Menjadi Istri Cerdas Raja Perang

Menjadi Istri Cerdas Raja Perang
Tidak Pernah Merasakan Cinta Kasih Ibu


__ADS_3

MU XIANZHAI akhirnya tertawa setelah mendengarkan ini. Daun telinga adalah bagian sensitif dari Li Chang Su. Dia suka menggodanya. Tapi kali ini, fokus gadis itu hilang hanya karena dirinya.


Tidak mau main-main, Mu Xianzhai akhirnya mengajarinya dengan baik. Li Chang Su merasa pergelangan tangan kanannya hampir kebas saat mengikuti gerakan pria itu. Sungguh sulit untuk mengatur tebal dan tipisnya goresan pada satu kuas saja. Dia tidak berbiasa.


"Bagaimana kamu bisa melakukannya tanpa kesulitan?"


"Aku sudah terbiasa." Pria itu menyipitkan matanya dan mengingat masa kecilnya yang cukup menyedihkan.


Dia tidak memiliki seorang ibu. Hanya ada nenek dan kakeknya saja yang sering menemani. Adapun ayah kaisarnya, cukup sibuk. Belum lagi, para selir juga memiliki anak. Hingga tidak ada waktu untuk memanjakannya begitu banyak.


Dulu, ibunya mungkin kesukaan kaisar, cinta yang begitu dalam. Setelah meninggal akibat melahirkan Mu Xianzhai, kaisar tidak menyalahkannya. Dia justru berjanji akan menjaga Mu Xianzhai dengan baik. Memberikan apapun yang diinginkannya.


Termasuk takhta, jika mau.


Sayangnya, Mu Xianzhai memiliki pribadi keras dan suka bermain pedang, panahan ataupun berkuda. Sejak usianya empat tahun, sudah bersama pamannya, ayah Mu Hongzhi—untuk belajar hal-hal tentang barak militer.


Awalnya Kaisar Mu ingin mendidiknya sebagai seorang pendekar sejati, memiliki seni bela diri tinggi dan menjadi pemimpin yang baik. Tapi tidak tahu jika itu akan menurun seperti dirinya, menjadi seorang jenderal.


Bahkan karena prestasi dan juga peperangan yang telah dimenangkan sejak muda, kaisat memberinya gelar raja perang. Tapi orang-orang dan musuh di luar sana sudah menganggapnya seperti dewa perang yang kejam.


Membunuh musuh tanpa berkedip, tidak membedakan laki-laki atau perempuan, Mu Xianzhai selalu sama. Dia telah terlatih keras dan juga patuh dalam aturan militernya sendiri. Hingga pamannya pun tidak berdaya.


Lalu, disusul dengan Mu Hongzhi yang selalu konyol, agak sembrono dan apa adanya. Ini keponakan kaisar sendiri yang lebih baik hati dan tidak kejam terhadap siapapun. Sayangnya, sangat lengket dengan Mu Xianzhai.


Ke manapun Mu Xianzhai pergi, pria itu juga pasti akan mengikuti. Bukan karena iri atau ingin bersaing, Mu Hongzhi suka membuntutinya untuk membantu. Bahkan jika pulang dengan tubuh penuh memar dan luka. Karena itulah, ayahnya sering memberi dia tongkat untuk hukuman. Karena kesal.


Alih-alih berlatih untuk memperkuat diri, Mu Hongzhi lebih suka membuntuti sepupunya yang kejam.


"Kamu tidak lagi sendiri sekarang," kata Li Chang Su segera meletakkan kuas dan mencium pipi pria itu.


Mendengarkan kisahnya, ternyata sangat menyentuh. Mu Xianzhai ini tidak berbeda jauh seperti dirinya, tidak memiliki ibu. Tapi setidaknya, pria ini masih memiliki seorang ayah yang baik dan konyol seperti kaisar.

__ADS_1


Mu Xianzhai menghela napas. Dia memeluk gadis itu dan mencium bibirnya sekilas. Kilatan kesedihan kadang melintas di matanya yang dalam. Bahkan jika itu sedikit terhalang topeng perak, auranya suram. Ia dan Li Chang Su sama-sama tidak pernah merasakan cinta ibu.


Tapi dia bahkan merasa jika istrinya lebih menyedihkan. Tidak memiliki seorang ayah untuk meminta sesuatu. Hidup di panti asuhan sejak kecil dan pergi menjadi tentara. Hidup sulit dan penuh perjalanan yang melukai.


Ia tahu seperti apa kerasnya kehidupan seorang tentara. Belum lagi, mendengarkan He Ze bercerita tentang kehidupan tentara zaman modern, ternyata latihannya lebih keras.


Berapa banyak yang dilalui Su'er nya untuk bisa menjadi tentara wanita yang populer pada zaman itu. Hingga memiliki banyak penggemar dan juga pria yang mengaguminya diam-diam.


Ia iri karena tidak ada di sana dan menjadi satu-satunya pengagum.


"Ayah dan ibu mungkin tidak pernah menginginkanku. Jadi aku dibuang." Gadis itu sedikit bergumam.


"Su'er ....," bisiknya dengan suara tercekat.


