Menjadi Istri Cerdas Raja Perang

Menjadi Istri Cerdas Raja Perang
Kemunculan Kalajengking Mutasi Di Ibukota


__ADS_3

YE TIANLI tidak segera menjawab. Ada dua selir yang dia bawa ke penginapan ini. Mereka setidaknya ada di halaman lain. Tapi dalam keseharian, dia lebih nyaman sendiri atau pergi ke gedung hijau untuk mencari hiburan. Jika ada wanita yang dia suka atau wanita itu rela menjadi selirnya terlepas dari apapun kondisi, dia mungkin dengan murah hati menerimanya.


Dia memiliki rumah di ibukota, memang benar. Tapi hanya sedikit orang yang tahu tentang ini, termasuk Li Chang Su.


Rumahnya tidak kalah seperti bangsawan lainnya. Luas dan mewah. Keuangannya yang stabil membuat apapun yang dia inginkan bisa terbeli. Kecuali untuk gadis ini, dia sungguh tidak paham.


Apa yang membuat Li Chang Su bertahan dengan kepribadian Mu Xianzhai yang kejam?


Menurutnya, takdir gelang naga perak cukup tidak masuk akal. Jika Li Chang Su memang takdir gelang naga perak, maka dia benar-benar dikalahkan.


Benar saja, ketika gadis itu melepas jubah hitamnya, gelang naga perak melingkar di pergelangan tangan kiri. Membuat dia tertegun beberapa saat dan tersenyum pahit.


"Gadis, aku berduka untukmu," katanya sedikit bergumam.


"Apa?" Li Chang Su mengerutkan kening saat mendengar Ye Tianli bicara pelan.


"Tidak ada. Lupakan saja. Aku hanya bicara santai."


Ye Tianli masih menunjukkan senyumnya yang tidak memiliki masalah apa-apa.


Dunia ini ditakdirkan untuk kejam padanya. Sebagai pria dengan banyak wanita, dewa mungkin marah karena menganggapnya serakah. Jadi uji dia dengan patah hati terhadap seseorang yang disukainya.


Li Chang Su sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Gelang naga perak ini tidak mau lepas darinya. Benar-benar diyakinkan oleh Mu Xianzhai. Tapi, selama pria itu tidak memaksanya, dia masih bisa bersabar.


Setelah berbicara cukup lama, Li Chang Su meninggalkan penginapan. Dia memakai kembali jubahnya dan berjalan di sekitar jalan ibukota yang ramai. Hujan untungnya sudah reda sejak semalam. Kemungkinan besar, salju akan turun. Cuaca yang tidak menentu ini. Kenapa salju harus turun.


Setidaknya, butuh satu minggu untuk turun salju. Li Chang Su lebih suka hujan biasa daripada salju. Karena awal musim dingin ini cukup buruk. Beberapa binatang mutasi ketahuan menyelinap ke perkotaan dan desa. Membuat prajurit juga ditugaskan di banyak tempat. Bahkan, Li Chang Su secara tidak sengaja melihat seekor kalajengking seukuran penyu. Cukup besar.


Dan itu sangat mengerikan.


"Kenapa begitu banyak kalajengking besar?" Gumamnya.


Dia pun membunuhnya dengan kejam. Lalu buang ke tempat yang sepi agar tidak diketahui orang lain. Kalajengking sebesar itu sudah cukup mengakui hati para warga yang polos. Tapi dari mana datangnya binatang mutasi beracun itu?


Li Chang Su yang awalnya ingin pergi ke penginapan pun, mengubah niatnya. Dia kembali ke tempat semula di mana kalajengking itu ditemukan. Lalu mencari lubang. Biasanya, kalajengking hidup di bawah tanah atau di bawah batu, bahkan lubang pepohonan yang lapuk.

__ADS_1


Ada semak-semak lebat di sisi pemukiman. Li Chang Su menggunakan penglihatan mata dewa untuk mengetahui di mana lubang itu berasal. Dan dia cukup kaget ketika melihat ada lima sampai tujuh lubang dengan ukuran yang sama, tersembunyi di semak-semak dan di belakang bebatuan besar. Belum lagi, dia juga memperhatikan, ada beberapa kalajengking dengan ukuran yang sama, bersembunyi.


