
MU XIANZHAI ingin pergi di siang hari agar neneknya tidak mengkhawatirkan malam pernikahan mereka. Dia berbisik pada Li Chang Su tentang masalah ini dan membuat wajah gadis itu memerah. Dia segera memunggunginya dan mencoba untuk tidur nyenyak.
Pria itu hanya memeluknya dari belakang sambil berhati-hati agar luka jahitan di punggung sebelah kanannya tidak mengalami pendarahan lagi. Ternyata saat gadis itu tidur, posisinya tidak pernah bisa tenang. Dia hanya mencoba untuk membuatnya tenang dan menarik selimut agar tidak kedinginan.
Mungkin Li Chang Su sendiri tidak sadar jika dia membuat pria itu tidak bisa tidur hingga jam tiga pagi.
Keesokan paginya ....
Li Chang Su terbangun oleh beberapa percakapan. Dia mencoba untuk mengumpulkan kesadarannya lebih dulu sebelum akhirnya menyadari jika Mu Xianzhai sedang mengganti perban. Seorang tabib membantunya melakukan itu.
Luka akibat panah di punggung kanannya itu kini mulai mengering karena obat yang diterapkan Li Chang Su semalam. Bahkan tabib kepercayaannya pun terkejut. Ingin tahu apa resepnya. Sayang sekali jika Mu Xianzhai tidak bisa memberi tahu hal itu karena khawatir jika istrinya nanti menjadi incaran beberapa orang.
Melihat jika di tempat tidur yang tirai lapisan kasa merah itu sudah menunjukkan siluet Li Chang Su yang bangun, wajahnya menghangat.
“Tidurlah lagi jika masih mengantuk. Xuyao dan Xuxu akan mengantarkan sarapan nanti. Ini masih cukup pagi,” katanya.
Li Chang Su tidak bisa membuka tirai saat ini. Akan sangat tidak sopan jadi hanya melihatnya melalui lapisan tirai, “Bagaimana dengan lukamu?” Tanyanya.
“Jangan khawatir, tabib berkata ini sudah mulai mengering. Dalam seminggu, seharusnya sudah sembuh,” jawabnya menenangkan.
“Seminggu?” Rasanya Li Chang Su ini ingin mencibir.
Bukankah terlalu lama untuk sembuh selama seminggu?
Dengan keahliannya, dia bisa membuat luka itu sembuh dalam waktu empat hari. Ia memiliki banyak obat mujarab dan juga air spiritual yang bagus untuk merawatnya.
Ketika tahu jika Li Chang Su menjamin jika luka ini sembuh dalam empat hari, Mu Xianzhai harus mengakuinya. Apa yang dikatakannya pasti tidak akan salah. Dan dia percaya pada istrinya untuk ini.
Tabib tua itu tidak berdaya dan akan menunggu kemampuan sang putri dalam menyembuhkan Mu Xianzhai. Jika lukanya memang bisa sembuh dalam waktu empat hari, maka toko pengobatan di ibu kota miliknya kan menjadi milik gadis itu.
__ADS_1
Ini adalah janjinya dan memohon pada Mu Xianzhai juga.
Setelah tabib itu pergi, Mu Xianzhai sudah mengenakan pakaian atasnya kembali dan menghampiri tempat tidur. Li Chang Su sudah tidak lagi mengantuk dan berniat untuk mandi. Tapi air hangat belum disediakan. Jadi, dia akan mengambil air dari ruang artefak.
Namun Mu Xianzhai mencegahnya. Untuk saat ini, bersantai lebih awal. Tidak perlu terlalu terburu-buru. Karena itu, Li Chang Su hanya bisa menyerah dan mencuci wajah dan berkumur saja.
Tak berapa lama, Xuyao dan Xuxu mengantarkan makanan. Lalu mereka mulai menghangatkan air untuk mandi keduanya.
“Jadi, di mana nanti aku akan tidur?” Tanya Li Chang Su seraya mengambil sumpit dan mengambil beberapa hidangan sehat di atas meja.
“Tentu saja di sini denganku.”
“Bukankah selalu terpisah?”
“Tidak perlu. Kita tidur satu ranjang saja. Tidak ada aturan yang mewajibkan pasangan suami istri harus tidur terpisah. Lagi pula, hal itu hanya berlaku bagi suami yang memiliki selir di halaman belakang. Jika tidak ada gunanya, kenapa kita tidur terpisah?”
