
SETELAH sarapan, mereka melakukan tugas masing-masing. Lict dan Mu Hongzhi sudah melepas lapisan luar pakaian agar tidak terlalu berat saat menyelam nanti. Tentu saja mereka juga harus berhati-hati terhadap binatang laut hitam mutasi yang kemungkinan bisa menyerang kapan saja.
Li Chang Su menyerahkan jaring ikan pada Ye Shi dan membiarkan mereka untuk menjaring ikan dari sisi lain. Sedangkan dirinya bersama Mu Xianzhai, memegang alat memancing.
Cuaca pagi cukup bagus, meski masih agak dingin namun tidak menghambat mereka untuk memancing.
Lict dan Mu Hongzhi sudah menyelam untuk mencari lobster yang bersembunyi. Air laut yang dingin tidak membuat mereka menyerah.
Adapun Ye Shi dan Ye Tianli yang belum pernah menangkap ikan dengan jaring pun hampir beberapa kali gagal. Bahkan Ye Shi berulang kali jauh ke laut akibat Ye Tianli yang tidak berhati-hati saat merenggangkan jaring. Pada akhirnya, kedua pria itu bertengkar sengit dan terbelit jaring.
Li Chang Su yang tengah tenang memancing pun segera memiliki tiga garis hitam di kepalanya. Melihat kedua pria itu bertengkar dan berguling di sisi lain, ia hanya menghela napas.
"Ada apa?" Mu Xianzhai melirik ikan biasa di ember. Sepertinya ini sudah cukup?
"Apakah kamu sengaja membiarkan mereka menjaring ikan?" tanyanya.
"Oh." Jawaban Mu Xianzhai sangat sederhana. Dia juga tahu apa yang dilakukan dua saudara Ye itu saat ini, merasa puas di hatinya.
Namun meski begitu, Mu Xianzhai masih menunjuk senyum tidak berdaya di depan Li Chang Su. "Ini ketidakmampuan mereka untuk menangkap ikan. Apa hubungannya dengan Raja?"
"..." Kamu hanya mengelak, pikir gadis itu curiga tapi tidak memperpanjang masalah ini.
Ketika ikan yang dipancing cukup banyak, hari sudah menjelang siang. Li Chang Su kembali ke kawasan tenda dan melihat He Ze dalam bentuk tupai tengah makan jagung bakar. Mulutnya yang membulat akibat terlalu banyak mengunyah makanan pun terlihat menggemaskan.
Li Chang Su merasa itu lucu dan segera menggodanya, menyentuh buku-buku halus tupai putih itu dan tersenyum senang.
"He Ze, kenapa kamu begitu menggemaskan?" Ini bukan pertanyaan, tapi lebih ke ungkapan sederhana. Tupai putih itu sangat lucu saat makan dengan mulut membulat. Pipinya terasa lebih chubby.
Mu Xianzhai yang baru saja meletakkan ember berisi ikan pun mendengus. Dia segera menghampiri istrinya yang sedang menggoda tupai.
"Su'er, tupai itu penuh kutu dan belum mandi. Tubuhnya kotor dan bulunya rontok, jangan pegang!" Mu Xianzhai segera mencibir tupai putih yang sedang memegang jagung bakar, lalu melemparkannya ke sembarang arah.
Pria itu tidak peduli.
"..." He Ze yang jatuh di pasir basah dengan jagung di tangannya pun ingin meledakkan kemarahannya tapi enggan setelah merasakan aura di tubuh pria itu menampar tubuhnya.
Baiklah, dia menyerah!
__ADS_1
He Ze yang sudah tidak dibutuhkan lagi pun pergi dengan jagung bakar di kedua tangannya. Tak lama, Ye Shi dan Ye Tianli juga berjalan menuju tenda. Tubuh keduanya cukup berantakan dan kotor oleh pasir. Keduanya melihat tupai putih itu memegang jagung dan berjalan penuh kemarahan. Jejak kaki kecilnya terlihat jelas di pasir.
Tupai putih itu dalam suasana hati yang buruk. Jadi ketika melihat keduanya, dia marah. "Apa yang kamu lihat?!!" teriaknya.
"..." Ye Shi dan Ye Tianli tidak tahu apa yang salah dan hanya melihat tupai itu pergi. Mereka pun segera kembali ke tenda.
Lict dan Mu Hongzhi sendiri sudah pergi ke suatu tempat di mana ada sungai untuk membersihkan semua ikan.
Tanpa diduga, panen kali ini cukup banyak. Ikan, gurita kecil, cumi-cumi dan lobster, cukup untuk makan dan bekal di perjalanan. Jadi siang ini, mereka makan ikan lagi. Namun kali ini berbeda, Li Chang Su memasak dengan berbagai cara yang berbeda sehingga tidak akan bosan saat makan ikan.
Cumi-cumi dan gurita lebih enak dibuat tumis saus pedas asam manis. Adapun lobster, cukup dikukus hingga matang dan celupkan pada hot pot. Pasti lebih enak.
Setelah makan siang, mereka tidak melakukan apapun lagi selain bersantai. Li Chang Su tidak ingin membuang-buang waktu di sini dan hanya akan bermalam sebanyak tiga hari.
"Aku tidak tahu jika pergi ke pantai untuk bersantai itu sangat menyenangkan," kata Ye Tianli seraya berbaring menyamping di tikar yang ada di depan tenda.
