
"HUH! SIAPA yang peduli?!" Gadis itu mencibir dan berpura-pura tidak mendengar apapun. Hanya saja rasa asam manis permen lemon menjadi lebih terasa. Keduanya hanya berbaring nyaman. Sedangkan kereta telah memasuki jalan hutan.
Sebelum mencapai perbatasan barak militer, mereka harus melewati hutan ini lebih dulu. Lalu akan tiba di perbatasan utama camp militer.
Jika di tempat Mu Xianzhai dipenuhi dengan rasa manis, maka di kereta Mu Hongzhi agak berantakan. He Ze bertengkar dengan Xue Zi, saling mencakar dan menendang. Tidak tahu apa yang dua binatang kecil itu perdebatan, Mu Hongzhi tidak memahaminya.
Dia hanya mencoba untuk melerai keduanya agar tidak saling mencakar. He Ze tampaknya telah menatap kelinci mutasi dengan marah. Adapun Xue Zi yang sombong, itu mendengus diam-diam
Bahkan Mu Hongzhi yang kena cakar pun hanya bisa menangis tanpa air mata. Beberapa saat lalu kedua binatang putih ini akur. Xue Zi ada di pelukannya dan He Ze sibuk makan semangkuk kacang rebus. Tapi tiba-tiba saja kelinci mutasi dalam pelukannya mencuri kacang, membuat He Ze kesal.
Kini keretanya terlihat seperti sedang berada dalam zona pertempuran.
"Apa yang kalian ributkan. Itu hanya kacang. He Ze, kamu juga tidak boleh pelit. Dan kamu kelinci nakal, jadilah baik di pangkuanku," katanya tak berdaya. Mengambil kembali kelinci mutasi yang masih menendang itu.
Xue Zi ingin berteriak tapi ditahan. Manusia, kamu tahu apa memangnya? Begitulah kira-kiranya dia berpikir saat ini.
Sedangkan He Ze ingin mencibir jika bisa. Ini kacang rebus miliknya. Beraninya kelinci bodoh itu mencuri. Dia tidak akan mengampuni. Tapi kedua tangan mendengar Mu Hongzhi mulai membawa-bawa nama Li Chang Su, sedikit takut.
"Jika sepupu ipar itu tahu kalian ribut, dia mungkin akan menjual kalian. Belum lagi, lihat ini." Mu Hongzhi menunjuk ke beberapa tempat. Ada banyak bulu keduanya bertebaran, rontok akibat saling mencakar tadi. "Jika sepupuku tahu, kalian bisa digoreng."
"...." He Ze dan Xue Zi memikirkannya. Li Chang Su penyayang, tapi ancamannya tidak main-main. Adapun Mu Xianzhai, itu hanya iblis besar.
Mu Xianzhai tidak pernah suka melihat bulu mereka rontok. Bahkan saat makan pun, pria itu tega membuangnya ke salju.
Lalu, Mu Hongzhi yang tidak berdaya pun segera memeriksa tubuh mereka. Apakah bekas cakaran itu parah atau tidak. Jika tidak, dia hanya akan mengoles salep. Jika parah, sepupu ipar mungkin akan menyalahkannya.
Kelinci mutasi itu disentuh lembut, melihat bulu-bulu putihnya yang seidkit rontok, mencari jejak cakaran. Tapi tidak menemukannya. Ini aneh. Lalu He Ze juga sama. Tidak ada bekas cakaran. Seolah-olah tidak pernah terjadi.
"Apakah kuku kalian sangat pendek? Kenapa cakarannya tidak terlihat?" tanyanya pada diri sendiri.
"...." He Ze dan Xue Zi saling memandang. Manusia itu memang bodoh atau mungkin tidak tahu. Keduanya adalah binatang spesial. Bagaimana mungkin cakaran kecil melukai tubuh. Itu konyol.
__ADS_1
Namun untuk tidak menimbulkan kecurigaan, keduanya hanya diam-diam saja. Xue Zi mengebor ke pelukan pria itu, memunggungi tupai putih. Lihatlah, lihatlah ekornya yang mungil. Bukankah lucu, pikirnya percaya diri.
Di mana He Ze peduli dengan ekor. Ekornya sendiri bahkan lebih cantik.
Setelah kedua binatang itu tenang, Mu Hongzhi juga bisa menghela napas lega. Dia menerima laporan dari penjaga gelap jika beberapa binatang mutasi berkeliaran dan mendekati kereta. Tapi itu sedikit lebih kuat dari sebelumnya. Mereka mungkin akan sedikit kewalahan.
"Jenderal Hong, mengenai ini, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk membiarkan kereta Yang Mulia tetap aman," kata salah satu penjaga gelap yang melapor dari atap kereta.
"Jangan khawatir, aku akan membantu. Sepupuku tidak bisa diganggu."
"Ya."
Penjaga gelap itu akhirnya pergi untuk mencegah beberapa binatang mutasi mendekati kereta. Kelompok kecil serigala mutasi setinggi satu meter muncul untuk menghadang. Tapi para penjaga gelap telah bergerak.
