Menjadi Istri Cerdas Raja Perang

Menjadi Istri Cerdas Raja Perang
Perjalanan yang Tertunda


__ADS_3

PARA BINATANG mutasi raja itu ingin berkata jika mereka tidak takut dengannya. Tapi gelang naga perak itu membuat mereka merinding.


Li Chang Su memegang segela susu hangat di tangan kirinya, lalu meminum perlahan. Walaupun memakai jubah hangat, tubuhnya masih sedikit kedinginan. Untunglah, setelah meminum segelas air roh tadi, kakinya memiliki tenaga untuk berjalan.


"Su'er ... Ini sangat dingin. Kenapa keluar?" tanya Mu Xianzhai, khawatir jika gadis itu akan sakit.


"Ada apa? Apakah kamu akan membicarakan wanita itu dengan gembira sekarang?" cibirnya dengan sedikit ejekan di wajah.


"...." Mu Xianzhai tidak berdaya, hanya tersenyum dan menariknya dalam pelukan dengan hati-hati agar segelas susu itu tidak tumpah.


"Apakah Su'er cemburu?"


"Siapa yang cemburu? Itu kenyataannya!" Gadis itu tidak mau mengakui.


Mu Xianzhai menghela napas panjang dan mencubit pangkal hidungnya. "Kenapa kalian para perempuan selalu cemburu oleh sesuatu yang tidak pasti? Aku sangat membenci wanita itu dan berharap akan segera mengakhiri hidupnya."


Dia terkekeh dan merapikan anak rambut di sekitar daun telinga. Li Chang Su memerah. Pria ini pasti sedang menggodanya saat ini. Ya, pasti sedang menggodanya.


Adapun para binatang mutasi raja golongan cahaya yang kini terdiam, seperti sedang menyaksikan seekor naga jantan memanjakan pasangannya. Meski penggambaran ini begitu jelas, tapi tak ada satupun dari mereka yang berani untuk mengatakannya secara langsung.


Atau, jika mereka tersinggung, urusannya beda lagi.


"Lupakan tentang itu. Lalu bagaimana dengan mereka sekarang?" tanyanya seraya menatap para binatang mutasi raja itu.


"Mereka akan dibiarkan tinggal di hutan."


"Kupikir kamu akan menguliti bulu mereka. Sayang sekali. Padahal bulu mereka tampak cantik." Dia menggelengkan kepalanya, merasa menyesal tidak bisa membunuh mereka.


"Apakah Su'er menginginkannya?"


"....." Para binatang mutasi cahaya itu sepertinya ingin menjauh dan berdo'a jika Li Chang Su memiliki kebaikan hati.


"Tidak. Aku hanya merasa bulu mereka indah saja. Tapi tidak mau bulu mereka. Itu akan menjadi sampah di tanganku." Li Chang Su mengerutkan kening dan meminum susunya lagi.


"....." Apakah mereka begitu kotor? Begitulah pikiran para binatang mutasi raja saat ini.


Mu Xianzhai hanya membiarkan para binatang mutasi itu pergi kapan saja. Sedangkan dia sendiri membawa Li Chang Su kembali ke tenda untuk menghangatkan diri. Perjalanan kali ini mungkin akan sedikit lebih berbahaya.

__ADS_1


Karena hari ini salju turun cukup lebat, Li Chang Su dan Mu Xianzhai mengurungkan niatnya untuk pergi ke luar perbatasan. Bahkan Mu Hongzhi sendiri awalnya sudah siap untuk pergi kapan saja.


Namun kali ini, melihat makanan tersaji di meja, dia lebih memiliki malam lebih dulu. Bahkan saat Li Chang Su dan Mu Xianzhai kembali ke tenda, dia belum selesai.


"Sepupu, Sepupu Ipar, bagaimana dengan para binatang mutasi itu?"


"Mereka akan bebas dengan sendirinya." Mu Xianzhai tidak menatap Mu Hongzhi dan mencari tempat untuk duduk. Setelah itu, dia melepaskan jubah dan membaca gulungan laporan.


Sebelum pergi untuk mencari tahu situasi di luar perbatasan, dia harus mengatur sesuatu dulu. Untung saja semua formasi sudah diserahkan pada para jenderal sebelumnya. Dan Mu Hongzhi sudah memasang beberapa formasi jebakan.


Li Chang Su tahu jika cuaca yang buruk ini akan menghambat perjalanan mereka. Meskipun itu menggunakan kereta kuda. Jalanan pasti dipenuhi dengan tumpukan salju.


Oleh karena itu, dia tidak ingin mendesak Mu Xianzhai untuk pergi. Dia duduk di samping pria itu setelah menghabiskan segelas susu hangat.


"Apakah urusanmu di sini sudah selesai?" tanyanya.


"Ya. Kita akan berangkat nanti. Persiapan semua yang kamu butuhkan. Bawa cadangan makanan agar tidak kelaparan di perjalanan." Mu Xianzhai meletakan gulungan laporan itu dan mengusir Mu Hongzhi yang baru saja selesai makan.


