Menjadi Istri Cerdas Raja Perang

Menjadi Istri Cerdas Raja Perang
Menemaninya Tidur


__ADS_3

KEDUA penjaga gelap itu akhirnya menyerah dan menghela napas. Di jalan tadi, mereka jelas bertemu Ye Tianli secara tidak sengaja. Lalu mengenali keduanya sebagai bawahan Mu Xianzhai.


Ketika mendengar ini, pria itu sedikit mengerutkan kening. Di balik topeng, ekspresinya tidak jelas. Apa yang dikatakan Ye Tianli sebenarnya tidak terlalu penting, tapi juga membuat Mu Xianzhai khawatir.


Berhati-hatilah dengan Ye Shi. Pria itu, meski dulu menyukai sesama jenis, tapi kini melirik Li Chang Su. Tidak peduli apakah sudah menikah atau belum, pasti akan datang pada gadis itu. Atau menculiknya.


Sekarang Mu Xianzhai ingat tentang apa yang terjadi di restoran ketika mempertemukan Ye Tianli dengan Ye Shi. Hampir saja melupakannya. Pria itu datang dan menggangu.


Tiba-tiba saja wajahnya gelap, "Ambil beberapa orang dan temukan markas Ye Shi. Aku ingin beritanya besok."


Kedua penjaga gelap itu tahu jika sang raja pasti marah dengan hal ini dan tidak akan membiarkan sang putri dianiaya. Oleh karena itu, keduanya segera pergi untuk menyelesaikan tugas.


Bagi mereka, tidak sulit untuk menemukan markas di mana anak buah Ye Shi bersembunyi. Tidak perlu menghancurkan segalanya, tapi buat beberapa kerusakan untuk peringatan. Jangan macam-macam dengan istri raja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan paginya, salju masih turun. Orang-orang belum banyak beraktivitas di luar. Di sisi lain hutan yang cukup jauh dari perbatasan Negara Bingshui, sekolompok pria berpakaian serba hitam berusaha untuk mematikan api.


Salah satu bangunan dari tempat persembunyian para pembunuh bayaran telah dilumpuhkan oleh pihak lain. Ketika para pembunuh bayaran yang panik itu melapor pada Ye Shi, sama sekali tidak ada perbedaan.


Ye Shi sedang duduk di ruangan yang cukup gelap. Dengan kedua kaki bertumpu di atas meja dan kendi anggur di tangannya, ia sedikit linglung. Wajahnya memerah. Bayangan Li Chang begitu jelas memenuhi pikirannya sejak semalam.


Dia juga tahu kalau hal ini akan terjadi. Mu Xianzhai tidak main-main. Bahkan berhasil menemukan markas pembunuh bayaran miliknya. Beberapa pembunuh bayaran berlutut di depan meja dan melaporkan setiap detail kerusakan.


Ye Shi menyimpan kendi anggurnya dan melihat ke luar jendela. Asap hitam membumbung ke langit.


"Lupakan saja. Kali ini, kita tidak akan menerima permintaan dari siapapun. Tutup diri sendiri," katanya dengan tenang.


"Bos, tidakkah kita akan membalas?"


"Membalas?" Dia menatap bawahannya yang sedikit bodoh, lalu mencibir, "apa yang harus dibalas? Maukah kamu bermain dengan Raja Perang?"

__ADS_1


Saat kata 'Raja Perang' ini terucap, mereka entah tidak tahu kenapa sedikit takut. Seberapa beraninya mereka dalam menculik atau membunuh orang, tidak mungkin mengganggu Mu Xianzhai.


Ye Shi melambaikan tangannya dengan tidak sabar dan membiarkan mereka menyingkir dari matanya. Urusan ini dia akan menanggungnya. Tidak perlu terburu-buru. Akhir-akhir ini, semua permintaan tertuju pada Istana Raja Perang. Jika tidak membunuh Li Chang Su, pasti melukai Mu Xianzhai.


Semua ini membuatnya bosan. Dia tidak mungkin melakukannya. Di sisi lain itu juga, dia tidak miskin. Dan kekalahannya dari Li Chang Su sudah menjelaskan segalanya. Di masa depan, dia hanya akan belajar dari gadis itu.


Saat ini, dia sedang memikirkan cara untuk bisa bertemu dengan Li Chang Su lagi.


Kebakaran markas cabang pembunuh bayaran itu akhirnya sampai ke telinga Mu Xianzhai. Para penjaga gelap telah melaporkan bahwa mereka hanya membakar satu gedung saja.


Ini juga merupakan kemajuan yang bagus. Biarkan Ye Shi berpikir siapa yang tengah dia provokasi saat ini. Melawan Istana Raja Perang nya, tentu tidak akan berdampak baik bagi musuh.


Mu Xianzhai sekarang berada di ruang kerja dan menggulung surat laporan. Setelah mendengar apa yang dikatakan para penjaga gelap, suasana hatinya sedikit membaik. Dia mungkin akan pergi ke Istana Kekaisaran setelah melihat keadaan Li Chang Su.


"Berikan ini pada kaisar dan keputusan ada di tangannya," dia menyerahkan itu pada salah satu penjaga gelap.


