Menjadi Istri Cerdas Raja Perang

Menjadi Istri Cerdas Raja Perang
Awal Bencana (5)


__ADS_3

LI CHANG SU tidak bermimpi atau hanya khayalan. Dia memang ada di luar ruang artefak, duduk di salju dingin dan tenggelam dalam pelukan Mu Xianzhai. Ia tertegun untuk sementara waktu. Ini mungkin ada hubungannya dengan He Ze yang memiliki perasaan aneh, lalu berteriak nyaring. Membuat dia terusir dari ruang artefak.


Setelah pikirannya kembali ke kenyataan, dia melepaskan pelukan pria itu dan mendorongnya untuk menjauh.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanyanya keheranan. Mungkinkah ini ada hubungannya dengan Mu Xianzhai juga?


"Su'er, aku sangat takut kamu menghilang. Jadi menggunakan kekuatan gelang naga perak untuk mengeluarkan mu dari ruang. Maaf ... Aku hanya ingin memastikan kamu aman," jawab pria itu sama sekali tidak mau melepaskannya.


"...."


Li Chang Su tertegun kembali, lalu menundukkan kepalanya sejenak. Dia berkata dengan suara rendah bahwa semuanya baik-baik saja. He Ze sendiri yang baru saja pulih dari rasa sakit kepala pun kita terkapar di dekat kolam. Tadi itu sangat menyakitkan. Jadi dia berteriak. Tanpa sengaja mendorong Li Chang Su keluar dari ruang artefak.


Tupai putih itu baru menyadari jika semuanya gara-gara panggilan gelang naga perak. Mu Xianzhai adalah pelakunya. He Ze bangkit dan menggelengkan kepalanya, lalu memegang ekor berbulu lebatnya dengan enggan. Ini mengerikan. Sejak kapan Mu Xianzhai bisa melakukan itu padanya?


He Ze menggigit ekornya sendiri dan memastikan jika ini bukan mimpi. Dan itu sakit. Karena sakit, dia melompat tanpa sengaja dan tersandung batu pembatas kolam air terjun. Setelah hilang keseimbangan, dia jatuh ke dalam kolam tanpa peringatan.


Ini bukan mimpi! Pikirnya.


Sementara itu, Li Chang Su yang ada di luar ruang artefak pun menyaksikan Mu Xianzhai pergi. Dia diminta kembali untuk masuk ke dalam ruang artefak. Badai salju kali ini tidak akan mudah.


Sementara pria itu harus mengurus beberapa hal dan memberi bantuan pada masyarakat yang kini berbondong-bondong untuk masuk ke ruang bawah tanah.


Salju turun semakin lebat dan hawa menjadi lebih dingin. Seperti negeri es yang mati, kondisi Negara Bingshui tidak beda jauh dengan negara lainnya saat ini. Semuanya dingin dan mengerikan. Binatang mutasi telah mampu melewati benteng perbatasan sehingga pasukan khusus diutus lebih banyak.


Li Chang Su awalnya ingin kembali ke ruang artefak dan mencoba untuk tidak peduli dengannya. Lagi pula, ini hanya hal kecil. Keduanya memiliki urusan tersendiri.


Tapi entah kenapa, Li Chang Su merasa jika punggung pria itu penuh dengan rasa kesepian. Seakan-akan ini seperti akhir dari segalanya.


Bencana badai salju yang mengerikan ini selalu memakan korban. Sepanjang tahun, Mu Xianzhai mungkin banyak mengalaminya. Tapi apa yang terjadi beberapa tahun terakhir, dia tidak tahu.


Setelah berbalik dan memejamkan mata untuk mengakses ruang artefak, tiba-tiba saja gempa bumi yang cukup besar mengguncang sekitar.

__ADS_1


Li Chang Su tidak jadi untuk mengakses ruang dan mengamati sekitar, mengaktifkan kemampuan mata dewa. Dia melihat salju di atas bukit yang tinggi itu tiba-tiba jatuh, bersamaan dengan pecahan batu besar yang mungkin goyah akibat gempa.


Sayangnya, tidak ada tempat lain yang bisa dia pijak untuk menghindar. Dan di teringat Mu Xianzhai. Dia berbalik untuk melihat keberadaan Mu Xianzhai yang mungkin masih ada di sekitar sana. Tapi tidak menemukannya.


Mungkin pria itu sudah pergi ...


Namun Li Chang Su salah. Pria itu sudah ada di sekitarnya dan membopong dia, lalu melompat ke sisi lain dengan cepat, menghindari runtuhan salju dan bebatuan di bukit.


Belum lagi, gempa bumi ini cukup kuat. Mu Xianzhai tergelincir beberapa kali saat mendarat di dahan pohon. Permukaan dahan yang licin karena serpihan salju itu membuatnya haru ekstra hati-hati.


"Turunkan aku. Aku bisa sendiri," kata Li Chang Su, tidak ingin merepotkannya.


"Tidak. Aku bisa membawamu. Jangan sampai terpisah!" Mu Xianzhai mengeratkan pegangannya di tubuh gadis itu dan terus menghindari longsoran salju. Mau tidak mau, keduanya harus turun bukit.


"Tapi ...," Li Chang Su melirik ke belakang dan melihat longsor salju itu semakin dekat.


Dia tanpa daya hanya bisa mencengkeram pakaian Mu Xianzhai dan sangat ingin membawanya memasuki ruang. Tapi pikirannya tidak fokus. Jadi tidak bisa mengakses ruang artefak.


Seandainya saja, tanda sepasang sayap hitam di pergelangan tangan kirinya tidak menghilangkan akibat lelehan lilin, dia bisa masuk ke ruang artefak dengan menyentuhnya.


