
BISAKAH LI CHANG SU tidak marah?
Tentu saja dia marah. Dia adalah tentara khusus wanita, membebaskan rakyat yang disandera, membunuh penjahat, menyelamatkan banyak orang dan juga membela negara. Ketika dia melihat adegan ini, darahnya naik ke kepala. Amarah muncul.
Rasanya dia ingin mengeluarkan pistol dan menembak pria paruh baya berpakaian bangsawan itu dan empat penjaganya. Mereka tidak bisa hidup lebih baik. Penjara seumur hidup pantas untuk mereka undang-undang pasal berlapis pasti juga ada.
Sayangnya dunia kuno ini tidak memiliki hukum seperti itu. Kaisar akan menentukan hukuman dan para menteri akan merekomendasikan hukuman yang pas. Jika hukumannya hanya penjata seumur hidup, bukankah itu cukup baik.
Dia benar-benar mengeluarkan pistol dan diam-diam mengarahkannya pada mereka. Tidka peduli siapa mereka, jika dia membunuhnya hari ini, para sandera akan selamat.
Ya, dia marah. Hanya ada satu cara untuk menyelesaikan ini. Bunuh saja pria paruh baya berpakaian bangsawan itu. Namun saat dia hendak menembak, seseorang memeluk dia dari belakang, menggenggam kedua tangannya yang memegang pistol.
Aroma cendana yang alami menggangu hidungnya saat tahu jika itu pasti Mu Xianzhai. Ada kehangatan di telapak tangan pria itu, membuat tenang pikirannya.
Li Chang Su ingin menoleh dan melihat profil tampannya dengan topeng. Tapi napas hangat tiba-tiba menyapu daun telinganya.
"Jika kamu sangat marah, aku akan menangkap mereka dan biarkan kamu menghukum. Tapi tidak di sini. Bersabarlah," bisik pria itu.
"Orang itu menendang dan mencambuk mereka!" Dia menggertakkan gigi.
"Aku tahu, tunggu mereka ditangkap, kurung dan kamu hukum. Bagaimana dengan itu?" Mu Xianzhai mencoba untuk menenangkannya.
Walaupun sebenarnya adalah hal baik untuk membunuh mereka di sini, tapi benda yang dimiliki Li Chang Su ini tidak boleh diketahui orang lain. Cukup dia saja yang tahu segalanya. Lagi pula setelah dia selesai dengan taruhannya dengan Ye Tianli, sosok Li Chang Su tidak terlihat di mana pun.
Ia mencarinya ke segala arah dan menemukan kelinci mutasi di dekat pohon besar, bulunya kotor. Lalu dia melihat ada sebuah lubang galian dan tali yang terhubung ke bawah. Kemungkinan pasti Li Chang Su ada di bawah.
Ternyata gadis ini menemukan terowongan bawah tanah yang memungkinkan binatang mutasi dan musuh menyelinap. Mu Xianzhai juga marah dan ingin mencari tahu. Hanya saja butuh waktu untuk menyelesaikannya.
__ADS_1
Saat dia melihat Li Chang mengeluarkan pistol dan hendak menembak, jantungnya berdegup kencang. Dengan hati-hati menghampiri dan memeluknya dari belakang, membiarkannya tenang lebih dulu. Pria paruh baya berpakaian bangsawan itu memang tercela dan menahan banyak pekerjaan paksa sebagai penambang bijih.
Mu Xianzhai menebak jika bijih ini menjadi daya tarik di negara lain, kemungkinan besar krisis ekonomi di Negara Bingshui akan terpecahkan. Jika istri kecilnya tidak muncul di sini, hal tersebut tidak akan terjadi.
Setelah Mu Xianzhai berkata, keduanya keluar dari dan membuat pengaturan untuk mereka. Li Chang Su masih memiliki kekesalan. Tapi dibandingkan dengan yang tadi, emosinya masih sedikit kesal.
"Siapa yang menang?" Tanyanya.
Li Chang akhirnya teringat dengan taruhan Mu Xianzhai dan juga Ye Tianli.
"Tentu saja aku," pria itu begitu bangga.
Keduanya kembali ke Istana Raja Perang setelah masalah tikus mutasi teratasi. Beberapa masalah di selesaikan oleh Mu Xianzhai. Tapi karena Mu Xianzhai tidak peduli dengan perhatian kaisar, maka diserahkan kepada pangeran yang lain.
Di Istana Raja Perang, kedua pelayan Li Chang Su sudah menunggu dengan cemas. Sosok gadis itu terlihat hingga keduanya menghela napas lega. Xuxu setidaknya berteriak memanggil nama Li Chang Su dengan sebutan 'Putri'.
