
"NONA, CEPATLAH! Kita harus meninggalkan ibukota. Kereta kuda sudah siap!"
Xuxu segera menyeret Li Chang Su untuk buru-buru pergi. Dia tidak berdaya dan mengikuti mereka dengan ekspresi yang masih belum bisa percaya.
Guntur terus memekakkan telinga, disertai cahaya kilat dan salju berangin. Saat sebuah petir menyambar pohon tak jauh dari mereka, barulah Li Chang Su bangun dari kenyataan. Dunia ini mungkin sedang kacau.
Dia segera masuk ke gerbong hangat. Empat kuda jantan segera berlari setelah Xuyao yang menjadi kusir menarik tali. Jalanan cukup tebal oleh salju, belum lagi angin yang dingin.
Suara ringkikan kuda terdengar sepanjang jalan. Li Chang Su yang ada dalam kereta pun cukup merasa nyaman. Di dekat tirai yang menjadi pintu, ada Xuxu yang menjaga. Wajahnya tampak cemas.
Guntur terus menjerit di langit. Dan suara raungan binatang mutasi di luar benteng perbatasan semakin jelas. Xuxu menjelaskan dengan rinci bahwa ketika badai seperti ini datang, akan ada binatang mutasi yang berevolusi.
Semua binatang mutasi bisa memiliki kemampuan dan menjadi sangat kuat. Sehingga para tentara yang ditugaskan saja akan mati dalam pertarungan.
"Raungan ini berasal dari para binatang mutasi yang hendak berevolusi?" Tanyanya.
"Ya. Ini pasti binatang mutasi yang besar, seperti banteng, gajah, dan makhluk lainnya yang memiliki ukuran besar. Bahkan elang gunung sendiri mampu melahap seekor anak gajah!"
"....," Ini terlalu berlebihan bukan?
Tiba-tiba saja Li Chang Su jatuh ke depan setelah kereta kuda berhentilah tiba-tiba. Xuxu terkejut dan segera menyembulkan kepalanya dari balik tirai, menoleh ke arah Xuyao yang menjadi kusir.
Seekor binatang mutasi mendadak muncul di depan, sehingga membuat kuda-kuda terkejut. Meski Xuyao berhasil menenangkan kuda-kuda itu, tapi jantungnya berdegup kencang.
Di depan sana, seekor macan tutul setinggi satu meter menggeram ke arah mereka. Mulut bertaring itu penuh darah. Seolah-olah baru saja memangsa seseorang.
Xuyao mungkin berani dan memiliki kemampuan seni bela diri. Tapi untuk menghadapi binatang buas seperti ini, dia juga takut. Ini bukan kucing hitam yang sebelumnya Li Chang Su bunuh, namun benar-benar seekor predator alam liar.
Macan tutul yang bermutasi itu bersiap untuk menerkam para kuda dan juga tertarik untuk mencabik tubuh Xuyao. Detik-detik binatang itu menyerang, Li Chang Su sudah muncul di udara kosong sambil menghunuskan pedang. Macan tutul mutasi itu segera mundur dan kehilangan satu taring atasnya. Li Chang Su berhasil memotong salah satu taring.
"Nona ...!!"
Xuyao akhirnya pulih dari rasa takutnya dan menatap Li Chang Su yang kini sudah berada di depan kuda. Dia hampir tidak bisa merasakan kehadiran Li Chang Su yang tiba-tiba muncul itu.
Seberapa kuatnya dia?
__ADS_1
Bahkan Mu Xianzhai memerintahkan mereka untuk tetap santai dan tidak perlu berlebihan. Ternyata Li Chang Su ini memiliki kemampuan yang tak kalah hebatnya dengan tuan mereka.
