
LI CHANG SU merasakan embusan napas hangat di daun telinganya yang memerah, tubuhnya segera kaku sejenak. Dia terbiasa dengan perlakuan Mu Xianzhai dan tahu seberapa kuatnya dia ketika keinginannya memuncak. Bahkan dirinya yang masih berusia lima belas tahun, seperti kesemek lembut di tangan Mu Xianzhai.
Dimanja dan memanjakan, Mu Xianzhai pandai merayunya saat tidur hingga Li Chang Su tidak berdaya dan termakan oleh kata-katanya. Sekarang, pria itu menagih apa yang belum terjadi sore tadi, bagaimana mungkin dia bisa melarikan diri?
Dengan cepat, pakaian keduanya tersapu namun Mu Xianzhai tidak langsung menyentuhnya begitu saja. Dia membiarkan istrinya terbiasa dan tidak terburu-buru. Bukankah ini menyenangkan? Semakin dirayu maka hasilnya semakin baik.
Tapi tampaknya Mu Xianzhai tidak bisa menahan diri. Ketika Li Chang Su tahu jika sesuatu yang tidak asing lagi seperti menyetrum tubuhnya, segera wajahnya memerah. Dia menyentuh bahu Mu Xianzhai sedikit lebih kuat.
"Xian ...," gumamnya.
"Yah." Pria itu memejamkan matanya sejenak dan mencetak ciuman panjang di lehernya hingga meninggalkan bekas merah samar. Dia sepertinya kecanduan dengan lehernya.
Ada perasaan geli dan nyaman bagi Li Chang Su. Wanita mana yang tidak mau diperlakukan seperti itu oleh pria yang mereka cintai? Jelas, Li Chang Su juga sama. Bahkan jika dia belum pernah menikah di zaman modern hingga menjadi perawan tua, kadang-kadang gambaran seperti itu muncul, tapi tak berani untuk memulai.
Sekarang dia memiliki suami yang memanjakan. Tubuh pria itu adalah idaman para wanita zaman modern bahkan ketampanannya sendiri seperti konglomerat yang alergi terhadap wanita. Li Chang Su memejamkan mata ketika Mu Xianzhai menciumnya, membuat pria itu memiliki keberanian untuk bertindak lebih jauh.
"Apakah Su'er menginginkan Suami?" goda Mu Xianzhai seraya menyentuh buah persik lembutnya.
Gadis itu melenguh pelan dengan mata yang sedikit berkabut. "Kamu menggodaku," jawabnya.
"Yakinlah, Suamimu ini akan memanjakanmu hingga ke tulang." Mu Xianzhai tersenyum penuh arti dan segera bergerak di atasnya. Walaupun begitu, Li Chang Su masih sering gemetar sedikit saat disentuh, membuat dia menjadi lebih ketagihan.
Keduanya berayun, Li Chang Su melempar tubuhnya dalam beberapa gaya yang diinginkan pria itu hingga keringat halus memenuhi tubuhnya. Jelas Mu Xianzhai tidak berbelas kasihan kali ini bahkan seperti orang yang telah dibius sebelumnya. Li Chang Su hanya tidak menyangka jika malam ini Mu Xianzhai akan sedikit lebih buas dari malam-malam yang lain.
__ADS_1
Pria itu menikmati suaranya dan setiap kali memohon belas kasihan, Mu Xianzhai justru semakin menyukainya. Di saat pohon yang ditanam semakin berkembang dan menumbuhkan kuncup, tak lama bunga-bunga itu bermekaran. Li Chang Su tidak bisa menahan perasaan di akhir sentuhan ini dan hanya meremas sprei dengan teriakan yang parau. Sensasinya tidak bisa dibayangkan.
Mu Xianzhai sendiri membenamkan wajahnya di leher gadis itu dan sama sekali tidak mau melepaskan tubuhnya. Dia juga memiliki perasaan yang sama, bahkan lebih dari apa yang dibayangkan Li Chang Su. Pria memiliki ukuran tersendiri saat bunga-bunga itu mekar di bawah sana.
Setelah menenangkan diri, Li Chang Su merasa tubuhnya lemas. Dia sulit untuk menggerakkan tangannya sekarang hanya karena serangan ekstrem Mu Xianzhai malam ini. Mereka telah melakukannya berkali-kali hingga akhirnya Mu Xianzhai menyerah dan mengasihani istrinya yang kelelahan.
