
MU XIANZHAI memeluk Li Chang Su yang sudah melepaskan jubah hangatnya. Memandang ke luar jendela sambil merasakan kehangatan istrinya, dia merasa lebih damai.
"Su'er, tutup tirainya. Jangan sampai masuk angin." Dia hanya bisa berkata lembut.
"Aku hanya ingin tahu bagaimana cuaca di negara ini begitu ekstrim. Apakah ini juga terkait dengan ledakan racun di masa lalu?" tanyanya penasaran.
"Sepertinya begitu. Tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tetapi, setiap kali ada gelombang binatang mutasi yang naik tingkat, musim dingin lebih ekstrim." Mu Xianzhai menjawab dengan tenang. Menyipitkan matanya sebentar sebelum akhirnya rileks. Ia pun mencium kepala istrinya.
"Hanya ketika di musim dingin?" gumam Li Chang Su.
Mu Xianzhai hanya mengiyakan dengan pelan. Dan mungkin saja ini ada kaitannya dengan Negara Bingshui. Dia kurang tahu tentang ini. Hanya gelang naga perak yang bisa memastikannya.
Naga perak yang menjadi pelindung Negara Bingshui mungkin saja bukan salah satu dari binatang mutasi. Mungkin itu binatang roh dari zaman kultivator. Jika saat itu naga perak menjadikan gelang sebagai artefak, maka kemungkinan besar ada sesuatu yang disembunyikan.
Li Chang Su menutup tirai dan bersandar di dada bidang Mu Xianzhai. Sangat hangat dan nyaman. "Tapi kita tidak bisa terus pergi dengan kereta 'kan? Ini akan melewatkan sesuatu."
"Su'er tenang saja. Kereta ini hanya akan membawa kita sepanjang perjalanan. Saat kita berhenti di suatu tempat, barulah kita mencari penyebabnya."
"Ke mana kita akan mencari lebih dulu?"
"Pergilah ke Hutan Putih," jawabnya.
Hutan Putih adalah tempat yang cukup misterius. Jauh dari tempat perbatasan. Selain itu, para binatang mutasi sering muncul dari sana. Namun menurut penuturan singa jantan mutasi, mereka berkembang dari bawah tanah.
Ia dan Li Chang Su menjadi curiga jika binatang mutasi sebenarnya bertelur atau berkembang biak di bawah tanah. Tentang terowongan bawah tanah itu juga aneh. Karenanya, Mu Xianzhai mengajak Li Chang Su pergi ke Hutan Putih.
Sepanjang perjalan, mereka bercerita tentang segala sesuatu yang penting. Adapun Mu Hongzhi, juga bercerita banyak bersama Xue Zi. Sejak kelinci mutasi itu bisa bicara, Mu Hongzhi tidak lagi kesepian.
Jalanan berbatu cukup untuk membuat kereta sedikit bergoyang ringan. Li Chang Su tidak merasa terganggu, justru membuatnya mengantuk. Mu Xianzhai tersenyum dan membiarkannya tidur. Sebentar lagi tengah hari. Dan mereka juga akan tiba di bibir Hutan Putih.
Saat tidur, Li Chang Su kerap kali mengerutkan keningnya. Terlihat tidak nyaman. Setiap kali Mu Xianzhai memijatnya pelan agar lebih rileks, barulah gadis itu tidur pulas.
Setelah menempuh perjalanan yang panjang, akhirnya mereka tiba di bibir hutan. Mu Xianzhai melihat dari jendela kereta terlebih dahulu sebelum akhirnya membangunkan Li Chang Su.
__ADS_1
"Apakah kita sampai?" Gadis itu terlihat masih mengantuk dan sedikit mengerang.
"Ya. Kita sampai. Waktunya makan siang sebelum meninggalkan kereta." Mu Xianzhai mengecup dahinya.
Salju sudah berhenti turun. Dan mereka bisa makan di luar dengan baik. Tidak tahu apa yang terjadi, Li Chang Su sama sekali tidak melihat binatang mutasi yang berkeliaran.
Entah karena ada Xue Zi atau Mu Xianzhai, dia tidak peduli. Rasa kantuknya hilang setelah keluar dari kereta. Mu Hongzhi sudah menyiapkan meja dan mencari kayu tumbang yang pas untuk mereka duduk. Lalu membuat api unggun agar tetap hangat.
Namun ketika melihat bibir hutan, Li Chang Su tertegun. Dia menghampiri bibir hutan dan memeriksa salah satu batang pohon serta tanaman di sekitarnya. Sama sekali tidak ada tipuan.
"Ini Hutan Putih." Mu Xianzhai memperkenalkannya. "Jangan terkejut. Semua yang ada di sini sangat putih seperti salju. Oleh karena itu disebut Hutan Putih." Dia menjelaskan lagi.
"Apa sejak dulu tempatnya memang putih seperti ini?" tanyanya.
"Aku tidak tahu. Tapi yang pasti, Hutan Putih ini cukup misterius. Dan ini juga merupakan alternatif menuju pantai."
