
KEESOKAN PAGINYA.
Li Chang Su dibangunkan oleh jam biologisnya. Ketika Xuxu dan Xuyao masuk untuk menyajikan segelas susu hangat dan membuka jendela, gadis itu masih agak enggan untuk bangun. Xuxu membuka kain kasa tempat tidur dan mengikatnya di tiang, lalu membangunkan gadis itu.
Matahari sudah merangkak dari ufuk timur hingga gadis itu menyipitkan matanya saat cahaya matahari mengenai tubuhnya. Dia bangun seraya mengucek mata. Tempat tidur dj sampingnya sudah mendingin. Tampaknya Mu Xianzhai bangun lebih awal.
"Yang mulia pergi ke Istana Pangeran Kedua pagi-pagi sekali. Terlihat tergesa-gesa, tampaknya ada sesuatu yang terjadi," lapor Xuxu seperti tahu apa yang dicari Li Chang Su.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Gadis itu penasaran.
Xuxu menggelengkan kepala. "Kami belum tahu pasti. Namun sepupu yang mulia datang dengan ekspresi tidak bagus tadi. Mungkin situasi pangeran kedua tidak cukup baik."
"Putri, akankah kita mengeceknya?" tanya Xuyao.
"Kita akan pergi jika Xian belum kembali. Baiklah, sarapan dulu." Li Chang Su turun dari ranjang dan pergi mandi. Xuxu membereskan tempat tidur dan Xuyao menyiapkan menu sarapan pagi.
Setelah gadis itu membersihkan diri, segelas susu hangat segera dihabiskan. Lalu sarapan bubur ayam dan juga sup sayur hijau yang enak. Benar saja, Mu Xianzhai tidak kembali saat hari menjelang siang sehingga Li Chang Su mengajak keduanya untuk pergi jalan-jalan.
He Ze juga memberanikan diri keluar sambil memegang kacang rebus. Mereka menaiki kereta menuju istana di mana ibu suri dan pensiunan kaisar tinggal.
"Putri, kenapa kita pergi ke istana ibu suri?" Xuyao merasa jika tujuan tuannya bukankah ke tempat itu.
"Tanyakan dulu situasinya. Aku juga ingin melihat kesehatan nenek hari ini." Li Chang Su membelai bulu-bulu halus di tubuh He Ze. "Tampaknya Lict begitu tenang dengan Mu Hongzhi."
"Putri, apakah laki-laki bernama Lict itu orang dari negeri asing?" Xuxu sangat penasaran dengan laki-laki yang seusia dengan sang putri.
"Dia berdarah Tiongkok dan Eropa. Tapi mengabiskan semua masa kecilnya di Tiongkok. Jadi masih rakyat kita," jelas Li Chang Su.
__ADS_1
"Oh, dia memiliki mata biru yang indah. Seperti masa kehidupan kaisar lama."
"Yah, dia mewarisi darah Eropa." Li Chang Su juga tak berdaya. Lict pasti akan dikira seorang pangeran, padahal bukan. Meski saat ini, para pangeran tidak dominan memiliki iris biru.
Setelah tiba di depan pintu gerbang istana ibu suri, penjaga mengetahui jika itu adalah Putri Xian, sehingga segera melapor pada wanita tua itu. Tak berapa lama, penjaga datang dan menyambut ramah Li Chang Su. Gadis itu sendiri turun seraya meminta dua pelayannya membawakan dua kotak makanan untuk pensiunan kaisar. Seperti biasa, dia berjanji untuk berkunjung ke sini secara rutin.
Ketika tiba di halaman ibu suri, Li Chang Su bisa melihat jika wanita tua itu duduk di salah satu gazebo kecil seraya membaca beberapa buku kebajikan dan doa-doa untuk para dewa.
"Nenek," sapa gadis itu langsung memberikan salamnya.
Ibu Suri terbatuk kecil dan melihat jika menantu cucunya datang sambil membawa makanan untuk pensiunan kaisar, senyum kecil melukis wajahnya. Wanita tua itu memakai gaun kuning keemasan yang tidak lagi cerah dan bergairah, tapi terlihat anggun dan sopan. Dia meminta Li Chang Su untuk datang dan duduk.
"Su'er mengunjungi Nenek kali ini sungguh menyenangkan hati. Tapi lain kali tidak perlu repot membawa makanan untuk pria tua itu," kata Ibu Suri dengan sedikit cibiran ketika teringat dengan pensiunan kaisar yang doyan makan akhir-akhir ini. Tapi di sisi lain juga merasa senang ketika tulang tua pria itu tak lagi terlihat seperti kerangka hidup.
Li Chang Su duduk di seberang Ibu Suri dan tersenyum masam. "Tidak apa-apa. Kakek suka makan, itu bagus. Su'er juga membuatkan sup kesehatan untuk Nenek," katanya.
