Menjadi Istri Cerdas Raja Perang

Menjadi Istri Cerdas Raja Perang
Berpengaruh Pada Penglihatan Mata Dewa


__ADS_3

LI CHANG SU tidak langsung menjawab. Penglihatannya agak kabur saat ini. Dia telah berulang kali mengucek matanya dan memejamkan mata. Berusaha untuk tenang. Namun penglihatannya sedikit buram.


Binatang mutasi di dalam sungguh luar biasa. Ketika membuka matanya, binatang mutasi itu seperti menembakkan aura yang tajam, mengetahui keberadaannya yang tengah memperhatikan.


He Ze akhirnya keluar dari ruang artefak dan memeriksa Li Chang Su dengan menyentuh dahinya.


"Apakah gadis ini baik-baik saja?" tanya Xue Zi yang kebingungan.


"Tidak cukup baik. Tidakkah kamu sendiri merasakan sesuatu dari sesuatu yang ada di balik pintu batu ini?" Justru He Ze bertanya kembali.


Xue Zi jelas tidak merasakan apapun. Dia hanya menggeleng ringan. Hidungnya berkedut seperti biasa. Dengan telinga yang dinaikkan sedikit, ia mencoba mencari sensor suara ataupun aura. Tapi tetap saja nihil.


Mu Xianzhai akhirnya meminta He Ze untuk menceritakan apa yang terjadi. Tapi tupai putih itu justru melompat ke permukaan tanah berbatu, meminta mereka mengikutinya lebih dulu.


Dikarenakan Li Chang Su sangat lemas, Mu Xianzhai membopongnya dengan hati-hati. Mereka mengikuti He Ze ke sebuah terowongan lain. Ada pintu yang lebih sederhana. Tupai putih itu membaca mantra aneh dan seketika, pintu batu terbuka dengan sendirinya.


"Apakah kamu membaca mantra pembuka pintu?" Mu Hongzhi penasaran.


"Itu adalah mantra kuno. Kamu tidak akan tahu." He Ze mendengus dan masuk.


Mereka mengikuti. Di dalamnya, hanya sebuah ruangan berukuran tidak lebih sepuluh meter persegi. Bersih dan tidak ada tanda-tanda pertarungan, bercak darah dan sebagainya.


He Ze mengeluarkan alas bersih untuk mereka duduk. Meski Mu Hongzhi bingung dari mana asal alas bersih itu berada, namun kondisi sepupu iparnya lebih utama.


Ketika Mu Hongzhi tahu jika He Ze juga bisa bicara, tentu saja sangat terkejut. Tapi kali ini, dia merasa nyaman saat tahu lagi bahwa He Ze adalah roh artefak gelang naga perak. Dia berjanji tidak akan memberi tahu siapapun tentang ini. Kecuali para pemilik gelang naga perak yang lain.


Mu Xianzhai membiarkan Li Chang Su duduk di sampingnya. Wajahnya yang pucat membuat dia khawatir. Oleh karena itu, He Ze juga mengeluarkan segelas air roh untuknya. Pria bertopeng perak itu menerima air tersebut dengan tatapan curiga.


"Apakah air ini bersih?" tanyanya.


"Tentu saja. Itu air roh yang tadi kamu minum juga." He Ze terlihat kesal dan mengambil kacang rebus entah dari mana. Kulit kacang itu dia lempar ke arah Mu Hongzhi tanpa peringatan.

__ADS_1


"...." Mu Hongzhi yang merasa sedikit sakit di wajahnya akibat lemparan kulit kacang rebus pun kebingungan. Kenapa dia yang kena sasaran? Bukan sepupunya?


Mu Xianzhai masih memiliki kecurigaan. "Aku khawatir ada bulu di dalam air."


"...." He Ze tidak berdaya dan masih berduka atas bulu ekornya yang terbakar sebelumnya. Tapi dia sangat bersih. Di mana ada bulu terbang ke air? Itu tidak mungkin.


Mengabaikan ekspresi He Ze dan Mu Hongzhi, pria itu segera meminta Li Chang Su untuk meminta airnya. Adapun Xue Zi yang kini begitu tenang, hanya menghela napas. Tampaknya masalah ini tidaklah mudah.


Gadis itu masih pucat, pendengarannya juga agak terganggu. Dia hanya melihat segelas air yang disodorkan padanya, serta bisikan lembut Mu Xianzhai. Entah apa yang terjadi, tubuhnya menjadi sedikit lebih nyaman bahkan sebelum meminum air roh.


Dia menghabiskan air itu dan mengembuskan napas panjang. Matanya masih agak kabur.


"Su'er, apakah sudah merasa lebih baik?" tanya pria itu lembut.


"Ya. Sedikit ...." Dia mengerutkan kening.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kamu jelaskan!" Mu Xianzhai menatap He Ze yang masih sibuk makan kacang.


