
HEIFANG YANG berada di dekat kelinci putih mutasi pun hampir tersedak minumannya. Namun kelinci putih mutasi menceritakan dari awal hingga akhir jikalau Li Chang Su pergi ke sungai untuk memancing ikan.
Mu Xianzhai mengerutkan kening dan tidak marah begitu saja. Dia mengetahui kemampuan gadis itu dan yakin tidak akan ada sesuatu yang menimpanya.
Heifang merasa gagal untuk menjalankan tugasnya dan secara alami meminta maaf seraya siap untuk dihukum. Namun Mu Xianzhai tidak menganggapnya serius.
"Istriku ingin bermain di sungai, maka tidak masalah. Selama dia senang," katanya datar.
"..." Heifang terkejut dengan nada bicara rajanya yang tampak baik-baik saja.
"Aku akan pergi menyusulnya," kata Mu Xianzhai lagi bersiap untuk menyusul.
Hari sudah sore, dia khawatir Li Chang Su akan mengalami kecelakaan di perjalanan. Meski ada Lict dan juga He Ze, dia merasa tidak nyaman.
Namun ketika dia hendak memakai jubah anti air, dua sosok terlihat di kejauhan. Mu Xianzhai mengerutkan kening dan menyadari jika itu adalah istrinya serta Lict. Keduanya tampak mengobrol seraya memegang sebuah wadah.
Mu Xianzhai melihat sekitar, hari benar-benar akan gelap dan hujan belum menunjukkan tanda akan berhenti. Dia mengurungkan niatnya untuk menyusul.
"Putri ... Apakah Anda baik-baik saja?" tanya Heifang sedikit khawatir.
Li Chang Su tiba di tempat mereka dan membuka tudung jas hujan. "Tidak apa-apa. Kami mendapatkan ikan yang banyak. Mari kita memanggangnya bersama," jawabnya.
Sebelum Heifang menolak usulan itu, Mu Xianzhai mengiyakan. Dia terbatuk kecil karena kesal istrinya tidak melihat dia lebih dulu tapi fokus pada pria lain. Li Chang Su terkejut saat menyadari suara batuk yang dikenalinya. Dia menoleh ke samping dan menyipitkan mata.
"Xian Xian?" tanyanya kebingungan. "Bukankah kamu ada masalah penting untuk dibicarakan dengan para jenderal?" imbuhnya.
__ADS_1
Mu Xianzhai menunjukkan ekspresi masam di balik topeng peraknya. "Sudah selesai," jawabnya.
"Oh. Kalau begitu, mari kita siapkan makan malam." Li Chang Su menunjukkan ember berisi ikan yang cukup besar.
Mu Xianzhai setuju dan meminta sepuluh prajurit khusus di bawah naungan Li Chang Su untuk menyiapkan api unggun tambahan. Untungnya ikan sudah dibersihkan di sungai dan hanya tinggal diberi bumbu spesial. Ketika mereka memanggang ikan, aroma yang harus pun tercium. Sangat menggugah selera sehingga menyebabkan mereka lapar lebih awal.
Hujan terus mengguyur hingga malam tiba. Pada saat ini, semua orang makan ikan panggang dengan ekspresi yang tak terlukiskan. Sangat enak. Aroma harum ikan panggang tersebut juga tercium hingga ke tenda-tenda para jenderal dan wakilnya yang ada di barak militer.
Mereka ingin tahu di mana sumber ikan panggang tersebut namun tidak bisa pergi karena cuaca tidak mendukung. Hingga akhirnya hanya bisa menghela napas dan meminta koki di barak militer untuk menyiapkan makan malam yang lebih enak kali ini.
Meskipun persediaan makanan telah disediakan oleh Li Chang Su, koki juga menimbang banyak kemungkinan. Lagi pula tidak bisa boros. Namun malam ini memang ada beberapa sisa daging hasil buruan sehingga para koki militer pun langsung memasak menu yang lebih mewah kali ini.
Di tempat Mu Xianzhai.
Jika mereka tahu bahwa pikiran kuno mereka telah terbaca, mungkin akan muntah darah di tempat. Adapun Mu Xianzhai dan Lict, tampak sibuk sendiri. Namun sesekali Mu Xianzhai akan mengambil duri ikan dan meletakkan dagingnya untuk Li Chang Su.
