Menjadi Istri Cerdas Raja Perang

Menjadi Istri Cerdas Raja Perang
Istirahat Setelah Perang Berakhir


__ADS_3

PERTARUNGAN malam itu berlangsung lama tanpa henti hingga fajar menyingsing di ufuk timur. Pada saat itu, serangan binatang mutasi berkurang bahkan hampir mati semua. Para elang putih mutasi membawa banyak binatang mutasi yang masih hidup untuk makanan.


Adapun bangkainya, elang putih mutasi pemakan bangkai pun segera mengambil mereka dengan tenang, pulang ke tempat asal. Elang gunung mutasi yang kini masih berwujud pria tampan itu menyipitkan mata.


Hanya tinggal sedikit lagi. Pria bersurai perak itu yakin para manusia dan semua binatang mutasi golongan cahaya lainnya mampu mengurus sisanya. Ye Shi tiba-tiba saja muncul di sampingnya sambil melihat kedua tangan di dada.


"Kupikir kamu tidak akan muncul secara pribadi," katanya dengan senyum datar di balik topeng rubah.


"Memang. Tapi aku penasaran dengan apa yang ingin dilakukan kalian para manusia." Pria bersurai perak tersebut hanya meliriknya dengan acuh tak acuh.


Keduanya tidak mengobrol lama. Musim dingin hampir berakhir dan kehangatan di seluruh daratan pun pasti terjadi. Pria bersurai perak itu segera melompat tinggi dan mengubah dirinya menjadi seekor elang gunung mutasi raksasa. Ada embusan angin yang tercipta saat sayapnya mengepak ke langit.


Dia bersuara nyaring seraya mengucapkan perpisahan pada Ye Shi. Mungkin suatu hari nanti, mereka akan bertemu lagi. Embusan angin yang cukup kencang itu membuat jubah yang dipakai Ye Shi berkibar. Melihat elang gunung mutasi semakin menjauh, pria itu menghela napas panjang. Ye Tianli lalu menghampirinya dan berdiri dengan tenang, melihat ke arah elang gunung mutasi terbang menjauh.


Sepertinya, akan ada sedikit kedamaian untuk beberrapa tahun ke depan. Dia sudah menebak jika binatang mutasi kegelapan masih ada di luar sana, memenuhi beberapa wilayah yang mungkin sudah tidak lagi dihuni oleh manusia.


“Bersantailah untuk sementara waktu.” Ye Tianli berkata seraya menatap Li Chang Su dan Mu Xianzhai yang ada di bawah sana.


“Apa kamu meramal?” cibirnya.


“Bukan meramal, tapi memprediksi.”


“Itu sama saja. Sama-sama memperkirakan.” Setelah berkata demikian, Ye Shi turun dan pergi dari sana.


“...” Benarkah? Pikirnya.


Para prajurit yang berhasil melewati malam tadi pun kini bersorak untuk kemenangan dan berduka untuk para saudara seperjuangan mereka yang gugur di medan perang. Meski begitu, para jenderal menghormati mereka dan segera meminta yang lain untuk mengumpulkan semua mayat, lalu akan dipulangkan ke keluarga masing-masing.

__ADS_1


Di sisi lain, Li Chang Su yang sedikit pucat pun hanya bisa duduk di tanah bersalju yang masih bersih. Dia mungkin tidak bisa melihat betapa indahnya mentari terbit di ufuk timur. Tapi setidaknya, menghadapi akhir musim dingin tahun ini, ia masih bisa merasakan kehangatan.


Mu Xianzhai duduk di sampingnya dan menyimpan pedang. Ia sudah terbiasa kelelahan setelah bertarung. Para binatang mutasi kegelapan ini jujur saja tidak sehebat manusia. Dulu, Mu Xianzhai selalu mampu mengalahkan musuhnya melalui bantuan gelang naga perak. Tapi selain itu juga, dia belajar banyak sejak kecil. Apa lagi, dia tidak lagi memiliki ibu selir.


Li Chang su adalah satu-satunya orang yang penting baginya saat ini. Dulu ada neneknya dan juga kakek, ayah serta paman. Kini ia tahu bahwa semua kasih sayangnya pada mereka tidak sebesar dia menyayangi istrinya.


“Berapa tahun yang dibutuhkan untuk berlatih sebelum jiwa Hei Long menjadi semakin sulit diatasi?” tanya gadis itu seraya menyeka keningnya dengan punggung tangan.


“Setidaknya tiga tahun. Waktu kita tiga tahun.” Mu Xianzhai tidak meyembunyikannya.


“Kenapa kamu begitu yakin?”


“Naga perak berkata padaku waktu itu jika dia bisa membentuk tubuh nyata, tapi kamu harus kuat lebih dulu sehingga tenaga dalam yang kamu miliki bisa mengembun di gelang naga perak. Dengan begitu, dia memiliki energi yang cukup.”


