
MEREKA MENATAP He Ze dengan perasaan aneh. Pria itu tidak seperti orang kebanyakan. Selain pakaian serba putih, ketampanannya juga agak pucat. Zaoshan-nya menjuntai rapi, seperti diatur dengan sengaja.
"Siapa kamu??!" Mereka benar-benar waspada.
Suara pria itu tidak bisa dibaca dengan santai. Mungkin lebih kuat atau lebih lemah dari mereka. Namun bagaimanapun juga, orang-orang berjubah hitam saling waspada dan siap menarik pedang dari sarungnya.
He Ze terkekeh dan masih memakan manisan kacang metenya. "Hanya seseorang yang menunggumu. Tidak perlu tahu siapa aku."
"Kamu ...!! Apakah semua ini ulahmu?" tanya mereka.
"Ya dan tidak," jawab He Ze sembrono.
"Apa maksudmu?" Mereka benar-benar tidak sabar.
"Intinya, aku hanya diminta untuk menunggumu di sini!"
Para pria berjubah hitam dan topeng polos itu langsung dibagi menjadi dua. Satu kelompok pergi ke terowongan bawah tanah lebih dulu. Dan sisanya akan di sini untuk melawan He Ze.
Mereka tidak percaya jika hari ini tidak bisa mengalahkan pria serba putih itu. Karenanya, setelah mereka berpencar, He Ze tidak memiliki masalah sama sekali. Orange ada bersamanya. Dan saat ini mungkin sedang berada di salah satu cabang pohon, enggan turun karena dingin.
Mereka mencabut pedang dari sarungnya dan mulai menantang He Ze. "Jika berani, datanglah dan bunuh kami."
"Sesuai permintaan." Akhirnya He Ze mengakhiri sesi makan manisan kacang mete dan bangkit dari duduknya.
Dia turun dengan tepat dan tanpa ada beban. Bahkan salju yang dipijaknya tidak meninggalkan jejak yang dalam. Saat ini cuaca cukup buruk. Tumpukan salju setidaknya telah berada di atas pergelangan kaki. Sehingga saat melangkah, agak sedikit kesulitan.
Tanpa pedang atau senjata apapun, He Ze hanya tersenyum dan mengulurkan tangan kosong. Meminta mereka untuk maju. Setelah para pria berjubah hitam itu saling berpandangan, segera melakukan penyerangan.
Menodongkan pedang dan melakukan gerakan membunuh yang pasti, mereka berusaha untuk melukai He Ze. Tapi pria berpakaian serba putih itu hanya terkekeh dan mundur perlahan-lahan seraya menghindari serangan pedangnya.
Karena jumlah mereka lebih dari lima orang, tentu saja He Ze tidak bisa terus menghindar. Ia melompat ke sisi lain dan mengibaskan salah satu tangannya. Angin kencang tiba-tiba saja menampar mereka dengan cepat hingga mundur beberapa langkah.
Bos yang ada di antara mereka pun menggertakkan giginya. "Dia memilikinya ilmu tenaga dalam yang tinggi. Kita mungkin bukan lawannya secara langsung."
__ADS_1
"Jadi, Bos. Apa yang akan kita lakukan?" tanya salah satu dari keempatnya. Suaranya cukup muda.
"Gunakan taktik. Ingat, jangan mempermalukan Sekte Hitam."
"Ya." Mereka menjawab serentak.
Lalu segera menyerang He Ze lagi dengan menggunakan tarian pedang. Ini merupakan teknik ayng cukup rumit. Selain pedang yang bergerak cepat dan tidak terduga, pemain juga harus memiliki tubuh yang terlatih agar tidak ada kesalahan dalam gerakan.
Mereka mencoba untuk menusuk He Ze dengan berbagai gerakan. Lalu menggunakan kaki untuk menendang. Sayangnya, He Ze segera menangkap salah satu kaki pria berjubah hitam yang hendak menyerang dadanya.
Pria itu tidak bisa menggerakkan atau memindahkan kakinya. Kekyatan He Ze untuk mempertahankan pegangan tangan sungguh luar biasa.
"Kamu ... berani!" Pria berjubah hitam itu tidak bisa terus seperti ini. Dia menggunakan kakinya yang lain untuk melompat dan hendak menendang kepalanya.
Sayang sekali, lagi-lagi itu gagak karena He Ze menangkap pergelangan kakinya yang lain.
"Ahh!!" Pria itu akhirnya tergantung. He Ze mengeluarkan tali dan mengikat kedua kakinya. Lalu tali yang lain dilemparkan ke dahan pohon yang tinggi.