Gadis itu sendiri belum terbiasa dengan panggilan ini. Namun setelah Li Chang Su kembali ke halaman, Mu Xianzhai telah meminta pelayan untuk menyiapkan makanan ringan untuknya.
Tapi sebelum tangannya membuka pintu, dia tertegun untuk waktu yang lama. Tunggu! Apa yang dia lakukan?
Hanya karena pria itu memiliki cedera di punggung, dia dengan tidak sabar membersihkan diri dan membuatkan teh. Lalu pergi kepadanya untuk memeriksa luka. Hal ini sangat mendadak bukan?
Dua penjaga yang ada di kiri dan kanan pintu ruang belajar berdaun dua pun keheranan. Sang putri tidak masuk dan hanya linglung di tempat.
"Putri, Yang Mulia ada di dalam dan Putri bebas untuk keluar-masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu," kata salah satu dari keduanya, membangunkan gadis itu dari pikirannya yang cukup kebingungan.
"Oh ...," Dia hanya menghela napas dan membuka pintu perlahan. Setelah mengembuskan napas panjang, dia tidak mungkin mundur dan kembali. Penjaga pria itu pasti akan melaporkan kedatangan dan kepergiannya dari sini. Jadi mari lupakan.
__ADS_1
Saat masuk, Mu Xianzhai sedang duduk di kursi kayu beralaskan bantal lembut. Jubah hangat menutupi punggung lebarnya, tapi wajahnya sedikit pucat. Li Chang Su sama sekali tidak bersuara dan meletakkan teh di atas meja.
Pria yang fokus dengan menyapukan kuas di lembar gulungan kertas dan mengerutkan kening. Mengalihkan perhatiannya pada gadis itu. Ada senyum lembut yang bisa meleleh hati siapa saja. Walaupun memakai topeng, pria itu tidak kehilangan kharismanya.
"Terima kasih atas cinta Su'er," katanya dengan bangga, melepaskan topeng peraknya dan menyesap teh hangat.
Sedangkan Li Chang Su mungkin ingin tersedak sesuatu. Siapa yang membawakan teh atas dasar cintanya? Pria ini terlalu percaya diri bukan?
Mulut Li Chang Su tidak hanya bergerak-gerak sedikit tanpa berniat untuk membalas. Tapi ketika pria itu terbatuk dan hampir menjatuhkan cangkir teh, Li Chang Su segera menahannya.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanyanya sedikit gugup.
"Tidak apa-apa, hanya flu ringan di musim dingin. Akan sembuh setelah beberapa saat. Su'er bisa kembali dan beristirahat. Salju mungkin akan terus turun hingga malam nanti. Jangan sampai kedinginan," pria itu hanya menghela napas dan mendorongnya pergi. Bukan karena tidak mau ada gadis itu di sini, hanya saja takut kedinginan.
Para pria berkata jika wanita sangat rentan terhadap sesuatu, termasuk cuaca. Tubuh mereka mudah sakit. Dibandingkan pria yang memiliki fisik yang lebih kuat, tubuh mereka juga jarang untuk sakit.
"Aku datang untuk memeriksa luka punggungmu. Pasti terbuka lagi, biarkan aku memeriksanya sebelum ada infeksi," pada akhirnya Li Chang Su mengutarakan maksud kedatangannya.
Mu Xianzhai mengerutkan kening lagi dan akhirnya mengangguk. Luka di punggungnya memang sedikit nyeri lagi saat ini, jadi biarkan Li Chang Su memeriksanya. Dia menyimpan kuas dan melepaskan jubah, lalu menurunkan setengah pakaiannya.
Dengan begitu, Li Chang Su bisa dengan mudah melihat luka yang dijahit itu. Memang sedikit robek lagi. Dan darah segar telah mengering di lapisan baju. Setelah Li Chang Su merawat lukanya kembali, dia membawakan pakaian baru untuknya. Meski canggung untuk membantu pria itu memakai baju yang berlapis, setidaknya masih memiliki wajah tenang.
Tapi pria itu justru terkekeh dan melihat wajah Li Chang Su memerah. Entah karena cuaca dingin atau rasa malu, dia menyukainya.
"Su'er selalu yang terbaik," pria itu mencium dahinya.
Li Chang Su kaku untuk sementara waktu dan belum terbiasa dengan hal ini. Namun ketika mengingat ciumannya di kereta, jantungnya berdetak kencang. Sialan! Pria ini benar-benar mulai membuka celah pintu hatinya.
__ADS_1
Tanpa sadar, sebenarnya dia sudah terkunci di antara tubuh jangkungnya dan terpojok di meja kerja. Wajah keduanya begitu dekat hingga Li Chang Su bisa merasakan napas hangat menyapu wajahnya.
"Su'er ... Apakah kamu mulai menyukaiku?"