“Ternyata seperti iu. Tiga tahun, itu sudah cukup.”


Dalam kurun waktu tiga tahun itu, bisakah dia membujuk istrinya untuk rencana memiliki anak?


Karena semuanya sudah selesai, mereka semua kembali ke tenda dan beristirahat. Para prajurit yang terluka juga segera dibawa untuk perawatan. Li Chang Su dan Mu Xianzhai kembali ke tenda, diikuti oleh Lict dan yang lainnya. Kuda putih mutasi serta Xue Zi tidak bisa masuk tenda lebih dulu. Mu Xianzhai masih merasa jijik dengan bulu mereka yang dikhawatirkan akan mengotori tendanya.


Li Chang Su mendapatkan berita jika Rongyu terluka cukup parah hingga hampir pingsan. Jenderal Rong mungkin muntah darah saat tahu jika putrinya yang menjadi kebanggaan itu kini harus memiliki luka di tubuhnya. Belum lagi serangan binatang mutasi kegelapan juga memiliki racun.


Gadis itu hanya mencibir saat mendengar dari para prajurit lainnya. Dengan menggunakan sihir mandi darah di masa depan, Rongyu akan sulit lepas dari kematian. Tapi tentang racun binatang mutasi kegelapan, dia juga memiliki beberapa luka cakaran. Kini luka itu terasa sedikit perih dan nyeri.


“Sepupu Ipar, mungkin lukamu infeksi. Sebaiknya segera diobati.” Mu Hongzhi yang baru saja selesai minum pun segera khawatir. Dia sendiri hanya memiliki beberapa luka kecil, tapi tidak mengandung racun karena ada kuda putih mutasi yang membantunya sejak awal.


“Aku tahu. Kalian keluar dulu.” Gadis itu mengusirnya.

__ADS_1


Setelah Lict dan Mu Hongzhi keluar tenda, wajah Li Chang Su tiba-tiba saja pucat. Dia menyentuh dadanya yang sedikit berdebar. Ia memang keracunan. Selama bertarung semalam, ia menekan racunnya.


Mu Xianzhai segera mengerutkan kening dan menghampiri istrinya untuk membantu melihat semua luka yang didapatnya selama pertarungan semalam. Sebenarnya tidak ada luka dalam, hanya goresan dari cakar binatang mutasi. Ketika ia melihat lukanya, ternyata sudah mulai menghitam.


Li Chang Su mengeluarkan botol giok kecil berisi cairan eliksir. Dia meminta Mu Xianzhai membersihkan lukanya dulu dengan cairan antiseptik, lalu mengoleskan eliksir sedikit demi sedikit.


"Tuan!" Suara He Ze dari luar tenda terdengar cukup nyaring.


Pria serba putih itu hendak memasuki tenda dengan ekspresi yang bahagia. Tapipi tiba-tiba saja ketika dia hendak mengatakan sesuatu, tenaga dalam Mu Xianzhai menguar dan segera mendorongnya begitu saja. Dia terpental ke belakang lalu terkapar.


Dia kebingungan hingga mengumpat pada Mu Xianzhai. Pria itu hobi sekali menindas leluhurnya. Belum lagi ada Mao Mao tak jauh darinya—menertawakan dia begitu parah. Untung saja kucing putih itu tidak memiliki majikan yang kasar seperti Mu Xianzhai. Rasanya lebih beruntung memiliki pemilik seperti Mu Yishu.


"Kamu berani menertawakanku!" He Ze marah dan malu hingga segera berubah menjadi tupai. Lalu berlari ke arahnya untuk menyerang.


"Ah! Kacang Kecil, aku hanya merasa kamu sangat lucu!" Mao Mao juga mengubah dirinya menjadi kucing putih agar tidak kesulitan saat melawan tupai itu.


"Lucu ekorku!" He Ze mengejek dan segera mengayunkan cakar kaki depannya untuk mencabut kumis kucing putih tersebut.


"Wohhh, kumisku! Jangan tarik kumisku!" Mao Mao merasa kesakitan dan mencoba untuk menampar tupai pemakan kacang itu. Tanpa sengaja dia menginjak ekor berbulu lebat He Ze.


"Dasar pemakan ikan! Jangan injak ekorku!" teriak He Ze tak kalah keras.


"..." Para penjaga yang sejak awal hanya bertugas untuk berpatroli di sekitar pun hanya melihat seekor kucing dan tupai itu saling mencakar, menjambak dan menginjak.


Pertarungan dua hewan penjaga ruang artefak gelang naga perak itu sebenarnya cukup menghibur ....


Tak jauh dari mereka, Xue Zi yang berada di kepala kuda putih mutasi pun segera memiliki tiga garis hitam di kepala. Apakah benar jika tupai dan kucing itu adalah penjaga ruang gelang naga perak? Kenapa mereka mulai meragukannya?

__ADS_1


__ADS_2