Sebelum gadis itu berkata, Mu Xianzhai sudah melanjutkan, “Kecuali jika Su’er ingin tidur terpisah denganku.”
Hal ini membuat gadis itu tersedak makanannya. Haruskah begitu akurat?
“Ya, itu benar. Aku ingin tidur terpisah denganmu. Bisakah itu?” Dia tidak bisa menyembunyikannya dan hanya bisa bertanya dengan santai.
“Apakah suamimu begitu buruk? Su’er, mungkinkah aku memiliki sesuatu yang tidak menyenangkan mata?” Ada sentuhan senyum yang dalam di wajah pria itu. Apalagi saat ini tidak memakai topeng karena hanya ada mereka berdua di kamar.
“Bukan, bukan seperti itu. Bagaimana kamu berpikiran seperti itu?”
Gadis itu sungguh tidak berdaya dengan tebakannya. Tentu saja bukan karena ini. Dia tidak terlalu peduli dengan penampilannya. Dan juga tidak ada yang kurang. Pria sempurna seperti Mu Xianzhai, bukankah banyak wanita mengidamkannya di tempat tidur?
Namun Li Chang Su sangat tidak peduli dengan penampilan ini. Dia akui emang tampan dan halus. Mungkin kulitnya tidak sehalus miliknya. Namun Mu Xianzhai ini termasuk pria yang suka menjaga penampilan tetap dingin dan angkuh.
__ADS_1
“Tapi Su’er, kita belum menyempurnakan malam pernikahan. Bagaimana mungkin Su’er sudah berpikir jika aku belum memenuhi syarat untuk ketahanan ranjang?”
Perkataan ini bahkan lebih parah. Akhirnya gadis itu tidak kuat lagi dan tersedak makanan hingga batuk. Mu Xianzhai segera menghampirinya dan menepuk pundaknya dengan ringan. Siapa yang tahu jika reaksinya akan begitu besar. Sesaat, Mu Xianzhai merasa bersalah dan menyodorkan air minum untuknya.
“Su’er, apa kamu baik-baik saja? Aku minta maaf. Tapi kupikir pisah tempat tidur sangat tidak logis. Jadi mari membentuk ikatan yang baik sebagai suami dan istri.”
Di saat seperti ini pun, Mu Xianzhai masih mencoba membujuknya. Jika tidak sekarang, dia khawatir jika Li Chang Su akan tetap menginginkan halaman terpisah dengannya. Tentu saja dia tidak mau.
Halaman utama ini telah dia desain seindah mungkin. Memiliki banyak bunga. Walaupun saat ini musim dingin, bunga-bunga akan mekar ketika musim semi nanti.
Li Chang Su pasti akan sangat menyukainya. Bukankah wanita suka bunga?
Gadis itu memelototi Mu Xianzhai yang telah mengatakan banyak kata-kata tak tahu malu. Dan saat melihat senyumnya, dia tahu jika tidak mungkin untuk meminta halaman sendiri atau pisah tempat tidur.
Pada waktu itu juga, pintu kamar dibuka dan sosok Mu Hongzhi muncul sambil memiliki senyum di wajah. Sepertinya dalam suasana hati yang baik.
Kedua pelayan Li Chang Su berkata jika keduanya sedang sarapan di kamar. Tapi setelah membuka pintu, hal pertama yang dilihatnya adalah Mu Xianzhai yang sedang menepuk pundak gadis itu.
Di mata pria itu, Li Chang Su seperti sedang tersedak sesuatu atau mual-mual. Dan pikirannya melayang ke satu kemungkinan. Mungkinkah sepupu ipar hamil?
Namun hal ini segera dibantah oleh Mu Xianzhai yang mungkin sudah menebak apa yang dipikirkan sepupu bodohnya.
“Jika masuk, ketuklah pintu terlebih dahulu. Apakah pintu itu tidak ada di matamu?” Mu Xianzhai mencibir dan kesal dengan kehadiran orang ketiga di sarapan pertamanya dengan Li Chang Su setelah menikah.
Mu Hongzhi sedikit bingung, kenapa dia harus membiarkannya pintu memasuki matanya?
Li Chang Su tidak memedulikan dengan seperti apa wajah Mu Xianzhai saat ini. Setelah minum segelas air dan menenangkan diri, dia menanyakan alasan kedatangannya. Mu Hongzhi akhirnya pulih dari pikirannya dan meletakkan sesuatu yang dibungkus kain di atas meja.
“Sepupu ipar, ini yang diberikan ibuku untukmu.”
__ADS_1