
LI CHANG SU melihat kepercayaan diri pria itu dan mau tidak mau muntah darah di hatinya. Pria itu terlalu narsis. Kekagumannya langsung lenyap dalam sekejap, seperti angin musim semi berubah menjadi angin musim dingin. Dia mencibir dan mengalihkan perhatiannya ke sesuatu yang lain.
Siapa yang mengagumimu?! Pikir gadis itu.
Tapi berbeda dengan He Ze yang sedang makan, menatap Mu Xianzhai dengan ekspresi polos tak jelas. "Kenapa kamu kembali begitu cepat?" tanyanya kesal.
Akhirnya Mu Xianzhai menatap hewan berbulu itu dengan jijik. " Ada apa denganku, ini tendaku. Kamu hanya seekor tupai. Hati-hati dengan bulumu yang rontok!" ejeknya.
"..." Apakah pria itu mulai mual (merasa jijik) setelah melihatnya? He Ze mau tidak mau membawa mangkuk berisi makanan hot pot itu ke sisi lain. Satu meja dengan pria itu hanyalah neraka baginya.
Li Chang Su melihat pertengkaran keduanya dan mau tidak mau mengerutkan kening ketika moril Mu Xianzhai. "Bukankah kamu terlalu berlebihan padanya?"
"Tidak!" Mu Xianzhai hampir tersedak dan menatap istrinya dengan ekspresi teraniaya. "Jelas dia hewan berbulu dan aku tidak suka bulunya. Dia yang memulai."
"..." Li Chang Su diam-diam tersandung di hatinya dan mau tidak mau menatap Mu Xianzhai lagi. Apakah ini benar-benar mengeluh atau menyalahkannya?
Lupakan, dia tidak mau mempedulikan itu sekarang.
Akhirnya mereka makan dengan tenang. Meski aroma hot pot menguar ke luar tenda, tak ada yang berani masuk. Mereka hanya mnegganti topik dan serius membahas sesuatu yang lebih penting.
"Kapan Mu Hongzhi tiba?" tanyanya.
"Diperkirakan dalam beberapa hari. Hujan lebat tidak bisa diprediksi dan jalan sedikit berbahaya ketika hujan. Jadi kemungkinan besar Mu Hongzhi harus menunggu sedikit lebih lama," jelas Mu Xianzhai seraya menyumpit irisan daging sapi yang telah dipanggang sempurna, lalu mencelupkannya ke saus asam pedas manis.
"Yah, siapa yang tahu bahwa hujan akan turun sepanjang hari?" gumam Li Chang Su seraya menatap kosong ke satu tempat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ketika Mu Hongzhi tiba di barak militer bersama dengan beberapa bawahan, apa yang dikatakan Mu Xianzhai benar. Mu Hongzhi terjebak hujan lebat di perjalanan dan harus menunggu sampai keadaan membaik. Dia juga membawa kabar dari ibu kota jika semuanya baik-baik saja.
__ADS_1
Kaisar Mu berhasil menekan Mu Lizheng yang sedikit tidak bermoral dan bahkan membuat keluarga Jenderal Rong mengalami sedikit krisis. Tidak tahu apa yang terjadi, ayahnya Mu Hongzhi tidak mau mengatakannya terlalu banyak.
Namun itu semua tidak memengaruhi istana bupati yang sedang berbahagia karena anak ketiga yang lahir di sana. Bahkan acara satu bulan kelahiran bayi juga akan segera dilaksanakan. Li Chang Su memiliki waktu untuk melakukan perjalanan kembali ke ibu kota dan ikut merayakan acara tersebut. Mu Xianzhai juga menyebutkannya.
Ketika Mu Hongzhi datang ke barak militer, satu-satunya orang pertama yang ditemui bukankah Mu Xianzhai tapi Li Chang Su. Kuda putih mutasi hanya memutar bola matanya dengan enggan dan pergi mencari rumput untuk makan.
Secara kebetulan, kuda putih itu melihat kelinci putih mutasi.
"Xue Zi, ternyata kamu di sini untuk menanam wortel?" tanya kuda putih mutasi langsung menyipitkan mata ketika melihat kelinci gemuk itu menepuk tanah basah.
Kelinci putih mutasi menatapnya, tidak terkejut dengan kehadirannya tapi langsung mendengus. "Wortel apa? Bisakah wortel ditanam di sembarangan tempat? Tidak seperti rumput yang tumbuh liar, bukankah itu yang kamu makan?" cibirnya.
