
MENYAPA menantu cucunya? Ibu Suri mencibir dan tahu apa yang selalu memenuhi pikiran pria tua itu. Untung masih hidup hingga sekarang, jika tidak, dia mungkin masih menyandang gelar 'Janda Permaisuri'.
Li Chang Su hanya tersenyum tidak berdaya dan tak akan ikut campur tentang masalah pasangan suami-istri tua itu. Ia menyesap tehnya lagi dan memikirkan hal lain. Setelah Ibu Suri puas memukul, Pensiunan Kaisar pun meratapi nasibnya dengan betis yang kesakitan.
"Nah, Gadis ... Tumben kamu datang lebih awal. Apakah bocah bau itu tidak menahanmu di rumah? Kakek dengar kamu sakit." Pensiunan Kaisar meminta pelayan untuk membawa mangkuk dan seperangkat alat makan lainnya. Dia ingin makan masakan gadis itu.
"Xian sibuk. Dia tidak tahu aku ke sini." Li Chang Su menjawab setelah meletakkan cangkir tehnya yang telah kosong. "Kemarin aku hanya demam. Sekarang sudah baikan. Terima kasih atas cinta Kakek," imbuhnya.
"Bagus, bagus. Biarkan pelayan membawakan beberapa herbal untuk menantu cucuku." Pensiunan Kaisar memerintah pelayan untuk pergi ke gudang penyimpanan dan mengambil herbal yang dimaksudnya.
"Kakek, ini benar-benar tidak perlu," kata Li Chang Su.
"Tidak apa-apa. Kamu adalah penyelamat Yang Tua ini. Tanpa kamu, cucu kesayanganku yang kejam itu mungkin akan datang menyelamatkanku ketika kehidupan telah habis. Untungnya kamu datang tidak terlalu lama. Walaupun membutuhkan beberapa tahun bagi Xian untuk menunggu, tapi penantiannya tidak sia-sia," tutur Pensiunan Kaisar agak melankolis.
Ia sangat tahu kepribadian Mu Xianzhai yang dingin dan kejam hingga ke tulang. Anak-anak saja bahkan tak lepas dari matanya. Tak heran jika orang-orang berkata jika itu adalah raja perang yang kejam dan mengerikan. Tidak ada yang berani membantah atau mengangkat kepala untuk berbicara di depannya. Sungguh, hati orang-orang lebih lembut daripada kelinci yang terpojok.
Beruntungnya kaisar Mu sendiri tidak rakus keserakahan dan lebih banyak keengganan untuk menjadi kaisar. Tapi apalah daya, takdir mungkin menuntunnya untuk menjadi pemimpin negara. Pensiunan Kaisar sendiri bertahan dengan satu wanita gara-gara gelang naga perak dan melahirkan dua putra.
"Kakek, apakah kamu tahu tentang pegunungan dewa?" tanya Li Chang Su tiba-tiba.
"Pegunungan dewa? Kenapa tiba-tiba bertanya tentang ini?" tanya balik pria tua itu seraya mengambil sup ayam untuk mengisi mangkuknya.
Li Chang Su menceritakan sedikit perjalanannya saat menuju ke Sekte Hitam. Lalu mereka melewati Hutan Putih dan menemukan sebuah lubang. Di sana ada dua kucing tingkat dewa, Bell dan Orange.
Saat Pensiunan Kaisar mendengarkan, keningnya mengkerut. Tampaknya dia mengingat sesuatu yang cukup dilupakan. Walaupun dia sudah tua, tapi ingatannya masih bagus. Hanya saja ... tentang dua kucing mutasi dewa itu, tampaknya dia agak lupa.
"Aku memang pernah menyelamatkan mereka. Tapi lupa kejadiannya. Lagi pula sudah bertahun-tahun sejak aku juga pergi ke Sekte Hitam." Pensiunan Kaisar menggelengkan kepala. "Tapi tentang pegunungan dewa itu, Kakek tahu cukup banyak. Itu ada di Utara."
__ADS_1
"Apakah benar-benar spiritual?"
"Ada legenda yang mengatakan jika pegunungan dewa adalah tempat yang tak bisa terjamah oleh manusia. Ada juga yang mengatakan jika itu adalah tempat para penjaga yang mengurung kegelapan. Tapi mungkin jiwa Hei Long yang merasuki Zhen Juan saat itu juga lepas dari sana," tuturnya sedikit tidak yakin.
Di sisi lain, Ibu Suri menghela napas tidak berdaya. "Negara kita telah berperang dengan para binatang mutasi kegelapan sejak dulu. Sampai sekarang, sungguh semakin parah. Su'er ... Apakah kamu dan Xian'er akan kembali ke barak militer dalam waktu dekat?"