Pria itu turun dan membawa istrinya untuk membersihkan tubuh sebelum akhirnya mengganti sprei dengan yang baru. Li Chang Su terlalu malas untuk bertanya dan dia begitu lelah. Setelah dimandikan pria itu, ia tertidur begitu saja.
Mu Xianzhai tidak berdaya namun dia merasa puas malam ini. Jika Li Chang Su tidak kelelahan, dia masih memiliki tenaga untuk melakukannya lagi. Mungkin karena dia telah dilatih di barak militer sebagai prajurit sehingga tubuhnya memiliki stamina yang lebih besar dari kebanyakan pria biasa.
Memandang wajah istrinya yang damai, Mu Xianzhai tersenyum dan mencium dahinya. "Mimpi indah," gumamnya. Dia segera mematikan lilin yang menyala di atas meja dekat tempat tidur hingga akhirnya kegelapan di dalam kamar menyimpan semua rasa manis tadi.
Keesokan paginya ....
"Bangun?" Suara pria di sampingnya tenang.
Li Chang Su melihat wajah pria yang dikenalnya itu dan terigat kejadian semalam. Segera, wajahnya memerah lagi. Pria itu tersenyum dan sebenarnya sudah bangun sejak pagi tadi. Namun dia ingin menemani istrinya hari ini dan ternyata Li Chang Su begitu cantik. Melihat tanda merah di lehernya, dia merasa lebih puas. Itu adalah segel miliknya.
Melihat gadis itu cemberut, Mu Xianzhai merasa bersalah. "Baiklah, lain kali aku akan lebih lembut. Tapi siapa yang meminta jika istriku begitu cantik dan menggoda semalam?" godanya lagi.
"Kamu hanya hooligan!" ejek Li Chang Su.
"Yah ..." Pria itu segera tertawa kecil dan mencium dahinya. "Jika sudah cukup tidur, bangun dan sarapan."
__ADS_1
"Aku lapar tentunya."
"Biarkan dapur menyiapkan makanan. Aku akan pergi ke istana siang ini untuk membahas masalah perbatasan negara. Kamu patuh menunggu di rumah dan jangan berkeliaran." Mu Xianzhai berkata dengan serius.
Meski Li Chang Su ingin pergi untuk menemukan Lict, pria itu akan meminta seseorang untuk mengundangnya ke sini. Meski istananya selalu aman dan Li Chang Su juga kuat, ia membiarkan penjaga gelap untuk mengawasi sekitar. Dia khawatir jika Rongyu atau pihak putra mahkota akan membuat ulah tersembunyi.
Setelah Mu Xianzhai bangkit dan membersihkan diri, ia langsung pergi meninggalkan rumah. Xuxu dan Xuyao akan menjaga istrinya dengan baik sehingga tak akan ada kecelakaan lain.
Dua pelayan itu segera masuk kamar dan menemui Li Chang Su yang masih meringkuk di tempat tidur. Keduanya tahu apa yang terjadi semalam sehingga wajahnya memerah.
"Putri, Xuxu akan menyiapkan makan siang. Apa yang ingin dimakan?" tanya Xuxu dengan nada yang riang.
"Buatkan sup ayam," jawab gadis itu sangat tidak bersemangat.
"Baiklah." Xuxu segera pergi dengan cepat untuk membantu pelayan menyiapkan makan siang.
Sementara Li Chang Su bangun dan bersandar di kepala ranjang, Xuyao sudah duduk di sisi lain. Li Chang Su sepertinya ingat jika kedua pelayan kecil itu berasal dari lembah racun dan penasaran ingin pergi ke sana. Sayangnya Xuyao tidak ingin hal-hal lama diungkit kembali hingga gadis itu pun tak akan memaksanya untuk menceritakan tentang lembah racun.
Melihat jika Xuyao terlihat sedikit lelah, Li Chang Su menebak sesuatu. "Apakah kamu baru saja bertarung?" tanyanya.
Xuyao sedikit terkejut namun segera menenangkan diri. Lagi pula bukan hal aneh jika Li Chang Su mampu menebak sesuatu. "Ya. Meski terowongan bawah tanah telah dibakar hingga hangus, namun beberapa binatang mutasi kegelapan lain mulai menempati tempat itu," jelasnya.
"Para binatang mutasi kegelapan mulai menempati terowongan bawah tanah lagi?" gumam Li Chang Su merasa heran. Hanya kurang dalam sebulan, ternyata para binatang mutasi kegelapan telah kembali. Mungkinkah ada hubungannya dengan jiwa Hei Long yang terkurung di pegunungan dewa?
__ADS_1