Pria berjubah hitam yang tersisa tidak tahu apa yang dilakukan He Ze. Tapi mereka memiliki firasat jika salah satu temannya itu sudah sial lebih dulu.
Intinya, He Ze yang menarik tali yang kokoh itu untuk mengagungnya. Setidaknya, tidak akan ada banyak mengganggu. Untuk mencegahnya memotong tali, He Ze sudah menggeledahnya. tidak ada benda tajam apapun selain bubuk obat terlarang.
Ternyata mereka juga mengonsumsi obat-obataan seperti ini. Tidak heran, ia mencium bau obat-obatan beracun. Ternyata barang-barang yang rusak ini. He Ze mencibir dan mengikatkannya tali pada batang pohon.
Yang lain hanya bisa menatap salah satu temannya yang kini digantung terbalik.
"Hei, kalian ... tolong aku." Pria berjubah hitam di atas saja jelas mencoba untuk melepaskan diri dari tali yang mengikat kedua pergelangan kakinya.
Belum lagi, semua benda tajam di tangannya sendiri sudah disita.
"Tunggulah di sana. Aku akan datang." Salah satu dari mereka akhirnya memutuskan untuk memotong tali.
Tapi saat pria berjubah hitam lainnya melompat dan hendak memotong tali, tubuhnya langsung gemetar seperti disengat sesuatu. Karena lemas tiba-tiba, pria berjubah hitam sedang memegang pedang pun kini jatuh bebas.
__ADS_1
"Ahhh!"
Tubuh pria yang gemetar itu kini agak pucat. Rambutnya Sedikit acak-acakan. Dan memandang mereka dengan seksama.
"Ada sesuatu yang membuatku merasa disengat sesuatu."
"...." Apakah begitu yakin? Setahu mereka, tali itu hanya biasa saja.
Tali yang dipakai He Ze justru cukul kuat untuk mengikat orang. Lalu diam-diam menghasilkan listrik. Pria berpakaian serba putih itu mencibir, "Apakah itu enak?"
"Kamu!" Mereka sangat kesal.
Setelah memutuskan untuk menyerang He Ze lebih dulu, mereka melupakan rekan tim yang tergantung di atas. He Ze tidak terlalu peduli. Siapapun itu, dia akan meladeninya dengan baik.
Kini tersisa empat orang. He Ze menggunakan beberapa kemampuan ilmu tenaga dalamnya lagi. Mereka juga dipenuhi oleh luka sayatan pisau angin ataupun tendangan dari He Ze.
Setelah satu persatu mulai kelelahan, He Ze tidak tinggal diam dan mengambil alih pedang musuh. Kemudian membunuh salah satu dari mereka. Itu sangat cepat.
Pria berjubah hitam yang menyadari jika tubuhnya telah ditusuk pedang dingin pun langsung tertegun. Ia menatap He Ze dengan perasaan yang tidak percaya.
"Kamu ... Kamu ..." Pria itu memuntahkan darah dan mundur perlahan-lahan, sebelum akhirnya jatuh karena kehabisan napas.
Tiga orang yang tersisa tertegun. Ini lebih cepat daripada yang diperkirakan. Melihat He Ze mencicipi darah yang ada pada pedang, mereka merinding. Kenapa mereka merasa jika He Ze sedang bermain dengan mereka. Bukan bertarung.
"Bos ... Bagaimana ini?" tanya yang lain.
"Sial! Jangan kalah. Cepat bunuh dia!" Sang bos akhirnya marah dan maju lebih dulu. Dia menggunakan pedangnya untuk menggunakan beberapa gerakan seni bela diri yang dipelajari.
He Ze menghindar. Ia membuang pedang dan menangkisnya dengan tangan. Cih! Manusia yang yang lemah. Berani bertarung dengannya. Ia segera memotong tali yang menggantung pria berjubah hitam tadi. Lalu pria berjubah hitam yang digantung itu jatuh bebas dan menimpa dua di antaranya.
Kali ini, mereka langsung menggunakan ilmu tenaga dalam. Menggunakan salju sebagai media menyerang. Tarian pedang yang cukup kuat. Tapi tidak cukup untuk melukai He Ze.
"Ini tidak mungkin! Bagaimana kamu sama sekali tidak terluka?" tanya sang bos yang sedikit kelelahan.
__ADS_1
Tak ada jejak darah di pakaiannya He Ze. Jangankan darah, kusut saja tidak.
"Kamu sangat ingin tahu?" He Ze menarik sebelah alisnya.