Begitu pula kelinci mutasi menjadi korban. Adapun He Ze, itu sudah kembali ke ruang artefak sejak awal. Mu Hongzhi yang diusir oleh sepupunya itu pun tidak mau mengeluh. Pasangan yang saling rangkul itu pasti sedang dipenuhi banyak musim semi di kepalanya.


Apalah daya, dia hanyalah anjing tunggal yang kesepian. Ingin datang untuk mencari wanita penghibur di camp wanita tunasusila, tapi merasa berdosa. Setidaknya, dia ingin merasakan rasanya cinta pertama seperti sepupunya.


"Xue Zi, apakah kamu ingin makan wortel?" Dia bertanya pada kelinci di pelukannya. Sejak tahu kelinci ini bisa bicara, ia tidak lagi ragu.


"Aku ingin wortel yang dingin."


"....." Apakah semua wortel berbeda? Pikirnya.


Sementara, di dalam tenda Mu Xianzhai ....


Kedua orang itu sudah bertautan bibir. Tepat saat Mu Hongzhi tadi keluar, Mu Xianzhai sudah memeluk istrinya dan memberikan ciuman lembut. Membuat suasana menjadi lebih hangat. Setelah selesai berciuman, Li Chang Su memerah dan mendorong pria itu.


Sungguh tidak bisa menahan diri.


Pria itu hanya terkekeh dan merangkulnya. Salah satu tangannya lagi justru memegang kuas. "Buka gulungannya."


"Apa kamu ingin menulis?" tanya gadis itu.

__ADS_1


"Membuat kaligrafi," jawabnya.


"Kaligrafi? Kenapa membuatnya?"


"Ajari kamu."


"....." Li Chang Su mungkin pernah belajar tentang kaligrafi Cina. Tapi tidak tahu seperti apa mahakarya di zaman kuno.


Ia membuka gulungan kertas yang agak halus dan sedikit tebal. Kertas ini memiliki tekstur hampir seperti kain. Sehingga ketika gulungan dibuka, tidak ada jejak menggulung lagi. Mungkin ini bahan yang cukup baik di zaman ini.


Mu Xianzhai mencelupkan kuas ke tinta dengan hati-hati, lalu membuat beberapa goresan halus yang indah. Tanpa jeda dan juga agak tajam. Tebal dan tipisnya goresan akan dipengaruhi oleh bentuk kuas itu sendiri. Namun tidak menyangka jika Mu Xianzhai bisa membentuk banyak goresan tajam berbeda dengan satu jenis kuas saja.


Untuk sementara waktu, Li Chang Su merasa ini hebat. Dia belum pernah melakukan teknik seperti yang dilakukan Mu Xianzhai.


"Bagaimana kamu bisa melakukannya?" Dia sangat penasaran hingg akhirnya bertanya.


"Suamimu ini serba bisa." Pria itu tersenyum bangga. "Apakah Su'er ingin belajar?" tanyanya.


Pria itu menyelesaikan goresan terakhir. Dan kaligrafi di atas gulungan kertas itu kini telah dipenuhinya dengan goresan tinta hitam. Jelas, nama Li Chang Su tertulis dengan sentuhan kaligrafi.


"Apakah aku bisa? Rasanya teknik yang kamu pakai agak rumit," katanya, sedikit tidak yakin.


"Apa yang tiba bisa. Dengan suamimu di sini, semuanya bisa dilakukan. Ayo, duduk di sini, aku akan mengajari caramu melakukannya."


Mu Xianzhai memberikannya ruang agar gadis itu duduk di depannya. Dengan begitu, dia bisa memeluknya dari belakang. Meski Li Chang Su agak tidak mau, dia masih menuruti keinginannya.


Setelah duduk di depannya, Mu Xianzhai membiarkan dia memegang kuas dan menyingkirkan gulungan kertas sebelumnya. Dia mengeluarkan gulungan kertas yang baru.


"Kaligrafi apa yang harus kutulis?"


"Ayo, coba namaku." Mu Xianzhai menyentuh tangan kanan Li Chang Su yang sudah memegang kuas. "Pergelangan tanganmu harus lentur. Jika tidak, hasilnya akan kaku."


Napas hangat pria itu menyemprot di daun telinga Li Chang Su. Membuat wajahnya memerah begitu saja hingga fokusnya hampir hilang.


"Konsentrasi," bisik pria itu seraya fokus pada kaligrafi namanya sendiri.


Bagaimana Li Chang Su akan konsentrasi jika pria itu mengajarimu sambil menggoda. Apakah ini menyenangkan?

__ADS_1


"Mu Xianzhai! Jika kamu berniat mengajariku, berhentilah menggelitik daun telingaku!" Dia akhirnya kesal hingga ingin mematahkan kuas.


__ADS_2