"..." Apakah kelinci itu mengejeknya? Pikir si kuda putih mutasi.
Namun kuda putih mutasi juga tidak kalah pintarnya saat mengejek seseorang. Bukankah itu hanya seekor kelinci, bulu putih jelek dan telinga panjang?
"Oh, kalau begitu, bisakah kamu menutupi kotoranmu sendiri di sini? Kamu cukup bersih!" balasnya.
"Huh, siapa yang bau. Seluruh keluargamu bau!" Kuda putih mutasi marah.
"Tubuhmu bau, bau kuda. Kamu belum mandi, kan?"
"Sialan! Xue Zi, aku akan membunuhmu hari ini untuk dijadikan makananku!" Kuda putih mutasi meringkik jengkel dan bersiap untuk menghancurkannya.
"Cobalah kalau bisa. Dasar ekor panjang!"
Xue Zi tidak takut dan langsung berhadapan dengannya. Seekor peliharaan yang menggemaskan harus melawan kuda putih mutasi yang gagah, siapapun akan mengira jika kuda putih mutasi menang.
Namun para prajurit yang lewat hanya meragukan hal itu dan buru-buru pergi untuk melaporkan hal ini pada Lict dan juga Mu Hongzhi. Bukankah kedua tuan itu memiliki hubungan baik? Tapi sepertinya kedua peliharaan mereka tidak baik?
__ADS_1
Sementara di sisi lain ....
Mu Hongzhi yang baru saja selesai mendiskusikan sesuatu dengan Mu Xianzhai dan juga Lict, dikejutkan oleh seorang prajurit yang berlari sedikit tergesa-gesa ke arahnya. Prajurit itu melaporkan apa yang terjadi dengan kuda putih mutasi dan juga kelinci putih mutasi.
"Maksudmu, Xue Zi sedang menanam benih wortel di halaman belakang barak?" tanya Mu Hongzhi terkejut. Dia melirik Lict yang saat ini bahkan mengerutkan kening. "Apakah kelincimu sedang berusaha menjadi seorang petani wortel?" tebaknya.
"Tidak," jawab Lict hampir tersedak oleh salivanya sendiri. Bagaimana dia tahu kalau kelinci itu akan menggali tanah berlumpur dan menanam sesuatu? Apakah yakin itu bukan tulang? Pikirnya.
"Kalau begitu ayo kita lihat apa yang terjadi. Aku khawatir kedua hewan mutasi ini akan menghancurkan tenda tentara," kata Lict segera mengambil keputusan dan pergi lebih dulu. Mu Hongzhi akhirnya menyusul.
Namun di tengah perjalanan, keduanya tak sengaja berpapasan dengan Li Chang Su yang baru saja turun pegunungan. Dia memanen rebung dan juga beberapa jamur, ada juga herbal yang cukup menarik baginya.
Melihat keranjang di tangannya agak berat, Lict ingin membantu tapi di ingat dengan kelinci putih mutasi yang saat ini sedang bertengkar dengan kuda putih milik Mu Hongzhi.
"Ada apa?" tanya Li Chang Su tidak terburu-buru.
"Tidak ada masalah besar, hanya saja kuda putih mutasi selalu ingin memprovokasi Xue Zi. Salah atau prajurit berkata jika keduanya bertengkar di halaman belakang barak," jawab Mu Hongzhi segera menjelaskan kronologi singkatnya.
Li Chang Su menaikkan sebelah alisnya. "Kelinci kecil itu bertarung dengan kuda tanpa tanduk?" gumamnya.
"..." Mu Hongzhi dan Lict mendengarnya meski Li Chang Su hanya bergumam. Hei, bukankah tanduknya diberikan padaku waktu itu? Pikir Mu Hongzhi.
"Kalau begitu pergilah. Aku masih sibuk. Oh, jangan lupa jika kalian menemukan He Ze, minta dia untuk mengambil kelapa muda dari pohonnya," kata Li Chang Su seraya mengabaikan mereka, berjalan kembali menuju tenda Mu Xianzhai.
Lict kebingungan dan menatap Li Chang Su yang semakin menjauh. Dia menggaruk kepalanya yang agak gatal. "Tidak perlu aku yang memanjat pohon kelapa?"
Gadis itu berhenti sejenak dan menoleh. "Bisakah kamu naik?"
"... Tidak!" Lict tertegun dan lupa jika dia tidak pandai memanjat pohon yang terlalu tinggi.
__ADS_1
"Lalu bagaimana denganmu?" Pandangan Li Chang Su berpindah ke Mu Hongzhi.