
DI TENDA tempat Li Chang Su berada saat ini.
Panci berisi makanan hot pot diletakkan pada meja. Lalu dia mengeluarkan kompor mitanol dan menyalakannya, lalu letakkan alas baja yang cukup tipis di atasnya sehingga suhu panas menyengat. Barulah panci hot pot ditaruh di atas alasa baja tersebut.
Meski Li Chang Su tidak pernah memikirkan ini sebelumnya, tapi tak ada cara lain untuk melakukannya. Di zaman ini, semua barang terbatas dan mungkin tidak ada yang pernah memikirkannya.
Acar yang dia buat sebelumnya juga dikeluarkan, lengkap dengan daging barbeque yang masih hangat. Tanpa diduga, cuaca di luar sudah tidak bersahabat lagi. Hujan mulai turun, meski tidak lebat, beberapa prajurit harus berteduh dan obor di beberapa tempat juga dipadamkan.
He Ze yang berwujud seekor tupai putih pun keluar dan tidak sabar untuk makan daging barbeque.
"Heh, ini kesempatan langka untuk makan semuanya. Tuan, beri aku semangkuk!" kata tupai itu dengan suaranya yang lucu.
"..." Li Chang Su yang sedang memegang mangkuk pun menatapnya dengan enggan. Ketika ada makanan, tupai itu benar-benar muncul entah bagaimana caranya.
Pada akhirnya, He Ze masih memiliki semangkuk hot pot, dicampur barbeque. Ada juga acar, tapi tupai itu kurang suka karena rasanya yang agak asam.
Sementara di sisi lain ....
Mu Xianzhai yang berada di tenda pertemuan pun mengerutkan kening, membaca beberapa gulungan laporan dan juga peta tentang situasai benteng perbatasan saat ini. Belum lagi gelombang binatang mutasi kegelapan yang tanpa diduga, ada kemungkinan terjadi hari tanpa tidur bagi para prajurit.
Pria itu duduk tegak, jubah mewahnya yang terlihat elegan tampak lebih mendominasi. Di depannya, beberapa jenderal dan wakil jenderal yang berada di bawah asuhannya pun diam-diam menatapnya gugup. Apakah raja mereka kini merasa tidak puas lagi?
Mendengar suara hujan di luar sana, suasana yang hening dalam tenda pun sedikit mereda namun angin malam sesekali menyusup sehingga tubuh mereka sedikit dingin.
"Ini ... Raja, haruskah kami membuat lapisan benteng lainnya?" tanya salah satu jenderal setenfah baya yang kemungkinan akan meminta pensiunan pada kaisar kapan saja.
Setelah diam sebentar, Mu Xianzhai menggelengkan kepala. "Tidak perlu. Bagaimana dengan perencanaan pertahanan yang diberitahukan Su'er pada kalian sebelumnya?"
__ADS_1
Mereka ingin jika Li Chang Su juga berkontribusi untuk masalah ini namun tidak mau menunjukkan diri. Oleh karena itu, Li Chang Su hanya memberinya ide dan apa yang harus dilakukan. Dilihat berapa kali pun, perencanaan yang dibuat Li Chang Su memang luar biasa. Mungkin ... karena sebelumnya Li Chang Su berasal dari zaman modern.
"Perencanaan sang putri sangat bagus sehingga kami tak memiliki komentar. Bahkan ... Kami mengakui bahwa sang putri sangat luar biasa. Raja sangat beruntung bisa menikahinya," jelas salah satu dari mereka.
"Ya, ya ... Benar. Raja sangat beruntung. Belum lagi, sang putri pandai di bidang seni bela diri, pandai memasak dan juga lainnya. Istriku pernah berkata jika di ibu kota, sang putri banyak dipuji orang-orang." Jenderal di sampingnya juga menyanjung.
Mu Xianzhai tidak mengatakan apa-apa mendengarku pengakuan dari mereka tapi suasana hatinya lebih baik. Tentu saja istrinya adalah yang terbaik dan dia sangat beruntung bisa menikahinya. Belum lagi, siapapun yang menggertak istrinya pasti tidak akan memiliki hidup di dunia ini.
Mengetahui jika hari sudah larut malam, dia akhirnya ingat jika sejak meninggalkan tenda tadi pagi, dia belum melihat gadis itu. Bahkan tanpa mengantarkan makan siang atau makan malam. Gadis tanpa hati nurani ini sungguh harus diajari cara menjadi istri yang baik.