Macan tutul mutasi segera menyerang kembali, melompat dan ingin mencakar Li Chang Su. Sayangnya tidak semudah itu. Karena di dekat berikutnya, Li Chang Su berpindah lagi. Jubah hitamnya sedikit berkibar ketika dia muncul di udara kosong—tepat di belakang makhluk itu. Kali ini dia tidak mau menyia-nyiakan waktu dan membuat gerakan fatal untuk membunuh.
Dalam hitungan detik, macan tutul mutasi itu kaku, dan jatuh ke jalan bersalju. Tubuhnya tidak lagi bergerak. Hanya darah segar bercampur hitam mengotori salju putih. Benar-benar mengandung racun.
Karena Xuyao dan Xuxu memiliki ilmu seni bela diri, mereka bisa berlari ringan dengan ilmu tenaga dalam. Ketiganya hanya bisa melompat dan berlari di atap rumah lain. Sesekali harus menghindari titik petir menyambar bumi.
Angin bersalju ini cukup kencang. Dan langit masih gelap. Tidak tahu kapan bencana datang, tapi semua warga sudah melakukan evakuasi.
Hanya ada beberapa gerbong yang tersisa di jalanan. Semuanya menunggu giliran. Beberapa warga panik dan mencoba menenangkan anak-anak mereka yang masih kecil.
Tangisan bercampur dengan suara yang menegangkan. Membuat kebisingan yang cukup mengundang beberapa binatang mutasi yang mampu menerobos perbatasan.
Orang-orang kekaisaran tidak pergi ke sana, tapi memiliki ruang bawah tanah tersendiri. Kaisar, permaisuri dan seluruh selirnya ada di ruang bawah tanah yang luas. Semuanya ikut tertekan.
Belum lagi para pangeran dan putri, semuanya mencoba yang terbaik untuk tenang. Mereka telah mengamankan beberapa barang berharga di tempat lain. Sehingga ketika bencana berakhir, semuanya masih baik-baik saja.
Kecuali Mu Xianzhai yang tidak ada di ruang bawah tanah. Putra mahkota ingin pergi untuk mencari alasan, tapi permaisuri melarang dia dengan keras.
Mu Lizheng, sebagai putra mahkota lebih penting. Sehingga Permaisuri Chun tidak mengijinkannya berpergian. Khawatir ada kecelakaan di luar. Jika Mu Xianzhai sendiri mati saat badai mengerikan ini, bukankah itu bagus? Tapi masalahnya, Mu Hongzhi dan pangeran kedua juga tidak ada.
Pria itu menyingkirkan Rongyu sebentar dan menghampiri permaisuri.
"Ibu, saudara kedua mungkin ada dengan saudara ketiga! Putranya ingin pergi!" Mu Lizheng yang ada di dekat Permaisuri Chun akhirnya berbisik.
"Tidak! Berapa kali Ibu berkata, jika kamu mengalami kecelakaan, kaisar akan berpikir buruk tentangmu. Jadi tetaplah di sini dan percayakan semuanya pada Ibu," wanita itu masih memiliki ekspresi yang tenang ketika melihat putranya tampak tidak sabar.
"Tapi ..."
"Cukup!" Permaisuri Chun mengangkat salah satu tangannya, menghentikan ucapan putra mahkota, "kecuali jika kamu ingin kehilangan posisi ini, maka pergilah!"
"...," Mu Lizheng benar-benar tidak berdaya dan kembali ke sisi Rongyu dengan enggan. Dia hanya berharap jika semuanya tidak buruk seperti kata ibunya.
Mu Ying yang selalu ada di samping permaisuri pun tidak bisa menahan diri untuk mengerutkan kening. Ini semua pasti karena wanita jelek itu lagi. Dia dengar, Rongyu memiliki kemampuan untuk membuat halusinasi atau ilusi pada orang lain. Bahkan Mu Xianzhai bisa terkena oleh guna-guna nya. Dia benar-benar merasa jika wanita seperti itu memang tidak pantas hidup. Merusak kehidupan orang lain.