Mulai sekarang, dia akan menjaga gadis ini dan memastikan jika semua keinginannya terpenuhi di masa depan. Dan anak-anak mereka nanti juga akan memiliki keluarga yang lengkap.


"Mmm ...." Gadis itu juga tenggelam dalam ingatan masa lalunya di zaman modern. "Aku baik-baik saja. Aku lebih tua darimu. Ingat, dua tahun lebih tua darimu," katanya seraya mengikik (tertawa kecil).


Li Chang Su telah berusia tiga puluh tahun di zaman modern. Pengetahuannya lebih luas darinya. Tapi sekarang, melihat tubuh kecilnya ini, dia selalu berpikir apa yang selalu dilewatinya di tentara. Melatih tubuh kecil ini untuk menjadi lebih kuat dan bertenaga melawan musuh, bukanlah hal mudah.


Dia menyentuh tangan gadis itu, meremas jari jemarinya yang kecil. "Su'er, usia berapa saat kamu memegang senjata?" tanyanya.


"Aku sudah memegang pistol sejak usia sepuluh tahun," jawabnya seraya mengingat-ingat masa kecil. Dia pun mengeluarkan pistol yang selalu dibawanya ke mana-mana.


Pistol itu tentu saja berat. Ini senjata asli. Masih ada peluru di dalamnya. Saat Mu Xianzhai memegang senjata masa depan ini, hatinya menggigil. Istrinya memegang senjata yang berat ini sejak usia sepuluh tahun.


Sekarang, usia lima belas tahun saja rasanya tidak mungkin bagi gadis itu untuk menggunakannya.


"Apakah sulit?" Dia bertanya lagi.


"Ya, tentu saja. Saat menembak, jika lengan dan pergelangan tangan tidak kuat, maka tembakan akan melesat. Tangan juga tentu saja sakit. Belum lagi, itu menggunakan penutup telinga agar menghindari kebisingan suara letusan saat menarik pelatuknya." Gadis itu menjelaskan sedikit tentang suka dan duka belajar menembak. Tapi kebanyakan adalah pengalaman yang berharga.

__ADS_1


Ini tidak berbeda jauh dari seseorang yang ingin belajar seni bela diri. Untuk menjatuhkan lawan dengan baik, seseorang harus memiliki lengan dan kaki yang kuat. Serta tangan yang mampu mendorong lawan yang beratnya dua kali dari diri sendiri.


Mu Xianzhai segera menyingkir pistol itu dan mencium jari-jemari tangan istrinya dengan penuh kasih sayang. Sekarang mungkin tidak ada kapalan karena tidak lagi berlatih keras. Namun ketika Li Chang berkata jika tanyanya kasar karena sering berlatih, ia tidak tega.


"Di masa depan, tangan ini akan selalu halus. Ada krim khusus untuk melembutkan kulit yang telah diwariskan turun temurun di kekaisaran. Aku akan memintanya dari ayah kaisar saat kita kembali."


"Itu ... Sebenarnya aku bisa membuatnya jika mau. Tapi saat itu aku tidak memiliki waktu karena berlatih dan juga misi," kata Li Chang Su agak malu.


"Kalau begitu, sekarang akan memiliki banyak waktu. Ada aku. Serahkan semua masalah padaku. Su'er hanya perlu meminta suaminya untuk maju." Mu Xianzhai menimpali dan mencium punggung tangan istrinya.


Latihan kaligrafi ini telah berlatih menjadi cerita masa lalu. Keduanya tidak lagi melanjutkan kegiatan dan memilih untuk mengeluarkan beberapa bahan untuk dimasak.


Hari ternyata sudah menjelang siang. Salju masih turun, tapi tidak selebat tadi. Li Chang Su memasuki ruang artefak untuk memasuk dan Mu Xianzhai mengikutinya.


Untuk tenda, tidak akan khawatir karena ada penjaga di luar. Sehingga jika ada apa-apa, mereka akan melapor dari luar lebih dulu.


Mu Xianzhai memasuki ruang artefak karena ingin mencari beberapa barang yang pernah ditinggalkan kakeknya dulu. Serta beberapa buku pelatihan militer kuno.


He Ze sedang sibuk sendiri, merebus kacang di kompor kecil dan membuat manisan nanas. Mu Xianzhai menyaksikannya sambil memilih buku di rak kecil.


"Heh, hati-hati dengan ekormu. Terbakar," katanya seraya mencibir.


Tupai putih yang selalu kesal dengan pria itu pun hanya mendengus dan memegangi sendok kecil, menunjuk pria itu dengan tatapan tajam.


"Kamu pemilik yang tidak menghormati leluhur!"


"Sudah kubilang, hati-hati dengan ekormu yang terbakar." Nada bicara Mu Xianzhai masih sama.


"Apa kamu berkata ... Aku ...." He Ze mencium bau bulu yang terbakar dan segera melihat ekornya.


"Ahhh!!! Ekorku!!" Teriaknya begitu histeris sambil melarikan diri ke luar ruangan untuk mencari air. "Dasar manusia yang tidak menghormati leluhur!" Dia berteriak lagi pada pria itu.

__ADS_1


"....." Mu Xianzhai sama sekali tidak merasa bersalah.


__ADS_2