Tidak heran ...


Tapi ini bukanlah akan membahayakan banyak orang?


Dia tahu bahwa kalajengking ini bisa menggali tanah, mungkinkah ... Setelah bermutasi, mereka memiliki kemampuan untuk menggali tanah sejauh itu?


Setelah menaburkan bubuk khusus dia sekitar daerah lubang, dia segera pergi ke salah satu prajurit yang berpatroli. Dia menepuk prajurit kecil itu dan mengatakan bahwa ada beberapa lubang tempat kalajengking mutasi bersembunyi. Setelah memberi tahu di mana tempatnya, dia pun pergi sebelum prajurit itu menyadarinya.


"Eh, ke mana dia pergi?" Prajurit kecil itu kebingungan, memperhatikan sekitar.


Salah satu rekan tugasnya pun menepuk bahunya, "Ada apa?"


"Seseorang dengan jubah hitam baru saja memberi tahuku bahwa ada lubang kalajengking mutasi dekat pemukiman warga. Dia mengatakan tempatnya juga."


Tanpa menunggu lama, temannya itu khawatir jika informasinya benar. Dia pun pergi lebih awal untuk memastikannya. Dengan tombak di tangan, kedua prajurit kecil itu pergi menuju tempat yang dikatakan orang berjubah itu. Setelah memeriksanya dengan menusuk beberapa semak tinggi, keduanya dikagetkan dengan kemunculan tiba-tiba seekor kalajengking mutasi.


Di mana mereka berani, kalajengking itu besar dan mengerikan. Tubuh hitam kemerahan seperti sangat beracun. Keduanya pun segera berteriak memanggil penjaga yang lain untuk membantunya menyelesaikan masalah ini.


"Bagaimana orang berjubah itu tahu bahwa ada kalajengking mutasi di sini?" Tanya prajurit tadi dengan kebingungan.


Rekannya menunjuk ke bangkai kalajengking mutasi yang mati terpotong tak jauh dari mutasi.


Mungkinkah orang berjubah tadi memotongnya dan memberi tahu mereka? Ini mungkin masuk akal. Kemunculan kalajengking mutasi ini membuat warga yang mengetahuinya pun ketakutan. Mereka disuruh untuk berdiam diri di rumah sampai masalah ini diselesaikan.


Ketika kaisar mengetahui adanya binatang mutasi ini, seluruh pasukan dikerahkan lagi. Mereka memeriksa beberapa lubang mencurigakan yang disangka sebagai persembunyian kalajengking atau binatang mutasi yang hidup di bawah tanah lainnya. Mu Xianzhai juga memerintahkan bawahannya untuk memeriksa tembok kota.


Di sisi lain, Li Chang Su sudah kembali ke penginapan yang disewa oleh Mu Xianzhai. Ada beberapa pelayan yang melayaninya di sini. Semuanya atas perintah Mu Xianzhai. Tapi jika dia tidak nyaman, pria itu berkata boleh untuk mengusir pelayan. Li Chang Su tidak mengusirnya, tapi memerintahkan mereka untuk membuatnya tenang.


Setelah melepas jubah dan membersihkan diri, dia mempelajari beberapa hal dari buku panduan tenaga dalam jaman dulu. He Ze tidak keluar dari ruang artefak kali ini. Tupai itu mengigil kedinginan setelah ditendang ke kolam air terjun oleh Li Chang Su.


Melihat langit mendung, mungkin bencana akan datang. Tapi kali ini sungguh berbeda. Dia khawatir jika badai akan menerpa beberapa negara di dunia. Kenapa semenjak dia mulai memahami dunia kuno ini, selalu saja ada bencana yang tidak terduga? Mulai dari gerombolan binatang mutasi dan beberapa tempat beracun lainnya.


Intinya, banyak sesuatu yang belum pernah dia lihat di kehidupan modern. Memegang buku kultivasi kuno, dia menghela napas pasrah, "Sungguh melelahkan hidup dengan keadaan seperti ini. Tidak ada AC atau televisi, atau film yang selalu aku tonton saat senggang," gumamnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di istana putra mahkota, para pelayan menundukkan kepalanya, ketakutan. Kali ini, pria jangkung dengan jubah bersulam piton emas itu menggertakkan gigi, baru saja menghancurkan cangkir teh. Selir yang menemaninya juga tidak mampu untuk angkat bicara.