Wanita tua itu juga memakan sup herbal buatan Li Chang Su yang baik untuk kesehatan. Tiba-tiba saja, suasana di gazebo kecil menjadi lebih hangat. Belum lagi, bunga-bunga mulai bermekaran saat ini.
Li Chang Su berkedip dan mengangguk. "Ya. Mungkin tidak lama lagi. Namun tergantung Xian. Mungkin setelah kami menyelesaikan beberapa urusan di ibu kota, baru bisa pergi."
Belum lagi, Li Chang Su juga memikirkan Rongyu saat ini. Wanita itu seharusnya memiliki hidup yang tidak panjang lagi. Sihir mandi darahnya tidak akan berjalan lancar dari waktu ke waktu. Terlebih lagi jika Rongyu tahu jika putra mahkota hanya memanfaatkannya saja untuk takhta, bukankah topeng kecantikan palsu di wajahnya akan retak?
Ada banyak pantangan untuk ritual mandi darah. Namanya juga sihir hitam, pasti tak akan menemui akhir yang baik. Li Chang Su sudah melihat dengan kemampuan mata dewanya jika tubuh Rongyu semakin memburuk. Seperti setengah bangkai yang terbungkus oleh bunga muda. Sungguh, menjijikkan di dalamnya.
"Tetaplah di ibu kota lebih lama lagi agar Kakek bisa memakan masakanmu yang enak ini," kata Pensiunan Kaisar mulai membujuk.
"..." Memasak tidak akan memengaruhi hubungan ranjang mereka, pikir Pensiunan Kaisar. Namun tidak berani untuk mengambil suara. Jika salah bicara, dia bisa kena pukulan tongkat lagi.
Setelah menghabiskan waktu cukup lama di istana pasangan itu, Li Chang Su pamit. Dia bermaksud untuk pergi ke kediaman pangeran kedua setelah mendapatkan kabar dari penjaga gelap jika Mu Xianzhai masih ada di sana. Oleh karena itu, ia meminta kusir untuk membawanya ke Istana Pangeran Kedua.
He Ze muncul lagi entah dari mana dan kini tidak memegang kacang rebus, melainkan potongan ubi jalar bakar. Li Chang Su tidak tahu ke mana makhluk berbulu putih itu main saat dia berada di Istana Ibu Suri. Namun ketika melihat potongan ubi jalar bakar yang harum, ia hampir menduga jika tupai putih tersebut mencuri lagi.
Xuxu dan Xuyao yang duduk di seberang Li Chang Su pun sudah terbiasa dengan tupai putih itu sekarang.
"He Ze, dari mana kamu mendapatkan ubi ungu bakar itu?" tanya Xuxu sedikit curiga. Tidakkah makhluk itu mencuri? Pikirnya.
He Ze yang sedang mengupas kulit tipis ubi jalar bakar pun segera menatap pelayan yang masih remaja tersebut dan mendengus kecil. Dia menggigit ubi jalar bakar dengan tenang.
__ADS_1
"Tentu saja ambil dari pedagang," jawabnya polos.
"Apakah kamu membayar?" Kali ini Xuyao yang menatapnya dengan datar.
"Tidak. Aku tidak punya uang untuk dibelanjakan."
"..." Jadi benar-benar mencuri, pikir Xuxu dan Xuyao.
Li Chang Su awalnya cuek saja saat mereka membahas ubi jalar bakar. Namun semakin lama, dia pun menjadi penasaran.
"Kalian menyebut ini ubi ungu? Kenapa?" tanyanya.
"Oh, karena saat digali dari tanah, warnanya ungu," jawab Xuxu polos. "Ada juga ubi merah, ubi putih dan ubi jingga," imbuhnya.
"..." Begitu aneh? Bukankah itu ... "Seharusnya yang kalian maksud itu ubi jalar?"
"Oh, apa itu ubi jalar?" Xuxu bahkan tidak mengenal nama asing ini. Begitu pula dengan Xuyao.
"..." Sepertinya aku memiliki pengetahuan baru di dunia ini, pikir Li Chang Su dengan sudut mulut berkedut.
Sementara He Ze hanya sibuk makan tanpa memedulikan nama makanan tersebut. Mau ubi jalar ataupun ubi ungu, rasanya tetap sama saja. Begitulah menurut pikiran kecil He Ze. Tanpa sadar, sebenarnya dia bisa berubah menjadi manusia. Dikarenakan Xue Zi tidak ada, ia mulai berdamai di ruang artefak.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, kereta kuda akhirnya berhenti di depan pintu gerbang Istana Pangeran Kedua. Si kusir membuat kudanya tenang dan melapor pada Li Chang Su.
"Putri Xian ... Kita telah sampai. Sepertinya ada sedikit keributan di halaman depan." Sang kusir sedikit penasaran.
Keributan? Li Chang Su mengerutkan kening dan segera turun dari keretanya.
__ADS_1