"Anak baik." Ibu Suri terbatuk lagi dan menimpalinya dengan nada yang lembut. "Nah, Xian'er tidak ikut?" Melihat gadis itu datang hanya dengan dua pelayannya, Ibu Suri sedikit khawatir. Pasangan suami-istri ini tidak bertengkar bukan?
"Ya Tuhan ... Pantas saja kakekmu berkata jika makanan tak akan datang ke rumah ini. Ternyata kamu demam." Ibu Suri sedikit berekspresi kurang senang saat memikirkan suaminya yang hanya fokus pada makanan. "Pria tua itu sungguh tidak berperasaan. Menantu cucunya sakit tapi masih ingat makanan, sungguh kurang ajar."
Ibu Suri mungkin akan memukul suaminya dengan tongkat nanti. Li Chang Su tidak berdaya dan menggelengkan kepala. Dia merasa tidak ada yang salah. Biarkan saja.
"Nenek, bisakah aku memeriksa kondisi tubuhmu?" tanya gadis itu.
"Tentu saja. Akhir-akhir ini nenek semakin baik. Orang-orang yang mengawasi istana ini juga tampaknya telah menarik dirinya sendiri. Mungkin khawatir dicurigai." Wanita tua itu mendesah kasar dan mengulurkan tangan kanannya.
"Apakah itu terjadi setelah kakek pulang?"
__ADS_1
"Ya, kamu benar. Pihak lain sepertinya sudah waspada. Hati permaisuri sudah hitam dan putranya mewarisi kejelekan perilakunya. Nenek sudah meminta ayah mertuamu untuk berjaga-jaga," tutur Ibu Suri pelan.
Li Chang Su memeriksa denyut nada Ibu Suri dan tidak menemukan keanehan. Wanita tua itu akan baik-baik saja setelah ini dan kondisinya juga semakin membaik.
"Oh iya ... Istri pangeran pertama akan melahirkan bulan ini. Kamu berkunjunglah ke sana dan lihat keadaannya. Nenek khawatir kelahiran istrinya mengalami hambatan. Apalagi saat ini beberapa perseteruan diam-diam telah terjadi. Pangeran pertama mungkin sibuk di luar," jelas Ibu Suri agak khawatir.
"Istri pangeran pertama sebelumnya memiliki anak kembar?" tanya Li Chang Su mengonfirmasi. Ia tahu dari Mu Xianzhai jika istri pangeran pertama memiliki anak kembar. Tak heran jika Mu Xianzhai ingin punya anak waktu itu.
"Ya. Anak-anaknya masih kecil sekarang. Wanita yang baik itu telah memberiku cicit. Nah, kapan kalian akan menyusul?"
Wajah Li Chang Su segera memerah. "Mungkin tiga tahun lagi. Aku tidak ingin memiliki anak terlalu dini," jujurnya.
"Hei, anak muda ini. Xian semakin tua. Dia pasti ingin punya anak juga," kata Ibu Suri sengaja menggodanya.
"Nenek, aku akan memikirkannya nanti."
"Baiklah, baiklah ... Nenek tidak akan menggodamu lagi. Datang ke sini, bukan hanya berkunjung saja?"
"Bagaimana Nenek tahu?"
"Apa yang tidak Nenek ini tahu? Kamu ini bukan gadis lampu hemat bakar. Xian'er beruntung memilikimu. Bagaimana hubungan kalian berdua, apakah membaik?" Ibu Suri tahu jika Li Chang Su enggan menikahi Mu Xianzhai waktu itu. Dan memberinya wajah dingin. Sekarang, tampaknya pasangan itu lebih harmonis.
"Tidak apa-apa. Kami baik-baik saja." Li Chang Su menyesap teh yang disajikan oleh pelayan.
Tak berapa lama, teriakan pria tua sampai ke telinga keduanya. Ibu Suri segera memiliki wajah dingin saat mengetahui jika suara teriakan itu milik pensiunan kaisar. Tampaknya urusan di Istana Kekaisaran sudah selesai sehingga Pensiunan Kaisar pulang lebih awal.
Pensiunan Kaisar datang menemui kedua dengan ekspresi rubah tuanya. Lalu Ibu Suri segera mengambil tongkat yang selalu dibawanya setiap saat.
__ADS_1
"Kamu rubah tua!! Apakah isi kepalamu hanya makanan dan makanan?!" Ibu Suri berteriak marah pada pria tua itu dan memukulnya.
"Ah! Istriku, kenapa kamu marah? Aku baru saja menyapa menantu cucuku!" Pensiunan Kaisar segera berwajah pucat saat melihat jika istrinya sudah marah.