Mengetahui bahwa kalajengking mutasi telah muncul di ibukota, dia telat mengetahui informasinya. Tanpa diduga, sebenarnya Mu Xianzhai dan pangeran kedua sudah bergerak lebih dulu. Para bawahan yang berlutut hanya bisa pasrah dan menunggu perintah lain dijalankan.


Putra mahkota—Mu Lizheng, memiliki sedikit persamaan wajah dengan Mu Xianzhai. Tapi sifatnya yang kasar dan egois membuat dia terlihat lebih sombong. Di mata masyarakat, dia terkenal sebagai pangeran dengan keindahan Negara Bingshui. Seperti kaisar di masa muda. Tapi jika dibedakan dengan dominasi dan kekuatan, jelas Mu Xianzhai lebih unggul dan berpengalaman.


Itulah kenapa dia selalu benci ketika saudara ketiganya ini mencuri perhatian masyarakat di saat-saat tertentu. Sekarang saja, dia tertinggal informasi. Para bawahannya yang tersebar di ibukota begitu lambat untuk mengetahuinya.


"Apakah ini cara kerja kalian?" Teriaknya marah, menatap bawahannya dengan ganas, "pantas mati!!"


"Mohon Yang Mulia untuk mengampuni. Kami bersedia menerima hukuman," para bawahannya gemetar, merasa berkeringat dingin.


Tak ada yang lebih tahu dari mereka tentang kekejaman putra mahkota. Citranya yang agung dan peduli di depan masyarakat, sebenarnya menyimpan banyak noda hitam di belakang.


Mu Lizheng awalnya memegang pedang dan ingin membunuh mereka. Tapi, semakin dia membunuh bawahannya, maka orang-orang yang akan dia suruh pasti berkurang. Kaisar juga akan menanyakan keberadaan mereka jika ketahuan. Karena bagaimanapun juga, mereka adalah orang-orang yang dikirim oleh permaisuri.


Dia melemparkan pedang pada penjaga pribadinya dan menuang teh ke cangkir baru. Meminumnya dengan kasar. Kemarahan di wajahnya belum surut. Para pelayan atau bawahan yang ada di gazebo itu benar-benar berkeringat dingin. Tuhan tahu betapa marahnya putra mahkota ini. Kepala bisa jatuh ke tanah jika melakukan kesalahan fatal.


"Kenapa kakakku marah?"


Seorang wanita bergaun putih angsa berjalan anggun menuju gazebo. Dua pelayan mengikutinya di belakang, menjaga.


Ketika para pelayan istana putra mahkota melihatnya, mereka dengan cepat membungkuk dan hormat, "Salam Putri Mahkota."


"Kalian bebas," wanita itu mengangkat satu tangannya dengan malas, meminta mereka untuk tidak melakukan upacara normal.


Mu Lizheng melirik adiknya yang datang, buru-buru bangkit dari duduknya dan keluar gazebo. Dia menyambutnya dengan senyum hangat.


"Kenapa Ying'er datang? Tidak pergi mengunjungi ibu?" Tanyanya lembut. Nada bicara dan ekspresi berbeda jauh dari pada yang tadi.


"Jenderal Rong menemui ibu lagi dan meminta Kakak untuk mengatasi Rongyu itu!" Cibirnya.


Mu Ying merupakan putri mahkota. Usianya sekarang dua puluh tahunan. Lima tahun lebih muda daripada Mu Lizheng. Sejak kecil, dia sudah dimanja oleh kakaknya ini, sehingga beberapa rahasia kadang diketahui bersama.

__ADS_1


Saat mendengar nama Rongyu, putra mahkota mendengus. Masalah wanita itu lagi! Jika bukan karena dukungan Jenderal Rong yang bisa memperkuat posisinya, dia mana mungkin peduli dengan wanita itu.


"Apakah mereka ingin aku bertransaksi dengan Mu Xianzhai lebih cepat?" Tebaknya. Kedua tangannya mengepal erat. Setiap kali nama pangeran ketiga ini terucap, dia memiliki luka di hatinya.


__ADS_2