Hujan lebat bertahan sepanjang malam. Karena ada api unggun, suasana tidak terlalu dingin. Setelah selesai makan dan memakan beberapa camilan, Mu Xianzhai harus kembali ke tenda. Dia membopong gadis itu dan pergi dengan kemampuan tenaga dalamnya.
Meskipun hujan, Mu Xianzhai mampu menggunakan teknik ilmu tenaga dalam tahan air. Adapun Lict yang ditinggal dengan kelinci putih mutasi, terpaksa kembali sendiri dengan mengenakan jas hujan.
Mu Xianzhai dan Li Chang Su tiba di tenda dan mengganti pakaian. Li Chang Su merasa sedikit kedinginan dan berendam air hangat. Adapun Mu Xianzhai yang kembali sibuk, tidak memiliki waktu untuk menggoda istrinya.
"Bagaimana keadaan benteng perbatasan?" tanya Li Chang Su dari balik tirai yang menghalangi bak mandi. Gadis itu berendam air hangat.
"Semuanya baik-baik saja. Beberapa binatang mutasi kegelapan kadang mengintai," jawab Mu Xianzhai yang duduk dan menenggelamkan perhatiannya pada buku laporan. "Apakah Su'er punya rencana?"
__ADS_1
"Huh, bukankah wanita selalu direndahkan dalam segala hal? Aku khawatir jika orang-orangmu mengetahui jika semua yang kamu lakukan adalah rencanaku, bukankah akan mati di tempat?"
Li Chang Su sedikit bercanda, sudut mulutnya berkedut dan dia menghela napas. Hari ini benar-benar melelahkan. Dia pasti akan tidur nyenyak sampai besok pagi.
Mu Xianzhai menaikkan sebelah alisnya. Dia sudah melepaskan topeng sejak awal sehingga wajah tampak tanpa cela itu terlihat lebih memabukkan setiap hati wanita. Bahkan para pria juga akan iri dengan ketampanannya.
Pria itu meletakkan buku dan mengambil gulungan laporan lainnya dan berhati-hati membaca. Kemudian dia tahu jika nada bicara istrinya sedikit kesal.
"Siapa yang berani meremehkan istri Raja ini? Raja pasti akan memenggalnya di tempat," katanya menghibur. Sifat dominasinya mulai keluar.
"Siapapun itu, aku tidak tahu."
"..." Istriku menargetkan orang tanpa pandang bulu, pikir Mu Xianzhai.
Setelah Li Chang Su berendam dan memakai gaun baru, dia rebahan di ranjang yang agak keras. Meskipun begitu, dia tidak mengeluh. Di zaman modern, dia sendiri bahkan tidur di tempat tidur yang kurang nyaman, badan selalu pegal dan sesekali digigit serangga.
Bisa dikatakan bahwa di tenda Mu Xianzhai lebih mewah dan hangat. Seperti rumah kedua. Tidak menyangka jika status seseorang akan berpengaruh pada material yang digunakan.
Mu Xianzhai tidak mengganggu istrinya yang tertidur dan kembali fokus pada pekerjaannya. Hingga tengah malam, hujan akhirnya reda, tentara yang berjaga malam tidak berani untuk mengantuk. Obor telah dinyalakan kembali dan lentera tergantung di beberapa tiang dekat tenda yang didirikan.
Pada saat itu, Mu Xianzhai akhirnya menyelesaikan pekerjaannya dan menggosok matanya yang sedikit perih. Dia sudah terbiasa bekerja lembur dan fokus pada strategi perang dengan binatang mutasi. Tapi semenjak menikah, dia lebih banyak menghabiskan waktu dengan istrinya sehingga beberapa pekerjaan tertunda.
Para bawahan dan penjaga gelap tidak berani menegur. Bagaimana pun sang raja telah lama menunggu kehadiran takdir gelang naga perak. Usianya juga tidak lagi terlalu muda. Ketika pangeran lain memiliki istri dan anak, raja mereka masih mencari takdirnya.
Mu Xianzhai melepaskan jubah dan menghampiri istrinya yang telah tidur nyenyak. "Su'er ...," gumamnya langsung mencium keningnya.
__ADS_1