"Ternyata begitu." Li Chang Su mengangguk, masih sedikit terkejut. Hutan Putih ini sungguh luar biasa. Baik batang, daun ataupun rumput sekalipun, semuanya berwarna putih.
"Aku jadi penasaran dan ingin mencari tahu penyebabnya. Apakah kita akan memasuki tempat ini?" tanyanya lagi seraya melihat Mu Xianzhai yang telah menyiapkan beberapa makanan dari kotak khusus.
"Sepupu Ipar, Hutan Putih ini juga menjadi salah satu tempat para pendekar untuk berlatih dan berburu. Ada banyak buruan di dalamnya. Bukan hanya karena keanehannya saja." Akhirnya Mu Hongzhi berbicara.
Xue Zi yang tengah makan wortel pun menyipitkan mata. Dia pernah memasuki hutan ini sejak melarikan diri ke Negara Bingshui. Tempatnya memang bagus. Tapi juga cukup berbahaya.
Kereta kuda tidak mungkin bisa masuk ke hutan. Oleh karena itu, setelah mereka makan siang, hanya bisa berjalan kaki.
"Su'er, datang dan makan dulu." Mu Xianzhai memanggil.
Li Chang Su sedang menuangkan beberapa cairan untuk eksperimennya. Pasti ada zat tertentu yang membuat semua tumbuhan di sini berwarana putih seperti salju. Bahkan tumbuh dengan baik.
Dia memetik bebebrapa daun lebar dan segera menghampiri Mu Xianzhai untuk makan.
"Bisakah kamu menyuapiku lebih dulu? Aku ingin memastikan sesuatu." Dia meminta tanpa menatap Mu Xianzhai, jelas sibuk dengan berbagai bahan di depannya.
__ADS_1
Pria itu menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Tidak masalah. Katakan sesuatu jika butuh bantuan."
"Sepupu Ipar, apa yang kamu lakukan dengan daun putih itu?" Mu Hongzhi sedang menikmati sup ayamnya yang masih hangat. Serta menyeduh teh penghangat tubuh.
Li Chang Su tidak menjawab. Justru tersenyum misterius. Jika dia bisa membuat binatang mutasi layak konsumsi, tidak mungkin analisisnya gagal dalam bidang ini juga. Dia ingin tahu apa yang membuat pigmen tumbuhan ini berubah.
Dia menganalisis daun lebar dengan beberapa obat. Mu Xianzhai menyuapinya dengan pelan agar tidak tersedak. Tanpa sadar, gadis itu sudah mengambil setengah dari makanan Mu Xianzhai.
Setelah cairan bening dari wadah kecil dituangkan ke daun putih, tiba-tiba saja ada reaksi. Daun putih itu menjadi hijau segar secara bertahap. Ini membuat kedua pria di sana tertegun.
"Ternyata seperti ini." Gadis itu mengangguk dan tersenyum puas.
"Su'er, kenapa daunnya menjadi hijau?"
"Itu karena pigmen hijau lebih dominan setelah aku menambah zat lain. Ada sesuatu di bawah tanah yang mungkin akan kita gali." Li Chang Su curiga jika ada sesuatu tertanam di bawah tanah.
"Apakah itu berbahaya?" Lagi-lagi Mu Xianzhai ingin tahu. Dia mungkin merasakan sesuatu di bawah tanah ini sejak ilmu tenaga dalamnya pulih.
Mengamati daun hijau di tangan, Li Chang Su berpikir keras ia menatap ke arah Hutan Putih yang luas itu.
"Ini tidak berbahaya. Namun kita harus tetap waspada. Tidak tahu apa yang ada di dalam. Biarkan Xue Zi menggali nanti."
Li Chang Su menatap Xue Zi yang tengah makan sepotong mi instan. Sungguh menatapnya degan polos. Xue Zi sendiri tidak merasa sulit menggali tanah. Namun tempat ini agak menyeramkan.
Setelah makan siang selesai, ketiganya pergi ke hutan. Kereta tidak bisa masuk sehingga salah saja penjaga gelap mengantarkan kereta itu ke suatu tempat. Ketiganya mencari lokasi yang cocok untuk menggali.
Xue Zi melompat ke banyak tempat sambil mencium tempat yang strategis. Hidungnya berkedut beberapa kali hingga akhirnya menemukan sebuah pohon tua besar yang agak menyeramkan. Namun karena semuanya serba putih, pohon itu terlihat manis.
"Di sini," katanya.
Li Chang Su mengerutkan kening. "Aku memintamu untuk menggali, bukan menemukan pohon besar."
"Huh, manusia. Lihatlah dulu lubang di pohon ini." Xue Zi pun menunjuk ke arah lubang besar di bagian belakang pohon itu.
__ADS_1
Mereka terkejut saat mengetahui ada lubang lama di batangnya. Bagaimana pohon sebesar ini memiliki lubang yang besar? Apakah pohon tidak mati?