
LI CHANG SU menghela napas dan melihat tupai itu sudah mengeringkan tubuhnya, mengomel sepanjang langkah. Lalu memilih untuk berada di atas kepala Mu Hongzhi dengan nyaman.
Gadis itu hanya tersenyum sambil menyangrai kacang mete.
Tiba-tiba saja, sebuah ide terlintas di kepalanya. "Nah, karena kamu tidak senang aku bekerja ... Datanglah dulu." Dia memanggil pria itu untuk mendekat.
Mu Xianzhai tidak tahu apa yang diinginkan istrinya. Tapi firasatnya mengatakan jika itu pasti buruk. Dia menghampirinya perlahan. Lalu memberikan spatula masak padanya.
"...." Mu Xianzhai menerimanya begitu saja tanpa penjelasan apapun.
"Kalau begitu, kamu yang mewakilinya memasak manisan ini. Aku akan berdiri di sini dan melihatmu memasak. Bukankah itu bagus?" Gadis itu akhirnya terkekeh kecil dan sama sekali tidak membujuknya. Tapi membiarkan dia menggali lubang untuk diri sendiri.
"...." Awalnya Mu Xianzhai berpikir kosong lebih dulu. Sebelum akhirnya menyadari jika tugas ini jatuh padanya.
"...." Kemudian Mu Hongzhi dan yang lainnya sedikit memiliki ekspresi yang mengerikan.
Sepupu ipar, itu bahkan lebih buruk bukan? Mu Hongzhi ingin menangis. Dia berpikir untuk berdiri di sudut gua ruang pintu batu ini tanpa melakukan apapun. Ia tidak mau sepupunya yang baik mulai marah dan menghancurkan batu.
Tuhan, ini bahkan lebih menyeramkan.
Lict, Bell dan Orange tidak tahu seperti apa sifat asli Mu Xianzhai. Tidak ada yang sebaik Mu Hongzhi ataupun Ye Tianli dalam mengenali karakternya.
Wajah Mu Xianzhai mungkin hitam seperti panci wajan. Tapi melihat senyum istrinya yang begitu licik dan tidak senang karena melemparkan tupai itu ke air, ia akhirnya tahu sesuatu. Wanita, jika sudah tersinggung, suasana hatinya mengerikan.
Saat ini jelas sekali bagi Mu Xianzhai untuk mengetahui jika suasana hati istrinya sedang buruk. Mu Xianzhai tersenyum masam dan tidak menolak. Dia menyangrai kacang mete dengan baik. Bahkan jika itu seekor tupai putih yang jelek, hasil masakannya tidak boleh mengecewakan.
"Karena Su'er meminta Suami, itu baik." Dia menghela napas.
"...." Mu Hongzhi kaku seperti batu.
Apakah dia tidak salah dengar apa yang diucapkan oleh sepupunya yang baik? Karena Li Chang Su yang meminta, pria itu tidak keberatan. Lalu bagaimana jika suatu hati diperbudak oleh istrinya? Sepupu, sadarlah!
Mu Hongzhi sedikit gila. Adapun Ye Shi yang menonton pertunjukan makanan anjing, memilih untuk pacaran dengan potongan ayam panggang. Dia tidak peduli. Tidak melihat ... Ataupun menyaksikan sesuatu yang bodoh.
Setelah menyangrai kacang mete dan menaruhnya di piring, pria itu juga juga mulai memasukan sedikit air ke wajan, gula pasir, madu serta sedikit garam. Menjadikannya satu hingga encer. Setelah mendidih dan gula yang dimasak mulai matang, seluruh kacang mete yang tadi disangrai pun dimasukan.
__ADS_1
Aduk-aduk sebentar hingga aroma manis menguar di udara. Tidak lama, hanya beberapa saat sebelum proses akhir, mendinginkannya.
Setelah proses ini, Mu Xianzhai berpikir tidak sulit sama sekali. Membuat manisan kacang mete cukup menyenangkan. Dibantu oleh istrinya yang memberi instruksi dari samping. Dia seperti seorang suami yang memasak bersama di dapur rumah.
Li Chang Su mencicipinya. "Ini pas."
Para anjing tunggal di samping hanya bisa diam-diam memuntahkan kesialan. Ada banyak kacang mete yang dimasak. Semuanya mengkilap karena campuran gula dan madu. Rasanya juga enak. Li Chang Su memasukannya ke toples khusus agar manisan kacang mete tidak mudah menjadi basah.
Tupai putih itu sangat senang dan langsung turun dari kepala Mu Hongzhi untuk mengambil toples. Dengan tubuh kecilnya, dia mengangkat toples itu di atas kepala dan berjalan cukup cepat ke tempat Orange berada.
"Nah, dengan begini, aku tidak peduli dengan kalian lagi. Pergilah. Sisanya serahkan padaku." He Ze berkata dengan santai, duduk di dekat Orange sambil makan manisan kacang mete.