__ADS_1
Meskipun dia kurang suka dengan Mu Xianzhai, tapi tetap saja, melakukan sesuatu pada orang-orang kekaisaran adalah kesalahan besar. Sudah cukup untuk menghukum Kediaman Jenderal Rong. Rongyu ini beruntung karena menjadi kesukaan kakaknya. Jika tidak, sudah lama kediaman jenderal itu dikuburkan.
Sementara itu, di sisi lain ....
Mu Xianzhai telah membunuh beberapa binatang mutasi yang mampu melewati benteng perbatasan. Ada juga Mu Hongzhi yang cedera kakinya semakin membaik berkata perawatan tabib terpercaya. Tapi Mu Xianzhai masih khawatir jika sepupunya ini akan bertindak bodoh lagi. Jadi segera berdiri tak jauh darinya.
Badai salju ini semakin parah. Keduanya menggunakan jubah hangat tebal, berbulu lembut pada kerahnya. Dengan pedang di tangan, keduanya bersiaga untuk menjaga jarak dari para binatang mutasi yang ada. Untung saja dengan kemampuan diri yang berpengalaman, keduanya tidak terlalu sulit. Hanya saja Mu Hongzhi sedikit terhambat dalam berpindah tempat karena cedera kaki.
"Kamu di pinggir saja. Aku menyelesaikan ini dan menyusul yang lain," Mu Xianzhai tidak tahan dan menegurnya.
"Tidak. Sepupu, jika aku hanya menyaksikan dari samping saja, bukankah malu dengan kakak ipar?"
"Kamu bukan lawannya," pria itu berkata dengan percaya diri.
"Begitu hebat?"
"Aku jamin kamu akan kalah dalam segala hal darinya."
"...."
Sepupu, bisakah tidak berlebihan memuji kakak ipar?
Lalu suara tertawa yang lembut terdengar dari atap bangunan tak jauh dari mereka. Keduanya menoleh, melihat sosok jangkung berpakaian serba merah itu duduk dengan membuka kipas lipatnya. Di bawah salju yang turun lebat dan angin kencang yang bisa menyapu sekitar, sosok jangkung itu tidak berniat untuk turun.
Dia hanya tersenyum elegan. Tanpa sengaja mendengar apa yang dikatakan Mu Xianzhai. Seorang raja perang yang ditakuti oleh banyak musuh, sebenarnya memuji seorang wanita. Bahkan jika itu adalah wanita yang ditakdirkan oleh gelang naga perak, Mu Xianzhai begitu sayang?
Pria berpakaian serba merah itu khawatir jika Li Chang Su tidak merasakan hal seperti ini. Mungkin juga tidak peduli. Kadang karma itu berjalan. Pria yang dulunya ini tidak menyukai wanita manapun dan bersikap acuh tak acuh pada semua orang—akan diabaikan oleh wanitanya sendiri. Bukankah ini karma perbuatan di masa lalu?
Mu Xianzhai yang melihatnya di sini pun, ekspresi di balik topeng peraknya menjadi jelek. Lagi-lagi, kenapa harus bertemu Ye Tianli di tempat seperti ini. Juga, pangeran kedua pasti tak akan jauh darinya. Sebelum dia mengatakan sesuatu, Ye Tianli sudah lebih dulu membuka suara.
"Sayang sekali Nona Su tidak ada di sini untuk mendengarkan pujian dari calon suaminya. Dia seharusnya tahu betapa besar cintanya Sang Raja Perang untuk takdir gelang naga perak ini ...," Pria itu menggelengkan kepalanya, merasa sangat disayangkan.
Pakaian serba merahnya yang kini dihujani salju pun semakin menambah godaan, dingin dan merona. Seperti apel merah yang manis.
Mu Xianzhai mendengus, "Sungguh hal langka bertemu Tuan Ye di sini. Sangat bebas?" Nada suaranya jelas tiak bersahabat.
__ADS_1