Meski di tahu bahwa Li Chang Su terkadang acuh tak acuh dan mungkin tak mau mengganggu pekerjaannya, namun Mu Xianzhai tidak akan menolak kehadirannya jika datang. Dia masih bisa mengurus banyak hal dengan kehadirannya. Tentu saja salah satu alasannya adalah pamer pada para rubah tua di depannya ini.
"Pertemuan ini sampai di sini dulu. Kalian urus sisanya," kata Mu Xianzhai seraya bangkit setelah menyerahkan gulungan perencanaan pada jenderal yang lain.
"Raja belum makan malam. Apakah makan dulu sebelum kembali?" tanya wakil jenderal termuda di antara mereka.
Ini ... menyedihkan ...
Mu Xianzhai melihat menu makan malam di meja lain dan menggelengkan kepala. "Tidak, aku akan kembali. Kalian biasa memakannya jika mau," jawabnya langsung keluar tenda.
Di luar, hujan ukup deras telah membasahi sekitar. Mu Xianzhai mengambil payung kertas minyak sederhana dan menerobos hujan. Saat ini, mungkin Li Chang Su sudah tidur. Tapi ketika dia melewati dapur istana, beberapa koki menyebutkan nama Li Chang Su. Langkah Mu Xianzhai melambat dan mengerutkan kening. Siapa yang mengunyah lidah tentang istrinya kali ini.
Tapi ketika dia hendak menghampiri mereka, ternyata pujian para koki langsung membanjiri tenda dapur. Mereka memuji masakan Li Chang Su yang enak.
Mu Xianzhai merasa tidak aneh lagi jika masakan Li Chang Su memang enak. Apa yang membuatnya terkejut justru Li Chang Su baru saja selesai memasak dan baru saja makan malam? Apakah gadis itu menunggunya?
Langkah pria itu semakin cepat dan tidak peduli dengan sudut pakaiannya yang kotor akibat cipratan air hujan yang bercampur lumpur. Ketika dekat dengan tendanya, aroma makanan yang pedas pun tercium. Gadis itu benar-benar sedang makan?
__ADS_1
Mu Xianzhai tiba di tendanya dan melipat kembali payung kertas minyak lalu masuk. Dia melihat gadis itu duduk bersila di depan meja pendek sambil makan hot pot yang masih mengepul di panci. Ada juga seekor tupai putih yang memegang sudut mangkuk.
"Xian Xian, kamu kembali. Apakah pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Li Chang Su saat melihat pria itu. Dia tidak terkejut sama sekali karena sebelum sudah melihatnya datang melalui kemampuan mata dewanya.
Mu Xianzhai melepaskan zaoshan-nya dan mengangguk lemah. "Ya, tidak apa-apa. Mereka beristirahat malam ini," jawabnya. Dia menghampiri Li Chang Su dan duduk di sampingnya, lalu mencium pipi istrinya yang memerah akibat makanan pedas.
"Kenapa baru makan jam segini? Ini waktunya untuk tidur," kata pria itu lagi.
"Aku belum ingin tidur jadi buatlah sesuatu untuk dimakan."
"Mungkinkah Su'er menungguku?" goda Mu Xianzhai.
Wajah gadis itu memerah dan terbatuk kecil. "Tidak, kenapa aku harus menunggumu? Bukankah kamu sudah makan?"
"Belum." Mu Xianzhai menjawabnya dengan jujur. Dia mengambil sumpit yang dipegang istrinya dan mengambil daging barbeque serta mencoba hot pot yang pedas.
"Hei, itu sumpitku." Li Chang Su menatapnya dengan heran.
"Tidak apa-apa. Jangan merasa jijik," katanya. Mu Xianzhai melepaskan topeng peraknya dan memperlihatkan wajah tampannya yang halus dan putih. Sungguh membuat orang tak berani memalingkan wajah setslah menontonnya beberapa saat.
Li Chang Su yang sedikit linglung akhirnya ditatap oleh Mu Xianzhai.
"Ada apa? Apakah Su'er keberatan atau ... Su'er mengagumi ketampanan Raja?" godanya langsung tersenyum elegan.
...****************...
CATATAN PENULIS: Author sudah lama tidak hadir kembali sejak membaca banyak novel terjemahan Cina dan juga bermain game untuk istirahat sejenak. Insyaallah bulan depan sudah update rutin seperti biasanya. Jika bukan karena salah satu editor Mangatoon yang chat Author untuk nanyain kenapa gak update lagi, mungkin Author masih membaca novel saat ini. Tapi apalah daya, banyak hari yang telah Author lewatkan tanpa update bab baru. Belum lagi novel yang ini memang direncanakan akan tamat di awal-awal bulan Oktober.
__ADS_1