
LI CHANG SU MERASA tidak berdaya dan kasihan pada Mu Xianzhai yang wajahnya kini memerah karena marah. Tapi mencoba menahan diri untuk tidak membuang kelinci ini keluar dari gua. Sebagai pria yang keinginannya tidak pernah dilanggar, pasti merasa ditantang oleh kelinci mutasi.
Sebenarnya pria itu ingin menciumnya. Lalu kenapa dia juga tidak menghindar?
Apakah karena Li Chang Su tidak pernah merasakan hal seperti itu di kehidupan modern, dia menjadi cukup candu?
Mu Xianzhai memang pria yang tidak bisa ditolak. Pesonanya mampu membuat wanita manapun menjerit gila. Tidak heran jika putra mahkota dianggap sebagai kecantikan ibukota. Wajah keduanya mungkin tidak terlalu beda jauh.
"Jangan marah pada seekor kelinci," katanya agak lucu saat melihat wajah Mu Xianzhai tambah jelek.
"Pembawa sial kecil ini—" pria itu ingin mengutuk kelinci mutasi yang kini sangat nyaman di pelukan Li Chang Su.
Gadis itu menyipitkan matanya, "Siapa yang pembawa sial?"
"Tidak. Bukan siapa-siapa ...," Dia buru-buru menggelengkan kepalanya dengan senyum pahit. Ini kali pertama baginya dikalahkan oleh seekor kelinci dalam hal kasih sayang.
Kelinci putih mutasi itu tampaknya mengejek Mu Xianzhai dan mengebor ke pelukan Li Chang Su. Pantatnya yang berekor pendek itu tampaknya menampar harga diri Mu Xianzhai.
"Su'er, jangan biarkan makhluk ini tidur di sekitar kita. Binatang berbulu ini pasti belum mandi!"
"Kamu jangan bercanda. Ini kelinci salju. Tidak ada debu di tubuhnya."
"Pasti ada kutu," kata Mu Xianzhai sedikit mengerang.
"Aku belum pernah melihat seekor kelinci dipenuhi kutu."
"...."
"Jangan mengada-ada hanya untuk aku membuangnya. Tidak mungkin!"
Li Chang Su memeluk kelinci itu agar Mu Xianzhai tidak membuangnya keluar gua.
"....."
Badai salju masih berlangsung. Selama sehari semalam mereka terpaksa menginap di gua. Li Chang Su berbagi tempat dengan pria itu dengan enggan. Jika dia merasa canggung, maka Mu Xianzhai cukup tertekan. Walau dia telah diam-diam tidur di samping gadis itu semalam, suasananya sekarang cukup aneh.
Untungnya kelinci mutasi itu menjadi objek ketiga yang memecahkan kecanggungan.
Di hari kedua, Mu Hongzhi tiba-tiba menemukan mereka dan berteriak memanggil Li Chang Su dengan sebutan 'Kakak Ipar'.
Gadis itu tidak berdaya dan hanya tersenyum agak canggung. Mu Hongzhi dipenuhi oleh kepingan salju. Dan wajah putihnya itu memerah karena kedinginan.
Ada seekor rusa mati yang baru saja dia biru, disimpan dekat gua. Akhirnya perjuangan dia untuk menemukan Li Chang Su membuahkan hasil. Awalnya, Mu Hongzhi berniat untuk bermalam di bukit jika belum menemukan mereka.
__ADS_1
Belum lagi, dia menemukan sisa-sisa longsoran salju yang besar. Membuatnya berpikir jika kakak ipar dan sepupunya yang baik terkubur salju.
Untunglah dia belum mencoba menggali salju. Karena itu akan sia-sia saja.
"Kakak Ipar, untunglah baik-baik saja. Di mana sepupu?"
Mu Hongzhi tidak menemukan sosok sepupunya di manapun.
"Dia sedang mencari kayu bakar."
"Sangat sulit mencari kayu yang kering di saat seperti ini," pria itu merasa terkejut.
"Ya. Tapi dia tetap pergi. Bagaimana kamu ada di sini?" Tanya Li Chang Su.
Pria itu masuk ke gua dan melepas mantelnya, lalu menghangatkan diri di dekat api unggun, "Kemarin, sepupu tiba-tiba pergi ketika Tuan Ye berkata melihatmu. Jadi meninggalkanku sendiri. Sungguh tidak berperasaan."
"Kalian bertemu Ye Tianli sebelumnya?"
"Ya. Tidakkah sepupu mengatakan ini?"
Mu Hongzhi merasa aneh. Menurut kepribadian Mu Xianzhai, pria itu berspekulasi jika tidak mungkin akan memberi tahu Li Chang Su.
Gadis itu ikut berduka untuk pria ini dan memberinya segelas teh susu. Mu Hongzhi bercerita jika ketika gempa muncul, dia berada di tempat pengungsian.
Ye Tianli dan pangeran kedua juga telah mengungsi. Sayangnya, Mu Hongzhi khawatir dengan sepupunya. Jadi memilih untuk keluar dari ruang bawah tanah.
Mereka tidak mengenal Li Chang Su. Hanya berkata jika orang berjubah hitam itu pergi ke jalan bukit bersama dengan dua gadis muda.
