Menjadi Istri Cerdas Raja Perang

Menjadi Istri Cerdas Raja Perang
Perjalanan Kembali


__ADS_3

DI SISI LAIN, Li Chang Su dan Mu Xianzhai bermalam di tempat yang relatif aman. Pria itu melihat ke arah di mana pegunungan dewa berada, menyaksikan cahaya putih yang muncul secepat kilat ke langit, kemudian menghilang begitu saja.


Setelah itu, Mu Xianzhai tidak mengatakan apa-apa, seperti ada misteri yang terkubur di dalamnya.


"Xian Xian ... Aku ingin makan jeruk yang cukup matang," kata Li Chang Su tiba-tiba membangunkan pikiran Mu Xianzhai. "Tapi aku tak memiliki buah jeruk setengah matang di ruang artefak ..." Dia mengeluh.


"Aku akan mencarinya sekarang," kata pria itu tanpa berdebat.


"Baiklah, cepat pergi. Aku akan menunggumu." Li Chang Su segera memintanya pergi.


Pria itu tak berdaya dan terkekeh pada akhirnya, lalu menghilang ke dalam hutan.


Lict dan Mu Hongzhi tidak ingin ikut campur. Wanita hamil selalu meminta sesuatu yang aneh. Lict tahu itu. Jadi dia hanya bisa diam saja, mengurangi rasa keberadaan.


Untungnya Li Chang Su tidak peduli dengan Keduanya. Dia dengan santai meminum segelas susu hangatnya. Meski mungkin akan sulit mencari buah jeruk yang tumbuh liar di hutan, pada zaman kuno ini pasti bisa mendapatkannya.


Benar saja, kurang dari seperempat jam, Mu Xianzhai kembali sambil membawa beberapa buah jeruk setengah matang. Sekilas rasanya pasti asam.


Li Chang Su tersenyum dalam suasana hati yang baik dan memuji suaminya sebagai pria luar biasa. Mu Xianzhai yang mendapatkan pujian itu meeasa terbang ke langit, suasana hatinya jauh lebih baik daripada istrinya sendiri.


"Yah, rasanya enak," kata gadis itu saat mencoba buah jeruk segar. Lalu dia menatap Mu Hongzhi dan Lict. "Nah, kalian juga coba. Rasanya sangat enak."


Li Chang Su memberikan dua buah jeruk yang kulitnya masih memiliki warna hijau pada keduanya.


Ekspresi mereka berdua segera berubah, pura-pura batuk dan menggelengkan kepala. "Tidak, tidak, Sepupu Ipar, kamu makan saja jika suka. Kami tidak terlalu suka jeruk," kata Mu Hongzhi.


"Benar, benar. Aku tidak selera makan jeruk malam ini." Lict juga mengangguk.


Li Chang Su mengerutkan kening. "Aku meminta kalian makan, apakah menolak. Ada apa? Ini sangat enak! Aku ingin kalian memakannya sampai habis!" Dia memaksa.


"..." Mu Hongzhi dan Lict berkeringat dingin di punggungnya.


Mu Xianzhai tersenyum dan mengupas jeruk untuk dirinya sendiri. Setelah dicoba, rasanya memang asam dan dia mengerutkan kening sedikit. Namun Mu Xianzhai masih mengangguk.

__ADS_1


"Ini enak."


"Huh, tentu saja!" Li Chang Su sedikit lebih baik saat ini sejak Mu Xianzhai memakan buah jeruk juga. "Jadi aku meminta mereka makan, kenapa begitu sulit? Ini hanya buah jeruk!"


"Yah, jangan marah. Mereka akan makan jeruknya." Mu Xianzhai berkata dengan lembut, menenangkan istrinya yang sensitif sejak kehamilannya.


Pria itu akhirnya menatap Mu Hongzhi dan Lict. "Makan!" Nada bicaranya penuh penindasan, semacam paksaan sejati.


"..." Lict dan Mu Hongzhi ingin menangis tanpa mengeluarkan air mata. Bisakah keduanya menolak.


Pada akhirnya, mereka mengambil buah jeruk, mengupasnya secara tidak sadar dan memasukkan sepotong ke mulut. Segera rasa asam yang cukup tajam pecah di mulut.


Ekspresi Lict dan Mu Hongzhi menjadi hijau (tidak enak dipandang), ingin memuntahkannya kembali tapi ditatap Mu Xianzhai seperti elang mengunci seekor ayam.