Mu Xianzhai memiliki ekspresi serius di balik topeng peraknya dan pergi ke sisi yang lain. Kali ini dia mencari pohon besar yang mampu untuk membuat keduanya bersembunyi sebentar. Ketika tubuh Mu Xianzhai hampir terkena longsoran salju, Li Chang Su hanya memeluknya dan memejamkan mata.


Keduanya sudah selesai. Pasti akan dikuburkan oleh salju. Suara longsoran salju dan batu yang jatuh itu sangat berisik dan membuat pikirannya kacau.


Kali ini, keduanya pasti akan terluka oleh baru juga. Detik-detik terakhir sebelum itu terjadi, Mu Xianzhai sudah melompat dengan cepat ke salah satu pohon besar yang kokoh.


Pria itu bersandar di batang pohon sambil memeluk Li Chang Su, menenggelamkan gadis kecil itu dalam pelukannya. Bahkan dia sengaja melepaskan zaoshan-nya untuk menutupi tubuh Li Chang Su agar tidak terkena longsoran salju


Ketika salju yang longsor itu menghantam pohon besar yang berfungsi sebagai tameng, Mu Xianzhai merasa jantungnya berdegup. Gempa bumi masih belum berakhir. Hanya berharap bahwa pohon ini tidak ikut tumbang seperti yang lain. Belum lagi, tampaknya ada batu yang cukup besar menghantam pohon. Membuatnya sedikit khawatir.


Karena apa yang dia dengar, tentu saja batang pohon yang retak. Mu Xianzhai memeluk Li Chang Su dengan erat, memastikannya aman. Salju yang longsor itu mengenai tubuhnya juga. Untung saja longsor ini tidak terlalu ganas, sehingga dia masih bisa mempertahankan tubuhnya dari rasa dingin.

__ADS_1


Li Chang Su ingin melihat apa yang terjadi. Namun Mu Xianzhai sama sekali tidak mengijinkannya untuk melihat apapun selain membenamkan kepalanya dia dada pria itu. Tubuhnya tidak terlalu dingin karena Mu Xianzhai benar-benar melindunginya. Tapi bagaimana dengan dirinya sendiri?


Gempa terjadi hampir lima belas menit dan longsor salju ini tidak terlalu lama. Hanya saja, bebatuan yang runtuh dari atas bukit bisa terjadi kapan saja.


Setelah gempa berakhir, badai salju masih sama. Tanah di sekitar mereka retak dan membuat lubang yang cukup dalam. Belum lagi beberapa warga menjadi korban.


Di bukit, Mu Xianzhai masih belum bergerak untuk pindah ke tempat lain. Dia duduk bersandar di bawah pohon sambil memeluk gadis itu. Di sekitar mereka penuh dengan salju, hampir mengubur keduanya. Li Chang Su merasakan salju yang meleleh di tubuhnya.


"Mu Xianzhai ...," dia memanggil, sedikit menyembulkan kepala dari balik zaoshan yang diberikan pria itu untuk menutupi tubuhnya.


"Ya," suara pria itu sangat rendah dan tidak bersemangat, tapi masih memeluknya dengan erat.


"Apakah kamu baik-baik saja?" Tanyanya.


"Apakah itu dingin?" Dia malah balik bertanya.


Li Chang Su tidak menjawab. Dia memang merasakan serpihan es mulai mencair dan membasahi sedikit gaunnya. Dia yakin, salju ini tebal dan keduanya hampir saja dikuburkan. Jika pohon yang menjadi penghalang ini kecil, mungkin keduanya sudah ditenggelamkan.


Ada retakan halus di batang pohon, membuat Li Chang Su khawatir jika pohonnya akan tumbang kapan saja. Mungkin ini juga menjadi alasan kenapa Mu Xianzhai tidak bisa bergerak lagi. Khawatir akan membuat pohon tumbang.


Mu Xianzhai menyingkirkan serpihan salju yang menempel di rambut Li Chang Su. Wajah kecil itu begitu cantik, bulu mata lentik dan bibir lembutnya merah alami. Dia mengingat sesuatu dan merogoh saku di balik lapisan pertama pakaiannya.


Gadis itu awalnya tidak tahu apa yang dilakukannya. Tapi setelah Mu Xianzhai memasang sesuatu di leher jenjangnya, Li Chang Su terkejut dan tanpa sadar ingin menolak. Tapi Mu Xianzhai tetap memaksanya untuk memakai benda itu.


Setelah benda itu terpasang, Li Chang Su menyentuhnya. Sebuah liontin halus berwarna hijau. Ternyata ini adalah sebuah kalung giok hijau yang dia inginkan ketika ada di pelelangan. Gadis itu benar-benar terkejut kali ini. Kalung yang dia inginkan waktu ini, sebenarnya diberikan padanya?


Li Chang Su menginginkan kalung ini karena memiliki sedikit spiritual ketenangan. Namun siapa yang menduga jika pria itu akan memberikannya di saat yang kurang baik seperti ini.


Melihat Mu Xianzhai yang tersenyum tulus padanya, sangat enggan untuk menolak atau memberinya beberapa kata yang tidak pantas.


"Itu cocok untukmu," pria itu berkomentar.

__ADS_1


"Apa kamu menawar kalung ini karena aku memberi suara penawaran di pelelangan waktu itu?" Tebaknya.


"Karena Su'er menginginkannya, maka aku akan berusaha untuk mendapatkannya. Satu juta tael bagiku bukan apa-apa. Su'er bisa memberi apapun yang diinginkannya," dia menyombong semua hartanya. Bukan hanya sombong, tapi itu kenyataan.


__ADS_2