"Tidak banyak orang yang pergi ke pantai. Apa lagi ..." Li Chang Su ingin mengatakan sesuatu, tapi mungkin ini terkait dengan zaman modern sehingga dia tidak melanjutkan ucapannya lagi. "Lupakan saja. Lagi pula, orang-orang pergi untuk menangkap ikan dan menjualnya di pasar. Jarang akan bersantai di bawah langit yang cerah," imbuhnya.
"Ya, benar juga." Ye Tianli mengangguk.
Pertanyaan Ye Shi sudah sepenuhnya mengetahui segala hal tentang mereka. Mu Xianzhai tidak menyembunyikan masalah ini namun belum memberi tahu Li Chang Su sebelumnya. Apa yang dikatakan Ye Shi kali ini hanyalah menghancurkan kejutan untuk istri kecilnya.
Namun karena Li Chang Su sudah terlanjur bertanya, dia hanya mengiyakan. Mu Xianzhai menyipitkan mata di balik topeng peraknya. Tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya.
"Lembah jiwa adalah tempat teraman dan tidak ada satu pun binatang mutasi yang berani pergi ke sana," jelas pria itu.
"Kenapa?" Li Chang Su penasaran.
"Ada aura suci yang kental di sekeliling lembah. Jika binatang hitam mutasi masuk, mereka akan kehilangan kekuatan sedikit demi sedikit setiap waktunya. Tempat itu ... cocok untuk Su'er berlatih di masa depan."
Tidak masalah jika yang masuk adalah manusia biasa. Untuk orang-orang yang memiliki ilmu seni bela diri, aura di sana pasti akan dirasakan. Letaknya cukup jauh dari pantai ini. Tapi masih di hutan yang sama. Li Chang Su dan Mu Xianzhai hanya pergi melakukan perjalanan ke hutan terdalam.
Bagaimana Ye Shi bisa tahu itu, Mu Xianzhai tidak mempertanyakan nya. Dia tahu kemampuan Ye Shi di luar, secara alami tempat kecil seperti ini bukan rahasia umum.
Ada banyak hal yang tak terkatakan. Li Chang Su hanya perlu tahu dan pergi. Sisanya diurus oleh Mu Xianzhai.
"Ketika kalian tiba di sana, perhatian keselamatan dan juga jangan lupa mengirim surat pada kami. Kami pasti akan selalu menunggu kalian kembali," kata Mu Hongzhi sedikit enggan.
__ADS_1
Jika mau, dia ingin pergi juga bersama mereka. Namun kali ini dia punya tanggung jawab, tidak bisa egois. Lict juga sama. Dia hanya bisa berada di barak militer, mengawasi sepuluh prajurit khusus yang dilatih oleh Li Chang Su.
Li Chang Su tersenyum sambil memegang segelas anggur. "Jangan khawatir, kami pasti akan mengabari kalian. Ayo minum untuk salam perpisahan," katanya.
Mereka minum anggur setelah makan malam dan menghabiskan malam dengan tenang.
Hingga, hari ketiga pun tiba ....
Tenda sudah dibongkar dan mereka semua bersiap untuk pergi. Li Chang Su dan Mu Xianzhai memiliki kuda sendiri yang pada awalnya adalah milik Ye Shi dan Ye Tianli. Jadi keempatnya naik kereta.
Kelinci putih mutasi tidak mau berpisah, namun kali ini harus ditarik oleh Lict untuk tidak membuat masalah. Setelah berkemas, Li Chang Su duduk di kudanya dengan tenang, dibantu oleh Mu Xianzhai Karena kuda yang ditunggangi Ye Tianli sebelumnya merupakan kuda jantan dewasa. Jadi agak kurang cocok untuk Li Chang Su yang masih berusia lima belas tahun.
"Jaga diri kalian, kami pergi." Li Chang Su mengucapkan salah perpisahan pada mereka dan segera mengikuti kuda yang ditunggangi Mu Xianzhai.
"Senior Su, Raja Xian, sampai jumpa lagi ...!" Lict sedikit emosional dan memeluk kelinci putih mutasi sedikit lebih erat. Yang lainnya menghela napas.
"Kamu menangis?" tanya kelinci itu.
Lict menggosok matanya yang kini memerah, lalu menyangkalnya. "Tidak, mataku terkena pasir."
Kelinci putih mutasi itu mendengus. Pembohong ini! Pikirnya.
"Cepatlah, kita juga harus pergi." Suara Ye Shi terdengar dari kereta.
Lict dan Mu Hongzhi menyaksikan kedua sosok itu semakin menjauh dan akhirnya tak terlihat lagi setelah memasukkan hutan. Keduanya pun menghela napas dan masuk kereta. Mereka saling berhadapan di dalam kereta yang kini melaju meninggalkan lantai.
"Aku selalu merasa jika mereka berdua memiliki misteri yang tidak bisa kita ketahui." Mu Hongzhi yang pertama membuka suara.
Lict yang ada di sampingnya pun terkekeh dan ekspresi di wajahnya tidak lagi seperti anak remaja seusianya. "Semua orang memiliki rahasia tersendiri. Apapun itu ... tidak penting lagi sekarang," katanya.
Ye Shi menyipitkan mata di balik topeng rubah nya. Dia menatap Lict. "Sepertinya kamu tahu banyak hal tentang gadis itu."
Lict tidak menyangkal atau mengakuinya secara lain. "Yah ... Gadis itu selalu dikagumi banyak orang sebelumnya. Dia sangat luar biasa ...."
"..." Ketiga orang melihatnya dengan kebingungan. Sepertinya ada rahasia yang belum mereka ketahui, tapi Lict tidak mau membongkarnya.
Mungkin ... takdir Li Chang Su dan Mu Xianzhai benar-benar tertulis di buku para dewa?
__ADS_1