
PELAYAN ITU ketakutan dan sungguh bingung kenapa dia tiba-tiba saja terpeset. Cangkir berisi teh panas itu kita terciprat ke tangannya tapi diabaikan begitu saja. Pengampunan dari putra mahkota lebih penting. Si pelayan muda itu menggelengkan kepalanya dan memohon maaf berulang kali.
"Yang Mulia memaafkan pelayan. Pelayan tiba-tiba saja merasa ada sesuatu yang melempar kerikil hingga terpeleset dan jatuh. Pelayan tidak sengaja," kata pelayan muda yang bisa dikatakan sebagai gadis yang baru saja tumbuh dewasa.
Namun siapa itu Mu Lizheng? Meski dia memiliki wajah tampan yang hampir memiliki kemiripan dengan Mu Xianzhai, tapi sifatnya berkebalikan. Dia hanya menendang pelayan itu dengan kasar dan memakinya. Lalu meminta penjaga untuk menyeret pelayan muda itu untuk dihukum mati.
"Tidak, tidak! Yang Mulia, Yang Mulia tolong maafkan pelayan!"
Seberapa kerasnya permohonan pelayan itu, Mu Lizheng tidak peduli. Di kembali menutup pintu ruang belajar dan menyipitkan mata. Pada akhirnya menyimpan kotak kecil berisi cap segel itu ke bagian rak yang paling rahasia. Hanya saja di kegelapan, He Ze ingin mencibir. Dia sudah memegang kotak kecil di tangannya dan segera menghilang dari sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya di Istana Raja Perang.
Ruang belajar sedang ditata ulang. Li Chang Su membantu Mu Xianzhai menata beberapa buku dan juga barang-barang lain ke tempat asalnya. Belum lagi beberapa tata letak telah sengaja diubah agar kejadian serupa tidak terjadi lagi.
Penjaga gelap yang awalnya bersalah kini mendapatkan hukumannya tersendiri. Li Chang Su memang tidak menghukum mereka dengan keras. Hanya meminta kedua penjaga gelap itu untuk mencabut rumput di halaman belakang.
Awalnya penjaga gelap merasa lega karena tidak ada hukuman mati yang menimpa mereka. Tapi ketika sang putri meminta mereka mencabut rumput bersalju, rasanya lebih mengerikan daripada dihukum cambuk.
Mereka adalah penjaga gelap, bagaimana bisa mencabut rumput dingin?
He Ze sudah kembali sejak dini hari tadi dan memberikan barangnya pada Li Chang Su. Belum lagi dia juga berkata, bahwa beberapa ruang belajar para pangeran telah sengaja dia acak agar membuat pelaku itu kebingungan. Mungkin sekarang, Mu Lizheng lebih gelisah.
Karenanya, Li Chang Su segera memberikan kotak cap segel itu pada Mu Xianzhai. "Jangan marah lagi. Barang ini sudah kembali. Kamu jangan lupa, ada He Ze yang bisa membantu."
"Su'er ..." Mu Xianzhai menunjukkan ekspresi masam di balik topeng peraknya saat mendapatkan kembali barang yang hilang.
__ADS_1
Cap segel sangat penting baginya. Dia tidak tahu bahwa akan ada hari di mana pihak lain akan mencuri benda itu untuk kepentingan pribadi. Namun Mu Xianzhai segera memberikan cap segel itu pada Li Chang Su lagi.
"Ada apa? Apakah ini bukan yang kamu cari?" tanya gadis itu kebingungan.
Mu Xianzhai terkekeh dan menggelengkan kepala. "Bukan begitu. Biarkan Su'er yang menyimpannya. Lagi pula, ruang belajar memang tidak aman. Dari mana tupai itu mendapatkannya?"
"Kamu mungkin tidak akan percaya. Tapi cap segel ini ditemukan di ruang belajar putra mahkota. He Ze berkata jika putra mahkota merasa gelisah malam tadi. Mungkin karena benda ini," jawab Li Chang Su.
Ada kejutan kecil di mata Mu Xianzhai sebelum akhirnya berubah menjadi sedikit keemasan. Namun hanya beberapa saat saja sebelum akhirnya kembali beriris normal. Putra mahkota, Mu Lizheng? Pria itu segera mencibir dan tidak merasa heran. Saudara keempatnya ini memang cukup serakah.
Tapi untunglah cap segel sudah kembali sehingga dia tidak akan merasa gelisah lagi. Ia memeluk Li Chang Su dan meminta maaf atas kejadian semalam. Itu tidak akan terjadi lagi di masa depan.
