masih mau makan orang?" tanya gadis itu.


Beruang hitam mutasi yang kini telah kehilangan aura kegelapan di tubuhnya pun langsung menggelengkan kepala. "Tidak, tidak. Terima kasih. Aku lebih suka makan madu dan ikan," jelasnya agak tergesa-gesa.


"Nah, beruang baik."


"..." Apakah dia sudah menjadi binatang baik sekarang? Pikir beruang polkadot.


Beruang polkadot itu meminta maaf pada Li Chang Su atas perbuatan buruknya di masa lalu dan hampir melukai mereka. Setelah itu, dia dan beruang putih mutasi tidak menahan mereka lagi.


Li Chang Su berpamitan dengan mereka. Tak lupa, berikan banyak ikan untuk kedua beruang itu, lalu beri juga banyak madu. Ada juga beberapa daging.


Kedua beruang itu senang dan segera membawa semua makanan ke tempat persembunyian di hutan.


Mu Xianzhai masih bersikap tenang. "Energi gelap di tubuhnya bertabrakan dengan energi putih milik naga emas. Sehingga kondisinya menjadi stabil. Beruang hitam mutasi itu jelas memiliki pemikiran yang dalam sehingga kegelapan tak bisa menelannya, melainkan ditekan."


Meski pun sudah ditekan, beruang hitam mutasi yang kini menjadi polkadot pun tak mampu lagi menggunakan kemampuan jahatnya untuk menyakiti makhluk lain. Jadi pikirannya masih agak jahat dan baik.


Sayangnya itu bukan urusan mereka.


"Jangan dipikirkan lagi." Mu Xianzhai mengelus kepala istrinya.


"Aku tahu."


"Apakah di kamu ingin tidur dulu? Perjalanan menuju barak militer masih jauh," kata pria itu.


"Ya, aku lelah dan mengantuk," kata gadis itu.


"Nah, tidurlah."

__ADS_1


Lict dan Mu Hongzhi yang ada di luar kereta pun bisa mendengar percakapan itu dan hanya pura-pura tidak mendengarnya. Sungguh melelahkan jika harus mendengarkan suara kasih sayang keduanya.


Setelah menempuh jarak yang lama, mereka akhirnya bisa memasuki tanah negara Bingshui dengan aman.


Setidaknya butuh beberapa hari untuk tiba di barak militer. Li Chang Su merasa lelah di perjalanan dan segera tidur ketika tiba di barak militer, pergi ke tenda Mu Xianzhai dan terlelap.


Mu Xianzhai tidak berdaya dan hanya memeriksa kondisi istrinya. Lalu memanggil tabib militer untuk memeriksa kondisi istrinya. Meski tabib yang dipanggil Mu Xianzhai masih cukup muda, tapi ada keterkejutan di matanya.


Sang putri sebenarnya sedang hamil saat ini, sudah lebih dari dua bulan. Setidaknya akan menginjak tiga bulan dalam waktu dekat. Tabib itu mengucapkan selamat pada Mu Xianzhai dan langsung melarikan diri untuk membagikan kabar bahagia ini ke prajurit lainnya.


Mu Xianzhai tidak menuntut mereka karena mengunyah lidahnya sekarang. Dia senang akan menjadi seorang ayah dan Mu Peizhi pasti cemburu nanti karena belum memilikinya.


Sementara itu ....


Kabar bahwa Mu Xianzhai masih hidup dan kini berada di barak militer telah sampai ke ibu kota. Kaisar yang berbaring di tempat tidur akhirnya mengambil duduk bersandar di kepala ranjang, terbatuk cukup keras.


"Yang Mulia ..." Kasim kepercayaan Kaisar Mu sudah ada di samping tempat tidurnya. "Tabib istana berkata jika kondisi Yang Mulia saat ini kurang baik. Harus istirahat. Sekarang pangeran ketiga masih hidup dan kembali, semuanya akan baik-baik saja," jelas si kasim dengan ekspresi sedih dan gembira.


Setidaknya Kaisar Mu tidak akan mengalami masalah besar jika raja perang ada di sini. Orang yang paling ditakuti oleh istana tentu saja adalah Mu Xianzhai. Bahkan Mu Lizheng sendiri takut dengan saudaranya itu.


Kaisar Mu merasa jauh lebih tua dalam semalam. Dia menghela napas dan meminum secangkir teh hangat tanpa gula. "Aku tahu Zhai'er akan kembali. Dia tak bisa mati begitu mudah," katanya pelan.


"Yang Mulia—" Ketika Kasim kepercayaan Kaisar Mu ingin bicara, pintu kamar kaisar tiba-tiba saja terbuka lebar.


Kedua pria itu menatap ke arah pintu di mana seorang wanita bergaun kuning keemasan dengan mahkota sembilan bulu phoniex di kepalanya.


Itu permaisuri.


Wanita paruh baya yang masih terlihat awet muda itu menampilkan sosok agungnya sebagai ibu negara dan tersenyum ramah pada Kaisar Mu. Namun ada rasa dingin di matanya.


"Yang Mulia Kaisar membicarakan putra ketiga. Bahkan jika Mu Xianzhai masih hidup, dia tak akan menghalanginya jalan putraku untuk menjadi kaisar. Tunggu setelah Zheng'er duduk di kursi naga, Mu Xianzhai pasti akan segera diurus," kata Permaisuri tanpa rasa takut saat menghadapi Kaisar Mu.


Saat ini, istana kekaisaran sudah kacau dan wajah asli Permaisuri yang berkolusi dengan orang luar pun terlihat di depan Kaisar Mu. Pria yang telah menjadi pemimpin negara Bingshui sejak muda pun kini tak bisa menahan perasaan marah dan sedih.


Pada akhirnya, dia masih jatuh ke tangan seorang wanita.


Tiba-tiba saja Kaisar Mu memuntahkan seteguk darah segar.

__ADS_1


"Kaisar!" Kasim kepercayaan Kaisar Mu langsung panik.


__ADS_2