Tupai putih itu akhirnya memiliki ekspresi serius layaknya seekor tupai, duduk dan mengeluarkan sepiring kacang rebus. Dia mulai berkata jika di dalam pintu batu itu ada ruangan yang cukup luas. Setidaknya cukup untuk membuat seekor binatang mutasi raksasa melakukan hibernasi.


Pigmen putih di hutan yang ada di atas itu berasal dari ruang pintu batu itu.


Menurut kondisi Li Chang Su saat ini, semuanya disebabkan oleh binatang mutasi raksasa yang ada di dalam pintu batu.


"Apakah kamu tahu jenisnya?" tanya Mu Hongzhi.


"Tentu saja. Itu adalah salah satu binatang mutasi tingkat dewa." Mengatakan hal ini, He Ze merasa sakit kepala. Bukan karena apa, itu disebabkan oleh ketidakberdayaannya terhadap para binatang mutasi.


Siapa yang bisa memastikan jika salah satu binatang mutasi dewa akan muncul di sini?


Ketika Mu Hongzhi dan Mu Xianzhai mendengarkan ini, tiba-tiba saja tertegun. Ini belum pernah muncul dalam sejarah negara manapun tentang kehadiran binatang mutasi dewa. Selain dianggap langka, keberadaannya juga tidak menentu.

__ADS_1


He Ze menjelaskan jika semakin binatang mutasi memiliki tingkat yang lebih tinggi, maka kemungkinan besar juga bersembunyi lebih dalam. Hal ini dilakukan bukan karena takut pada manusia atau binatang mutasi yang berada pada tingkatan sama. Melainkan karena sosok binatang roh yang telah menjadi sejarah.


Jangankan binatang roh, masalah binatang mutasi saja membuat keduanya bingung. Apalagi Li Chang Su yang kini sedikit linglung.


"Lalu bagaimana itu kepada Su'er sekarang? Karena makhluk itu?" Mu Xianzhai berekspresi jelek. Dia tidak tega melihat istrinya yang begitu pucat saat ini.


"Ya. Makhluk itu sepertinya menyadari kehadiran aura yang mengganggu tidurnya, sehingga memberikan serangan reflek. Tapi kita tidak tahu apakah itu binatang mutasi cahaya atau kegelapan." He Ze hanya menggelengkan kepala. Walaupun dia tahu itu bintang mutasi dewa, tapi belum mengetahui apakah ras golongan cahaya atau kegelapan.


Pintu batu di sana memiliki aura penghalang yang cukup kuat. Semacam array. Karena bentuknya array, tentu saja formasinya harus dipecahkan. Mendengarkan semua yang dikatakan He Ze, Mu Xianzhai jelas lebih marah. Dia ingin pergi dan membongkar pintu batu itu untuk membunuh makhluk di dalamnya. Berani menyakiti wanitanya, hanya mencari kematian.


He Ze bisa merasakan jika penglihatan mata dewa sedikit terganggu. Wajar saja, binatang mutasi dewa bisa disejajarkan dengan salah satu artefak mata dewa. Yang jelas berdampak pada Li Chang Su.


Merasakan jika Mu Xianzhai terasa tidak sabar, gadis itu pun mencengkeram lengan bajunya. Akhirnya pria itu dibangunkan dari pikirannya yang penuh dengan aura membunuh. Dia memeluk Li Chang Su dan mencium dahinya.


"...." Mu Hongzhi dan dua binatang di sana merasa malu. Mereka semua hanya anjing tunggal.


Bisakah tidak bermesraan di depan umum? Walaupun hanya berisi satu orang dan dua binatang berbulu, mereka tetap saja malu.


Mu Xianzhai tidak memedulikan ketiganya dan menenangkan Li Chang Su. Penglihatan gadis itu bermasalah saat ini. Sangat ingin menyalahkan makhluk di dalam ruang pintu batu.


"Su'er .... Jangan khawatir, He Ze bilang penglihatanmu akan kembali normal." Dia berusaha untuk membuat hati Li Chang Su tenang. Takut jika dalam pikiran kecil gadis itu, menyalahkan diri sendiri atau merasa tidak sempurna.


"Aku tahu. Aku hanya lelah."


"Baiklah. Istirahat saja dulu. Tidak terburu-buru."


Ada beberapa obor terpasang di dinding ruangan tersebut. Mereka tidak terlalu kedinginan. Mu Xianzhai memanggil penjaga gelapnya untuk membawakan kotak makanan. Biarkan istrinya makan sesuatu lebih dulu seraya istirahat.


Mu Hongzhi juga mendengarkan cerita dari Xue Zi tentang binatang mutasi dan perkembangan di masa. Adapun Mu Xianzhai, itu sudah pergi entah ke mana sejak Li Chang Su sibuk dengan makanan.


Akhirnya, gadis itu menyadari jika Mu Xianzhai tidak kembali lagi setelah waktu yang cukup lama.

__ADS_1


"Ke mana dia pergi? Kenapa belum kembali?" tanyanya.


__ADS_2