Mu Hongzhi memiliki cedera kaki kiri akibat disengat kalajengking mutasi. Kali ini cederanya semakin membaik. Namun Li Chang Su memeriksanya kembali, khawatir jika ada sisa racun yang masih menempel. Untungnya tabib yang menangani Mu Hongzhi ini sangat berhati-hati. Racun kalajengking mutasi telah sepenuhnya di bersihkan.
Dia hanya memberi pria itu pil khusus untuk membantu lukanya lebih cepat sembuh. Karena saat ini, kaki kiri Mu Hongzhi masih bengkak.
"Lain kali berhati-hati dengan binatang mutasi. Mereka semua beracun," kata Li Chang Su dengan nada seperti seorang ibu.
"Kakak Ipar yang baik. Aku mengerti."
"...," Sangat polos.
"Oh, apakah ini buruan khusus? Daging kelinci tidak terlalu tebal. Tidak akan kenyang. Kakak Ipar, aku akan membersihkan rusa ini untuk makan malam nanti," Mu Hongzhi menunjuk ke arah rusa yang tergeletak tak jauh dari bibir gua.
Melihat kelinci putih gemuk yang kini ada di smaling Li Chang Su, dia sangat menyayangkannya. Kelinci putih itu terlihat aneh, memiliki garis merah di sekitar matanya. Tidak seperti kelinci biasa. Ketika makhluk berbulu putih itu mendengar apa yang dikatakan Mu Hongzhi, merasa tersinggung.
He Ze yang sedang makan kacang di sisi lain pun ingin tertawa dan mengatakan jika kelinci gemuk itu memang pantas untuk dipanggang. Lagi pula dia tidak takut dengan bintang mutasi kecil. Dia sendiri adalah roh artefak yang hebat. Jika takut pada seekor kelinci fana, malulah dia pada leluhur lama.
__ADS_1
Kebetulan kelinci mutasi yang gemuk itu sedang memegang wortel. Karena marah, dia melemparkan wortel itu ke arah Mu Hongzhi dengan keras dan mengenai dahinya.
"Ahhh ...!!"
Pria itu terkejut dan menyentuh dahinya yang dilempar sebuah wortel. Lalu mendelik. Kelinci putih gemuk itu baru saja melemparkannya dengan sebuah wortel?
Apakah dia bermimpi?
Dia ternganga sebentar dan berkedip bingung ke arah Li Chang Su.
Kakak Ipar, apakah kelinci ini sangat spiritual? Pikirnya.
Pada saat yang bersamaan, Mu Xianzhai kembali dengan seikat katu bakar yang telah dipotong. Awalnya dia seidkit khawatir ketika melihat seekor rusa mati di dekat gua serta sosok pria asing memasuki tempat itu. Dia mengkhawatirkan Li Chang Su yang baru saja reda dari demam.
Tapi ketika mendengar suara teriakan kaget yang familiar, dahinya mengkerut. Ini seperti suara milik sepupu bodohnya sendiri, Mu Hongzhi. Jadi saat dia kembali, sosok jangkung yang tertegun bodoh di dekat api unggun pun memang sepupunya. Melihat sebuah wortel di tangan, dia tampaknya baru menyadari sesuatu.
Kelinci pembawa sial itu mungkin membuat gambar lagi?
"Kenapa kamu di sini?" Tanyanya.
"Oh! Aku ....," Mu Hongzhi tersadar dan menoleh ke samping, terkejut, "sepupu!!"
"Pergi sendiri di saat kakimu sakit?"
Mu Xianzhai justru menaikkan sebelah alisnya di balik topeng perak elegan. Nada bicaranya sama sekali tidak senang.
Pria bodoh itu, alih-alih memulihkan diri di tempat pengungsian, malah pergi ke bukit untuk mencarinya?
Bagaimana jika ada kecelakaan di depan dan membuatnya kehilangan nyawa?
Mu Hongzhi adalah satu-satunya harta bibinya. Meski sering dipukul di ruang atau diusir dengan kejam, ibu Mu Hongzhi sangatlah peduli.
Jika pria ini ada di luar, bibinya akan datang dan menanyakan kabar Mu Hongzhi. Kadang ekspresinya selalu khawatir. Bahkan ketika kaki kiri pria itu disengat kalajengking mutasi, bibinya marah dan khawatir. Karena tidak ingin menjadi ibu yang terlalu memanjakan putranya, maka diusir dari rumah sampai lukanya sembuh.
Untunglah Mu Hongzhi adalah pria yang tebal dan tidak terlalu peduli dengan pengusiran ibunya. Dia tetap menempel pada Mu Xianzhai dan mengungsi sebagai sepupu yang malang.
"Sepupu, kakiku sudah mulai membaik. Belum lagi Kakak Ipar sudah memberi obat juga. Ini akan sembuh seiring berjalannya waktu," Mu Hongzhi buru-buru mencari alasan sebelum Mu Xianzhai mengirimnya kembali ke ruang bawah tanah pengungsian.
Lalu Mu Hongzhi menunjuk ke arah kelinci putih gemuk yang kini mengambil wortel lain dan memakannya.
"Sepupu, apakah itu kelinci spiritual? Sangat pintar melempar wortel?"
"Aku khawatir bukan hanya pandai melempar wortel, tapi juga memakan orang!"
__ADS_1
Mu Xianzhai mendengus. Kelinci mutasi itu telah menjadi musuhnya saat ini.
"Hah? Makan orang?" Pria itu terkejut.