"...." Semua orang juga tidak ada yang peduli dengannya sejak awal.
Mu Xianzhai sedikit lelah. Lebih tepatnya, dia berpura-pura lelah di depan istrinya untuk mendapatkan perhatian. Menurut ajaran pamannya, untuk mendapatkan perhatian dari seorang istri, sangat penting untuk menunjukkan tanda-tanda lemah.
Seberapa kuatnya pria, mereka juga kelelahan secara fisik dan mental.
"Suamiku, kamu bekerja keras. Hasilnya sangat bagus. Lebih enak daripada buatanku. Nah, minum dulu."
Setelah menyelesaikan urusan di sini, mereka benar-benar melanjutkan perjalan. Bell cukup enggan berpisah dengan Orange. Sehingga diseret oleh Mu Hongzhi secepat mungkin.
Kepergian mereka membuat He Ze menghela napas dan mengubah diri menjadi manusia. Seorang pria serba putih, membuat Orange meragukan bahwa pria tampan di dekatnya itu bukanlah He Ze. Melainkan seorang raja.
"Bisakah kamu menjadi seekor kucing? Aku akan menggendongmu nanti, agar lebih mudah bepergian."
He Ze berkata sambil mengambil kembali toples manisan kacang mete. Ia makan satu persatu, tanpa memedulikan keheningan Orange.
"...." Orange mengangguk. Setelah memejamkan mata, dia langsung berubah menjadi seekor kucing berwarna jingga keemasan dan bertelinga hitam.
Kucing itu seukuran normal, mengeong satu kali sambil duduk dengan nyaman. Saat menjadi kucing, dia memiliki tenaga untuk berjalan dan melompat. Meskipun tidak bisa menyerang karena masih lemah secara fisik.
"Kapan kita pergi?" tanya kucing itu.
"Sekarang juga. Aku akan membuat pelindung aura di lembah dan menyingkirkan semua bukti pertarungan." He Ze menyimpan manisan kacang mete ke ruang pikirannya sendiri, lalu meraih kucing itu.
__ADS_1
"...." Orange tidak berdaya dan patuh berada di pundaknya.
Sementara itu di sisi lain ...
Setelah meninggalkan ruang pintu batu, Li Chang Su dan yang lainnya mematikan obor di dinding—menghilangkan semua bekas tanda-tanda kehadiran manusia.
Hanya ada obor dan lentera di tangan Lict yang telah pulih dengan cepat. Ini semua berkat obat dari Li Chang Su. Mereka hanya mengalami sedikit sakit di beberapa bagian tubuh saja.
"Apakah perjalanan menuju inti bumi cukup jauh?" tanya Mu Hongzhi.
"Lumayan." Bell segera berubah mejajdi yang seekor kucing emas keperakan. Anting lonceng di telinganya berbunyi lembut berulang kali.
"Ambil jalan tercepat!" Mu Xianzhai berkata.
"Bisa saja. Tapi ... Apakah kalian yakin?" Dia berada paling depan untuk memimpin jalan. Bulu ekornya yang cukup lebat bergoyang berulang kali. Sebenarnya, dia enggan untuk menginjak jalan terowongan yang kotor.
Ye Shi berjalan paling belakang. Memastikan untuk menjaga jika sesuatu terjadi. "Apakah ada masalah?"
"Tempatnya agak mengerikan, penuh bahaya. Tapi tidak ada binatang mutasi. Hanya saja tempatnya agan aneh menurutku." Kucing itu berkata jujur.
Dia pernah datang ke jalan pintas menuju inti bumi. Dan itu menyeramkan. Pada akhirnya, dia kembali dan mengambil jalan aman. Sekarang, jika Mu Xianzhai ingin mengambil jalan berbahaya itu, dia mungkin melompat ke pelukan mereka untuk mencari aman.
"Ambil jalan pintas," kata Mu Xianzhai memutuskan. Ia sudah memikirkannya sejenak dan naga perak berkata dalam pikirannya.
"Mu Xianzhai ..." Li Chang Su khawatir jika itu benar-benar berbahaya.
Tapi pria itu segera tersenyum dan menggelengkan kepala. Meyakinkan istrinya lagi untuk yang ke sekian kali. Ada dia di sini, semuanya akan teratasi.
Karena sudah diputuskan, kucing mutasi dewa berbulu emas keperakan itu memutar bola matanya dan mengambil jalan lain. Semakin berjalan jauh, suasananya cukup mencekam dan tidak nyaman. Belum lagi, jalanan semakin mengecil.
Hingga saat mereka tiba jalanan menurun, Bell tidak berani pergi dan melompat ke pelukan Mu Hongzhi.
"Sampai di sini, aku hanya tidak ingin memimpin," katanya seraya meremangkan bulu-bulu di tubuh.
"Kenapa? Apakah ada sesuatu di bawah sana?" tanya gadis itu.
__ADS_1