"Tapi, apa pentingnya cap segel ini?" tanyanya.
"Cap segel ini digunakan untuk membuat keputusan dari Istana Raja Perang. Sama seperti layaknya dekret kekaisaran, cap segel juga merupakan bukti kuat. Jika aku membuat suatu transaksi atau keputusan kerja sama atau hal lainnya diberi cap segel, maka aku tidak bisa mengelak. Karena itu, hilangnya benda ini membuatku khawatir," tutur mu Xianzhai.
Li Chang Su mulai memahaminya saat ini. Ternyata tidak berbeda jauh seperti di zaman modern. Jika di zaman modern, kadang materai atau tanda tangan atau cap sidik jari sudah cukup, maka di zaman ini, cap segel khusus sangat penting. Tidak heran Mu Xianzhai akan marah besar.
Mu Xianzhai menyentuh kedua bahu gadis itu dan menatapnya dengan senyuman. "Tidak ada yang sepenting Su'er. Tapi jika cap segel disalahgunakan dan aku masuk penjara, Su'er akan kesepian."
Dia tidak pernah takut masuk penjara atau diasingkan oleh kaisar, tapi khawatir istrinya akan menderita karena ketidakmampuannya. Oleh karena itu, Mu Xianzhai merasa tidak berdaya.
Gadis itu memerah. Bisakah pria itu begitu serius?
"Jadi, bisakah aku meminta sesuatu pada kaisar dengan cap segel ini?" Gadis itu bertanya dengan sedikit berbisik.
"Huh? Tanpa cap segel Raja ini, Su'er bisa meminta apapun pada ayah kaisar." Mu Xianzhai sangat yakin jika Kaisar Mu tidak akan pelit. Belum lagi ada pensiunan kaisar, semuanya menjadi lebih mudah. Ayahnya selalu patuh pada sang kakek.
__ADS_1
"Tapi aku ingin mencobanya," kata gadis itu.
"Baiklah. Terserah Su'er." Pria itu menyentuh kain kasa yang masih menempel di leher istrinya. Ia selalu merasa bersalah.
Tiba-tiba saja seorang pelayan datang dan berkata jika bupati ada di halaman depan. Keduanya tidak tahu apa yang diinginkan Mu Yishu dengan datang pagi-pagi seperti ini, tapi pasti bukan hal sepele. Oleh karena itu, Li Chang Su hanya mengusir Mu Xianzhai. Sementara dirinya sendiri akan segera menulis surat untuk kaisar. Tentu saja dengan gaya bahasanya sendiri.
Mu Xianzhai hanya menggelengkan kepala dan segera pergi dari ruang belajar. Dia meminta Xuxu dan Xuyao untuk menjaga istrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di halaman depan, Mu Yishu turun dari kereta dengan mengenakan jubah hangat berbulu. Musim dingin sudah berakhir sehingga es mulai mencair di mana-mana, tapi udara masih cukup dingin. Pelayan segera mengajak Mu Yishu untuk menunggu di ruang tamu.
"Bupati, apakah ada sesuatu yang ingin diminum?" tanya si pelayan dengan nada sopan.
"Teh mawar." Mu Yishu melepaskan jubah hangatnya dan duduk dengan elegan.
Si pelayan akhirnya pergi untuk membuat teh yang diinginkan oleh Mu Yishu. Tak berapa lama kemudian, Mu Xianzhai datang dan menyambut saudara pertamanya.
"Apa yang membuatmu datang ke sini?" tanya pria bertopeng perak itu.
"Tidak ada yang penting. Aku hanya mendapatkan kabar dari Mao Mao jika semalam merasakan aura He Ze. Jadi aku berpikir jika mungkin ada sesuatu yang terjadi?" Mu Yishu segera menyesap teh mawar yang baru saja disajikan pelayan.
"Ya. Memang ada yang terjadi. Tapi kamu datang pasti bukan hanya untuk ini saja?" Mu Xianzhai menebak.
"Benar. Ada satu informasi juga. Ruang belajar beberapa pangeran telah diacak seseorang. Tapi tidak ada barang yang hilang. Termasuk punyaku juga," jawab Mu Yishu sedikit aneh.
"..." Mu Xianzhai sudah mendengar ini dari Li Chang Su tadi. Ternyata benar.
__ADS_1
Karena itu, Mu Xianzhai hanya berkata jujur jika He Ze adalah pelakunya.
Mu Yishu agak terkejut."He Ze? Kenapa dia melakukan itu?"