"Bawahan mematuhi perintah," setelah menerima gulungan surat, penjaga gelap itu menghilang dari ruang kerjanya.


Mu Xianzhai menyelesaikan semuanya dan wajahnya sedikit lelah. Dia tidak cukup tidur semalam setelah mengerjakan tugas penting dari kaisar. Hal ini dikarenakan kaisar memberinya masa libur tambhan jika bisa diselesaikan lebih cepat. Dan dia ingin menghabiskan banyak waktu dengan Li Chang Su.


Ia pergi ke kamar tidur utama dan melihat gadis itu sudah duduk di depan meja rias. Ada cermin perunggu di depannya. Gadis itu sedang memegang sisir dan merapikan rambutnya dengan hati-hati.


Melihat ada orang yang datang, Li Chang Su tertegun sejenak. Dan melihat pantulan Mu Xianzhai dari cermin perunggu. Untuk sesaat, perasaannya menjadi sedikit salah.


"Su'er .... Apakah kamu sudah merasa baikan?" Tanyanya.


"Ya. Tidak apa-apa, hanya sedikit ruam. Akan baik-baik saja setelah besok," gadis itu tidak menyembunyikan tentang ruam di tubuhnya. Tapi ruam itu juga tidak gatal.


Mu Xianzhai menghampirinya dan mengambil alih sisir, membantu untuk mengikat rambut. Awalnya Li Chang Su tidak ingin pria itu melakukannya. Tapi dia tetap bersikeras untuk mengikat rambut.


Walaupun tidak serapi miliknya, Mu Xianzhai terlihat puas. Lalu pria itu juga mengeluarkan sebuah tusuk rambut yang memiliki bentuk bunga peony. Li Chang Su jarang menggunakan perhiasan. Walaupun janda permaisuri memiliki banyak perhiasan yang ditransfer pada gadis itu di hari pernikahan sebagai mahar, tetap saja hanya bisa tersimpan.

__ADS_1


Kini, ketika gadis itu memakai tusuk rambut ini, sosoknya menjadi lebih cantik. Dengan wajahnya yang hanya memiliki riasan tipis, sudah menguarkan auranya yang penuh percaya diri. Melihat kecantikan di cermin perunggu itu, Mu Xianzhai akhirnya mencium puncak kepalanya.


"Istriku begitu cantik. Aku enggan untuk membiarkabmu keluar," katanya.


"Apakah kita akan keluar?"


"Pergilah ke istana setelah kamu sembuh."


"Lalu bagaimana dengan lukamu?"


"Berkat perawatan Su'er, semuanya baik-baik saja," Mu Xianzhai sedikit tidak bersemangat. Dia agak mengantuk akhir-akhir ini.


Gadis itu bangkit dan memperhatikan jika pria ini mungkin tidak istirahat dengan baik semalam. Tapi malah mengajaknya ke istana. Meski dia tidak sabar untuk mencambuk pelaku yang memperkerjakan paksa orang-orang untuk menambang bijih, namun kesehatan juga menjadi hal utama.


Dia menghela napas dan meminta Mu Xianzhai untuk beristirahat dulu. Mari berangkat besok saja. Pria itu langsung memeluknya dengan erat.


"Su'er, temani aku tidur, oke ...," Katanya sedikit membujuk.


Li Chang Su kaku setelah dipeluk olehnya. Menghirup aroma cendana alami, dia akhirnya berhasil menenangkan diri, "Oke. Tapi jangan macam-macam."


Mu Xianzhai terkekeh, "Jangan khawatir. Aku akan melakukannya setelah kita berdua sembuh. Aku harap Su'er tidak akan keberatan setelah itu."


Keduanya kembali ke tempat tidur. Mu Xianzhai segera meraihnya untuk berbaring, memeluknya dengan tenang. Setelah melepaskan topeng, wajahnya yang kelelahan benar-benar terlihat jelas. Li Chang Su mengeluarkan bantal empuk dari ruang artefak serta segelas air roh untuk menyegarkan tubuh.


Meski Mu Xianzhai berjanji tidak akan melakukan apa-apa, tapi dia masih mencuri beberapa ciuman darinya. Li Chang Su sedikit kesal, tapi tidak bisa menyingkirkan diri dari pelukannya. Pada akhirnya dia menyerah.


"Apakah kepalamu sudah merasa nyaman?" Tanya gadis itu ketika melihat ekspresi damai Mu Xianzhai yang tidak seperti biasanya.


"Ya. Ini sangat nyaman," pria itu memejamkan matanya dengan tenang. Setelah beberapa saat, ia membuka matanya. Dia bisa melihat wajah istrinya yang muda dari jarak sedekat ini.


Tiba-tiba saja hatinya gatal, seperti digaruk sesuatu. Tanpa sadar, tangannya di pinggang gadis itu mengencang. Tuhan tahu betapa sulitnya dia menahan diri untuk tidak menerkamnya saat ini. Dia pria normal yang benar-benar normal.

__ADS_1


"Su'er ... Maukah kamu berjanji satu hal padaku?"


"Apa itu?"


__ADS_2