Para serigala mutasi berwarna cokelat itu melolong, saling bersahutan. Lalu serigala mutasi yang lain pun muncul. Mau tidak mau, kereta harus berhenti. Ini masih berada di tengah hutan dan dicegat kawanan serigala mutasi yang aneh
Melihat begitu banyaknya serigala mutasi, Mu Hongzhi akhirnya keluar dan mencabut pedangnya. "Sial! Menggangu saja. Para serigala ini sungguh berisik!" katanya sedikit berseru.
Adapun Mu Xianzhai dan Li Chang Su yang beristirahat segera berwaspada. Keduanya juga melihat sekawanan serigala mutasi setinggi satu meter itu hampir saja menerkam salah satu penjaga gelap.
"Aku di dekat kereta. Jika kamu mengetahui sesuatu, beri tahu aku langsung. Kamu tidak perlu turun untuk mengotori tangan," ujar Mu Xianzhai seraya menebas salah satu serigala mutasi yang melompat ke arahnya.
"Apakah ini binatang mutasi kegelapan?" tanya gadis itu.
"Serigala selalu menjadi puncak rantai makanan yang netral. Tapi jika kini menjadi binatang mutasi, pasti bukan hal baik lagi," jawab pria itu seraya meliriknya.
Li Chang Su melihat pertarungan ini dari jendela kereta. Para serigala mutasi itu menunjukkan gigi dan taring yang tajam. Mata merah darah, serta tubuh yang kokoh. Ini seperti telah dilatih lama oleh pemilik. Karena itu, Li Chang Su curiga jika para serigala mutasi ini dikendalikan oleh seseorang.
Gadis itu segera menutupi gorden kecil dan memejamkan mata, berkomunikasi dengan He Ze. Lalu mendapatkan jawabannya. Ternyata serigala mutasi itu memang binatang mutasi kegelapan. Tapi belum lama dilatih, alias masih tahap uji coba.
Mungkin si pengendali mengira jika mereka cocok dijadikan bahan uji coba. Tapi mungkin belum tahu siapa Mu Xianzhai dan Mu Hongzhi. Keduanya tidak mungkin kalah.
__ADS_1
Karena itu, Li Chang Su yang memejamkan mata sebenarnya sedang melihat melalui mata dewa. Dia menggunakan energi batinnya untuk melihat ke sisi lain. Cukup jauh. Mungkin seratus meter dari jarak mereka, si pengendali bersembunyi.
Sangat berhati-hati.
"Aku menemukannya!" Dia membuka matanya dan segera menghilang dari kereta.
Mu Xianzhai merasakan ketidakhadirannya di dalam kereta, sedikit panik. Tapi kemudian dia melihat He Ze muncul untuk alasan yang tidak pasti. Ingin sekali bertanya, namun waktunya tidak tepat.
"Sepupu ... Serigala mutasi ini sepertinya sangat tahu gerakan kita. Apakah terlalu pintar atau kita yang kurang pengalaman?" tanya Mu Hongzhi keheranan.
Sudut mulut pria itu ingin berkedut. Bisakah dia memiliki sepupu yang bodoh seperti ini? Li Chang Su menghilang ketika mengetahui ada si pengendali. Sudah dipastikan jika itu pasti berasal dari Sekte Hitam.
Dia hanya menghela napas, mencoba untuk menekan rasa keingintahuannya tentang apa yang dilakukan oleh istri kecilnya. "Serigala mutasi pintar. Dan kamu juga belum memiliki banyak pengalaman. Tidak ada yang salah dengan itu."
"....." Sepupu, apakah kamu begitu bermulut pedas?
Keduanya membunuh beberapa serigala mutasi dengan cepat. Bahkan Mu Xianzhai sengaja memilih beberapa serigala cokelat besar itu untuk dikuliti bulunya. Perjalanan ini akan memakan banyak waktu. Musim dingin yang ekstrim akan memmbuat tubuh mereka kedinginan.
Jangan karena mu tenaga dalam, mereka tidak akan kedinginan. Faktanya, tubuh mereka juga memilki batasan.
Seekor serigala mutasi diam-diam mengamati mu Xianzhai dari belakang dagi seberang kereta. Lalu melompat untuk menerkam. Mu Xianzhai melihat bayangan di tanah dan berbalik. Serigala mutasi itu terlalu cepat sehingga dia bahkan menggunakan pedangnya untuk menahan. Tapi tubuhnya jatuh.
"Sepupu!" Mu Hongzhi khawatir.
"Fokus dengan sisanya. Jangan hiraukan aku!" Mu Xianzhai menjadi lebih dingin. Dengan cepat segera mengunakan ilmu tenaga dalamnya untuk mendorong binatang mutasi ini menjauh dari tubuhnya.
Sementara itu, di tempat Li Chang Su saat ini ....
Gadis itu tiba-tiba saja muncul di salah satu dahan pohon raksasa. Ia melihat seorang pria berjubah hitam dengan tudung, berjongkok di dahan tak jauh darinya sambil merapalkan mantra.
Akhirnya, Li Chang Su mengerutkan kening. Mantra itu, mungkin yang membuat para serigala mutasi menjadi kehilangan kendali. Dia pun akhirnya memberikan diri untuk bertanya pada pria berjubah hitam itu.
__ADS_1
"Bisakah kamu juga mengajariku mantra itu?"
"Tentu sa—" Pria berjubah hitam yang merapalkan mantra pun segera tertegun dan tanpa sadar menoleh ke belakang.