Berbanding terbalik dengan Li Chang Su yang senang saat ini, mereka bersedih. Kelinci putih mutasi sudah melarikan diri ke ruang artefak naga emas dan makan malam bersama tupai putih.


Adapun kuda putih mutasi, bersembunyi cukup dalam di kegelapan. Khawatir gadis itu akan memberinya sepotong jeruk yang asam itu. Dia lebih suka makan rumput daripada jeruk.


"Apakah enak?" tanya Li Chang Su santai.


"Bagus kalau begitu. Habiskan."


"..." Lict dan Mu Hongzhi ingin pingsan.


Akhirnya Li Chang Su makan dua buah jeruk asam dan mulai mengantuk. Mu Xianzhai membawanya ke tenda untuk istirahat.


Lict dan Mu Hongzhi selamat dari jurang maut tapi buah jeruk di tangannya sudah habis. Keduanya benar-benar makan jeruk yang asam. Wajah keduanya sudah lama lumpuh (ekspresi lelah/tak berdaya), lidah mati rasa dan air mata yang menggenang di pelupuk sudah lama kering.


Sungguh siksaan!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selama beberapa hari di perjalanan, mereka akhirnya tiba di jembatan gantung yang telah diganti oleh penjaga gelap. Tentu saja mereka masih ingat tentang jembatan gantung yang dulu pernah rusak, di mana di bawah jembatan masih merupakan jurang tanpa ujung.

__ADS_1


Lava yang pernah mengalir di sana kini menjadi tumpukan pasir hitam, terasa agak halus. Namun siapa yang menduga ketika Li Chang Su melemparkan batu ke bawah, pasir itu menenggelamkannya.


“...” Sepertinya lava yang kini telah padam akibat salju di hari pertempuran dua naga itu telah berubah menjadi pasir isap, pikir Li Chang Su.


"Ini berbahaya ...," gumam Lict. "Jika kita jatuh ke sana, bukankah akan tenggelam?"


"Ya. Ini pasir isap alami. Mungkin karena mengandung energi spiritual sebelumnya sehingga menciptakan pasir isap semacam ini."


Lava memiliki kandungan pasir, bebatuan dan sejenisnya. Sebenarnya tidak akan menenggelamkan benda yang ada dua sekitarnya. Sama seperti pasir bercampur kerikil, bebatuan atau lapili dan lain sebagainya. Sifatnya tidak mengisap benda.


Namun bekas lava ini justru sebaliknya. Seperti pasir isap di gurun tandus.


Mereka juga tak bertemu dengan Flare lagi. Li Chang Su hanya melihatnya di pegunungan dewa terakhir kali, melindunginya. Sekarang, tidak tahu apa yang sedang makhluk lava itu lakukan.


"Ayo lanjutkan perjalanan. Kita harus segera tiba di ibu kota," kata Mu Xianzhai setelah membaca surat rahasia dari salah stau penjaga gelapnya.


"Ada apa?" tanya Li Chang Su.


"Mu Lizheng mendominasi istana kekaisaran saat ini dan ayah kaisar jatuh sakit. Pangeran kedua membawa pasukannya sendiri untuk melawan Mu Lizheng di tempat ...."


Ceritanya sangat panjang. Mu Xianzhai tak bisa menceritakannya di tempat terbuka seperti ini sehingga meminta mereka untuk segera menyeberang jembatan.


Jembatan saat ini lebih lebar dan kokoh sehingga kereta kuda bisa melewatinya tanpa kesulitan. Semuanya berkat para penjaga gelap yang andal.


Li Chang Su berniat untuk memberi mereka kenaikan gaji saat tiba di istana nanti. Para penjaga gelap tidak terlalu memikirkannya namun tentu saja senang.


Sang putri akhirnya peduli dengan mereka. Di masa depan, mereka harus menyenangkannya lebih banyak sehingga bonus juga berlimpah.


Diam-diam, hati oata penjaga gelap condong ke arah Li Chang Su. Mu Xianzhai sebagai tuan asli tidak tahu pikiran mereka. Bahkan jika tahu, dia tak akan marah, melainkan cemburu.


Bagaimana mungkin penjaga gelap lebih dapat diandalkan dari pada suami sendiri bukan?


Perjalanan kali ini sangat lancar. Mereka tidak menemukan hambatan apa pun sepanjang jalan tapi beberapa binatang semi mutasi masih bisa ditemukan.

__ADS_1


"Oh, tunggu! Kenapa aku merasa bahwa beruang putih itu agak akrab?" tanya Lict setelah tiba di seberang jembatan.


__ADS_2